Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 31 : Rara


__ADS_3

“... di balik pria hebat ada wanita yang jauh lebih hebat!”


Bab 31 : Rara


Yang membuat Keinya masih diam, bukan perkara Athan dan Tiara, melainkan ketika Rara membelanya. Wanita itu selalu memasang bahu dan menjadi tameng untuknya tanpa peduli siapa yang dihadapi. Pun meski Rara memiliki tubuh lebih mungil darinya. Jadi, rasanya sangat sakit ketika Athan justru membentak Rara. Saat itu juga, Keinya sangat ingin memberi Athan pelajaran agar pria itu menyesal. Apalagi, semenjak ia hamil, yang selalu siaga bukan Athan, melainkan Rara. Termasuk ketika ia harus melahirkan Pelangi secara sesar sesaat setelah ia terjatuh di kamar mandi sementara Athan tak bisa dihubungi. Rara-lah yang pontang-panting mengurus semuanya.


Rara sudah menjadi bagian dari hidup Keinya. Ibaratnya, Rara itu saudara perempuan yang Tuhan anugerahkan padanya tanpa ikatan darah. Saudara perempuan yang kadang akan membuatnya tertawa bahkan menangis dalam waktu bersamaan. Saudara perempuan yang selalu membuatnya cemas ketika mereka sedang beda pemikiran apalagi ketika mereka sedang tidak bersama. Rara itu ceroboh, terlalu polos dan gampang dibodohi. Tak beda dengan Keinya yang selalu gampang percaya apalagi jika yang mendekatinya pandai bersandiwara sekaligus membuatnya iba. Namun semenjak Athan menipu Keinya dan menghancurkan semuanya, cara pikir Keinya sedikit berubah. Keinya jauh lebih selektif melakukan segala sesuatunya apalagi mengenai orang-orang yang mendekatinya tanpa terkecuali Yuan. Keinya juga sebenarnya jadi gampang cemas, takut jika semua orang yang mendekatinya jahat seperti Athan. Hanya saja untuk urusan Yuan, Keinya merasa tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi. Pria itu tulus. Bahkan sangat tulus hingga ia jadi bingung mengenai bagaimana cara membalasnya.


Ketika Keinya menyadari suasana mobilnya sepi padahal biasanya Rara selalu berisik, tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak enak. Aneh saja seorang Rara bisa diam. Sakit saja walau hanya terkena luka gores, Rara akan teriak-teriak dan membuat orang yang awalnya tidak tahu menjadi takut sendiri.


Keinya segera memastikan. Di depan hanya ada sopir sedangkan di bangku penumpang keberadaannya, Yuan dan Pelangi kompak tidur bersandar padanya. Selebihnya, di bangku penumpang belakang benar-benar kosong. Lantas, ke mana perginya Rara?


“P-pak, teman saya mana?” tanya Keinya pada sopir. Namun sepertinya pria berkumis tipis itu tidak tahu-menahu. Terbukti, pria itu langsung menggeleng.


“Nggak tahu, Bu. Tadi Pak Yuan langsung minta saya buat jalan. Ya saya langsung jalan saja.”


Meski tak tega melihat Yuan yang jelas kelelahan, Keinya terpaksa membangunkannya. Wajah Yuan masih menyandar di bahunya, sementara ketika ia mengguncang telapak tangan pria itu, yang ada tangan itu justru menggenggamnya erat.


“Yu ... Yu, Rara ketinggalan di salon,” bisik Keinya, tapi Yuan hanya mengulet.


Ya ampun, si Yuan kalau sudah tidur susah urusannya. Yu, kamu ini tidur apa pingsan, sih? Kecemasan Keinya pada Rara tentu beralasan. Sebab sahabatnya lupa membawa ponsel dan dompet. Kedua benda penting itu tertinggal di indekos. Tadi saja ketika mereka bertemu di salon setelah sepakat bertemu di sana melalui obrolan WhatApps, Keinya yang membayar taksi Rara. Terpikir oleh Keinya untuk meminta sopirnya putar balik.


