
“Bahkan aku sudah ada niat buat tiup lilin, kalau kamu sampai ngejar pria lain!”
Bab 73: Pamit
Acara menonton telah selesai. Ketiga pasangan itu keluar dari ruang bioskop layaknya pengunjung lain. Dan seperti sebelumnya, Gio dan Kimi berencana untuk memisahkan diri dari kebersamaan.
“Kita langsung pulang saja,” bisik Kimi pada Gio.
Gio mengangguk setuju. Dalam posisi mereka yang nyaris berdempetan, keduanya berbincang dengan suara lirih tak ubahnya sedang berbisik-bisik untuk membahas hal yang sangat rahasia.
“Atmosfernya udah enggak enak banget. Kamu sih, aneh-aneh ngajak aku nonton!” tambah Kimi mengomel masih dengan suara lirih.
Gio menghela napas pelan sambil mengangguk-angguk, sedangkan kedua tangannya ia simpan di kedua sisi celana panjang yang dikenakan. Celana panjang yang selaras dengan jas hitam yang dikenakan. “Aku juga enggak tahu, kenapa aku tiba-tiba punya rencana ngajak kamu menonton bioskop. Mungkin karena kamu suka menonton bioskop, sedangkan aku sedang usaha buat minta maaf ke kamu?”
Kimi menghela napas kemudian menggeleng tanpa berkomentar lagi. Ia memang tidak bisa menyalahkan Gio terlebih pria itu hanya sedang berusaha meminta maaf kepadanya. Hanya saja, mengenai bisa bertemu dengan Steven dan Kainya, ... baginya itu luar biasa. Bahkan mereka sampai terjebak dan menonton bersama.
“Kalian oke?” tanya Kainya sambil menatap bingung Gio dan Kimi dan kebetulan melangkah di depannya.
Gio dan Kimi tak ubahnya orang asing yang tersesat di dunia lain. Keduanya refleks meringis memasang wajah tak berdosa sambil berangsur balik badan menatap Kainya. Sesekali, keduanya juga akan bertatapan kemudian menuangkan ketidaknyamanan satu sama lain.
“Aku sudah harus pulang, karena sudah ditungguin mama di rumah kak Rara,” jelas Kimi harap-harap cemas. Hingga detik ini, ia memang belum bisa membujuk perasaannya untuk bersikap biasa kepada Steven. Sebab, rasa kagumnya kepada pria yang ternyata kakak kandungnya itu, masih melebihi batas. Rasa kagum yang Kimi rasakan kepada Steven merupakan rasa kagum seseorang pada lawan jenisnya.
“Kamu mau menginap di rumah Kimo?” tanya Steven memastikan. Steven menatap Kimi sambil mengerutkan dahi.
Mereka yang baru saja keluar, kompak menepi di sebelah pintu masuk bioskop di antara lalu-lalang pengunjung mal keberadaan mereka dan hari ini terbilang sangat ramai.
Sambil menatap Steven, Kimi berangsur mengangguk. “I-iya, Kak ....”
“Aku akan langsung mengantar Kimi,” ucap Gio kemudian, sambil bersikap sesopan mungkin.
“Kita enggak makan dulu?” ujar Kainya sebelum terjadi kesepakatan. Baik antara Kimi dan Gio, juga keduanya dengan Steven yang tentunya akan menjadi pertimbangan keduanya, mengingat Steven kakak Kimi.
“Ah, iya! Kita makan dulu!” seru Itzy dari belakang yang sudah kembali mendekap erat sebelah lengan Ben. Wanita muda itu kembali bersemangat terlibat dalam obrolan dalam kebersamaan.
Sontak apa yang Itzy lakukan apalagi sampai berseru, sukses mengusik kebersamaan yang refleks menatap ke arah wanita muda itu. Bedanya, ketika yang lain sebatas menatap sambil mengulas senyum yang terlihat menuangkan rasa canggung, Ben sampai mendengkus menatap sebal Itzy.
“Berisik banget sih!” cibir Ben lirih.
