
“Ketulusan enggak harus selalu diungkapkan, kan?”
Bab 80 : Akhirnya
****
Seorang petugas kepolisian baru saja meninggalkan Keinya dan Tiara di ruang besuk rutan tempat Tiara ditahan. Meski Tiara terlihat jelas tidak sudi menerima kehadiran Keinya, Keinya justru sengaja mendiamkan wanita di hadapannya. Keinya sengaja mengulur waktu agar temu mereka hanya berisi tatapan penuh kebencian yang terus ia layangkan kepada Tiara.
Mengenakan seragam oren khas tahanan rutan tanpa rias apalagi gincu merah menyala yang menjadi ciri khasnya hingga wajah cantiknya terlihat terlampau pias bahkan kusam, Tiara terlihat sangat menyedihkan. Sedangkan rambut indah yang biasanya tergerai, kini menjadi terikat awut-awutan. Semua itu menambah kemirisan seorang Tiara terlebih kedua tangan Tiara juga masih dililit perban.
“Kamu belum menang, Kei!” lirih Tiara sambil tersenyum sarkastis.
Keinya mengulas senyum. “Hanya begini?” ucapnya memastikan.
Keinya menggeleng tak habis pikir sambil tersenyum sarkastis, sedangkan Tiara yang menjadi sasarannya, membalasnya dengan melirik sinis.
Keinya bersedekap, menatap Tiara sambil mengangkat dagunya. “Mungkin kamu memang ditakdirkan menjadi orang yang enggak punya urat malu, ya?”
Tiara mendengus kemudian memalingkan wajahnya, menepis tatapan kemenangan Keinya.
“Aku pikir, kamu akan lebih memilih mati daripada hidup seperti ini,” ucap Keinya masih menyikapi keadaan dengan santai.
Tiara tersenyum sarkastis. “Apakah kamu benar-benar ingin melihatku mati?” ucapnya terdengar menantang layaknya ekspresi dingin yang menghiasi wajahnya kendati kali ini juga dihiasi senyum miris.
Keinya menggeleng. “Daripada kamu mati, aku lebih senang melihatmu tersiksa seperti ini. Matilah sambil menghabiskan hukuman yang harus kamu jalani!”
Ke dua tangan Tiara yang tersimpan di atas meja panjang selaku sekat di antara mereka, menjadi mengepal seiring wajah piasnya yang menjadi merah padam menahan kesal.
“Kamu masih berani menyalahkanku untuk semuanya?” Keinya menatap sengit Tiara dengan emosi yang sebisa mungkin ia tahan.
Kemudian Keinya menggeleng tak habis pikir. “Aku akan membuat hari-harimu hanya dihiasi sesal bahkan rasa takut. Mengenai kasus ini kupastikan tidak hanya tersebar di media online. Karena berita tentangmu, sudah wara-wiri di layar televisi, agar orang-orang sepertimu jera!”
Kekesalan Tiara seolah tak mampu diredam lagi. Kedua tangannya bergerak cepat dan nyaris mencekik Keinya andai saja wanita itu tidak cekatan menghindar.
Kendati menghindari Tiara, Keinya sama sekali tidak mengakhiri tatapan penuh kebenciannya terhadap wanita di hadapannya. “Tetaplah hidup karena aku ingin melihatmu menangis darah bahkan bila perlu benar-benar gila! Ingat seberapa banyak penderitaan yang harus ditanggung Pelangi. Kamu harus membalas setiap luka terlebih air mata Pelangi! Kamu juga harus menebus semua luka orang-orang dalam hidupku yang telah kamu lukai! Inilah sumpahku dan kamu harus membayarnya!” Emosinya kian meledak-ledak. “Sekali lagi kamu berani mengganggu hidupku apalagi orang-orangku, aku tidak akan membiarkanmu begitu saja! Kamu akan merasakan penyiksaan yang belum pernah kamu pikirkan!”
Setelah berkata seperti itu, Keinya meninggalkan Tiara yang seketika itu pula langsung ketakutan. Tiara tak tahu harus berbuat apa? Ia benar-benar hilang arah atas sumpah serapah Keinya. Bahkan meski Keinya sudah pergi meninggalkannya, Tiara tetap gemetaran. Justru, gemetarannya menjadi semakin parah lantaran sumpah serapah Keinya justru terus menghiasi ingatannya.
Lain halnya dengan Tiara, Keinya justru melangkah penuh rasa damai di tengah kenyataannya yang siap menyambut masa depan jauh lebih cemerlang.
“Orang-orang seperti Tiara, mereka bisa kuatasi asal aku tidak menunjukkan kelemahanku!” pikir Keinya.
