
“Tetapi, jika nantinya aku merindukanmu dan ingin memulai semuanya dari awal ...?”
Bab 41 : Kegamangan Hati
Semenjak meninggalkan ruang rawat Kimo yang juga sempat menjadi ruang rawatnya, dunia Rara seolah berputar melambat. Hiruk pikuk kehidupan pun sama sekali tidak ia dengar lagi. Rara tidak bisa mendengar apa pun kendati ia melalui banyak keramaian di rumah sakit. Dari antrean pasien yang berjubel, lalu-lalang perawat berikut penghuni rumah sakit yang kadang nyaris menabrak Rara, tanpa terkecuali pasien kritis yang diboyong menuju UGD.
Rara terdiam sejenak di tengah-tengah lorong rumah sakit tak jauh dari resepsionis lantaran dunianya menjadi senyap bahkan tak berwarna. Rara benar-benar bak tersesat di dunia asing, terlepas dari wanita itu yang juga tidak memiliki tujuan.
Selama ini, sebelum menikah dengan Kimo yang hanya bertahan tak lebih dari dua bulan, Rara hidup sebatang Kara. Tentunya, setelah ia memilih melepas Kimo yang awalnya menjadi satu-satunya keluarga sekaligus harta paling berharga dalam hidupnya selain Keinya, kini tak ada lagi yang bisa menjadi tujuan apalagi tempatnya bergantung. Kalaupun Rara masih memiliki Keinya, sahabatnya itu sudah dengan keluarga kecilnya, sedangkan Rara tidak mungkin terus-menerus bergantung apalagi merepotkan Keinya. Belum lagi, Rara dan Kimo sudah terlalu merepotkan Keinya sekeluarga bahkan keluarga besar Yuan yang begitu tulus kepadanya dan Kimo.
“Kak Rara yang benar saja! Jangan begini! Berpisah bukan keputusan yang tepat apalagi Kakak sedang hamil sementara Kak Kimo juga masih amnesia!” Kimi tak hentinya meyakinkan Rara. Ia melangkah tergesa sambil berlinang air mata mengikuti langkah Rara.
Rara yang jelas melangkah asal bahkan pandangan saja menjadi nanar, diyakini Kimi sudah mulai kehilangan kesadaran. Ada kalanya, Rara mengamati suasana sekitar dan terkadang seperti sedang mencari-cari. Bahkan, bukannya melangkah keluar dengan pintu masuk yang terbuka lebar--dibukakan oleh seorang satpam--Rara justru putar balik dan terlihat kebingungan.
Tentu, keadaan Rara kini menjadi beban tersendiri untuk Kimi yang sampai terisak-isak. Kimi menyaut sebelah tangan Rara, menariknya kemudian mendekap tubuh itu dengan erat.
“Aku harus pulang ... tapi ke mana?” racau Rara dengan pandangan nanar.
Tak lama berselang, air mata Rara rebas dan tak hentinya berlinang.
Karena racauan Rara yang tak memiliki tujuan, Kimi semakin mengeratkan dekapannya seiring dadanya yang menjadi terasa sangat sesak. “Kak Rara enggak boleh begini! Aku bahkan masih harus banyak belajar dari Kakak! Mana Kak Rara yang kuat dan selama ini sangat pemberani?!” Kimi segera mendorong tubuh Rara, tetapi tidak sampai membuat wanita itu benar-benar jauh darinya, sebab kedua tangannya langsung membingkai sekaligus menahan wajah Rara.
Kimi menepuk-nepuk wajah Rara. “Kak Rara sadar! Jangan begini!”
Ulah Kimi berhasil menyadarkan Rara. Apa yang menimpanya yang bahkan nyaris kehilangan akal, tak lain karena kegamangan hati yang ia rasakan. Sebab, meski ia sangat mencintai Kimo, tetapi ia juga harus melepaskan pria itu agar anak dalam rahimnya baik-baik saja.
Setelah teringat dengan apa yang menimpanya, Rara segera mundur sambil menyeka air matanya. Rara melakukan itu dengan kaku, dan terlihat sangat terpukul.
“Maaf, Kimi ...,” lirih Rara kemudian terdengar menyesal. Ia baru saja mengambil keputusan besar. Ia baru saja menyerah atas perjuangannya terhadap hubungannya dengan Kimo melalui perceraian yang ia layangkan kepada pria itu. Anehnya, ia yang melayangkan perceraian, ia juga yang menjadi gamang.