Itzy tak acuh terhadap tanggapan Ben sambil mengeratkan dekapannya terhadap lengan pria itu, seolah-olah, sedikit saja ia lengah tak mendekapnya erat, Ben akan meninggalkannya dan bahkan enyah untuk selama-lamanya.
Tak lama setelah itu, Steven pun mengambil alih perbincangan. “Iya. Kita makan dulu.”
Gio dan Kimi refleks bertatapan. Keduanya tampak mempertimbangkan, tetapi Kimi tiba-tiba berkata, “mama sama Kak Rara juga menunggu kami untuk makan malam, Kak. Kami sudah ada janji.” Kimi menatap Steven penuh keyakinan. Ia berusaha meyakinkan pria itu.
Menyadari Kimi sangat ingin memisahkan dari dari kebersamaan, Kainya pun mengambil sikap. “Ya sudah, kalian hati-hati, ya?"
Kimi menyambut antusias balasan Kainya. Ia tersenyum sambil mengangguk kepada wanita itu. Di mana, Kainya juga balas menatapnya sembari mengulas senyum. Senyum tulus yang membuat wanita cantik itu terlihat semakin anggun di antara rambut hitam bergaya blow dry-nya yang tergerai.
Gio yang masih menatap Kainya, terpukau kepada wanita itu pun berkata dengan santainya, “ya sudah. Lain kali, kita makan berdua.” Ia mengatakannya dengan harapan yang begitu besar bahkan sampai ia tuangkan melalui tatapannya kepada wanita itu.
Ulah Gio yang bahkan sampai menatap Kainya sarat cinta, refleks membuat Steven bahkan Ben berdeham.
“Dasar play boy oleng!” cibir Kainya dengan tatapan sebal.
Gio tersenyum geli sambil menggeleng. “Aku serius!” ucapnya sambil menahan senyum.
__ADS_1
Lain halnya dengan yang lain, Itzy justru menatap kagum Gio. Sambil terus memperhatikan Gio, ia menyikut dada Ben. “Kak, aku juga mau kamu agresif usaha begitu!” bisiknya.
“Ya sudah, sana ... sana kamu sama Gio saja! Kalian cocok, kok!” balas Ben antusias sambil mendorong Itzy untuk mendekati Ben, tetapi wanita itu justru semakin mengeratkan dekapan tangannya.
“Enggak, ih. Aku maunya sama Kak Ben!” rengek Itzy dengan wajah yang menjadi cemberut dan terlihat menahan sebal.
Ben menatap Itzy dengan dahi berkerut. “Tapi kalian cocok, cepat sana mumpung Gio belum pergi!” ucapnya sambil mendorong-dorong Itzy agar mengejar Gio.
Tak beda dengan Gio dan Kimi, Itzy dan Ben juga berbincang dengan lirih. Itzy yang tetap mendekap erat sebelah lengan Ben bahkan sampai menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.
“Bahkan aku sudah ada niat buat tiup lilin, kalau kamu sampai ngejar pria lain!” Ben masih berusaha mengusir Itzy agar menjauh darinya.
Ben merasa heran sekaligus tak habis pikir, kenapa Itzy menjadi begitu agresif kepadanya? Pantas saja, meski usia Itzy masih muda, wanita itu sampai nekat mencoba memasuki rumah tangga Yuan dan Keinya.
“Ya sudah,” ucap Steven sambil merangkul pinggang Kainya dengan mesra. Ia menatap Kimi berikut Gio dengan tatapan tenang. “Hati-hati, ya. Kalau sudah sampai, tolong hubungi Kakak.”
Kini, Kainya kembali merasa sangat aman, kendati godaan dari Gio sama sekali tidak mengusiknya. Belum lagi, cara Steven menanggapi godaan Gio kepadanya juga sangat membuatnya bersyukur, lantaran pria itu memberi peringatan kepada Gio dengan halus.
Kimi mengangguk setuju sambil mengulas senyum, menatap keempat wajah orang yang ada di sana dan sempat menghabiskan kebersamaan dengannya.
“Sampai jumpa!” pamit Kimi sopan.
Itzy langsung melambaikan tangan sambil tersenyum ceria kepada Kimi. Sedangkan Ben hanya sebatas mengangguk. Lain halnya dengan Steven dan Kainya yang kompak tersenyum hangat membalas Kimi.
