
“Apakah mengurung dan menghukum diri sendiri, akan membuatmu lebih baik?”
Bab 80 : Kado-Kado Dari Intan
Ada sebuah kotak cukup besar, di atas bagian depan mobil Kainya, tetapi wanita itu tak langsung emastikannya.
Kainya tidak yakin itu kotak yang akan membuatnya lebih baik semacam kejutan dari orang yang menyayanginya. Namun, kenapa juga ia harus mendapat kejutan dari orang-orang yang menyayanginya, sedangkan ia sedang tidak berulang tahun? Atau jangan-jangan, ... itu kotak dari Intan? Karena tidak mungkin juga Steven yang memberikannya. Sebab, Steven juga tidak akan membuat mobil Kainya rusak meski sekadar baret dengan meletakkan kotak sebesar itu di atas mobil Kainya.
Belum sempat Kainya meraih kotak yang untuk didekap saja cukup membuat wanita itu kesulitan, kehadiran Daniel sukses membuatnya terkesiap. Bahkan, jantung Kainya seolah mencelus, meski Daniel hanya menyapa dengan pelan.
“Ya ampun, Kak, Kai ... aku hanya bertanya dengan biasa. Kenapa Kakak enggak langsung masuk ke mobil?” ujar Daniel bingung.
Awalnya, Daniel hanya sebatas mengamati Kainya yang juga refleks menatapnya dengan ekspresi terkejut. Namun ketika ia menoleh ke depan, membuatnya mendapati mobil Kainya, kotak cukup besar berwarna biru tua yang ada di atas mobil bagian depan milik Kainya, sukses mencuri perhatiannya.
“Itu ...?” ucap Daniel kemudian sambil melirik sekaligus menunjuk kotak tersebut kepada Kainya.
Kainya yang masih tegang, tidak membalas Daniel. Namun dengan keadaannya yang berjaga, ia mendekati mobil yang jaraknya hanya terpaut sekitar tiga meter dari keberadaannya. Ia meraih kotak itu kemudian membukanya dengan hati-hati.
Ada foto Steven. Foto Kainya dengan Steven. Bahkan foto pernikahan Kainya dengan Yuan. Beberapa foto Kainya dan Yuan di masa lalu, ketika Kainya masih menjadi Keinya hanya untuk mengelabuhi Yuan. Juga, sebuah surat kabar mengenai kecelakaan mobil dan itu kecelakaan mobil saat Kainya sengaja menabrak mobil Yuan, ketika Yuan menyusul Keinya ke Bandung.
Mendapati semua itu dan masih ada beberapa barang termasuk amplop yang turut terselip di antaranya, tubuh Kainya menjadi gemetaran. Kainya benar-benar merasa takut sekaligus kesal dalam waktu bersamaan. Dan semua itu langsung membuatnya yakin, kado berisi kenangan masa lunya memang dari Intan. Wanita itu tidak main-main. Semua aba-aba yang Intan lakukan bukan gertakan semata. Sebab, wanita itu sungguh-sungguh dengan balas dendamnya. Intan ... wanita itu juga serius membuka kasus lama Kainya. Namun, sebelum Daniel sampai ikut melihatnya, Kainya segera menutup kotak itu kemudian mendekapnya erat, di tengah tubuhnya yang masih gemetaran.
Daniel menatap bingung Kainya. Wanita itu tak hanya gemetaran. Sebab selain sampai berkeringat dan terlihat begitu gelisah, wajah Kainya juga sampai pucat. Kainya terlihat ketakutan namun sengaja ditahan. Penyakit mental Kainya tidak sampai kambuh lagi, kan?
Tanpa menatap Daniel, Kainya menekan tombol unlock kunci mobilnya kemudian menyerahkan kuncinya kepada Daniel. “Kamu yang nyetir lagi,” ucapnya dan masih tidak menatap Daneil.
Setelah Daniel menerima kuncinya, Kainya segera memutari mobil bagian depannya kemudian membuka pintu sebelah kemudi. Ia duduk di sana, sedangkan tak lama setelah itu, Daniel juga menyusul.
Di depan mobil Kainya, tampak Gio dan Ben yang melangkah cepat menuju mobil masing-masing, di mana keduanya juga sampai refleks memelankan langkah kemudian berangsur menoleh ke mobil Kainya. Yang mereka cari tentu pemilik mobil yang justru duduk di sebelah kemudi, sedangkan di balik kemudi sudah dihuni Daniel.
