
“pelan-pelan, ... enggak usah buru-buru. Toh, ke mana pun kamu pergi, ujung-ujungnya bakalan bertemu bahkan bersamaku lagi.”
Bab 36 : Ciuman Kejutan
Mata sayu Kim Jungsu menatap bahagia kebersamaan Kim Jinnan dan Pelangi yang melangkah mendekatinya. Dan yang membuat Kim Jungsu semakin bahagia, tak lain karena keduanya sampai bergandengan tangan. Pun meski Kim Jinnan, terlihat jelas memegang kendali gandengan tersebut, terlepas dari kedua mata Pelangi yang terlihat menahan banyak keresahan.
Hingga detik ini, Pelangi masih tidak baik-baik saja. Bahkan semakin lama, Pelangi merasa semakin tidak baik-baik saja. Jantungnya masih bekerja dengan sangat cepat, sedangkan aliran darahnya juga sampai mendadak memanas.
Bersama Kim Jinnan, dan dihadapkan pada Kim Jungsu yang boleh dibilang masih sekarat, menolak permintaan pernikahan yang begitu diharapkan oleh kakek Jungsu, seolah menjadi hal yang mustahil. Pelangi tidak mungkin melakukan itu, lantaran jika ia sampai melakukannya, nyawa kakek Jungsu menjadi taruhannya. Namun, masa iya, Pelangi harus menikah dengan Kim Jinnan bahkan dalam waktu dekat?
Demi Tuhan, Pelangi benar-benar belum siap!
Baik Pelangi maupun Kim Jinnan, masih menatap Kim Jungsu penuh kekhawatiran.
“Kami di sini, ... jadi bertahanlah. Aku akan menikah. Dan kami akan menikah. Sesuai permintaan Kakek ... kami benar-benar akan menikah,” ujar Kim Jinnan dengan suara yang terdengar mengambang.
Begitu banyak kesedihan yang turut terdengar dari pengakuan Kim Jinnan. Pelangi yang sampai dibuat merinding atas kenyataan tersebut, bisa merasakannya. Akan tetapi, gara-gara pengakuan tersebut juga, Pelangi merasa jika jantungnya sampai rusak. Jantung Pelangi tak hentinya berdentum kacau dan bahkan seolah nyaris meledak.
“Ya Tuhan ... aku mohon ... aku belum ingin menikah!” batin Pelangi yang merasa semakin lemas saja.
Pelangi sampai gemetaran. Sampai-sampai, kaki jenjangnya bergoyang-goyang tak mampu menopang tubuhnya untuk berdiri sempurna. Dan karena hal tersebut pula, sebelah tangan Pelangi yang bebas, sampai berpegangan pada lengan Kim Jinnan yang menggandengnya. Namun karena hal tersebut juga, Kim Jinnan menjadi mengernyit dan melirik Pelangi. Kim Jinnan merasa aneh lantaran Pelangi yang semenjak awal terus menolaknya, justru mendadak berpegangan dan terkesan akan melakukan hal agresif.
“Jinnan ... aku mau ke kantor saja. Aku bisa telat,” rengek Pelangi lirih.
“Jangan memikirkan hal lain dulu. Kita urus ini dulu, baru setelah itu, aku akan mengurus semua keperluanmu,” balas Kim Jinnan yang juga dengan berbisik.
Tiba-tiba saja, dunia Pelangi kembali berputar melambat. Dan suasana di sana juga mendadak menyeramkan.
“Kakek akan segera sembuh ... Kakek benar-benar akan sembuh, jika melihat kalian selalu bersama seperti sekarang,” lirih Kim Jungsu.
Meski selang oksigen masih menghiasi kedua lubang hidungnya, tetapi Kim Jungsu terlihat begitu bersemangat. Pria tua itu terlihat sangat bahagia di antara senyum kecil yang terus mengguncang wajah berkeriputnya.
