
“Jika wanita itu memang istriku sedangkan mama terlihat sangat membencinya, dengan kata lain, aku sangat mencintainya, karena aku bahkan sampai menentang kehendak mama,”
Bab 32 : Mengumpulkan Puing-puing Kebenaran
Kimo masih memikirkan apa yang menimpanya. Ia masih terheran-heran, kenapa ia bangun di waktu yang salah? Waktu yang tidak ada dalam ingatannya berikut semua hal yang ada di dalamnya?
Kemudian Kimo menyadari jika tubuhnya mulai dipindahkan ke tempat tidur datar yang dilengkapi dengan bantal, sabuk pengaman, berikut penahan kepala untuk menghindari tubuh bergerak selama prosedur berlangsung.
Di ruang CT scan yang dingin itu, Kimo hanya sendirian, karena ruangan tersebut memang hanya diperkenankan untuk pasien, sedangkan ahli radiologi mengoperasikan mesinnya dari ruangan lain sambil memantau dan berkomunikasi dengan Kimo melalui interkom yang tersambung di kedua ruangan.
Perlahan-lahan, tubuh Kimo dimasukkan ke dalam mesin CT scan. Anehnya, di dalam mesin yang bentuknya menyerupai mesin penggal itu, Kimo teringat sosok Rara. Wanita yang marah-marah dan tiba-tiba mengaku sebagai istrinya. Juga, wanita yang terlihat begitu tulus menangisinya, meski semua itu justru ditepis oleh Kiara yang terlihat sangat tidak suka kepada si wanita.
Ada satu pernyataan Rara yang begitu membekas di ingatan Kimo.
“Meski otak kamu rusak, tapi aku yakin, hati dan cinta kamu selalu sempurna buat aku. Percayalah, ini hanya ujian untuk rumah tangga kita!”
Selain itu, Kimo juga sangat terusik dengan penegasan Keinya.
“Kalian saling mencintai! Bahkan kalian baru pulang berbulan madu! Hanya saja, mamamu memang menentang hubungan kalian! Demi Tuhan, inilah kebenaran yang kamu lupakan. Tapi tunggu, Yuan dan Papamu akan segera datang!”
Mengingat semua itu, Kimo berangsur memejamkan kedua matanya. Ia berusaha menenangkan diri sambil menghela napas pelan.
“Jika wanita itu memang istriku sedangkan mama terlihat sangat membencinya, dengan kata lain, aku sangat mencintainya, karena aku bahkan sampai menentang kehendak mama,” batin Kimo yakin.
Bagi Kimo, selain Keinya yang ia yakini tidak akan membohonginya, tangis berikut apa yang Rara lakukan kepadanya juga terlihat sangat tulus. Pun dengan Kiara yang ia yakini memiliki alasan, kenapa mamanya itu tidak menyukai Rara? Hanya saja, Kimo benar-benar tidak tahu mengenai apa yang harus dilakukan, karena apa yang ada di ingatannya sangat bertentangan dengan kenyataan.
Dalam ingatannya, Kimo sedang sayang-sayangnya kepada Steffy, apalagi hari pernikahan mereka juga sudah ada di depan mata. Namun sebagai pria yang sudah menjatuhkan pilihan kepada Rara bahkan mereka sudah menjadi suami istri, Kimo juga tidak bisa cuci tangan begitu saja. Karena biar bagaimanapun, selalu ada penyebab dari setiap hal yang pernah terjadi termasuk hubungan dalam kehidupannya. Entah itu hubungannya dengan Rara, Kiara, dan bahkan Steffy yang diam-diam sedang sangat ia rindukan.
***
Rara tidak benar-benar pergi untuk beristirahat apalagi makan, agar menjadi lebih kuat layaknya apa yang awalnya ia utarakan kepada Keinya. Karena dengan keadaan yang sudah di luar kendalinya, berjaga-jaga dari Kiara jauh lebih membuatnya baik-baik saja. Kiara bisa saja menyerang sewaktu-waktu dengan skenario palsu yang akan meracuni pikiran Kimo. Bisa berbahaya jika itu sampai terjadi, apalagi otak Kimo sedang bermasalah.