***
“Kimo, seharusnya kamu tidak hanya diam!” tegur Franki dengan nada suara yang terbilang tinggi dan terdengar galak.
Kimo tertunduk sedih dan terlihat tidak bersemangat.
Di belakang keduanya, Kiara tertunduk sedih. Wanita itu terlihat sangat menyesal seiring air matanya yang berlinang.
Franki terheran-heran pada kedua orang di sebelahnya. Karena baginya, kedua orang tersebut merupakan kunci dari keputusan Rara. Kimo karena anaknya itu merupakan suami Rara selaku pihak tergugat, juga Kiara yang menjadi dalang dari masalah di antara mereka. Obat aborsi yang ada dalam makanan Kimo, mereka yakin karena Kiara. Jadi, Franki merasa istrinya itu sangat bertanggung jawab untuk hancurnya hubungan Kimo dan Rara.
“Apa lagi yang harus dipertahankan?” ucap Kimo sesaat kemudian terdengar tidak bersemangat.
Nada suara Kimo terdengar sangat terluka. Bungkamnya pria muda itu juga terlihat jelas karena kehilangan bahkan terpukul.
“Aku bahkan belum mengingatnya ... aku belum ingat hubungan kami ...,” ucap Kimo yang kemudian menelan ludah dan terlihat begitu gelap. Matanya yang terasa panas juga mulai ia sadari basah. “Tetapi aku masih sulit menerima kenyataan, jika anakku harus hidup tanpa keluarga yang utuh.”
Kimo terpejam pasrah hingga air matanya jatuh dalam waktu bersamaan. “Aku bahkan baru saja merasakan kebahagiaan yang membuatku sangat bersemangat hanya karena mengetahui, aku akan segera menjadi seorang papa. Tetapi, ternyata perceraian menjadi jalan terbaik untuk pernikahan yang bahkan belum bisa aku ingat!” batin Kimo. Ia seolah terjebak dalam labirin gelap tak berujung. Karenanya, kedua tangannya mencengkeram rambutnya erat, seiring air matanya yang juga menjadi rebas.
Franki meraih tumpukan koran yang awalnya sempat ia baca, di sofa, kemudian membantingnya ke lantai depan Kiara yang langsung terlihat sangat terkejut. Franki melakukan itu dengan rahang mengeras akibat letupan kekesalan yang sudah tidak bisa ia tahan. Terlebih, kehancuran hubungan Rara dan Kimo terjadi karena ia sebagai suami sekaligus kepala keluarga tidak bisa mendidik Kiara dengan baik. Dan karena hal tersebut pula, Franki merasa gagal menjadi kepala rumah tangga. Ia jika Rara belum hamil, mungkin Franki tidak akan seterpukul sekarang. Tetapi jika teringat penjelasan dokter yang mengatakan ada kandungan obat aborsi di makanan Kimo, rasanya Franki juga tidak punya pilihan lain selain merelakan perpisahan anak-anaknya.
Ketika pintu tiba-tiba dibuka paksa dari luar, ketiga orang di sana menjadi terkejut dan refleks menatap ke pintu.
__ADS_1
Rara datang bersama Kimi yang berdiri di belakangnya. Keduanya berderai air mata meski ketika pandangan Kimi berangsur turun, tatapan Rara hanya tertuju pada Kimo.
“Kimo, kita memulai pernikahan dengan baik-baik. Jadi kita juga harus mengakhirinya dengan baik-baik juga.” Rara menelan ludah dan merasa sangat berat, walau kini, ia sengaja memasang ekspresi bahagia. “Jadi, untuk yang terakhir kalinya, aku ingin memasakan makanan kesukaan kamu!”
Kimo menatap Rara dengan air mata yang kembali berlinang. “Wanita ini ... bukankah seharusnya dia marah kepadaku?” batinnya.
***
Sebelum pulang ke rumah, mereka sengaja mampir ke super market untuk membeli bahan-bahan yang akan mereja masak. Rara meminta Kimo membawa keranjang belanja.
“Memangnya, biasanya aku suka makan apa?” tanya Kimo dengan nada yang terdengar hati-hati. Karena selain sengaja berjaga, jauh di lubuk hatinya Kimo juga merasa gengsi.
Rara tengah memilih wortel impor dan ia masukan pada plastik. “Kamu suka sup yang tidak berminyak. Intinya, setiap kamu makan, kamu selalu minta sup, selain masakan yang simpel-simpel seperti makanan Jepang. Dari salmon panggang, beef teriyaki, tempura, susu ....” Rara menjawab tanpa mengurangi kesibukannya yang kali ini mengambil jamur kancing.
