
“Mereka ibarat dua kutub magnet yang sama, dan akan selalu tolak-menolak ketika disatukan!”
Bab 57 : Pembalasan Mofaro
Membonceng motor dan yang mengemudikan Mofaro, tak ubahnya mimpi buruk bagi Elia. Elia kapok dan tidak lagi-lagi. Bayangkan, nyaris sepanjang perjalanan, Mo mengemudi dengan kecepatan setan, sampai-sampai, Elia mendekap pinggang Mo sangat kuat.
Terlepas dari itu, alasan yang membuat Elia kapok juga tak lain karena ulah Mo, sukses membuat perut gadis itu mual. Dan setelah nyaris terjungkal ketika turun dari motor Mofaro di tengah pening yang menyiksa kepalanya, Elia yang sampai sempoyongan juga langsung muntah-muntah di got depan sekolah.
Berbeda dengan Elia yang nyaris sekarat, Mofaro yang masih ada di belakangnya, jarak mereka tak kurang dari tiga meter, benar-benar menikmati apa yang menimpa gadis itu. “Hahaha ... ya ampun, norak banget, sih! Naik sepeda saja mabuk!”
Mofaro sengaja meledek Elia agar gadis itu semakin kesal kepadanya. Terlebih, kemarahan Elia merupakan kenyataan yang akan selalu sekaligus semakin membuat Mofaro bahagia.
Setelah nyaris lima menit muntah-muntah di got dan membuatnya terduduk dengan kedua tangan menopang pada sekitar got, Elia mengelap asal sekitar mulutnya dan segera menatap kesal Mofaro.
“Dasar manusia kebanyakan hormon!” umpat Elia yang sampai terengah-engah. Sebelah tangannya sampai menahan dadanya yang juga menjadi terasa sakit sekaligus sesak.
“Dari awal kan kamu sudah tahu, aku enggak mau bonceng kamu,” balas Mofaro dengan santainya di antara sisa tawanya.
Tak ada sedikit pun rasa iba apalagi penyesalan yang terpancar dari seorang Mofaro. Yang ada, pemuda itu terlihat sangat bahagia. Elia bisa memastikannya tanpa harus mengamati pemuda itu lebih lama.
“Pantas saja Ngi-ngie enggak mau sama kamu!” ledek Elia yang kali ini mendadak merasa cukup bahagia.
“Enggak mempan ... enggak mempan. Balasanmu terlalu biasa!” balas Mofaro yang tetap saja tertawa.
Kenyataan yang sudah menyulut emosi Elia. Elia benar-benar kesal dan ingin membalas Mofaro dengan kenyataan yang jauh lebih menyakitkan. Akan tetapi, kondisinya yang kini nyaris sekarat sangat tidak memungkinkan untuk melakukannya. Jangankan memberi pelajaran, sekadar duduk layaknya sekarang saja, tubuhnya sampai gemetaran tak berdaya.
“Kapok, kan? Hahaha ... makanya jadi cewek jangan bawel!” ujar Mofaro lagi.
“Dasar cowok enggak punya perasaan!” batin Elia yang benar-benar menyayangkan, kenapa ia harus selemah sekarang. Karena andai saja ia tidak selemah sekarang, ia pasti sudah mengambil muntahannya kemudian membalurkannya pada Mofaro, bila perlu sampai ke mulut pemuda itu!
“Kapok ...? Ya, aku kapok! Tapi aku juga takut, kamu justru kangen ngeboncengin aku lagi!” cibir Elia tak mau menyerah.
Mofaro masih tertawa. Benar-benar pagi yang membuatnya sangat bahagia jika harus melihat Elia susah seperti sekarang.
__ADS_1
“Pak ... Pak ... tolong antar saya ke UKS, dong ...,” pinta Elia yang masih terduduk di tepi got tempatnya muntah, pada satpam sekolah yang kebetulan baru keluar dari dalam. Satpam tersebut pasti sengaja berpatroli memantau perihal yang terjadi di sekitar depan sekolah.
Apa yang menimpa Elia semakin membuat Mofaro terpingkal-pingkal, terlebih yang menjadi bahan tertawaan hanya mendengkus kesal. Elia sampai dipapah pria bertubuh tinggi dan memiliki kulit bersih, selaku satpam yang dimintai tolong.
“Aku laporin lho, apa yang kamu lakuin ini ke orang tuamu. Kamu sudah enggak sopan banget!” kecam Elia sebelum kepergiannya.
Mofaro memasa-bodokan apa yang Elia ancamkan sembari mengangkat kedua bahunya.
“Aku doain, kamu bakalan susah dapat jodoh!” umpat Elia masih saja meracau.
Mofaro semakin behagia di setiap Elia berusaha membalasnya. Namun, kepergian Elia seolah membuat Mofaro merasakan kehilangan. Ya, Mofaro yakin dirinya baru saja melupakan suatu hal yang sangat penting. Sesuatu yang sangat penting dan itu masih sulit Mofaro gali.
“Ya ampun! Tadi dia bahas misi buat Lena, kan? Elia bilang, pacar Lena bermasalah?” gumam Mofaro merasa kecolongan.
“Lia, misinya?!” seru Mofaro kemudian, tetapi Elia tidak mengindahkannya.
