
“Meski restu orang tua penting, tetapi jika cara pikir mereka saja tidak bisa memberikan contoh yang benar, kita bisa menentukan jalan kita tanpa mereka.”
Bab 4 : Derita Anak Pelakor
Menggunakan handuk yang ia ambil, Rara mengeringkan kepala Kimo yang tengah terduduk pada kursi bekasnya duduk untuk mengamati layar laptopnya.
“Web novel kalian keren. Siapa yang mendesain ini?” puji Kimo tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop. Bahkan ia sengaja melihat-lihat fitur di sana.
“Ya aku dan Keinya,” balas Rara masih serius mengeringkan kepala Kimo.
Kimo tersenyum kemudian menoleh dan menatap Rara tak percaya. “Kamu bisa mendaesain web?” Sulit baginya untuk percaya jika Rara bisa mendesain web yang memerlukan tak-tik otak. Baginya, tipikal Rara itu hanya bisa memikirkan hal-hal ringan tanpa kesulitan berarti.
“Memangnya salah, kalau aku cerdas dan serba bisa? Lagi pula, Gio itu lulusan IT terbaik setelah Athan, dan aku belajar banyak dari dia. Satu lagi, seorang penulis juga butuh banyak riset. Dan melalui riset itu, aku juga jadi banyak belajar.”
“Gio ....” Kimo mengangguk-angguk sambil mencebikkan bibirnya. “Mantanmu hanya Gio?”
Pertanyaan Kimo membuat Rara mengernyit heran. “Kenapa?”
“Y-ya, aku mau tahu!” balas Kimo gelagapan.
“Nggak usah membahas masa lalu terlebih mantan dengan pasangan, kalau ujung-ujungnya menjadi bahan perdebatan.” Rara tak acuh dan mulai mengeringkan kemeja bagian punggung Kimo.
Kimo menghela napas sambil mengalihkan tatapannya dari Rara. Rasa cemburu memang tidak bisa ia hindari hanya karena Rara membahas pria lain, apalagi pria dari masa lalu seperti Gio bahkan Athan.
“Tunggu sebentar, aku buatkan teh hangat dulu,” ucap Rara sambil menyampirkan handuk di pundaknya sembari berlalu.
Kimo melepas kepergian Rara dengan tatapan sarat kesedihan. Dengan keadaannya yang sekarang, ia justru takut tidak bisa membahagiakan apalagi memuliakan Rara. Setelah begitu banyak luka yang harus wanitanya rasakan, bahkan dari orang terdekat yang seharusnya memberikan pokok kebahagiaan, rasanya sangat tidak adil jika kehadirannya juga tidak bisa memberikan kehidupan lebih baik. Bahkan meski ia berusaha melawan kehendak orang tuanya, apakah Rara akan baik-baik saja? Apakah usaha sekaligus cintanya bisa menjamin kebahagiaan untuk Rara?
Sampai Rara kembali dengan dua cangkir teh yang dibawanya menggunakan nampan, Kimo masih termenung. Bahkan ketika Rara juga menyelinap duduk di sebelahnya sesaat setelah meletakan dua cangkir teh yang masih mengepulkan asap di hadapan mereka.
Tanpa menatap Rara, dengan wajahnya yang masih menunduk, Kimo mendekap tubuh Rara. “Apakah kamu yakin, aku bisa membuatmu bahagia?” tanyanya lirih.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Rara yang awalnya tersenyum bahagia, menjadi terdiam dan berangsur menunduk. Kesedihan tiba-tiba menyapanya.
“Maaf, ya. Mungkin ke depannya akan banyak hal sulit yang mengganggumu.” Kimo mengatakan itu dengan hati yang mulai terasa sakit, sedangkan Rara belum berani berkomentar.
Kimo menelan ludah di antara kesedihan yang mulai menyerang. “Aku bukan Kimo yang dulu yang bisa memberimu kemewahan. Tentu hidup kita akan sangat jauh dari kehidupan Keinya dan Yuan.”
“....”
“Meski aku juga tidak yakin, apakah aku bisa membahagiakanmu apalagi memberimu kehidupan lebih baik, tetapi aku akan terus berusaha!” tegas Kimo kemudian setelah sempat terdiam seiring dengan butiran hangat yang berlinang dari matanya.
Kimo kian mengeratkan dekapannya di mana tak lama setelah itu, sebelah tangan Rara meraba dan menopang wajah Kimo.
