Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 8 : Terjebak


__ADS_3

“Meskipun kami telah dimakan usia, tetapi tidak dengan hati dan cinta kami. Kami benar-benar masih setia, bahkan melebihi mereka-mereka yang masih muda,”


Bab 8 : Terjebak


Ada satu hal yang baru saja Pelangi sadari kenapa Zean sengaja mengundang Kim Jinnan hadir dalam hidup mereka?


Kenapa bocah itu begitu sibuk dan ingin menjadi orang dewasa? Menjadi lebih baik dari Dean, dalam menjaganya? Sebab, Zean menyayangi Aurora teman baiknya. Satu-satunya sahabat Zean, juga, ... satu-satunya bocah yang mau berteman dengan Zean. Terlebih sejauh ini, hampir semua orang tanpa terkecuali teman-teman sebayanya, tidak menyukai Zean karena bagi mereka, Zean menyebalkan. Si pembuat onar yang selalu ingin dianggap ada sekaligus dewasa.


Zean tidak hanya memikirkan Pelangi, tetapi juga mengenai si kembar Mofaro dan Rafaro yang sudah terang-terangan menunjukkan perasaan mereka kepada Pelangi. Jadilah, meski keberadaan Kim Jinnan bisa jadi masalah tersendiri untuk Pelangi, tetapi Zean yakin, orang tua mereka tidak akan tinggal diam. Orang tua mereka pasti akan memagari sekaligus melindungi Pelangi.


“Ada apa?” tanya Pelangi sungkan, kepada Kim Jinnan.


“Bukankah besok kamu pergi?” balas Kim Jinnan sembari menatap gadis di hadapannya penuh kepastian.


Pelangi tidak berkomentar, hanya mengernyit sambil sedikit memiringkan kepalanya.


“Ayo, kita kencan!” ajak Kim Jinnan kemudian, yang menjadi bersemangat.


Zean dan Aurora yang berdiri bersebelahan, dan sedari awal langsung memperhatikan kebersamaan Pelangi dan Kim Jinnan, menjadi saling sikut sambil menahan senyum. Lain halnya dengan Mofaro dan Rafaro yang menjadi terdiam sambil memasang wajah murung. Kedua kembar itu terlihat sangat tidak bersemangat.


“Kami ikut!” sergah Zean dan Aurora yang masih sibuk saling sikut.


Aurora, bocah perempuan berambut lurus sebahu yang juga memiliki mata besar bak boneka barbie itu, terlihat begitu kompak dengan Zean. Keduanya mendadak menjadi tim ‘hore’ untuk hubungan Kim Jinnan dan Pelangi.


Pelangi melirik Aurora dan Zean sambil menahan senyum. Baginya, membawa kedua bocah itu bukan hal yang buruk demi mengatasi keadaan. Karena dengan kata lain, selain Pelangi bisa terhindar dari tipu muslihat Kim Jinnan yang ia takutkan akan macam-macam, kepergiannya dengan Kim Jinnan juga akan membuat Mofaro dan Rafaro bisa lebih tenang tanpa adu mulut apalagi adu sikut, layaknya beberapa saat lalu.


“Baiklah. Tapi kita mau ke mana? Ini sudah sore,” balas Pelangi menyanggupi.


Kesanggupan Pelangi yang baru saja terucap, sukses membuat Mofaro dan Rafaro patah hati. Dengan mata yang menjadi merah lantaran selain sedih, mereka juga marah, Mofaro dan Rafaro menatap tak percaya Pelangi, berikut Kim Jinnan, silih berganti.


“Kok Pelangi enggak pernah bilang, yah, kalau ternyata dia sudah punya pacar? Atau jangan-jangan, karena aku terlalu berharap sama dia, jadi aku enggak bisa membedakan mana yang benar-benar perhatian, dengan mana yang sekadar biasa?” pikir Rafaro seiring dadanya yang menjadi sesak.


“Iya, ini memang sudah sore, soalnya aku juga baru pulang kerja bahkan langsung ke sini. Harusnya sih, hari ini enggak kerja. Tapi ada urusan mendadadak dan baru beres juga,” balas Kim Jinnan. “Belum pernah aku seserius bahkan sejujur ini,” batinnya. 


Aurora dan Zean bergegas melangkah. Keduanya berdiri di antara Kim Jinnan dan Pelangi di antara senyum ceria yang seolah tak akan usai. Bahkan, baru kali ini, Pelangi melihat Zean tersenyum ceria dan itu dalam waktu yang sangat lama.


