Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 68 : Mengenai Kehamilan Irene dan Kim Jinnan


__ADS_3

“Coba kamu bayangkan, kamu baru menikah dan lagi sayang-sayangnya, eh ada wanita yang datang ngaku dihamili suamimu. Sakit, kan? Jangan langsung bunuh diri saja sudah untung!”


Bab 68 : Mengenai Kehamilan Irene dan Kim Jinnan


Irena selaku wanita yang sempat mendatangi kediaman Kim Jinnan dan langsung membuat pak Jo resah, tersenyum sarkastis menertawakan wajah Atala yang babak belur. Sedangkan Atala yang duduk di sofa sembari menyeringai menahan sakit di wajahnya, mendengkus sambil melirik kesal sang sahabat yang kali ini membawa baskom berikut handuk kompres.


“Lagian kamu ini aneh ... sudah tahu kalau yang kamu kencani bukan Elia dan justru Elena kembarannya, masih saja bertahan! Ya jangan salahkan kenyataan, kalau Elia juga sampai punya pacar!” cibir Irena.


Irene meletakkan baskom kompresnya di meja dan kemudian duduk di sebelah Atala.


“Di mana-mana, yang aneh itu kamu. Hamil sama siapa, eh yang dicari justru Kim Jinnan! Mana mau dia sama kamu, sedangkan dia jauh lebih cerdas dari pada aku!” balas Atala tak mau kalah. 


Atala bahkan masih bersungut-sungut. Sudah sangat kesal lantaran Elia menolak cintanya mentah-mentah, dan justru lebih memilih pemuda yang membuat wajah Atala babak belur, kini kehadirannya di apartemen Irene justru mendapatkan ledekan menyakitkan dan sukses membuat harga diri Atala seperti diinjak-injak.


“Kim Jinnan ...,” lirih Irene yang kemudian menjadi menunduk tak bersemangat,


Irene yang sampai menghela napas dalam, dan terlihat jelas sangat mendambakan pemuda yang namanya baru saja ia ucapkan.


“Lupakan. Sebagai laki-laki waras, aku juga enggak bakalan mau menikahi wanita hamil dan itu bukan anakku!” cibir Atala sambil menatap sebal Irene.


“Logikanya, ya, Ren ... sebrengsek-brengseknya aku, bahkan meski aku enggak cinta Elena, aku enggak bakalan merusak dia. Justru, aku bakalan mikir ulang, kalau harus menjalin hubungan sama, ... maaf, ya ... wanita yang belum aku nikahi, tapi dia mau-mau saja aku setubuhi—”


Sebenarnya Atala belum selesai bicara. Namun tamparan panas Irene justru mendarat di sebelah wajahnya, yang rasanya saja sudah tidak karuan, tetapi justru ditambah rasa sakit yang menjadi berkali lipat.


“Why, ... kenapa kamu menamparku?!” protes Atala tak terima.


“Karena sebagai sahabatku, seharusnya kamu dukung aku!” balas Irene yang sampai mengumpat.

__ADS_1


Irene menatap tajam Atala yang langsung membalasnya dengan senyum sarkastis sembari menggeleng.


“No ... persahabatanku selalu kuutamakan untuk hal yang positif. Masa iya, aku justru mendorong sahabatku yang mau loncat ke jurang? Itu enggak mungkin dan itu bukan aku!” tegas Atala.


“Lama-lama kamu rese, ya, At!” balas Irene lagi semakin menatap kesal lawan bicaranya.


Atala kembali menggeleng. “Jangan ganggu Kim Jinnan, apalagi kamu bilang, sekarang dia sudah menikah? Aku bilang begini, karena aku juga enggak bakalan tinggal diam, kalau rumah tanggaku diusik dengan fitnah keji.”


Lantaran Irena terlihat semakin marah dan nyaris membuka mulut seperti akan membalas, Atala buru-buru berkata, “jangan marah dulu! Coba kamu bayangkan, kamu baru menikah dan lagi sayang-sayangnya, eh ada wanita yang datang ngaku dihamili suamimu. Sakit, kan? Jangan langsung bunuh diri saja sudah untung!”


Irene berkerap dan kemudian mendengkus kesal. “Tapi aku enggak butuh pendapat itu dan memang enggak mau tahu perasaan Kim Jinnan, maupun istrinya!”


“Kau, gi-la!” tegas Atala yang sampai menunjuk wajah Irene menggunakan telunjuknya.


Irene kembali berkecap lantaran merasa semakin risih sekaligus marah. “At-tala!”


Atala menahan kedua bahu Irena. Ia menatap serius wanita yang sudah menjadi sahabatnya semanjak mereka duduk di pertengahan kelas sewaktu SMA. “Dengarkan aku. Jangan main api kalau kamu enggak mau kebakar!”