“Duh, Bu, susah. Arah balik macet banget. Tuh lihat nggak bisa jalan.”


Di seberang, jalanan memang penuh pengendara. Baik kendaraan roda dua yang masih bisa mengambil jalan walau hanya sedikit, juga kendaraan beroda empat yang sama sekali tidak bisa bergerak.


“Kalau begitu mending aku telepon Gio siapa tahu dia lagi nggak sibuk!” pikir Keinya. Gio kekasih Rara bisa menjemput Rara menggunakan motor.


Keinya langsung mengambil ponsel dari tasnya. Setelah memilih kontak Gio di menu kontak, ia langsung melakukan panggilan keluar pada kontak tersebut. Tak lama dari panggilan yang ia lakukan, suara perempuan menyapanya dari seberang.


“Halo? Halo ...?”


“Sayang, siapa yang telepon?”


“Nggak tahu, Sayang. Nggak ada suara tapi nomor baru.”


“Ya sudah matikan saja. Paling orang salah sambung. Cepat kamu ke sini coba gaun pengantinnya.”


Dep. Panggilan diakhiri dari seberang seiring Keinya yang menjadi kebas sesaat refleks terdiam di awal ia mendengar suara perempuan yang menjawab panggilannya ke nomor Gio. Tadi, suara perempuan itu sangat asing dan jelas bukan suara Rara. Sedangkan suara si pria memang suara Gio dan Keinya hafal. Lantas, kenapa Gio memanggil wanita itu dengan sebutan Sayang, dan sampai memintanya mencoba gaun pengantin? Bukankah tak sampai dua bulan lagi, Gio akan menikah dengan Rara? Memikirkan itu, hati Keinya menjadi terasa perih. Dan keadaannya menjadi semakin kacau lantaran pemikiran buruk juga menguasainya. Atau jangan-jangan, ada masalah penting yang belum Keinya ketahui dikarenakan selama ini, ia terlalu sibuk dengan permasalahannya tanpa memberikan Rara kesempatan untuk berkeluh kesah juga?


Tanpa terasa, butiran air mata mengalir dari kedua mata Keinya membasahi pipinya. Dan jauh di lubuk hatinya, ia bersumpah akan memberi Gio pelajaran jika dugaan buruk yang tengah membuatnya kacau, justru kebenaran. Keinya akan memastikannya dan melakukannya dengan kedua tangannya. Ia tidak rela jika apa yang pernah menimpanya dari Athan juga Tiara kembali terulang. Cukup mereka saja yang membuatnya kecolongan. Selebihnya, Keinya bersumpah untuk menjadi wanita hebat yang disegani tanpa ada yang berani mengusik apalagi melukainya berikut orang-orangnya.


Ketika tiba-tiba ada panggilan masuk dan itu dari Rara, Keinya langsung menjawabnya apalagi ponselnya juga masih ia genggam.


“Keinya ...? Kok aku ditinggal, sih?”


“Sekarang kamu di mana?” sergah Keinya tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

__ADS_1


“Tentu di indekos. Mana mungkin ponselku jalan ke salon, kan? Lagian kamu sama Yuan jahat banget, masa aku ditinggal?”


“Tadi kamu waktu kita masuk mobil ke mana? Ya sudah. Kalau begitu, kemasi barang-barangmu dan tinggal di apartemen bersamaku.”


“A-apartemen? Maksudnya apartemenmu dan Yuan?”


“Ya. Yuan sudah mengatakan itu kepadaku.”


“La-lalu bagaimana dengan Yuan?”


“Kamu pikir kami tinggal bersama sementara kami belum menikah?”


“O-oh berarti kalian akan menikah dalam waktu dekat?”


“Sudah jangan banyak bertanya. Cepat ke sini sebelum aku berubah pikiran.”