****
Malamnya, suasana rutan tahanan Tiara dihebohkan dengan percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh Tiara. Tiara mencoba mengakhiri hidupnya dengan cara menyayat urat nadi setelah sebelumnya sampai meminum cairan pembersih toilet. Wanita itu ditemukan di dalam kamar mandi tahanan oleh salah seorang tahanan wanita yang langsung histeris ketakutan ketika menemukannya.
Beberapa petugas kepolisian yang berjaga langsung mengamankan TKP. Sebagian ada yang langsung mengurus Tiara dan memboyongnya menggunakan tandu, sedangkan sisanya segera memastikan tahanan lain yang ditakutkan memanfaatkan insiden untuk kabur.
****
“Kimo, aku rasa, pipiku sudah semakin berat. Jadi lebih baik aku enggak makan dulu. Lagi pula, lambungku bisa kembali bermasalah kalau aku justru makan sebanyak ini.” Rara mengembung-kempiskan pipinya sembari menatap bubur sayuran berikut sup dan misoa, di mangkok berbeda dan tersaji di hadapannya.
Sambil menatap melas Kimo yang duduk di sebelahnya dan memasang wajah garang yang membuatnya takut menolak, Rara tersenyum masam. “Nanti malam kan ada makan-makan tahun baru, jadi aku jangan makan sebanyak ini. Sedikit saja,” bujuknya sengaja tersenyum manis. Senyum manis yang selalu membuat Kimo gemas kepadanya.
Akan tetapi, Kimo tetap menatap Rara penuh peringatan.
Rara segera menggeleng layaknya bocah, menatap takut wajah kekasihnya yang terlihat semakin tampan sekaligus segar, semenjak pria itu potong rambut.
__ADS_1
“Kamu pikir, kamu boleh makan makanan lain kecuali bubur dan sup? Ayolah, Ra. Lambungmu benar-benar parah!” lanjut Kimo yang justru mengomel.
Rara menunduk sambil menelan salivanya. Ia juga menggunakan sendok yang ia kendalikan dengan tangan kanannya, untuk memukul-mukul hidungnya. “Orang sakit enggak harus selalu makan bubur dan sup, kan? Enggak adil saja, karena sewaktu bayi saja, kita sudah makan bubur dan sup, sedangkan ketika lansia juga akan bertemu sup dan bubur lagi. Dan sekarang, kamu memintaku untuk ….”
Wajah garang Kimo berhasil menghentikan rengekan Rara.
“Kalau kamu benar-benar ingin sembuh, kamu harus menurutiku. Makanan ini sama dengan makanan sehat di luar sana yang dikhususkan untuk penderita lambung. Sedangkan untuk semua masakan yang aku berikan juga aku racik sendiri!” Kimo bertutur penuh pengertian. “Aku ingin kamu sehat, Ra. Nggak tega kalau kamu bentar-bentar sakit begini.”
“S-serius, selama lima hari terakhir ini, semua masakan yang aku makan, dari kamu? Bubur, sup ...?”
Kimo melirik sinis. “Ketulusan enggak harus selalu diungkapkan, kan?” cibirnya.
Rara mengangguk. Buru-buru ia melahap buburnya dengan semangat bersama rasa cintanya kepada Kimo yang seketika itu bertambah. “Tapi enggak perlu marah panjang lebar apalagi sampai sibuk mengungktik!” ucapnya sengaja menambahi sambil melirik Kimo untuk memastikan perubahan ekspresi pria itu.
Kimo yang kadung kesal mencubit gemas hidung Rara yang seketika mengerang dan nyaris tersedak lantaran di dalam mulut Rara masih ada misoa berikut sup yang belum sempat ditelan.
Di atas ranjang rawatnya tersebut sambil duduk menghadap nampan, Rara merasa tengah menghadapi sakratulmaut karena ulah Kimo, itu mengapa ia menggunakan sendok di tangan kanannya untuk menghantam wajah Kimo.
“Kamu mau bikin aku tewas?” omel Rara yang awalnya yakin kebersamaannya dan Kimo akan romantis apalagi Kimo telah rela masak untuknya, tapi nyatanya kebersamaan mereka kembali diwarnai keributan.
****
Sambil menyimpan ponselnya di saku sisi celana panjang biru tua yang dikenakan, Yuan menatap cemas Keinya yang sedang mencuci jagung di wastafel dapur. “Sayang, kemarin kamu jadi jenguk Tiara?” tanyanya hati-hati.
Keinya meniriskan jagung terakhir yang ia cuci di baskom kemudian menatap Yuan. Keinya mengangguk. “Iya. Memangnya kenapa?” tanyanya bingung kenapa setelah menerima telepon, tiba-tiba, Yuan membahas Tiara?