“Serius, Ren. Jangan membuang waktumu untuk hal yang tak pasti,” lanjut Atala.


Irene segera menyingkirkan dengan kasar tahanan tangan Atala dari kedua bahunya secara bersamaan. “Enggak usah sok nasehatin aku, sedangkan hidupmu saja jauh dari kata benar!”


“Hanya karena aku masih tetap dengan Elena?” ucap Atala sesaat setelah menghela napas dalam. Ia menatap Irene penuh kepastian.


Dan bukannya menjawab, Irene justru mendengkus dan menepis tatapan Atala.,


“Aku mempertahankan hubunganku dan Elena, karena aku pernah jujur pada Elena jika yang sebenarnya kucintai itu Elia! Tentu, keadaan itu bisa merusak hubungan Elia dan Elena, sedangkan aku tahu banget, Elena sangat mencintaiku.”

__ADS_1


“Bahkan meski aku selalu mengabaikan Elena, dia juga tetap mencintaiku. Yang ada, bukannya pergi, Elena justru semakin ingin memilikiku.” Atala sendiri merasa terjebak dan tak tahu harus bagaimana mengakhiri hubungannya tanpa membuat hubungan Elia dan Elena terluka.


“Stt!” desis Irene yang menjadi pusing sendiri memikirkan nasibnya. 


Kehamilan Irene sudah menginjak bulan ke tiga, tetapi sampai sekarang, pria yang ia harapkan menjadi suaminya justru semakin sulit dijangkau, di mana Kim Jinnan yang sangat ia inginkan itu juga sampai sudah menikah.


“Percaya, deh ... kamu bicarakan saja kehamilanmu dengan ayahnya. Enggak ada untungnya buat kamu kalau kamu terus berharap pada Kim Jinnan!” lanjut Atala masih berusaha meyakinkan Irene.


“Lagian kamu aneh ... tahu enggak cinta, masih saja mau. Coba katakan padaku, siapa ayahnya? Kalau dia enggak mau tanggung jawab juga, biar aku yang cekokin dia pakai sianida!” Karena detik ini, Atala belum mengetahui pria yang menghamili Irene.


Irene diam. Dan justru sampai menunduk, mengunci wajahnya dan seolah sengaja menyembunyikan kisah kelamnya dari siapa pun termasuk Atala yang selama ini menjadi satu-satunya sahabatnya.


Atala sempat merasa semakin kesal. Namun ketika ia tak sengaja mendapati jemari tangan Irene sampai gemetaran dan berangsur mengepal, yang ada Atala justru menjadi mencemaskan sang sahabat.


“Why? Cerita saja ...,” lirih Atala berusaha membuat Irene senyaman mungkin.


“Apakah pria itu membuatmu sangat tertekan?” tanya Atala yang kemudian mengge;eng dan buru-buru menepis anggapannya. “Bukan begitu. Yang terpenting sekarang, nasib anakmu dan juga kamu. Bagaimana kalau keluargamu sampai tahu, Ren?!”


Dan kembali, Irene mendengkus kesal. “Sudah jangan dibahas. Aku pusing! Lebih baik kamu kompres wajahmu sendiri saja. Aku mau tidur!” 


Tanpa menunggu balasan atau setidaknya reaksi Atala, Irena langsung berlalu meninggalkan Atala dengan pemikirannya. Mengenai Irene dan kehamilannya, Atala rasa memang ada yang sengaja disembunyikan dari Atala. 


Atala yang terus memikirkan Irene berikut bayinya sambil memulai mengompres wajahnya, mendadak terlonjak. “Ya ampun ... ini air es? Pantes dingin banget!” 


Di kamar, Irene yang langsung membanting tubuhnya dalam posisi tengkurap di atas kasur, menjadi kerap menggeleng seiring kedua tangannya yang sibuk memukuli perutnya. “Kenapa kejadian itu harus ada?!” batinnya yang kemudian terpejam erat.


Dalam benak Irene mendadak dihasi kejadian monokrom sebuah tangan kokoh dan cukup berbulu yang Irena dapati tengah ada di sebelah tangannya, tepat ketika Irene membuka mata. Tangan yang juga langsung membuat Irene terlonjak kaget layaknya sekarang.

__ADS_1


“Sittttt!” desis Irene yang menjadi terengah-engah. Napas Irene sampai sangat memburu terlepas dari tubuhnya yang juga sampai berkeringat hanya karena teringat tangan yang kala itu langsung menahan sebelah tangannya ketika ia berusaha menyingkirkannya.


#Bersambung ....


__ADS_2