“A-iya iya. Tolong jangan sampai berubah pikiran. Aku akan segera ke sana!”


Dari seberang, Rara terdengar begitu bahagia. Ceria seperti biasa. Kenyataan yang justru semakin membuat Keinya sakit andai saja Gio benar-benar mengkhianati sahabatnya.


Dikarenakan Keinya sampai berteriak untuk kata-kata terakhirnya, Yuan terbangun dan langsung menatap Keinya penuh tanya.


“Ada apa?”


Keinya segera menggeleng. “Bukan apa-apa.”


“Memangnya sejak kapan wajah bisa ngomong, Yu?”


Keinya jadi uring-uringan. Akan tetapi Yuan juga tidak menyerah. Dengan keyakinan Keinya tidak baik-baik saja dan sengaja menyembunyikannya darinya, ia masih menatap Keinya dengan jarak yang begitu dekat.


“Yu ... aku nggak bohong,” keluh Keinya. Ia sadar pria di hadapannya sengaja tetap menatapnya dengan jarak yang begitu dekat agar ia cerita.


“Apakah kita harus mengunjungi suatu tempat sebelum kembali ke apartemen?”


Keinya tertunduk pasrah, membiarkan Yuan membelai kepalanya. “Tapi aku nggak yakin, Yu. Aku bahkan nggak tahu sekarang dia di mana?” Keinya menitikkan air mata dengan sakit di dadanya yang berangsur berkurang.


Yuan menghela napas dalam kemudian mendekap hangat tubuh Keinya. Ia meletakan dagunya di pucuk kepala Keinya. “Aku bahkan bisa menemukan suami Tiara. Penemuan itu masih membuatmu meragukanku, aku bisa melakukan semuanya untukmu?”


Suara berat khas baru bangun tidur dari Yuan justru makin membuat Keinya terisak-isak. Keinya menceritakan semuanya tentang Rara, alasannya tenggelam dalam kesedihan akibat rasa kesal yang tercipta atas apa yang ia pikirkan tentang Gio. Dan ketika Keinya terdiam yang Yuan yakini sudah selesai cerita, pria itu baru sadar kalau Rara yang mereka bicarakan tidak ada.


“Omong-omong, si Rara ke mana?”


“Kita menelantarkannya di salon,” balas Keinya sembari menyeka tuntas air matanya.


“Kita?” Yuan benar-benar tak percaya. Ia menatap Keinya sambil menunjuk wajahnya sendiri.


Keinya mengangguk dan kenyataan itu membuat Yuan merasa bersalah. Rara sangat berjasa untuk hubungannya dengan Keinya. Tanpa cerita dari wanita itu, tentu ia tidak mengetahui semua tentang Keinya tanpa terkecuali mengenai Tiara yang ternyata ketika ia selidiki lebih lanjut, memiliki hubungan dengan banyak pria.

__ADS_1


“Aku nggak bermaksud menelantarkan Rara, lho. Pikiranku terlalu fokus ke kamu sama Pelangi,” ujar Yuan yang kemudian menghela napas sambil menggeleng. Tatapannya bertemu dengan Keinya dan setelah itu ia tersenyum lepas. Satu pintu telah berhasil ia buka untuk wanita itu melangkah meninggalkan masa lalunya yang kelam. Ia sangat bersyukur untuk kenyataan tersebut. Apalagi ketika Keinya juga ikut tersenyum meski dari ekspresinya, wanita itu masih terlihat risau.


“Semuanya akan baik-baik saja, Kei. Beri aku waktu untuk menyelesaikannya.” Yuan kembali mendekap Keinya.


“Maaf, Yu. Aku selalu merepotkanmu. Padahal aku sudah pernah mengatakan kalau aku juga hebat.”


“Hei ... di balik pria hebat ada wanita yang jauh lebih hebat!” bisik Yuan tepat di sebelah telinga Keinya.