“Aku tidak butuh sesuatu yang sempurna baik harta maupun fisik, karena di dunia ini tidak ada yang sempurna tanpa kita sendiri yang mengupayakannya. Tetapi jika kamu akan selalu berusaha, hal tersebut membuatku merasa sangat beruntung, apalagi alasanku bertahan sampai detik ini, karena kamu dan dicinta olehmu!”
Kimo terenyuh, tersenyum di tengah air matanya yang kian rebas.
“Setelah ini, kita nggak usah bahas hal-hal yang hanya membuat kita sedih. Lagi pula, kita juga sudah tahu keadaan masing-masing, kan?” ujar Rara yang sebenarnya juga merasa sangat sedih.
Kimo tidak mengomentari.
“Oh, iya. Tadi siang papamu datang ke sini.”
Cerita Rara, membuat dekapan Kimo merenggang.
__ADS_1
“Saat aku telepon kamu, itu sebenarnya diminta papamu.”
“Papa nggak bahas hal-hal aneh apalagi menyakitimu, kan?” sergah Kimo.
Rara menggeleng, kemudian berusaha menghadap Kimo dan menyeka air mata pria itu. “Nggak, sih. Papa hanya minta kita lebih bersabar. Dan rencananya, besok malam kita akan makan malam bersama.”
“Nggak perlu. Lebih baik nggak usah memikirkan mereka,” balas Kimo sewot.
“Nggak boleh begitu ....”
“Siang ini, aku juga bertemu ibumu,” sergah Kimo memotong penjelasan Rara dan langsung membuat wanitanya itu bungkam.
Kimo mendapati banyak luka yang tiba-tiba bersemayam di wajah Rara.
Rara tertunduk sedih tanpa bisa kembali berkomentar.
“Kita terlahir dari orang-orang egois. Dan ke depannya, jangan sampai anak-anak kita juga merasakannya,” tegas Kimo.
Jika Kimo sudah berbicara seperti itu, Rara yakin pertemuan Kimo dengan Piera juga tidak menghasilkan hal baik. Atau jangan-jangan, Piera justru melakukan hal yang membuat Kimo geram? Lantas, apakah menutup hubungan dengan orang tua demi pernikahan impian yang mereka dambakan, masih dibenarkan? Rara merasa sangat serba salah. Kenapa selalu ada jurang luka di setiap kebahagiaannya? Setidaknya, jika memang ia bukan menantu yang diharapkan, orang tua Kimo tidak harus membuang Kimo. Cukup padanya saja, dan ia akan membuktikan bila dirinya patut menjadi pasangan Kimo.
“Meski restu orang tua penting, tetapi jika cara pikir mereka saja tidak bisa memberikan contoh yang benar, kita bisa menentukan jalan kita tanpa mereka.” Kimo benar-benar dengan keputusannya. “Lusa,”
Ketika kata lusa disebut, yang Rara ingat hanyalah mengenai pernikahan sesuai apa yang Franki tanyakan siang tadi. Dan ketika tatapan mereka bertemu, Kimo menatapnya penuh keyakinan. Begitu banyak cinta bahkan hasrat yang terpancar dari mata pria itu.
“Kita menikah ....”
Bahagia dan luka Rara rasakan dalam waktu yang sama. Bahagia karena Kimo tetap tulus dan bertahan dengannya. Tetapi ia juga merasa sangat terluka, karena dengan Kimo memilihnya, pria itu kehilangan semuanya bahkan orang tua. Kenyataan tersebut juga membuat Rara merasa menjadi orang yang sangat egois.
“Aku ini masih normal dan aku nggak yakin bisa menahan lebih lama!” tegas Kimo terdengar mengomel.
Rara menjauhkan wajah Kimo dari wajahnya ketika pria itu nyaris menciumnya. Di mana tak lama setelah itu, ponselnya yang ada di sebelah laptop berdering dan itu panggilan masuk dari Keinya.
Rara tak mengindahkan keluhan Kimo, sebab ditelepon Keinya langsung membuatnya sangat bahagia. Hal tersebut pula yang membuatnya langsung menjawab telepon tanpa pikir panjang.
“Kei, bagaimana? Kalian sudah sampai? Pelangi bagaimana?”
Ketika Rara begitu antusias, Kimo memilih menyeruput tehnya kemudian memastikan pemberitahuan di ponselnya. Email dan WhatsApp menjadi aplikasi yang ia cek. Sayangnya tidak ada pemberitahuan yang berarti dan ia segera menyisikan ponselnya di sebelah laptop Rara. Di mana, laptop tersebut pula yang menjadi fokus perhatiannya kemudian.