“Mereka, ... beneran ikut?” tanya Kim Jinnan memastikan.


Pelangi segera mengangguk seiring ia yang sampai bersemangat. “Tentu. Mereka ikut. Tapi kita enggak usah pergi jauh-jauh.” 


Jauh di lubuk hatinya, Pelangi sudah tertawa girang karena sudah sukses membuat Kim Jinnan tidak berkutik. Terlebih bagaimanapun caranya, Pelangi hanya ingin membuat Kim Jinnan lelah kemudian menyerah. 


“Ke rumah saja, Ngie!” usul Zean tiba-tiba.


“Nah, iya. Toh, kamu juga baru pulang kerja, kan? Nanti kamu malah kecapean kalau kita jalan-jalan jauh,” sergah Pelangi semakin bersemangat. 


Pelangi sampai tersenyum bangga pada Zean yang akhirnya membawanya ke posisi aman.


“Sial ... si Pelangi pasti sengaja nih. Tapi, ... memang benar, sih. Mendekati Pelangi yang anak rumahan bahkan sangat dekat dengan keluarganya, memang harus dengan cara baik-baik. Main sama ngapelnya di rumah saja!” batin Kim Jinnan.


“Tapi aku belum beli apa-apa, lho. Aku belum bawa oleh-oleh buat orang di rumahmu,” ujar Kim Jinnan yang baru sadar jika dirinya belum sempat membawa oleh-oleh atau setidaknya barang bawaan untuk berkunjung ke rumah Pelangi.


“Pesan online saja! Kok ribet!” celetuk Zean yang sukses membuat Aurora maupun Pelangi, menjadi menertawakannya.


“Si Zean kayaknya kebanyakan hormon, deh! Masih semerica, sudah pinter gini! Bahaya, nih. Aku beneran harus hati-hati!” batin Kim Jinnan. 


Meski menanggapinya dengan seulas senyum, jauh di lubuk hatinya, sebenarnya Kim Jinnan sudah ingin mencubit-cubit pipi Zean yang terbilang cukup gembul.


Mofaro yang telanjur lemas melihat interaksi Kim Jinnan dan Pelangi, berangsur menyikut Rafaro yang masih diam di sebelahnya. Dan karenanya, Rafaro pun refleks menoleh, menatap kakak kembarnya yang terlihat jauh lebih terpukul darinya.


“Ngapain kamu di situ? Mau sampai kapan bengong kayak tugu monumen nasional! Ayo, masuk saja! Masa iya, kita mau jadi obat nyamuk juga kayak bocah-bocah itu!” bisik Mofaro.


Rafaro menelan ludah seiring rasa pasrah yang menyelimuti hatinya. “Mofaro jadi enggak marah-marah sama aku, gara-gara Pelangi sama cowok lain,” batinnya. 


“Ngie ... titip Rora, ya?” ucap Rafaro sambil menatap serius Pelangi kemudian berganti pada Aurora yang langsung menatapnya dengan girang. Bocah berponi kotak itu menengadah menatapnya. “Kalau sudah mau pulang, minta tolong Kak Ngi-ngie bua telepon Kakak, ya. Nanti Kakak jemput.” Ia mengelus kepala Aurora di antara senyum tulus yang ia suguhkan.


Berbeda dengan Mofaro, meski Rafaro lebih muda beberapa menit, tetapi Rafaro justru lebih dewasa dan selalu menanggapi segala sesuatunya dengan jauh lebih tenang. Rafaro benar-benar memiliki kepribadian dewasa selain Rafaro sendiri yang cenderung lebih anteng sekaligus kalem. Berbeda dengan Mofaro yang terbilang pecicilan bahkan ketika berkata pun sering ceplas-ceplos. Bahkan kenyataan kini, bisa menunjukkan perbedaan antara Mofaro dan Rafaro dengan jelas. Karena ketika Mofaro langsung berlalu masuk ke rumah, Rafaro melepas kepergian Pelangi yang membawa Aurora adiknya sambil mengulas senyum.

__ADS_1


“Bahkan sekalipun aku tidak tahu, apakah ini kebenaran atau malah hanya sandiwara, tetapi aku yakin, jauh di lubuk hatimu, masih ada tempat untukku dan aku memang ada di sana,” batin Rafaro sembari melambaikan tangan membalas Aurora yang melambaikan tangan padanya dari kaca tempat duduk bagian penumpang.


