Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 4 : Waktu yang Cepat Berlalu


__ADS_3

“Waktu begitu cepat berlalu. Bagaimana dengan kita? Satu-persatu dari mereka pasti akan meninggalkan kita?”


Episode 4 : Waktu yang Cepat Berlalu.


Meski sudah memastikan keadaan ketiga anaknya, Yuan tak lantas berlalu. Ia yang masih berdiri di depan pintu kamar Zean mengamati suasana rumahnya yang sudah menjadi temaram, lantaran ketika penghuni rumah sudah tidur, semua lampu besar memang akan dimatikan. Hanya menyisakan lampu kecil di beberapa sudut.


Tak lama setelah itu, Yuan segera melangkah menuruni anak tangga, melalui suasana temaram yang benar-benar menyatu dengan kesunyian. “Terima kasih banyak, Tuhan ... semuanya terasa begitu indah bahkan ... sempurna,” batinnya.


Ketika Yuan memasuki kamar, Keinya baru saja keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk kecil yang melingkar di leher wanita itu. Kenya menggunakan handuk tersebut untuk menyeka pelan wajahnya yang masih cukup basah. Tak lama setelah itu, tatapan mereka bertemu tepat ketika Yuan baru saja menutup pintu dengan hati-hati.


“Apa yang membuat Zean bisa tidur cepat?” tanya Yuan sambil mendekat dan menatap Keinya penuh cinta.


Keinya yang juga berangsur melangkah ke arah Yuan sambil melanjutkan menyeka wajah pun berujar, “aku menjanjikannya pergi jalan-jalan ke kebun binatang hari besok juga. Jadi, aku memintanya untuk tidur lebih cepat agar dia bisa bangun pagi untuk menyiapkan bekal jalan-jalannya.”


Yuan mengernyit dengan wajah yang menjadi dihiasi raut ragu. Ia yang sudah berada di depan Keinya, mengambil alih kesibukan wanita itu dalam menyeka wajah. “Bagaimana jika dia tidak mau pulang kalau tidak membawa salah satu hewan?”


Pernyataan Yuan membuat Keinya kebingungan. “Kok, ... aku enggak berpikir ke situ, yah, Yu?”


“Nah, itu ...!” balas Yuan yang kemudian menahan kedua sisi wajah Keinya dan mencium gemas hidung wanita tersebut.


“Ya sudahlah, Yu ... buatkan kebun binatang saja di samping apa belakang rumah, biar Zean diem enggak bawel terus,” balas Keinya kemudian.


Yuan kembali mengernyit tidak yakin. “Masalahnya Zean terlalu terobsesi dengan alam bebas tanpa terkecuali binatangnya. Sama sekali enggak ada yang ditakuti. Nanti yang ada, dia seneng, yang lain pada ketakutan.”


Keinya dan Yuan sama-sama dibingungkan dengan kenyataan Zean. Membuat kebun binatang di rumah memang masih bisa Yuan lakukan, masalahnya, bagaimana dengan penghuni rumah lainnya? Karena Pelangi saja, akan histeris kalau sudah melihat kecoa dan cecak. Apalagi jika Pelangi sampai tahu di rumahnya akan ada kebun binatang?


“Benar-benar perlu perencaaan yang matang. Kita pikirkan cara lain saja agar Zean mau bersosialisasi dan melupakan obsesinya pada alam bebas apalagi binatang,” ucap Yuan kemudian, setelah mereka sama-sama diam.


Yuan berangsur menuntun Keinya untuk menuju tempat tidur mereka yang jaraknya sekitar tujuh meter dari kebersamaan mereka.


“Kalau begitu, besok aku akan meminta bantuan Kimo, karena biar bagaimanapun, Zean sangat patuh pada Kimo,” usul Keinya.


“Ya sudah, kamu atur saja.  ... apa, ke kebun binatangnya juga bareng Aurora?” ucap Yuan sambil duduk di tepi kasur.


Keinya segera mengangguk.


“Pantes,” ujar Yuan yang menjadi tersenyum sambil menggeleng geli.


