
“Jangan pernah menyesali keputusanmu ... karena meski berat, dan bahkan akan membuatmu lebih berjuang, ... tapi pada kenyataannya tidak akan ada hasil yang mengkhianati usaha.”
Bab 37 : Tawaran Nikah Gantung
Dengan dada yang kembali berdebar-debar, Pelangi menatap ragu Yuan. Tak jauh berbeda ketika tadi, ia harus menemui Kim Jungsu menemani Kim Jinnan, kini Pelangi juga sampai gemetaran.
“Pa ...?” panggilnya dengan nada lemah sambil menengadah, menatap Yuan penuh harap.
Dan Yuan yang terlihat jelas bisa membaca apa yang Pelangi rasakan, berangsur mengangguk seiring sebelah tangannya yang merangkul sebelah bahu gadis di hadapannya.
“Kita bahas di dalam,” ucap Yuan dengan suara yang tak kalah lemah.
Pelangi yang kembali menengadah menatap Yuan pun kembali mengangguk dengan irama yang jauh lebih bersemangat dari sebelumnya. Dan tak lama setelah itu, Yuan berangsur menuntun Pelangi melalui rangkulannya. Ia menuntun gadis itu untuk memasuki ruang di seberang selaku ruang kerja mereka. Sebab Pelangi yang masih belajar, memang sengaja ia tempatkan dalam satu ruangan bersamanya.
Di sofa panjang yang kerap menjadi tempat bersantai atau tempat menjamu tamu penting, di sana, Yuan menuntun Pelangi untuk duduk. Pelangi yang terlihat semakin murung dan bahkan tak bersemangat. Karena untuk menurunkan kaitan tas dari pundak kanan saja, Pelangi yang melakukannya di tengah keadaannya yang masih menunduk, membutuhkan waktu yang cukup lama dari keadaan gadis itu ketika sedang normal.
“Apakah sesuatu yang tidak kamu harapkan telah terjadi?” lirih Yuan yang bahkan sampai menunduk demi menatap Pelangi lebih dekat.
Pelangi yang balas menatap Yuan, berangsur mengangguk. “Iya, Pa ... aku ... aku telah melakukan keputusan besar. Entah aku harus menamainya apa ... hanya saja, ini terbilang ....” Pelangintak kuasa melanjutkan ucapannya.
Pelangi yang terlihat semakin tertekan justru menunduk sesaat setelah sampai menatap sedih Yuan.
Yuan tahu, Pelangi sedang dilema. Dan mengenai keputusan yang Pelangi maksud, sebenarnya Yuan juga bisa membaca sekaligus mengetahuinya.
“Jangan pernah menyesali keputusanmu ... karena meski berat, dan bahkan akan membuatmu lebih berjuang, ... tapi pada kenyataannya tidak akan ada hasil yang mengkhianati usaha.” Yuan berusaha meyakinkan Pelangi.
Dengan mata yang berkaca-kaca, Pelangi berangsur kembali menatap Yuan. “Namun, tidak untuk urusan hubungan apalagi pernikahan, kan, Pa?”
Melihat kesedihan Pelangi, hati Yuan juga menjadi sangat sakit. “Kamu menyayangi Jinnan?”
Pelangi langsung menghela napas dalam. “Aku pikir, aku hanya akan berteman dengannya! Seperti ketika aku kepada Mo atau Rafa!” ucap Pelangi penuh penekanan.
“Kamu menyesal?” balas Yuan.
Dan detik itu juga, Pelangi menjadi terdiam. Menunduk tanpa bisa memberikan balasan apalagi penjelasan panjang lebar.
“Meski sudah melakukannya, tetapi aku tidak menyesal. Yang ada hanya rasa ragu bahkan takut,” batin Pelangi yang kemudian juga mengatakannya. “Aku enggak menyesal ... tapi aku merasa sangat ragu bahkan takut, Pa! Kalau begini, apa artinya?”
“Dibanding Mo, dan Rafa, mana yang lebih membuatmu merasa berjuang? Berjuang, bukan nyaman,” balas Yuan.
__ADS_1
Setelah terdiam dan terlihat menimang rasa, Pelangi pun hanya mengucapkan satu nama. “Jinnan ... dia selalu membuatku mati-matian mengendalikan perasaan. Kadang aku tegang, bingung, bahkan gugup dalam waktu yang bersamaan. Ya meski pada kenyataannya, aku juga lebih sering merasa kesal karena Jinnan memang nyebelin! Jail banget orangnya!”