Kim Jinnan yang bahkan belum sempat berkenalan dengan Rafaro dan lainnya, mengemudi sendiri. Pria itu membawa mobil yang hanya bisa menampung empat orang penumpang dengan supir. Jadi, tadi Pelangi duduk di sebelah pria itu, sedangkan Aurora dan Zean duduk di belakang keduanya.


“Rora ikut?” tanya Rara yang baru kembali, setelah membantu Steffy. Tadi, Rara sudah menghubungi ayah Steffy perihal keberadaan Steffy yang ternyata sudah hampir satu bulan lebih menggelandang tanpa tujuan. Namun perihal urusan wanita itu benar-benar sudah beres.


Melihat wajah Rafaro yang begitu tenang dan menjadi semakin pendiam, hati Rara menjadi terenyuh. Rara bahkan merasa jika matanya yang mendadak terasa panas, sudah sampai basah. 


Sebelah tangan Rara menopang sebelah wajah Rafaro. “Mom tahu,” ucapnya seiring senyum bangga yang ia suguhkan kepada Rafaro. “Jika kamu tetap merasa bahagia untuk orang yang kamu cintai, bahkan ketika dia justru bahagia bersama orang lain, bisa Mama pastikan, cintamu kepadanya benar-benar tulus!”


“Memangnya siapa yang bilang, aku enggak tulus sama Ngi-ngie, Mom? Hanya karena dia lebih tua dariku?” ucap Rafaro yang kemudian menggeleng lemah. “Enggak. Karena bagiku, perbedaan usia bukanlah penghalang seseorang untuk saling mencintai.”


“Uh ... hati Mom langsung lumer ....” Rara sengaja menggoda sang anak. Di mana setelah itu, tawa lepas memang mengikat mereka dalam kebersamaan. Terlebih setelah itu, Rafaro mendekap pinggang Rara. Mereka tak ubahnya pasangan beda usia yang saling mencintai.


“Jujur, Mom ... aku, apa papa yang lebih baik?” ucap Rafaro dan memang sengaja lantaran ia mendapati Kimo sang papa sedang memperhatikan kebersamaan mereka dari balkon seberang.


Kimo sampai mesem kemudian bersedekap sambil menggeleng geli, mendapati sang anak yang sengaja menguji seberapa besar Rara mencintainya.


“Tentu saja papa!” balas Rara tanpa berpikir.


“Loh?!” Rafaro benar-benar dibuat terkejut atas kenyataan tersebut. Dan ketika ia menoleh ke atas selaki keberadaan Kimo, di sana, papanya langsung tersenyum bangga.


“Ya iya, papa. Nyatanya dia bisa buat Mom melahirkan anak yang begitu hebat seperti kamu. Tentu karena papa, kan?” tambah Rara meyakinkan.


“Ah ... enggak seru! Mom pasti dipaksa, kan, sama papa?” balas Rafaro benar-benar kecewa.


“Dipaksa bagaimana? Papa saja lagi sibuk urus arsip-arsip di kantor. Mana mungkin papa maksa Mom?” balas Rara masih berusaha meyakinkan.


“Tuh!” timpal Mofaro sembari melakukan gerakan wajah menunjuk keberadaan Kimo.


Seketika itu juga, Rara yang langsung memastikan menjadi salah tingkah. Terlebih, Kimo tak hentinya senyum-senyum kepadanya.


“Meskipun kami telah dimakan usia, tetapi tidak dengan hati dan cinta kami. Kami benar-benar masih setia, bahkan melebihi mereka-mereka yang masih muda,” batin Rara yang menjadi tersipu seiring kedua pipinya yang menjadi terasa hangat. Rara yakin, pipinya sudah sampai menjadi bersemu.


“Kita masuk, Mom!” Rafaro merangkul mesra sang mama memasuki rumah.


Sesampainya di rumah Pelangi, Kim Jinnan yang membukakan pintu mobilnya untuk Pelangi, dikejutkan oleh keadaan punggung gadis itu. Blus tak berlengan warna jingga yang Pelangi kenakan tak hanya robek, melainkan disertai warna darah yang mengering.


“Sori, Ngie, bentar ....” Kim Jinnan berusaha menahan punggung Pelangi yang nyaris berlalu meninggalkannya.


“Kenapa?” tanya Pelangi yang refleks tidak bergerak.


“Punggungmu kenapa?” tanya Kim Jinnan.