Aurora merupakan adik Mofaro dan Rafaro. Kimo dan Rara memang baru memiliki tiga momongan, di mana Aurora juga seusia Zean. Dan selain sama-sama sekolah di sekolah yang sama, Aurora juga merupakan satu-satunya teman dekat Zean.


“Masih mens?” tanya Yuan dengan suara yag jauh lebih lirih.


Keinya mengangguk bersamaan dengan wajahnya yang menjadi dipenuhi raut manja yang turut dibubuhi banyak sesal. 


Yuan menanggapinya dengan pura-pura terkejut kemudian terpejam sedih, dan membuat Keinya menertawakannya.


“Mungkin besok, Yu ....”

__ADS_1


“Baiklah, ... mari kita tidur.”


“Baiklah ... oh, iya ... Pelangi izin mau ke rumah Athan.”


“Oh, siapa yang antar?”


“Mungkin Dean.”


“Kamu yakin Dean mau?”


“Lho, ... memangnya kenapa?”


“Ah ... kamu ini payah. Masa iya kamu enggak tahu, kalau anak mantan suamimu menjadi salah satu fans berat Dean? Fans garis keras malah!”


“Wah ...? Kishi? Khisi suka Dean, ...Yu? Pantesan kalau ketemu aku, dia manis banget dan suka tanya-tanya tentang Dean ... hahaha ... masa iya anak-anak begitu? Mereka masih anak-anak, Yu ....”


“Bukan mereka yang masih anak-anak. Karena kitalah yang lupa umur. Kita tak lagi muda, Sayang. Bahkan bentar lagi, kita juga bisa punya menantu!”


Balasan Yuan membuat Keinya semakin tertikik. Akan tetapi, tiba-tiba Keinya menjadi merasa sangat bersedih. Karena dengan kata lain, satu-persatu dari anaknya juga akan meninggalkannya untuk memulai kehidupan baru.


“Waktu begitu cepat berlalu. Bagaimana dengan kita? Satu-persatu dari mereka pasti akan meninggalkan kita?” ucap Keinya yang tiba-tiba saja menjadi merasa sangat sedih. Ia mendekap Yuan jauh lebih erat dengan wajah yang turut ia semayamkan di dada sang suami.


“Haruskah kita memberi mereka adik baru?” usul Yuan sambil balas mendekap Keinya sekaligus membelai kepala wanita tersebut. 


Yuan sengaja menggoda Keinya agar tidak terlalu menyikapi keadaan dengan banyak kesedihan. Terlebih biar bagaimana pun, Yuan juga merasa sangat bersedih jika harus menghadapi kenyataan, bahwa cepat atau pun lambat, anak-anak mereka yang hingga detik ini masih Yuan anggap sebagai bayi, benar-benar akan meninggalkan mereka.


“Aku juga serius!”


“Enggak, ah!


“Mungkin itu juga yang orang tua kita rasakan. Dan mungkin karena itu juga, mereka sangat bahagia setiap kita memberi mereka cucu?”


“Jalani dan nikmati saja semua proses yang Tuhan berikan. Sudah sampai begini, bukankah kita sudah sangat beruntung? Masih banyak di luar sana yang tidak bisa seberuntung kita, Kei ....”


“Iya, Yu ... aku mengerti ... maaf.”


“Ya sudah, ... kita tidur.”


“Selamat malam.”


“Iya, aku mencintaimu.”


“Heum ... aku juga mencintaimu.”


Jika waktu memang cepat berlalu, baik Keinya maupun Yuan akan semakin menjaga waktu yang mereka miliki. Mereka ingin menghabiskan waktu dengan sebaik mungkin, khususnya bersama anak-anak mereka. Sebelum anak-anak dewasa dan satu-persatu dari mereka pergi meninggalkan mereka, hingga rumah yang awalnya hidup karena canda tawa bahkan perselisihan, menjadi kehilangan nyawa. Keinya dan Yuan berharap, mereka akan bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin.


“Ma ... Pa ....”