“Tolong jaga Kimi,” pesan Steven kepada Gio.
Gio mengangguk sambil menatap Steven santai, tetapi ketika menatap Kainya, ia menjadi mengulas senyum dan berkata, “sampai jumpa!”
Kainya menepisnya dengan sorot mata yang menjadi tajam lantaran merasa sebal kepada Gio.
“Bukan Gio yang menjagaku, tetapi aku yang menjaganya,” ucap Kimi dan sengaja bergurau sebelum menarik paksa sebelah lengan Gio agar pria itu berhenti menggoda Kainya.
“Kok Kakak enggak marah, pacarnya digoda-goda?” tanya Itzy yang langsung membuat Ben kalang kabut. Ben segera menarik Itzy untuk kembali ke belakang.
“Itzy!” omel Ben dengan suara pelan. “Kok Itzy jadi ember begini, sih?!” batin Ben masih terheran-heran. Ia mulai kewalahan menghadapi Itzy.
Steven mengulas senyum. “Mau bagaimana lagi? Risiko punya pasangan cantik kan memang begini? Asal masih aman, aku enggak masalah. Paling emosi.” Ia mengakhiri ucapannya sambil menahan tawa.
Kainya tersipu sambil menggeleng geli menanggapi tanggapan Steven terhadap pertanyaan Itzy.
Steven yang masih menatap Itzy menambahkan, “justru, Kainya bisa marah kalau aku emosional.”
Dan dalam diamnya, melalui senyumnya, Kainya membenarkan anggapan Steven. Ia jauh lebih menyukai orang yang tidak emosional sekaligus mampu mengatasi segala sesuatunya dengan tenang, terlebih untuk sosok yang ia pilih menjadi pasangan.
Mendapati tanggapan Steven dan Kainya, Itzy yang terkesima dan sampai tersenyum takjub, refleks berkata, “Sweet ....”
Menyadari kondisi Itzy semakin tidak memungkinkan, Ben menjadi takut Itzy semakin berulah. Jadilah, ia juga memilih untuk membawa pergi Itzy dari kebersamaan.
“Kita pulang!” bisik Ben sambil menatap tegas Itzy.
“Kita kan belum makan?” protes Itzy lirih.
“Aku masih banyak pekerjaan. Aku juga harus menyiapkan bahan rapat besok!” balas Ben cukup mengomel.
Itzy tak lantas menjawab. Ia terdiam sejenak termasuk tatapannya yang menjadi turun, di mana tak lama setelah itu, ia berkata, “aku belum mau pulang!”
__ADS_1
“Sudah kita bahas nanti saja. Yang penting kita pergi dari sini dulu. Kamu malu-maluin!” balas Ben masih mengomel dengan suara lirih.
Itzy tidak mempermasalahkan omelan Ben, sebab diam-diam, ia telah merencanakan sesuatu yang membuatnya tetap bisa bersama Ben. “Baiklah ... ayo, kita pulang!”
“Stev, kita juga pamit,” sergah Ben sambil menggandeng erat sebelah tangan Itzy lantaran takut, wanita itu melakukan hal fatal dan akan membuatnya semakin malu.
Itzy mengulas senyum sambil menatap santai Steven dan Kainya.
Melihat gerak-gerik Ben yang terlihat sangat tidak nyaman, Steven tidak berniat menahan apalagi mempersulit kepergian sahabatnya itu. Pun meski mereka jarang memiliki waktu luang untuk bersama-sama layaknya sekarang.
“Ya sudah. Good luck, ya! Lain kali kita kumpul lagi!” balas Steven.
Ben mengangguk setuju. “Maaf, ya, kalau dia terlalu berisik bahkan rese!” balas Ben sambil menunjuk Itzy melalui gerak wajah.
Steven menjadi menahan tawa, sedangkan yang dimaksud menjadi menatap sebal Ben di tengah wajah Itzy yang menjadi cemberut.
“Oh, iya ... mengenai kerja sama, Yura, ... sudah menghubungimu?" sela Kainya dan sukses mengalihkan perhatian Ben.