Kim Jinnan, benar-benar mencemaskan Pelangi.


“Itu pasti karena tadi!” ujar Zean serius dan langsung diam ketika Pelangi refleks menoleh dan menatapnya tajam.


Pelangi sampai memelotot pada Zean. “Jangan katakan apa pun soal kejadian tadi. Jangan membuat papa mama cemas. Termasuk Dean. Pokoknya siapa pun. Kejadian tadi benar-benar rahasia kita!” tegasnya pada Zean. “Zean, janji, ya?” tuntutnya.


Zean mengangguk pasrah, sedangkan Aurora yang di sebelahnya hanya menyimak. 


“Janji,” ucap Zean sambil menatap Pelangi, kemudian mengangguk.


Pelangi mengembuskan napas lega.


“Di rumah ada salep? Betadin?” ucap Kim Jinnan kemudian.


Pelangi refleks menoleh dan membuatnya menatap Kim Jinnan. Ia tak lantas menjawab, tetapi ketika menyadari pria muda tersebut mengenakan jas, ia langsung berkata, “boleh pinjam jasmu? Aku tidak mau membuat orang rumah cemas.”


Permintaan tulus Pelangi yang disertai tatapan lugu dari gadis itu, membuat rasa hangat sukses menyelimuti hati Kim Jinnan. “Apa pun, untukmu. Semuanya tidak ada yang tidak boleh. Asal kamu masih bersamaku,”


Pelangi buru-buru menekap mulut Kim Jinnan di tengah kenyataannya yang menjadi terjaga. Kedua matanya tak hentinya memelotot menatap cemas keberadaan Zean dan Aurora.


“Ciee ... cie ...,” sorak kedua bocah itu yang langsung sibuk meledek kebersamaan Pelangi dan Kim Jinnan.


Zean dan Aurora langsung berlari, kejar-kejaran masuk ke rumah yang kebetulan sudah dibukakan oleh seorang pekerja yang menunggu di dekat pintu.

__ADS_1


Setelah sama-sama melepas kepergian Zean dan Aurora, Kim Jinnan pun berdeham. Kenyataan tersebut pula yang membuat Pelangi menjadi merasa cukup tegang.


“Aku mau membantumu. Benar-benar melakukan semuanya untukmu, asal kamu memberikan nomor teleponmu yang baru. Kamu, ganti nomor dan sengaja menghindariku, kan?” ucap Kim Jinnan kemudian.


Pelangi belum berkomentar, ketika Kim Jinnan justru masuk ke dalam mobil lewat bekas Pelangi duduk. “Aku ada obat merah. Sebentar.”


Kim Jinnan mengeluarkan botol obat merah berukuran kecil di kotak P3K yang ia dapatkan dari laci mobilnya. Pria itu segera membuka robekan baju Pelangi dengan hati-hati, kemudian melumaskan obat merah tersebut pada luka baret yang menghiasi punggung Pelangi. Luka baret yang keberadaannya persis di robekan blus yang Pelangi kenakan. Cukup dalam, dengan darah mengering yang sempat menutup luka itu sendiri.


Tak lama setelah itu, tanpa diminta, Kim Jinnan langsung melepas jas hitamnya dan mengenakannya kepada Pelangi dengan hati-hati. “Jangan hanya ditempelkan. Kamu benar-benar harus mengenakannya agar ketika orang rumahmu tiba-tiba mencoba melepasnya,” ujarnya.


“Iya, aku mengerti. Terima kasih,” ujar Pelangi tanpa menatap Kim Jinnan. Pelangi sengaja mengambil alih dan mengenakan jas tersebut sendiri.


“Kira-kira, sampai jam berapa aku boleh main di rumahmu? Sepertinya, gaya hidup kita cukup berbeda?” tanya Kim Jinnan lagi ketika Pelangi nyaris sempurna mengenakan jasnya.


Pelangi tidak langsung berkomentar. Namun, diamnya Pelangi kali ini yang bahkan terlihat tidak bersemangat, bukan karena gadis itu malas menanggapi Kim Jinnan. Melainkan hal lain. Perihal Pelangi yang sebisa mungkin ingin tetap berjaga lantaran takut Kim Jinnan yang terkenal play boy, hanya ingin mempermainkannya. Belum lagi perihal serangan dari wanita-wanita Kim Jinnan. Karena pasti, kenyataan itu ada. Wanita-wanita Kim Jinnan pasti akan mengamuk dan memberi Pelangi pelajaran ketika mereka mengetahui hubungan Pelangi dan Kim Jinnan.