“Kamu baik-baik saja, kan?” jawab Keinya dari seberang yang justru balik bertanya padahal belum menjawab pertanyaan Rara.
Rara terdiam bingung.
“Yuan ingin berbicara dengan Kimo,” sambung Keinya.
“Yuan, ingin berbicara dengan, Kimo?” Rara mengulang kata-kata Keinya sambil menatap Kimo tidak yakin dan langsung disambut dengan hal yang sama oleh Kimo yang langsung menatapnya sembari mengernyit.
“Ra,” sambung dari seberang sana dan itu Rara kenali sebagai suara Yuan.
“Iya, Yu. Ada apa?”
“Aku dan Keinya sudah membicarakannya dengan orang tua kami. Mereka akan selalu bersamamu karena mereka juga orang tuamu.”
Dari seberang, Yuan berkata sangat serius. Kata-kata yang langsung berhasil membuat hati Rara terenyuh. Bahkan karenanya, linangan air mata meluncur begitu saja dari kedua matanya. Lagi-lagi, bahagia dan luka kembali ia rasakan dalam waktu yang sama. Yuan dan Keinya, kedua orang itu memang sangat tulus kepadanya.
Lantaran Rara menjadi terisak-isak, Kimo bangkit dari duduknya dan mengambil alih ponsel Rara. “Ada apa, Yu?” Kecemasan tidak bisa Kimo hindari. Sembari menunggu balasan dari seberang, ia menggenggam erat sebelah tangan Rara.
__ADS_1
“Ada masalah seserius itu, kamu nggak cerita ke aku?” ucap Yuan dari seberang sana.
Mendengar itu, Kimo langsung bisa mengerti maksud Yuan. Ia menatap Rara tetapi wanitanya itu segera menggeleng.
“Aku nggak pernah cerita mengenai masalah pribadi terlebih hubungan kita,” lirih Rara meyakinkan. Ia melihat kemarahan bahkan kekecewaan dari ekspresi Kimo yang ia yakini tidak suka jika masalahnya justru diselesaikan orang lain bahkan sekalipun itu Yuan, sahabatnya sendiri.
***
“Aku akan sering menghabiskan waktu dengan Yura. Kamu nggak apa-apa, kan?” Kimo menatap Rara penuh rasa bersalah. Wanitanya itu tengah melangkah ke arahnya sembari membawa sepiring nasi goreng yang dihiasi potongan mentimun dan dua buah telur ceplok, sesaat memindahkannya dari wajan.
“Kamu nyaman, nggak? Lagi pula kamu sudah menanyakan itu sebanyak 4 kali.” Rara duduk di sebelah Kimo sesaat setelah menghidangkan menu sarapan yang ia buat.
Kimo menghela napas dan berujung dengan mendesah. “Kalau menuruti kemauan sih, malas banget dekat-dekat Yura. Aku akan jadi bawahannya, satu tim dengannya dan dengan kata lain, aku nggak bisa menghindarinya. Tapi biar bagaimanapun, mencari pekerjaan itu sangat sulit.” Belum lagi data-dataku juga sudah dicekal. Sulit bagiku mendapatkan pekerjaan layak kecuali menjadi anak buah Yura. Lagi pula, apa maksud Yuan menempatkanku satu tim bahkan jadi bawahan Yura bila dia benar-benar ingin menolongku?
Rara menatap Kimo. “Nah, itu jawabanku untukmu.”
Kimo mengernyit. “Maksudmu?”
“Mencari pekerjaan itu sangat sulit. Lagi pula, kenapa kamu harus mencemaskanku yang tidak ada sangkut-pautnya dengan pekerjaanmu? Mengenai siapa rekan kerjamu juga perihal cemburu, kamu lebih tahu jawabannya, kan? Jaga dirimu baik-baik. Itu saja!” Rara menatap Kimo penuh peringatan.
Kimo menghela napas pasrah. “Iya. Demi masa depan, kita harus berjuang.”
Rara mengangguk. “Aku juga akan kembali sibuk mengurus pesanan naskah.”
“Jangan semua job diambil! Nanti kamu kelelahan lagi!”
Rara hanya mengulas senyum. Pun ketika tak lama setelah Kimo pergi ke kantor, seseorang menekan bel apartemennya dan ia yakini sebagai Kimo yang ingin memberinya kejutan. Sayangnya, ternyata ia salah besar. Karena meski sosok yang datang memang langsung membuatnya terkejut, tetapi itu Kiara yang langsung menyambutnya dengan tatapan bengis berikut tamparan panas. Tubuh Rara sampai terempas dibuatnya, di mana wanita muda itu juga refleks memegangi bekas tamparan Kiara menggunakan kedua tangannya.