“Jinnan ... jaga Pelangi ... Ngie ... tolong didik dan arahkan Jinnan,” pinta Kim Jungsu yang harus susah payah mengucapkannya.
__ADS_1
Hati Kim Jinnan dan Pelangi menjadi terenyuh dibuatnya. Sebab di tengah kenyataannya yang untuk bernapas saja masih sangat sulit dan bahkan harus mendapatkan alat bantu, tetapi Kim Jungsu begitu bersemangat hanya karena melihat kebersamaan mereka.
“Cepat sembuh. Jangan terlalu memaksakan diri untuk banyak berbicara,” ucap Kim Jinnan di tengah matanya yang basah, terlrpas dari suara pria itu yang sampai terdengar sengau.
Kembali, Pelangi mendapati Kim Jinnan menangis. Meski merasa aneh bahkan lucu, tetapi pada kenyataannya, Kim Jinnan memang manusia biasa yang memiliki hati dan perasaan, di mana pria itu juga akan menangis jika sudah sangat bersedih.
Setelah mengalihkan pandangannya dari Kim Jinnan, Pelangi berangsur menatap Kim Jungsu. Ia sengaja menurunkan masker dari hidung dan mulutnya, hingga dagu. “Cepat sembuh, Kek ... jangan menginap di sini lagi. Enggak enak,” ucapnya yang kemudian sampai mengulas senyum.
Tak lama setelah itu, senyum di wajah Kim Jungsu menjadi semakin lepas. Keriput-keriput di wajah pria tua itu sampai tersamarkan oleh senyum yang tengah berlangsung. Dan melihat kenyataan tersebut, hati Pelangi dan Kim Jinnan menjadi diselimuti banyak kebahagiaan. Seolah ada beban yang baru terangkat dari dada mereka. Dan anehnya, Pelangi sampai lupa jika sebelum itu, dirinya nyaris pingsan hanya karena keadaan kini; bersama Kim Jinnan dan dihadapkan pada kakek Jungsu yang berarti, Pelangi tidak bisa mengelak apalagi tidak menikah dengan Kim Jinnan.
Kim Jungsu berangsur mengangguk-angguk di antara senyumnya. Ia menatap Kim Jinnan dan Pelangi di antara rasa syukur yang tak hentinya ia panjatkan di dalam hatinya. Semoga, pasangan muda di hadapannya akan selalu hidup bahagia!
***
Tepat pukul tujuh lewat dua belas menit, waktu yang tertera di jam mobil Kim Jinnan yang ada di hadapan Pelangi, ketika Kim Jinnan menepikan laju mobilnya di tempat parkir bagian halaman depan perusahaan Fahreza Grup.
“Sampai ... turunlah,” ujar Kim Jinnan yang bertutur dengan nada suara halus sarat perhatian.
“Apakah nanti sore aku harus menjemputmu?” tanya Kim Jinnan kemudian.
Dengan wajah yang masih murung, Pelangi berangsur menatap Kim Jinnan. “Untuk apa? Aku bisa pulang sama papa,” balasnya. “Kamu fokus jaga kakekmu saja.”
“Jangan lupa. Mulai sekarang, kita ini pasangan, dan sebentar lagi, kita akan menikah!” ujar Kim Jinnan mengingatkan. Kendati demikian, ia tak lagi berucap meledak-ledak layaknha biasa.
Bahkan Pelangi bisa merasakan perubahan yang begitu luar biasa dari seorang Kim Jinnan. Pria yang selalu meledak-ledak, angkuh dan semena-mena itu mendadak menjadi pria yang begitu santun. Tak hanya tutur katanya, melainkan cara Kim Jinnan dalam memperlakukan Pelangi.
“Lihat, ada apa di kepalamu?” ucap Kim Jinnan yang tiba-tiba saja menatap serius ubun-ubun Pelangi.
“Jinnan, ... jangan bercanda ... jangan menakut-nakutiku!” ujar Pelangi yang detik itu juga menjadi sangat tegang.