__ADS_1


Suara yang terdengar dari balik pintu yang sedikit terbuka, mengalihkan keheningan Yuan dan Keinya yang baru saja akan terlelap. Keinya segera menarik diri, bergegas turun dari tempat tidur. Di depan sana, di balik pintu yang masih ditahan, Zean berdiri sambil mendekap bantal guling berbentuk tulang.


“Kenapa?” tanya Keinya yang segera menghampiri Zean.


Yuan juga berangsur bangun tanpa benar-benar meninggalkan tempat tidur. Ia masih duduk cukup selonjor di tempat.


“Aku mimpi buruk. Aku melihat Dean di mimpiku, dan setelah itu, aku tidak bisa tidur.”


“Apa yang salah dengan kakakmu? Kemarilah. Kita tidur bersama saja,” ujar Yuan.


Dari semua mahluk yang ada di kehidupan, Zean memang terkesan anti kepada Dean. Mungkin karena Zean menganggap Dean terlalu sempurna, membuat anak itu kewalahan dalam menyeimbangi sang kakak.


Keinya menuntun Zean untuk masuk sesaat setelah sampai menutup pintu tanpa menguncinya. Karena biar bagaimana pun, Zean memang sudah tidak mau digendong pun meski ketika bocah itu sedang sangat sedih bahkan sakit. Zean, ingin selalu mandiri dan menjadi lebih baik. Pun dengan kenyataan sekarang, bocah itu tak lantas mau ikut tidur di kasur. Zean tidak suka tidur di kasur dan akan memilih tidur di karpet lantai yang Keinya alasi kasur tipis. Kasur lantai yang sengaja Keinya siapkan untuk Zean.


“Ayo, ceritakan apa yang Dean lakukan di mimpimu, sampai-sampai, kamu jadi susah tidur,” ucap Yuan yang sudah kembali terpejam.


Yuan dan Keinya sudah kembali berbaring dan siap tidur.


“Di mimpi, Dean bilang, dia sangat menyayangiku, dan setelah itu, dia memeluk bahkan menciumku,” balas Zean yang baru terpejam dan sudah berbaring lengkap dengan selimut yang menyelimuti, termasuk bantal guling berbentuk tulang yang ia dekap erat.


Yuan hanya menggeleng sambil menghela napas. Berbeda dengan Keinya yang menjadi mesem kemudian menyemayamkan wajahnya di dada sang suami.


“Dean memang sangat menyayangimu,” ujar Yuan.


“Dia tak ubahnya monster yang akan menghancurkan kehidupan!” elak Zean.


“Baiklah. Kita lihat saja,” balas Yuan.


“Iya, kita lihat saja!” timpal Zean tak mau kalah. “Tapi, Pa ... Ma ... Ngi-ngie sudah punya pacar!” ujarnya tiba-tiba dan segera bangkit dari tidurnya.


Mendengar pengakuan Zean, Yuan dan Keinya refleks mengepakkan mata bahkan terjaga. Zean, anak itu tidak pernah berbohong. Zean akan selalu jujur bahkan meski kejujurannya akan melukai pihak lain tanpa terkecuali saudaranya sendiri.


“Siapa pacar Ngi-ngie?” sergah Yuan yang sampai merangkak demi mendekati Zean.


Zean mengangguk mantap dengan raut serius yang menyertai wajahnya. Jika sudah seperti itu, Keinya dan Yuan paham, Zean akan mulai bercerita sejelas dan setuntas mungkin.


Bersambung ....


Hati-hati kalau punya orang macam Zean, yah, hahaha ....


Ikuti dan terus dukung ceritanya, ya. Like, komen, dan vote kalian sangat menentukan nasib cerita ini. Serius, like dan komen dikit, cerita ini bakalan tenggelam karena sistim di MT emang sudah ketat banget. Jadi, Author mohon banget biar cerita ini juga enggak tenggelam.


Bab selanjutnya akan up besok 💜💝


Salam sayang,


Rositi.

__ADS_1


__ADS_2