Ben dan Gio, menatap Kainya sarat kecemasan seiring tangan mereka yang sama-sama mengendalikan kunci mobil. Meski tak lama setelah itu, kehadiran Kimo sukses mengalihkan fokus mereka, sedangkan Daniel juga mulai mengemudi.
“Kayaknya ada yang sengaja, deh. Masa empat-empatnya kempis enggak ada angin yang tersisa?” ucap Kimo terheran-heran.
Yura yang baru datang juga ikut nimbrung dan memastikan. “Mmm ... kayaknya memang bener, deh. Ada yang sengaja bikin ban mobilmu kempis. Coba gih, cek CCTV kafe!” ucapnya kemudian.
“Siapa sih, yang jail begini? Ngajak ribut banget! Bukan kamu, kan, Kim?” tuding Gio kemudian.
Kimo langsung menatap Gio tak percaya saking terkejutnya. “Bisa-bisanya kamu menuduhku, sedangoan dari tadi, aku bersamamu! Awas saja kalau kamu masih dekat-dekat Kimi!” omelnya.
“Kebanyakan musuh, nih, kamu!” cibir Yura sambil menatap tak habis pikir Gio. “Sudah, sana ... cek CCTV. Mumpung masih ada kami. Tapi, Ben ... kalau kamu memang ada acara lain, silakan pergi dulu. Kami memang biasa seperti ini.” Ia menatap Ben penuh keyakinan.
Ben mengangguk sambil mengulas senyum membalas Yura. Namun, Gio tiba-tiba berkata sambil menatap Ben.
“Semenjak kamu amnesia, kamu jadi enggak asyik. Beda sama Kimo yang jadi tambah rese semenjak dia amnesia. Bahkan Rara jadi ikut-ikut alay gara-gara nikah sama Kimo!” ucap Gio kemudian.
Kimo yang berkecak pinggang, menggeleng tak habis pikir sambil menatap Gio.
Lain halnya dengan Ben yang langsung mengernyit, tertarik dengan pembahasan Gio. “Memangnya, dulu, ... aku seperti apa?” Ia menatap Gio dengan rasa ingin tahu yang begitu besar.
Bukannya menjawab, Gio justru kebingungan dan kemudian menatap Yura berikut Kimo yang berdiri bersebelahan di sebelahnya, silih berganti. Namun, jauh di lubuk hatinya, Gio masih bertanya-tanya, siapa yang mengkempisi ban mobilnya sampai tuntas? Apakah orang itu sengaja membuat gara-gara dan membuat masalah dengannya? Namun, bukankah selama ini, ia tidak memiliki musuh?
“Sudah lupakan saja,” balas Gio kepada Ben sesaat sebelum berlalu. “Aku mau cek CCTV. Kalau kalian memang mau pergi duluan, kalian pergi saja. Nanti aku bisa naik taksi sekalian urus mobil,” tambahnya.
Kimo, Yura, termasuk Ben yang semakin penasaran perihal masa lalunya bersama mereka khususnya Gio, mengangguk setuju. Ketiganya pamit kepada Gio sebelum akhirnya memasuki dan mengemudikan mobil masing-masing.
__ADS_1
Melapas ketiganya, membuat Gio kembali kepikiran perihal pelaku pengempis ban mobilnya. “Sial! Awas saja kalau sampai ketahuan!”
Gio melangkah di antara kekesalan yang sebisa mungkin ia tahan. Pria itu kembali memasuki kafe. Namun, belum juga sempat bertanya, dering panggilan masuk yang menghiasi ponselnya dan tersimpan di saku celana, berhasil mencuri perhatiannya. Gio langsung menghentikan langkah kemudian merogoh ponselnya. Dan ketika ia memastikan, itu merupakan telepon dari Intan. Untuk apa wanita itu menghubunginya, sedangkan selama ini, bahkan ketika Gio bersama Steffy, hubungannya dengan orang tua Steffy termasuk Intan, tidak begitu dekat? Ya, ... semua itu terjadi lantaran orang tua Steffy lebih menyetujui hubungan Steffy dengan Kimo.
“Haruskah aku menjawabnya? ... atau, aku biarkan saja?” pikir Gio ragu. Sebab, selain sudah tidak ada hubungan dengan Steffy, Steffy sendiri sudah mendekam di penjara untuk mempertanggung jawabkan kejahatan wanita itu. Lantas, apa tujuan Intan tiba-tiba menghubunginya?