“S-serius ... ini ...?” Kedua tangan Kim Jinnan menahan kedua sisi kepala Pelangi.
“J-jinan, apa yang ada di sana?” tanya Pelangi yang semakin penasaran di tengah ketegangan yang semakin memenuhi dadanya.
__ADS_1
Bahkan, suara Pelangi sampai terdengar gemetaran karena menahab takut.
“Mmmuahh! Aku menemukan cinta di sini!” seru Kim Jinnan girang setelah sampai melayangkan ciuman dalam di ubun-ubun Pelangi.
Dan apa yang Kim Jinnan lakukan, sukses membuat Pelangi geram. “Kim Jinnan! Kamu benar-benar keterlaluan ...!” umpatnya yang sampai menoyor kepala Kim Jinnan.
Kim Jinnan menjadi tertawa lepas atas kemarahan Pelangi yang bahkan tetap tidak bisa berkata kasar meski gadis itu sedang sangat marah. Dan Kini, dengan kemarahan yang sampai membuat wajah cantik Pelangi menjadi merah padam, gadis itu bergegas meninggalkannya.
Di tengah sisa tawa yang masih menyertai, Kim Jinnan pun berkata, “pelan-pelan, ... enggak usah buru-buru. Toh, ke mana pun kamu pergi, ujung-ujungnya bakalan bertemu bahkan bersamaku lagi.”
Pelangi yang baru berhasil membuka pintunya pun mendengkus sambil menatap kesal Kim Jinnan. “Tunggu pembalasanku, Kim Jinnan!” ancamnya.
“Ya ... aku akan selalu menunggu semua pembalsanmu. Termasuk pembalasan cinta darimu!” balas Kim Jinnan yang justru sengaja menggoda Pelangi.
“Ahh ... dasar play boy kadal!” uring Pelangi yang buru-buru turun dan menutup pintu mobilnya dengan kekuatan penuh.
Kim Jinnan hanya tersenyum santai sembari melepas kepergian Pelangi. Gadis itu sampai berlari, meski sesekali, Pelangi juga akan menoleh ke arahnya.
“Kayaknya seru, ya, kalau tiap hari kayak gini? Enggak apa-apa tiap hari kupingku panas gara-gara dengar omelan Pelangi. Asal selalu bersama dia, semuanya pasti terasa indah,” pikir Kim Jinnan.
“Dan mulai sekarang, ... semenjak kami bertemu kakek, ... kami memang pasangan, kan?” pikir Kim Jinnan lagi yang tetap membenarkan pemikirannya tanpa peduli pendapat apalagi pembantahan dari pihak lain, tanpa terkecuali Pelangi.
“Ada cinta ...? Cih ... dasar play boy cap kadal!” batin Pelangi yang tak hentinya uring-uringan, bahkan seklipun ia sudah bertemu dan bersama Yuan.
“Pagi Pa ...?” sapa Pelangi.
“Pagi Sayang? Bagaimana, sudah beres urusannya? Kakek Jungsu sudah ada perkembangan belum?” tanya Yuan yang sampai mengelus ubun-ubun Pelangi. Bagian yang baru saja mendapatkan ciuman kejutan dari Kim Jinnan.
Akan tetapi, pertanyaan Yuan berhasil menampar Pelangi pada kenyataan. Tentang hubungannya dan Kim Jinnan, yang sepertinya memang terpaksa harus menikah.
Bersambung .....
Hallo, sudah dengar kabar terbaru? Novel : Menjadi Istri Tuanku akan ada season ke 2 tapi di aplikasi Dream atau Innovel ya. Buat yang mau mengikuti ceritanya, kalian donload aplikasinya saja. Tenang, Author pakai yang verai gratis kok. Jadi kalian langsung ikuti dan baca saja. Tentunya, jangan lupa untuk mendukung ceritanya 💓😄🙏. Besok bakalan terbit perdana di sana. Judulnya : Perfect Pasutri (Menjadi Istri Tuanku Season 2)
__ADS_1