“Demi Mofaro dan Rafaro, aku rela terjebak dalam hubungan tidak masuk akal ini. Namun, apakah semuanya akan baik-baik saja?” pikir Pelangi.


“Tidak sampai pukul tujuh malam. Karena setelah itu, benar-benar waktu untuk keluarga,” balas Pelangi akhirnya.


“Pukul, ... tujuh?” ulang Kim Jinnan memastikan. “Masa iya, pukul tujuh? Ayam saja juga belum tidur, kali!” batinnya yang merasa tak habis pikir. “Duh, Jinnan ... sabar. Pelangi kan bukan gadis sembarangan ... sabar ....” Kim Jinnan masih menguatkan di dalam hatinya.


Pelangi tidak membalas Kim Jinnan. Yang ada, gadis itu melangkah tegas meninggalkan Kim Jinnan.


“Ngie, nomor ponsel ... nomor telepon jangan lupa,” rengek Kim Jinnan yang sampai berlari demi menyelaraskan langkahnya dengan Pelangi.


“Nanti aku akan menghubungimu,” balas Pelangi masih cuek.


“Sekarang!” tuntut Kim Jinnan.


Pelangi menghela napas dan berangsur berhenti melangkah. Tangan kanannya merogoh saku sisi kanan celana levis berwarna biru tua yang dikenakan. Ia mengeluarkan ponselnya dari sana. 


“Berapa nomormu?” tanya Pelangi tanpa menatap Kim Jinnan. Kedua matanya masih fokus menatap layar ponsel yang menampilkan keybord.


“Kan, kamu bahkan tidak menyimpan nomorku. Sini,” sergah Kim Jinnan yang langsung merebut ponsel Pelangi.


Kim Jinnan menuliskan nomornya dan sampai diberi nama : Cintaku.


Selain sampai melotot dan menghela napas, Pelangi terkejut sekaligus tidak percaya atas apa yang Kim Jinnan lakukan juga refleks menelan ludah. “Gila, kamu, ya? Coba sini ponselmu!” todong Pelangi.


Kim Jinnan yang menjadi tegang, terpaksa mengeluarkan ponselnya dari saku celana bahan sebelah kanan yang dikenakan. Ia memberikannya kepada Pelangi dan langsung diambil alih oleh gadis itu.


“Ini sandinya berapa?” ujar Pelangi mengomel.


Kim Jinnan berdeham. “Serius itu ponsel isinya enggak bener ...,” batinnya ketar-ketir. 


“Kim, Jinnan!” ulang Pelangi penuh penekanan.


“Tanggal ulang tahun mamaku.”


“Mama muda? Apa mama penyuka berondong?” sindir Pelangi tanpa sudi menatap Kim Jinnan.


“S-sembarangan kamu, Ngie ....” Kim Jinnan menjadi semakin gugup.


“Enggak usah sok suci, deh ... kamu pikir aku enggak tahu!” cibir Pelangi.


Lagi-lagi Kim Jinnan berdeham. “Kosong tiga, kosong tiga, tujuh tiga ....”


Setelah menuliskan sesuai apa yang Kim Jinnan ucapkan, usaha Pelangi membuka fitur menu di ponsel tersebut memang berhasil. Akan tetapi, lantaran wallpaper ponsel tersebut berisi foto perempuan bertubuh seksi dan hanya mengenakan bikini, Pelangi yang terkejut refleks membuang ponsel Kim Jinnan. Pelangi bergidik ngeri sambil mengelus-elus dadanya lantaran ia sampai mendadak sesak napas. Dan gadis itu buru-buru meninggalkan Kim Jinnan, demi mencari posisi aman.


“Dasar pria mesum! Masa iya, aku harus sama dia? Itu baru wallpapernya? Belum isinya!” keluh Pelangi dalam hati dan masih merasa ‘gila’ atas kenyataan yang menghiasi ponsel Kim Jinnan.


“Ya Tuhan ... kenapa aku harus terjebak dengan pria mesum seperti Kim Jinnan?”


Bersambung ....


Ikuti dan terus dukung ceritanya, ya.

__ADS_1


Like dan komen kalian sangat mempengaruhi performa cerita ini, lho. Kalau sepi ya tenggelam 😭😭. Yuk, yang mau kasih masukan, jangan sungkan. Author tunggu, yaa.


__ADS_2