Diam-diam Keinya tersipu kemudian mencubit perut Yuan. “Ada sopirmu kamu jangan macam-macam, Yu! Malu!”


Senyum Yuan kian lepas. “Sepertinya Pak Boim akan terbiasa dengan pemandangan seperti ini.”


***


“Wah ... apa ini? Yuan memboyong orang-orang salon untukmu?” Rara terkagum-kagum dengan pemandangan yang langsung memenuhi pandangannya.


Di ruang bersantai yang ada di apartemen Yuan, lima orang dengan seragam panjang warna hitam tengah bersiap-siap. Ada aroma teh hijau yang begitu kuat dari cairan lulur yang baru saja dituang pada mangkok oleh salah satu dari mereka.


“Cepat simpan barang-barangmu ke kamar. Kamu juga harus ikut perawatan,” sergah Keinya yang sudah menarik koper kecil milik Rara.


Tiba-tiba saja Rara seperti mengidap asma. “A-aku juga dapat jatah?” pekiknya tak percaya. Keinya menggeleng tak habis pikir dan jelas mengiyakan pertanyaannya. Hal yang langsung menambah kebahagiaannya. Di mana tanpa pikir panjang, ia langsung lari untuk mengejar sambil menarik koper yang ukurannya jauh lebih besar dari yang dibawa Keinya, sementara di punggungnya juga ada satu ransel tak kalah besar. Beban hidupnya seolah bertambah berkali-lipat hanya karena barang-barang itu. Namun karena ia juga mendapat jatah perawatan, rasanya dalam waktu singkat semuanya akan hilang.


“Yuan benar-benar orang terlanjur kaya. Kalau dipikir-pikir, kamu harus berterima kasih sama Athan dan Tiara!” ujar Rara sembari menepikan barang-barangnya di sebelah ranjang yang ukurannya tiga kali lipat dari miliknya yang ada di indekos.


“Mulai sekarang aku akan belajar menjadi manusia yang tahu diri. Mungkin sebelum ini aku terlalu jauh dari Tuhan, hingga akhirnya Tuhan marah dan mengambil semua yang Dia kasih ke aku.” Keinya menghela napas sangat dalam. Kemudian ia mengangkat tatapannya dan menatap Rara sambil tersenyum lepas.


Hal yang sama juga menimpa Rara. Ia sampai membentangkan kedua tangannya dan kemudian memeluk Keinya.


Keinya balas memeluk Rara. “Akan ada banyak kesulitan yang lebih sulit dari ini. Kita harus jadi manusia yang lebih kuat.”


Rara segera menggeleng. “Yuan tulus ke kamu. Dia nggak mungkin membiarkan kamu berada di posisi sulit.”


“Amin. Jangan lama-lama berpelukan. Ini akan membuatku kembali mengingat masa lalu,” lirih Keinya sambil mengelus punggung Rara. Masa lalu yang berarti kesedihan.


“Astaga ....” Rara terlonjak dan mengakhiri pelukan mereka. “Ya sudah sana pergi.”


Keinya mengangguk. “Pelangi sedang diurut. Tapi anehnya dia malah ketawa-ketawa.”


Rara tergelak. “Jiwa orang kayanya Pelangi sudah kelihatan,” ujarnya di sela tawa. Tapi Keinya justru menoyor kepalanya.


***


Ketika Keinya baru meninggalkan kamar Rara dan menutup pintunya, ia mendapati pesan WhatsApp yang baru masuk.


Kei, ini Kainya.


Mengenai perceraianmu besok, tolong ubah keputusanmu.

__ADS_1


Kamu jangan sampai cerai dari Athan. Aku tahu sebelumnya aku yang bersikeras agar kamu menceraikan Athan. Bahkan aku juga yang mendaftarkan perceraian kalian. Tapi tolong, pikirkan masa depan Pelangi. Seorang anak jauh lebih baik bersama kedua orang tuanya, daripada dengan orang lain, Kei!


__ADS_2