“Sekarang Tiara kritis karena semalam dia ditemukan sekarat di kamar mandi. Tiara mencoba bunuh diri dengan menyayat nadi dan meminum cairan pembersih toilet,” tambah Yuan setenang mungkin agar Keinya tidak merasa terbebani apalagi sampai tertekan atas ceritanya.
“Padahal aku memintanya untuk tetap hidup,” ujar Keinya menyayangkan keputusan Tiara.
Keinya mengangguk pasrah mengiyakan anggapan calon suaminya. “Oh, iya, Yu?” tambahnya tiba-tiba.
“Apa?” balas Yuan sambil menatap Keinya. Kemudian ia menyingsing lengan kemejanya dan mencuci tangannya di wastafel. “Udang dan cumi-cuminya sudah beres?”
“Sudah,” balas Keinya santai. “Sudah diberi bumbu dan aku taruh di kulkas.”
“Terus, kenapa tadi kamu memanggilku?” balas Yuan sambil tersenyum dan sengaja menggoda Keinya yang kali ini berdiri di hadapannya.
“Mengenai restoran yang kamu kasih, aku boleh mengonsepnya sendiri, kan? Aku ingin di beberapa sudut ruangan ada rak buku yang bisa dibaca bebas oleh pengunjung, ibaratnya promosi karya-karya dari penerbitanku. Nantinya, web novel yang aku buat juga akan bekerja sama dengan restoran dan akan ada banyak event menarik salah satunya membagikan vocer makan gratis.” Keinya menjelaskannya dengan gaya yang begitu formal.
Yuan menahan senyum. “Kenapa harus meminta izin kepadaku? Itu kan memang restoranmu.”
“Iih,” rengek Keinya sambil mencubit perut Yuan. “Mana mungkin aku langsung mengambil keputusan tanpa seizin kamu! Seenggaknya aku juga harus kasih tahu semua yang aku lakukan ke kamu, kan?”
Yuan mengangguk-angguk dengan tawa yang kian pecah. “Lalu, bagaimana dengan persiapan pernikahan kita?”
“Sejauh ini masih di Jakarta, karena semua persiapan memang bisa diurus di Jakarta.” Keinya meninggalkan Yuan menuju kulkas di seberang mereka.
Yuan mencebik. “Sengaja balas dendam,” godanya.
Terdengar Keinya yang tertawa lepas kemudian kembali sambil membawa kotak besar berisi potongan daging sapi yang sudah dibumbui kecap.
“Itu biar Kimo saja yang kerjain,” tegur Yuan.
“Eggak boleh begitu. Selain Kimo sudah sibuk mengurus Rara, dia juga tamu yang harus kita muliakan, Yu. Ayo bantuin aku,” pinta Keinya.
“Kimo itu bukan lagi tamu. Kalau tamu hanya datang satu atau dua kali. Nah Kimo wajahnya sudah sampai memenuhi apartemen bahkan mal-ku!” keluh Yuan.
__ADS_1
Keinya kembali tergelak. “Yu, omong-omong, bagaimana dengan Yura? Nanti kita pesta tahun baru bersama, kan nggak etis kalau Yura masih merasa tersakiti?” Keinya benar-benar mencemaskan Yura. Sejauh ini, ia belum pernah melihat Yura menggandeng pria, di mana calon adik iparnya itu juga tak lagi curhat mengenai urusan asmara, seperti ketika sedang mendekati Kimo.
“Kalau Yura merasa tersakiti, di sekitar sini kan banyak rumah sakit terpercaya,” kilah Yuan enteng.
“Kamu ini kebiasaan kalau aku bahas serius,” cibir Keinya sebal.
“Harus bagaimana lagi? Kita lihat saja apa yang akan terjadi. Biar Yura menemukan pria yang dia cintai sekaligus mencintainya,” balas Yuan yang mulai meraih tusuk sate dan siap menggunakannya untuk daging berbumbu yang baru Keinya keluarkan dari kulkas.
“Susah juga, sih. Memikirkan ini sama saja memikirkan Kainya dalam hubungan kita.” Keinya menjadi tak bersemangat. Ia menghela napas dalam di tengah tatapannya yang menjadi kosong.
“Jangan memikirkan orang lain. Pikirkan kita saja. Yang lain hanya mengontrak di kehidupan kita, Kei,” balas Yuan. “Memangnya, kamu enggak tegang, karena nanti malam, untuk pertama kalinya keluarga kita akan bertemu?”
“Yuan tegang?” batin Keinya terdiam bingung. “Kamu enggak boleh tegang karena aku mengandalkan kamu. Bukankah selama ini kamu juga selalu bisa diandalkan?” ucap Keinya.