Balasan Pelangi membuat Yuan menghela napas lega. Yuan benar-benar bahagia jika kenyataan tersebutlah yang Pelangi rasakan untuk seorang Kim Jinnan. “Jadi, Jinjan sama sekali tidak pernah membuatmu merasa nyaman?” tanyanya kemudian.
Pertanyaan Yuan sukses menarik Pelangi untuk menyelami kejadian ketika dirinya mendapatkan kabar mengenai kematian Feaya yang menyeret Dean dan Kishi di dalamnya. Saat itu, Pelangi mereka sangat bingung sekaligus takut. Pelangi benar-benar kacau. Bahkan saking kacaunya, Pelangi tak segan berkeluh kesah dan bahkan bersandar pada seorang Kim Jinnan.
Dan mengingat itu, Pelangi cukup tak percaya, jika pada kenyataannya, Kim Jinnan pernah membuatnya merasa sangat nyaman sekaligus aman.
“Sedikit, Pa. Dia pernah membuatku merasa nyaman. Kemarin, saat kasus Feaya itu ....” Pelangi mengatakannya tanpa menatap Yuan.
Dan Yuan mengerucutkan bibir sambil mengangguk-angguk.
“Tapi kok Papa enggak ke sekolah Dean buat urus semuanya?” sergah Pelangi kemudian sambil menatap Yuan.
“Nanti sekitar pukul sepuluh. Papa sudah menghubungi pihak sekolah. Toh, pukul delapan nanti, kita juga ada rapat. Kamu lupa itu?” balas Yuan sambil membelai sebelah kepala Pelangi.
Pelangi memasang senyum masam sambil kembali menatap Yuan. Membuatnya tampak tak berdosa sekaligus menggemaskan.
“Ngie,” sergah Yuan sambil menahan kedua bahu Pelangi.
Yuan menatap dalam kedua manik mata Pelangi yang berangsur menatapnya.
“Jika memang keadaan membuatmu sulit bergerak. Kamu yang sulit menghindari Jinnan dengan alasan yang bahkan tidak bisa kamu pahami, ... juga, perihal kesehatan kakek Jungsu yang juga tak kalah mengkhawatirkan, ....” Yuan tak kuasa melanjutkan ucapannya. Karena entah atas dasar apa, kata-katanya mendadak tertahan di tenggorokan.
“Jika harus menikah, kira-kira, apa yang terjadi? Aku belum siap, Pa ... aku benar-benar belum siap ....” Pelangi, memang belum siap. Namun jika harus benar-benar melepaskan Kim Jinnan, Pelangi juga lebih belum siap lagi.
“Tidak apa-apa. Nikah gantung saja,” balas Yuan meyakinkan.
“Nikah gantung? Maksudnya bagaimana, Pa?” tanya Pelangi yang memang tidak mengerti.
“Kalian pilih. Menikah sah dan tinggal terpisah untuk jangka waktu yang belum bisa dipastikan. Jadi, jika kalian sudah sama-sama siap, kalian bisa tinggal bersama. Atau, ... menikah hanya sebatas perjanjian semacam perjodohan, tanpa benar-benar ada ikatan?” tawar Yuan. “Jadi, jika nantinya kalian siap menikah, kalian bisa menikah dan melanjutkan perjodohan tersebut. Namun jika pada kenyataannya kalian tetap belum siap dan memiliki pandangan lain untuk hubungan kalian, kalian boleh membatalkan perjanjian tersebut,” tambahnya.
Dan Pelangi, mendadak dipusingkan oleh pilihan yang Yuan berikan. Pelangi ingin menjalani hubungan yang aman. Hubungan yang juga membuatnya tidak akan kehilangan Kim Jinnan. Lantas, hubungan macam apa yang harus Pelangi pilih?
Mendapati Pelangi menjadi terdiam dan terlihat merenung, Yuan menjadi tersipu. “Nanti kamu bahas ini sama mama saja di rumah. Ya. Pelan-pelan saja. Jangan sampai membuatmu tertekan.”
Apa yang Yuan katakan sukses membuat Pelangi tersipu. Namun, kenapa Pelangi sampai menjadi merasa malu?