“Bahkan kamu sengaja mengajaknya tinggal bersama!” pekik Kiara geram.
Rara tetap tertunduk sembari memegangi bekas tamparan yang masih menyisakan rasa panas berikut sakit luar biasa tanpa terkecuali di hatinya.
“Kalau kamu memang mencintai Kimo, tidak seharusnya kamu melakukan semua ini! Kamu bahkan hanya memberikan efek buruk kepada Kimo! Sebelumnya Kimo tidak pernah membantah apalagi sampai pergi dari rumah! Sebelumnya Kimo anak yang penurut dan sangat menyayangi keluarganya!”
“Kamu ini benar-benar nggak beda dari ibumu!” Kiara menatap jijik Rara sambil berludah.
Rara berangsur menurunkan kedua tangannya dari pipi bekas tamparan Kiara dengan air mata yang berlinang, seiring rasa sesak yang memenuhi dadanya. Ia menyimpan kedua tangannya di depan tubuh.
“Mengenai ibuku ... tolong jangan memanggilnya sebagai ibuku karena dia juga tidak mau mengakuiku ....”
Kiara masih menatap jijik Rara dengan kebencian yang begitu membuncah.
Rara menatap Kiara sungguh-sungguh. “Saya benar-benar minta maaf karena harus terlahir dari wanita sepertinya. Tapi tolong, beri saya kesempatan sekali saja. Saya benar-benar mencintai Kimo.” Demi Kimo aku rela mengabaikan harga diriku, memohon sambil bersimpuh bahkan sekalipun tendanganlah yang aku dapatkan sebagai balasannya.
Yura yang kebetulan baru keluar dari apartemen dibuat ngeri atas pemandangan di hadapannya. Rara yang bersimpuh memohon sambil menangis, justru ditendang oleh Kiara! Benar-benar tidak bisa ia percaya.
Rara tak lantas menyerah. Ia menengadah menatap Kiara. “Kalau Tante yang jadi saya, apa yang akan Tante lakukan? Saya juga tidak pernah berharap terlahir atau memiliki ibu seorang pelakor, simpanan, atau apa pun itu yang merugikan orang lain. Apalagi selama ini, yang saya tahu ibu saya sudah meninggal. Karena semenjak saya berusia sembilan tahun, saya diasuh oleh almarhumah ayah saya dan istri barunya ....”
Tak tahan dengan apa yang terjadi di hadapannya, Yura bergegas menghampiri dan membantu Rara untuk bangkit. “Astaga. Kenapa tante Kiara sekeras ini? Di dunia ini, termasuk Rara bahkan aku juga tidak mungkin mau punya ibu pelakor atau apa pun itu sebutannya. Lagi pula, Rara juga tidak tahu apa-apa. Rara juga korban dari ibunya, Tan.”
Kiara menjadi salah tingkah, bingung bahkan malu. “Kamu bisa berbicara seperti itu, karena kamu nggak tahu bagaimana tersiksanya jadi Tante, Ra!” tegasnya yang kemudian memilih berlalu sesaat setelah menatap sengit Yura berikut Rara yang masih tertunduk dan berlinang air mata.
Sesaat setelah Kiara pergi, Yura menuntun Rara untuk masuk apartemen.
“Aku nggak apa-apa, Ra. Makasih, ya,” ucap Rara yang kemudian menurunkan rangkulan Yura dari kedua bahunya. “Oh, iya. Tolong jangan bilang kejadian ini pada siapa pun apalagi Kimo,” lanjutnya sesaat setelah sampai berbalik demi menatap Yura. Tak lupa, meski ia sadar air matanya tak bisa berhenti berlinang, ia tetap mengulas senyum sebelum berlalu memasuki apartemen.
__ADS_1
Yura merasa serba salah. Mana mungkin ia diam saja, sedangkan apa yang Kiara lakukan sudah termasuk tindakan krimina Pun dengan cara Kiara memperlakukan Rara dan baginya sangat keterlaluan. Apa yang akan terjadi pada Rara, dan mau jadi apa hubungan Rara dengan Kimo, jika Kiara tetap tidak rela keduanya bersama?
“Semoga ini bisa menjadi pembelajaran bagi orang-orang di luar sana, karena apa pun yang kita lakukan akan berdampak fatal pada orang-orang terdekat kita!” Yura melangkah dengan perasaan yang masih belum bisa tenang. Apalagi, ia juga memiliki latar belakang yang bahkan tidak ia ketahui.