“Memangnya aku sekeren itu?” balas Yuan yang kemudian mengerucutkan bibir dan tampak berpikir, mencoba mengingat kilas balik perjalanannya selama ini.
Keinya mengangguk mantap. “Ya. Di mataku kamu sangat keren dan memang yang paling keren!”
Yuan menjadi tersipu. “Kalau begitu, aku benar-benar enggak akan tegang!”
Keinya tergelak. “Ya. Aku akan kembali mengandalkanmu. Semangat!”
Keinya yakin Yuan hanya pura-pura tegang agar ia memuji pria itu. Nyatanya, setelah ia tak hentinya tergelak, hal yang sama juga terjadi pada Yuan. Mereka tak ubahnya pasangan aneh dan tak hentinya tertawa.
****
Waktu seolah melambat ketika keluarga Yuan dan Keinya bertemu. Ketegangan benar-benar menyekap Yuan dan Keinya. Jangankan tergelak seperti ketika membicarakan ketegangan yang akan mereka hadapi sewaktu di dapur, sekadar diam saja membuat mereka sampai berkeringat.
Padahal, pertemuan keluarga besar mereka kali ini, bukan pertemuan formal, lantaran kebersamaan kali ini sengaja untuk menyambut sekaligus merayakan tahun baru. Namun, suasana yang bergulir justru sarat ketegangan. Apalagi ketika Yuan membuka obrolan dalam kebersamaan, di hadapan semuanya, di dalam ruang apartemen yang selama ini ditempati Keinya, rasanya seperti ada begitu banyak kembang api yang meledak di dada berikut di atas kepala Keinya.
“Jadi, sesuai yang Tante Khatrin inginkan, sekarang saya membawa ke dua orang tua saya menemui Tante sekeluarga, untuk meminta restu secara resmi karena saya ingin menjalin hubungan yang lebih serius, saya ingin menikahi Keinya!” ucap Yuan sungguh-sungguh. Saking tegangnya, ia sampai lupa bernapas ketika mengucapkan itu.
Khatrin dan Philips kompak saling menoleh. Sedangkan Angela dan Kim Yeon Seok, juga melakukan hal yang sama. Ke duanya refleks saling menoleh dan menyalurkan kode yang dipenuhi harapan besar melalui tatapan mereka.
Di balik pintu kamar Rara yang dibiarkan terbuka, Kimo dan Rara berikut Kainya dan Yura, tak kalah tegang dari Yuan dan Keinya. Bedanya, ketika Rara dan Kimo saling menguatkan melalui kedua tangan mereka yang menggenggam, Yura dan Kainya yang diketahui tidak akur, terlihat menjadi akur karena acara pertemuan yang tengah mereka amati. Di depan sana, wajah Yuan dan Keinya yang duduk berhadapan dan bersanding dengan orang tua masing-masing, sampai berkeringat.
“Sejak kapan kalian jadian?” celetuk Kimo berusaha meredam ketegangan. Ia menatap bingung kebersamaan Kainya berikut Yura yang tampak akrab.
Yura dan Kainya terdiam bingung, sedangkan Rara terpaksa mencubit perut Kimo, sesaat sebelum meninggalkan kebersamaan lantaran rengekan Pelangi terdengar dari belakang. Pelangi memang tidur di kamarnya.
Khatrin dan Philips kompak mengangguk.
“Baiklah. Saya, selaku wali dari Keinya, menerima niat baik Nak Yuan sekeluarga,” ucap Philips mengambil keputusan.
Seketika itu juga, semuanya refleks berucap syukur di mana Keinya dan Yuan yang tak mampu menyembunyikan kebahagiaan mereka juga menuangkannya melalui tatapan yang dipenuhi senyum bahagia sekaligus cinta.
“Bagaimana, bagaimana?” lirih Rara yang kembali ikut nimbrung sambil menggendong Pelangi.
Yura dan Kainya tak sengaja bertukar senyum, tetapi segera mengakhirinya. Sedangkan Kimo menyambut Rara dengan seulas senyum sembari mengangguk.
“Alhamdullilah, akhirnya! Ngie-ngie, akhirnya mama sama papamu dapat restu resmi, dan sebentar lagi mereka akan menikah!” Rara menimang Pelangi.
“Selamat, Yu! Doakan aku agar segera menyusul!” batin Kimo yang tak canggung mendekap Rara dari belakang, meski di hadapan mereka masih ada Kainya dan Yura.
Kenyataan tersebut membuat Rara kikuk dan tersipu tanpa memberikan perlawanan berarti. Rara tersenyum sambil menatap wajah Pelangi bersama doa baik yang ia panjatkan dalam hati, agar hubungannya dan Kimo juga turut segera mendapatkan restu.
*****
__ADS_1