Elia terus melangkah dipapah oleh satpam yang membantunya. “Cowok gila! Bisa-bisanya dia sangat berbeda dari Rafa! Tapi ... aku sama Lena juga beda, sih, ... meski kami memang kembar!” pikirnya.
“Demi Tuhan, ... hari ini aku bahagia banget bisa lihat Elia semenderita itu!” batin Mofaro yang mendadak terkikik. Belum lagi, lantaran Elia sampai tidak memakai helm, rambut panjang Elia juga menjadi acak-acakan meski tidak sampai menjelma menjadi rambut singa.
Di sekolah, Kishi dan Dean baru saja bertemu ketika jam pelajaran nyaris dimulai. Tidak seperti biasanya, hari ini Kishi telat masuk. Bahkan, raut tegang berikut cemas menyelimuti wajah gadis itu yang sampai berkeringat. Kenyataan yang sukses membuat Dean merasa cemas, kendati keduanya sudah berkirim pesan sejak sepuluh menit lalu.
Kishi telat karena mobil yang digunakan untuk mengantar tiba-tiba, bannya meledak di tengah jalan. Jadi, Kishi terpaksa menunggu lantaran Athan juga melarang Kishi naik transportasi umum sendiri.
Ketika Kishi baru duduk, detik itu juga Dean membuka bekal air minumnya dan memberikannya pada Kishi yang langsung menerima.
“Thank you, De!” ucap Kishi sebelum meminumnya.
“Harusnya tadi kamu telepon, aku kan bisa jemput. Apalagi kamu sampai nunggu lebih dari tiga puluh menit?” balas Dean menyesalkan keputusan Kishi.
Kishi yang baru saja beres minum segera mengelap asal sekitar mulutnya. “Serius, aku enggak sampai kepikiran ke situ. Soalnya yang aku pikirin itu si Elia. Dia kan semalam nginep di rumahku, sedangkan pagi ini aku sengaja ikut papa berangkat lebih awal. Tadi aku berangkat setengah enam!”
“Terus, Elia ke sekolahnya bagaimana?” balas Dean yang langsung menyimak dengan serius.
__ADS_1
“Tadi sih kata mama, mama nitipin Elia ke Mo,” balas Kishi dengan polosnya.
“Celaka ....” Dean benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan Mo lakukan kepada Elia, terlebih ia tahu betul, Mo memiliki dendam kusumat kepada Elia.
“Celaka?” ulang Kishi memastikan.
Dean yang kembali menatap Kishi segera mengangguk. “Kamu tahu, lah, Mo dan Elia kayak apa?”
“Mereka ibarat dua kutub magnet yang sama, dan akan selalu tolak-menolak ketika disatukan!” balas tertunduk lemas.
Kishi menyesalkan kenyataan hubungan Elia dan Mo, terlebih dari semuanya yang saling menyayangi bak keluarga sendiri, Elia dan Mo selalu saja bertengkar dan tidak pernah akur. Di mana, kenyataan tersebut juga sudah bukan menjadi rahasia umum.
“Tapi mama bilang,” ucap Kishi tiba-tiba.
Kishi sampai menjadi begitu bersemangat, kendati gadis itu berbicara dengan suara pelan mengingat pelajaran juga sudah dimulai.
“Apa?” balas Dean tak kalah antusias kendati ia juga berbicara dengan suara lirih.
“Mama bilang, kalau Elia sama Mo berantem terus, mama bakalan jodohin keduanya!” balas Kishi sampai menggebu-gebu.
Dan tak beda dengan Kishi, Dean juga menjadi susah payah mengendalikan tawanya.
“Enggak kebayang ... wajan sama isi dapur bakalan keluar semua kalau mereka sampai dipaksa nikah!”gumam Dean di sela tawanya yang masih ditahan.
Baik Kishi maupun Dean kompak menekap mulut mereka menggunakan kedua tangan.
Mengenai setiap kisah, memang selalu memberikan warna tersendiri, tanpa terkecuali hubungan yang hanya selalu dipenuhi pertengkaran, layaknya hubungan Elia dan Mo. Karena meski keduanya selalu tidak bisa akur dan bahkan keduanya sudah saling benci, tetapi bagi Kishi dan Dean bahkan mungkin orang lain, kenyataan tersebut justru menjadi hiburan tersendiri.
Namun jika membayangkan keduanya harus selalu bersama dalam ikatan pernikahan, sungguh, Kishi dan Dean tidak sanggup meski hanya membayangkan. Yang ada, tawa mereka sampai lepas dan membuat seisi kelas tanpa terkecuali guru yang sedang menjelaskan pelajaran di depan papan tulis, langsung menjadikan mereka sebagai fokus perhatian.
Kishi dan Dean kembali menahan tawa setelah keduanya sampai mendapat teguran dari guru yang sedang mengajar.
Bersambung .....
__ADS_1
Hari ini up dua kali, ya. Yang satu tingga sedikit lagi diup. Selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan. Tetap #dirumahsaja jika memang tidak ada kepentingan yang mendesak. Tapi kalau mau nyulik Mo, boleh banget mumpung dia masih jomlo 😂😂😂😂