Ketika dering panggilan nyaris usai, akhirnya Gio menjawab telepon tersebut. Di antara ketegangan berikut tanya yang memenuhi benaknya, pria itu juga sampai melangkah keluar dari kafe.
“Hallo?” jawab Gio.
“Bagaimana? Apakah kau sudah melihat hadiah dariku?” balas Intan dari seberang dengan nada suara yang begitu santai.
Gio mengernyitkan dahi. Ia yang kebetulan baru melewati pintu berangsur menepi. “Maksud Tante, apa?”
“Mulai sekarang, ... kamu akan menerima banyak hadiah dariku. Setelah apa yang meninpa Steffy, ... semua orang yang telah menghancurkan hidup Steffy juga harus mendapatkan apa yang Steffy rasakan.”
“Ini, maksudnya, Tante lagi mengancam? Tante ngancem aku?” saut Gio memastikan. Terdengar tawa Intan yang begitu gamblang dari seberang. Gaya Intan kali ini, baginya tak beda dengan penjahat berdarah dingin yang ia tonton di layar kaca.
“Kenapa, kamu takut?” jawab Intan dari seberang, dengan sisa tawa yang masih terdengar
“Kenapa aku harus takut kepada Tante? Memangnya, ... Tante siapa? Bahkan seharusnya Tante yang takut kepadaku. Dan jika Tante ingin balas dendam pada semua yang menghancurkan hidup Steffy, ... seharusnya tante dan suami Tante juga termasuk, kan?” Gio tersenyum sarkastis.
“Kurang ajar kamu!” sergah Intan dari seberang.
Kali ini giliran Gio yang tertawa lepas. “Baiklah, jika Tante ingin main-main denganku. Hanya ban yang kempis sih bukan apa-apa. Bahkan kalaupun Tante kirim aku malaikat maut, malaikat mautnya lebih tahu siapayang harusnya diurus. Aku, apa malah Tante?”
“G-gio!”
“Gimana Tante bisa jadi ibu apalagi contoh yang baik buat Steffy, kalau kelakuan Tante saja seperti ini? Yang ada, ... Tante bisa nyusul Steffy kalau Tante terus begini!” cibir Gio.
“Baik, Tante. Saya tunggu! Kita lihat saja!” balas Gio kemudian sebelum memilih mengakhiri sambungan, lantaran Intan hanya bungkam. “Dasar wanita sinting! Sudah tua bukannya kasih contoh yang baik buat anak, eh ... bikin acara balas dendam!” cibirnya tak habis pikir bahkan menjadi jengah sendiri.
***
Daniel merasa janggal dengan keadaan Kainya, termasuk kotak yang tiba-tiba ada di atas mobil bagian depan wanita itu, terlepas dari Kainya sendiri yang justru terkesan sengaja menyembunyikannya. Bahkan untuk kali ini, setelah mengurung diri hingga malam sekitar pukul tujuh di kamar, kehadiran Steven juga tidak mengubah keadaan. Kainya masih tidak bersemangat dan justru meminta Daniel untuk berbohong, mengatakan jika Kainya sudah tidur kepada Steven.
“Sudah, bilang saja ke Steven kalau aku sudah tidur!” omel Kainya.
“Semuanya, oke, kan?” tanya Daniel memastikan. Karena biasanya khususnya akhir-akhir ini, Kainya akan sangat bersemangat jika sudah menyangkut semua yang berhubungan dengan Steven. Kainya juga kerap tidak percaya diri, saking ingin terlihat sempurna di mata Steven. Namun sekarang, Kainya yang meringkuk di atas kasur dan membiarkan kamar dalam keadaan remang-remang--hanya mengandalkan sebuah lampu meja sebagai penerangnya, justru memunggunginya.
“Masih sore, lho. Kak Steven juga kayaknya sengaja ke sini. Apa Kak Steven suruh ke sini, ... masuk kamar Kak Kai, saja?” ucap Daniel hati-hati.
“Daniel, jangan kurang ajar, kamu, yaa ... cepat pergi!” omel Kainya lagi tanpa mengubah keadaannya yang masih memunggungi Daniel.
“Apakah mengurung dan menghukum diri sendiri, akan membuatmu lebih baik?”
Pertanyaan tersebut sukses membuat Kainya terjaga. Itu suara Steven! Kenapa pria itu bisa ada di kamarnya? Dan kenapa juga, Daniel tidak mengatakannya dari awal?