“Wanita ini benar-benar istriku ...,” batin Kimo seiring hatinya yang menjadi bergetar dan terasa ngilu. Ia menatap kesibukan Rara yang terlihat begitu cekatan memilih ayam kampung kemudian memilih daging sapi has dalam yang akan dimasak menjadi beef teriyaki.
***
Rara dan Kimo pergi ke rumah mereka dengan kedua tangan yang masing-masing membawa kantong belanjaan. Ketika Rara langsung membuka kunci rumahnya, Kimo kerap mengamati suasana rumah minimalis bernuansa putih yang memiliki tiga lantai.
“Rumah Keinya dan Yuan, masih ke dalam lagi. Paling cuma sepuluh menit kalau jalan kaki,” jelas Rara yang kemudian langsung masuk setelah berhasil membukanya.
Kimi masih terlihat kebingungan dan tak hentinya mengamati. Suasana rumah yang dikata Rara merupakan rumah mereka sangatlah sepi dan terbilang kosong. Belum banyak barang yang menghuni rumah mereka. Sofa dan meja saja baru ada di ruang keluarga.
Rara menoleh dan sengaja ingin melihat apa yang Kimo lakukan. “Kita baru saja pindah jadi memang belum banyak barang,” ujarnya yang kemudian melanjutkan langkah menuju lorong ke belakang.
Kimo melepas Rara dengan tatapan heran. Sambil melangkah tak bersemangat menyusul wanita itu, ia bertanya, “sebenarnya kamu mau bikin perpisahan atau ngajak rujuk, sih?”
Pertanyaan Kimo yang sarat kesedihan, membuat langkah Rara memelan bahkan akhirnya berhenti, seiring hatinya yang menjadi terasa sangat perih. Kini, Rara menyadari, meski mereka berada pada putaran waktu yang sama, tetapi hal tersebut tidak terjadi dengan hubungannya dengan Kimo. Semuanya memang sudah berubah. Tak hanya amnesia yang menimpa Kimo, melainkan hubungan mereka, karena mereka akan bercerai.
Kimo segera menyusul Rara. Di dapur yang sudah memiliki perlengkapan lengkap, Rara sudah sibuk di depan wastafel menyiapkan sayuran dan dagingnya.
“Kimo, cepat pasang gas LPG-nya. Itu buka saja lemari di bawah kompor,” ucap Rara.
Kimo mendengkus sebal menatap Rara yang bahkan tidak menatapnya saking sibuknya mengurus sayuran dan daging.
Setelah berhasil memasang gas LPG-nya, Kimo mendekati Rara dengan langkah tak bersemangat. “Sebenarnya, hubungan kita sekarang apa?” tanya Kimo.
Apa yang Rara lakukan kini, cara wanita itu memperlakukan Kimo dengan hangat padahal wanita itu sudah meminta bercerai, justru membuat Kimo menjadi gamang. Bahkan Kimo sampai berpikir, sibuknya Rara karena wanita itu sengaja menghindari suatu hal. Menghindari perasaannya sendiri bahkan kenyataan.
Rara refleks terdiam berikut ia yang tak lagi sibuk mengupas wortel menggunakan alat pengupas.
“Kamu yakin dengan keputusanmu?" tambah Kimo yang terdengar semakin dekat.
“Demi keselamatan sekaligus kebahagiaan anak,” balas Rara lirih terdengar berat.
“Dengan kata lain, kamu enggak yakin, aku bisa menjagamu bahkan anak kita?” balas Kimo semakin berat.
Meski apa yang Kimo katakan ibarat lampu hijau untuk kebaikan hubungan mereka, tetapi Rara telanjur trauma. Rara takut, kejadian yang menimpa Kimo, perihal makanannya yang dibubuhi obat aborsi, kembali menimpanya.
“Jadi, apa yang kamu mau? Apa hubungan kita?” lanjut Kimo. Suaranya sudah terdengar sengau lantaran tangisnya telanjur pecah tanpa bisa ia tahan lagi.
__ADS_1
Rara belum berkomentar, masih diam seribu bahasa.
“Tidak apa-apa. Aku akan mendukung semua keputusanmu. Bukankah kamu sendiri yang bilang, kita memulai pernikahan dengan baik-baik, jadi kita juga harus mengakhirinya dengan baik-baik?” sambung Kimo.