Ben yang awalnya terlihat kesal karena ulah Itzy, menjadi menatap Kainya dengan pandangan yang begitu tenang. “Sebenarnya, dulu kita sedekat apa?” batin Ben yang kemudian mengangguk. “Ya, Yura sudah menghubungiku.”
Kainya mengangguk dua kali. “Ya sudah, good luck, ya!”
Ben mengangguk dengan rasa canggung yang tiba-tiba menyelimuti hatinya.
“Kak Kai, tahu mengenai kerja sama Kak Ben dan Yura, juga?” sergah Itzy penasaran.
Kainya menatap Itzy sambil mengulas senyum kemudian mengangguk. “Iya.”
Tanpa mau membuat Itzy semakin mengoreksi lebih jauh, Ben sampai merangkul Itzy dan buru-buru pamit. Di mana, Steven dan Kainya kompak menertawakan ulah Ben dan Itzy melalui tawa yang sengaja mereka tahan.
***
Yuan baru saja pulang kerja. Pria itu melangkah semringah dengan senyum yang tak pernah meninggalkan wajah tampannya. Terlebih ketika ia berhasil membuka pintu kamar, di mana pandangannya langsung menyisir suasana kamarnya, tanpa membuatnya memasuki kamar lebih dulu. Di tempat tidur, Keinya terlelap meringkuk ke sebelah kiri. Mendapati itu, senyum di wajah Yuan kian lebar saja. Bahkan karenanya, Yuan berangsur melangkah.
Sambil mengendurkan lilitan dasi dari kerah kemeja yang dikenakan, Yuan meletakkan tas kerjanya di meja yang keberadaannya ada sebelah pintu. Awalnya, ia berniat langsung menghampiri Keinya setelah berhasil melepas dasi dan meletakkannya di sebelah tas kerja. Namun, ketika ia melangkah ke arah istrinya yang masih terlelap, ada bunyi yang mengusiknya. Ya, dari arah meja rias.
Yuan yang awalnya baru akan melepas kancing pergelangan kemejanya, sampai terlonjak ketika mendapati Pelangi sudah bergelepot lipstik. Tak hanya bibir berikut wajah, melainkan pakaian yang anak itu kenakan. Pun dengan lantai di sekitar bocah itu yang sampai menjadi korban.
Selain itu, di lantai, Yuan juga mendapati maskara sudah tercecer dari botolnya. Pun dengan beberapa lipstik yang sampai patah dan terkapar di antara alat berikut kosmetik Keinya yang lain.
Yuan yang menekap mulut menggunakan kedua tangan demi menghalau tawanya, berangsur menghampiri Pelangi.
“Pelangi belajar dandan biar tambah cantik kayak mama?” ucap Yuan sambil mengangkat, menggendong Pelangi yang langsung ia ciumi. Tak peduli meski hal tersebut membuat bibirnya turut bergelepot lipstik.
“Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Nanti, biar mama beli lagi. Yang penting Pelangi sehat, mama sama baby juga sehat, ya?” ucap Yuan kemudian ketika Pelangi mengeluhkan lipstik yang dipegang dan sudah patah. “Ya sudah, Papa bantu Pelangi mandi. Kita mandi.”
Hari ini, setelah melakukan pemeriksaan kandungan, hidup Yuan memang terasa semakin sempurna lantaran Keinya benar sedang mengandung benih cinta mereka. Bahkan saking bahagianya, Yuan sampai tidak merasa lelah atau pun marah. Semua yang menimpa dan ia dapatkan ia anggap sebagai berkah. Toh, Tuhan sudah memberinya banyak kebahagiaan. Keluarga bahagia bersama Keinya, juga anak-anak mereka.
Pun meski karena kehamilan Keinya, kesehatan istrinya itu menjadi sedikit terganggu. Keinya yang gampang lelah bahkan sakit, selain Keinya yang jadi gampang tidur, sampai-sampai, malam ini, Pelangi sukses membajak semua kosmetiknya.
Bersambung ....
Kangen sama Rara dan Kimo? Athan sama Ryunana?
Terus dukung ceritanya, ya ^^
__ADS_1
Salam sayang,
Rositi.