Jantung Kainya menjadi berdegup tidak wajar. Kehadiran Steven sukses membuat wanita itu tegang bahkan kacau. “Daniel benar-benar tega!” batinnya.
Daniel menjadi kikuk, terlepas dari ia sendiri yang juga terkejut kenapa Steven sampai langsung datang dan tidak menunggu di ruang keluarga layaknya biasa? Namun, kali ini Steven langsung mencari celah untuk masuk kamar Kainya. Pria itu sampai menyempil melewatinya tanpa izin atau basa-basi layaknya biasa.
“Sepertinya, Steven sudah tahu! Apa jangan-jangan, mereka sedang bertengkar?” pikir Daneil. Faktanya, Kainya juga langsung diam padahal awalnya, wanita itu sedang memarahinya. “Terus, aku harus tetap di sini, apa bagaimana?” batin Daniel mempertimbangkan. Daniel belum bisa sepenuhnya percaya kepada Steven. Namun, masa iya, Daniel harus menemani orang pacaran?
Steven melangkah pasti penuh ketenangan layaknya biasa di tengah fokus matanya yang terus tertuju pada punggung Kainya. Namun tak lama setelah itu, sebelum ia jadi duduk di tepi kasur sebelah punggung Kainya, ia menoleh dan mendapati Daniel masih berdiri sambil menahan gagang pengait pintu.
__ADS_1
“Apakah kakakmu juga belum makan?” tanya Steven dipenuhi rasa cemas.
Daniel langsung menggeleng. “Seharian ini, Kak Kai belum makan,” ucapnya.
Balasan Daniel membuat Kainya terpejam pasrah seiring kedua tangannya yang menjadi mengepal.
“Seharian ini belum makan?” ulang Steven terkejut. Kemudian, sebelah tangannya refleks meraba kening Kainya. “Kamu mau makan apa?” tawarnya.
Cara Steven yang begitu memanjakan Kainya, membuat Daniel mengerti, kenapa Kainya bisa begitu mudah menjatuhkan pilihan kepada pria itu. Kini saja, Steven tak hentinya membujuk Kainya dengan perhatian yang begitu melimpah. Steven yang tak hentinya membelai kepala Kainya bahkan dengan sabar merintih, membujuk Kainya untuk membalas pria itu. Dan jika Daniel memilih tetap bertahan, yang ada ia hanya menjelma menjadi orang bodoh. Terlebih, biar bagaimanapun, rasa cintanya untuk Kainya masih tersimpan sangat rapi.
“Kita ke dapur. Aku masak buat kamu, ya?” bujuk Steven lagi, sedangkan Daniel memilih berlalu setelah sampai menutup pintu kamar Kainya dengan hati-hati.
“Ven, aku capek. Kamu pulang saja,” balas Kainya yang tetap memunggungi Steven.
“Aku salah?” balas Steven.
Kainya tak lantas membalas bahkan meski Steven menunggu lebih dari dua menit.
“Kai ...?”
“....”
“Boleh aku menyalakan lampu?”
“....”
“Kai ...?”
“....”
“Baiklah. Aku akan pergi setelah kamu makan.”
“Iya. Nanti aku makan. Tapi sekarang aku mau tidur dulu.”
“Baiklah.”
“Hmm ....”
“Apakah kamu juga enggak mau melihaku, sebelum aku pergi?”
“Kita bicarakan besok saja.”
“Baiklah ... aku mencintaimu.”
Kata-kata cinta dari Steven justru semakin membuat rasa sakit berikut luka Kainya semakin bertambah. Terlebih, kepada Steven pun, Kainya sudah memutuskan untuk menutup diri. Karena bagi Kainya, apa yang Intan katakan memang benar.
Bagi Kainya, mustahil ada yang mau dan tulus mencintainya berikut mencintai masa lalunya yang kelam. Dan kalau pun Steven mau menerima, apakah di masa depan semuanya akan sama? Apakah pria itu akan tulus dan tetap mencintainya? Lantas, bagaimana dengan keluarga Steven? Bukankah menutup diri merupakan keputusan paling tepat yang harus ia lakukan?
Bersambung ....
Duh, ambyar ... Author ambruk. Batuk flue menyerang, hidung lumer terua dan suara udah kayak kodok. Kalian semua sehat-sehat, ya. Oh, iya. Akhir bulan ini, cerita ini tamat, ya. Kalian juga harus terus semangat mengikuti biar Author juga semangat nulis sama nyiapin kejutan kisah ini.
Salam sayang,
Rositi.
__ADS_1