***
__ADS_1
Kehadiran Kishi dan Dean di sekolah, langsung menjadi pusat perhatian. Hampir semua yang melihat kehadiran mereka, langsung menatap aneh, prihatin, bahkan ada yang langsung saling bergunjing. Entah apa yang dipikirkan mereka tentang Dean dan Kishi setelah kejadian nekat yang Feaya lakukan.
“Aku sudah membahas hal ini dengan papa. Dan sesampainya nanti, papa juga akan mengurus semuanya,” bisik Kishi.
Dean mengangguk. “Nanti sekitar pukul sepuluh, papaku juga akan datang untuk mengurus semuanya. Dan sepertinya, papamu enggak perlu datang lagi, karena semuanya pasti akan diurus papaku,” balas Dean.
“Pihak sekolah menyarankan agar kita enggak pindah. Terus, bagaimana?” lanjut Kishi sembari menengadah dan menatap Dean penuh kepastian.
Dean dan Kishi masih berjalan pelan menuju kelas mereka.
“Cayo, Ean ... Ki! Jangan takut. Kami semua mendukung kalian. Kalian enggak salah!” seru beberapa dari mereka yang baru saja Dean dan Kishi lalui.
Tak lama setelah itu, yang lain juga menjadi ikut-ikutan berseru, menyemangati Kishi dan Dean. Masih dengan teriakan sama, dan sukses membuat Kishi maupun Dean menghentikan langkah mereka.
Mendapatkan semua dukungan itu, dada Kishi menjadi berdebar-debar. Kishi benar-benar tak menyangka akan mendapatkan dukungan yang begitu besar dari teman sekolahnya.
“Tapi jujur ya, aku takut si Feaya jadi hantu terus nyekik aku!” keluh salah satu dari mereka.
“Tuh, hantunya di belakang kalian!” seru Dean tiba-tiba sambil menunjuk ke belakang sisiwi yang mengeluh.
Sontak, apa yang Dean lakukan langsung membuat siswi, bahkan semua siswi yang ada di sekitar siswi tersebut, berteriak ketakutan sembari berlari berhamburan ke depan.
Dan untuk pertama kalinya, Kishi melihat seorang Dean sampai tertawa lepas. Kishi yang menganggap kejadian tersebut sebagai hal langka pun tak mau menyia-nyiakannya. Kishi, terus menengadah memandangi wajah Dean yang akan terlihat semakin tampan sekaligus menggemaskan, ketika tertawa lepas layaknya sekarang.
“Jail kamu!” ucapnya kemudian dan sampai mencubit perut Dean.
Dean yang masih tertawa lepas pun berangsur menyeringai dan mengakhiri tatapannya dalam mengamati murid-murid yang menjerit histeris sambil tunggang-langgang menyelamatkan diri. Dean menatap Kishi yang kemudian meninggalkannya.
Kishi melangkah dengan hati yang berbunga-bunga, karena akhirnya, hari ini ia bisa melihat Dean tertawa lepas, untuk yang pertama kalinya.
“Ki ...?” panggil Dean sembari menyusul Kishi dan membuatnya sampai berlari lantaran langkah Kishi terbilang sangat cepat. Ia tertinggal jauh dari gadis itu.
Meski terus melangkah, tetapi Kishi berangsur menoleh dan menatap Dean. “Ayo cepat,” serunya.
“Dean ... ternyata kamu jail juga, ya? Mau dong, ... dijailin terus!” seru siswi-siswi di sana dan langsung membuat Kishi menghentikan langkahnya.
Kishi sampai balik badan dan kemudian mengukurkan sebelah tangan kepada Dean, yang juga langsung disambut girang oleh pemuda itu. Dean langsung meraih sekaligus menggandeng tangan tersebut. Dan melalui kenyataan tersebut, Kishi juga ingin menegaskan bahwa Dean hanya miliknya!
Bersambung ....
__ADS_1
Di novel : Perfect Pasutri (Menjadi Istri Tuanku Season 2) yang tayang di Innovel atau Dream, semua pemain masih sama ya. Cerita benar-benar dilanjut di sana. Fina yang hamil, Rena adik Rafael yang berusaha menyingkirkan Fina, Ipul yang cari jodoh .... dan masih banyak keseruan lainnya ♥️🙏