Kali ini, Kimo terdengar jauh lebih bisa menerima kenyataan. Hal tersebut pula yang membuat Rara memberanikan diri untuk menatap Kimo.
“Kita berteman saja. Jangan sampai membatasi hubungan kita, karena itu pasti akan berdampak pada Yuan dan Keinya.” Rara memasang senyum setulus mungkin agar Kimo percaya, ia baik-baik saja.
“Kamu yakin itu?”
Kali ini Rara tak langsung menjawab pertanyaan Kimo. Wanita itu menengadah dan kemudian mengerling. Meski terlihat ragu, Rara akhirnya mengangguk.
“Nanti nyesel? Kamu cinta banget, kan sama aku?” ucap Kimo yang justru menggoda Rara.
Rara menitikkan air mata, terisak-isak dan tak kuasa menatap Kimo. Di mana, tangis berikut rasa sakit Rara kian bertambah ketika Kimo justru mendekapnya sangat erat.
Rantai air mata menatukan mereka. Kedua insan yang berniat berpisah dengan alibi demi kebahagiaan anak.
“Jika selama ini mama begitu membuatmu tertekan, aku akan membawanya pergi. Aku akan membawa mama dan Kimi pindah ke Australia dan hidup di sana.” Kimo mengatakan itu dengan nada suara yang terdengar sangat berat sekaligus sakit.
“Haruskah ...? Kenapa harus sampai pindah ke Australia?” batin Rara makin tidak bisa mengutarakan perasaannya saking sakitnya.
“Jadi kamu di sini, harus baik-baik. Hiduplah dengan bahagia, sesuai keputusanmu. Tolong jaga anak kita. Dan mengenainya, aku akan tetap bertanggung jawab. Karena meski kita berpisah, kita juga harus tetap menjadi orang tua yang baik untuknya.” Kimo mengatakan itu sambil menyeka air mata Rara.
Merasa keadaan semakin membuatnya berat, Rara mengakhiri kebersamaan mereka, menyingkirkan kedua tangan Kimo dari wajahnya. “Kalau begini terus, kapan aku masak? Aku sudah lapar, tau!” ujarnya pura-pura mengomel.
Rara tak lantas bekerja sendiri, sebab Kimo juga membantunya. Menyiapkan panci berikut bahan sup berikut membumbui daging. Karena meski amnesia, tetapi mengenai masak, Kimo tidak lupa. Sebab yang pria itu lupakan benar-benar Rara.
Sambil mengamati Kimo diam-diam, Rara sampai berpikir, apakah tujuan Tuhan membuat Kimo amnesia dan hanya melupakannya, karena Tuhan tidak merestui mereka bersama?
“Sudah yakin, kan, kau benar-benar tidak bisa melupakanku?” ucap Kimo tiba-tiba sambil mengaduk beef teriyaki yang sedang dimasak tanpa menatap Rara.
***
Ketika semua masakan sudah tersaji di meja, di mana Kimo dan Rara juga duduk berhadapan dan hanya dipisahkan oleh meja makan, suasana kebersamaan semakin membuat mereka gamang. Karena bukannya langsung makan, makanan yang tersaji juga hanya mereka pandangi. Pandangan kosong sarat kesedihan.
“Meski aku masih belum bisa mengingat hubungan kita,” ucap Kimo.
“Enggak apa-apa,” tukas Rara santai.
“Tetapi, jika nantinya aku merindukanmu dan ingin memulai semuanya dari awal ...?” lanjut Kimo tak kuasa melanjutkan ucapannya. Karena sekarang saja, ia sudah mulai mengagumi cara pikir Rara. Tentu mencintai wanita itu juga bukan perkara yang sulit.
Tatapan Rara berangsur terangkat dan berhenti di kedua manik mata Kimo. Mereka berpandangan dalam sekaligus lama. Bersamaan dengan itu, dunia seolah berputar melambat dan berporos kepada mereka.
“Dasar si otak rusak!” batin Rara yang kemudian menunduk.
Bersambung ....
Di antara kalian, apakah ada yang seperti Rara dan Kimo? Karena suatu hal, kalian memutuskan untuk berpisah, tetapi masih berharap bisa bersatu suatu hari nanti jika keadaan sudah benar-benar mendukung?
Semoga segala perjalanan hidup kita dipermudahkan, yaa. Tetap jaga kesehatan kalian di tengah suasana yang ektrem ini.
__ADS_1
Salam sayang,
Rositi.