Mereka sudah terjaga di depan ruang tunggu hampir satu jam lamanya. Sedanhkan berapa saat lalu, dengan telinga yang masih bisa mendengar dengan sangat baik, Rara maupun Keinya mendengar obrolan Kiara dan Steffy. Selain keduanya terdengar sangat akrab, sebentar lagi Steffy juga akan datang, dikarenakan Kiara memintanya. Bahkan karenanya, Keinya yang sudah kadung dongkol, mengancam akan memperkarakan apa yang Kiara lakukan pada pihak yang berwajib. Meski apa yang Keinya lakukan juga sia-sia lantaran Kiara justru tak acuh, sengaja tidak menganggap kehadiran Keinya apalagi Rara.
“Demi Tuhan, Ra! Mertuamu julid banget!” cibir Keinya lirih tetapi masih bisa terdengar oleh Kiara yang kemudian langsung melirik sinis Keinya.
Kiara berdeham dan masih melirik Keinya. “Jangan lupa, ya, Kei. Sebelum kamu dipungut Yuan, kamu hanya seorang janda yang menyedihkan!” ucapnya sesaat setelah berdeham.
Keinya yang masih mencengkeram dorongan kursi roda Rara, kian menatap tajam Kiara seiring rahangnya yang juga menjadi mengeras, saking kesalnya.
“Mah!” tegur Rara sudah tidak tahan. Ia bahkan nyaris bangkit dari kursi roda, andai saja Keinya tidak menahannya.
__ADS_1
“Meski di masa lalu, aku hanya seorang janda yang menyedihkan, tetapi sekarang aku sudah menjadi wanita yang sangat disegani banyak orang. Aku juga bukan orang menyedihkan yang hanya menjadikan masa lalu sebagai acuhan untuk menilai orang lain. Jadi sekarang tolong jelaskan padaku, Tan. Salahku di mana?” Keinya yang masih menatap Kiara, berangsur menghela napas sambil menggeleng tak habis pikir. “Di mana-mana, yang dilihat dari seseorang itu bukan masa lalunya, melainkan apa yang terjadi setelahnya berikut apa yang sudah dimiliki sekarang ini.” Kali ini, Keinya mencibir kesal.
“Satu lagi. Tolong, jaga ucapan Tante. Karena Yuan enggak pernah memungut aku, melainkan menikahiku!”
Kiara melirik sinis dan tak acuh kepada Keinya.
“Beneran, ya, ngomong sama Tante Kiara, kayak ngomong sama tembok. Sia-sia!” keluh Keinya dalam hatinya.
Rara mengelus-elus sebelah lengan Keinya, mencoba menenangkan sahabatnya itu tanpa mengalihkan tatapannya dari pintu ruang keberadaan Kimo.
“Kita lihat saja, Tan. Mau sampai kapan Tante begini? Mau sampai kapan Tuhan membiarkan Tante jadi orang yang ... benar-benar luar biasa!” lanjut Keinya sambil tersenyum sarkastis dan kemudian menatap miris Kiara.
Sambil terus mengelus sebelah lengan Keinya, Rara mengalihkan fokusnya pada kedua perawat yang terjaga di depan ruang radiologi dan keberadaannya tidak terlalu jauh dari mereka.
“Kei, tolong bantu aku buat ke perawat yang tadi mengurus Kimo,” pinta Rara lirih.
Keinya tak langsung membalas Rara apalagi mengindahkan permintaan sahabatnya. Ia mengerutkan dahi, sambil menatap menelisik kedua perawat yang kiranya tak kurang sepuluh meter dari keberadaan mereka.
“Mau ngapain?” tanya Keinya penasaran.
“Aku ingin menanyakan sesuatu tentang keadaan Kimo,” balas Rara masih tenang tanpa memedulikan Kiara yang seolah sudah menjelma menjadi wanita setengah siluman dan benar-benar tidak berperasaan.
Keinya juga tidak mempedulikan Kiara lagi. Ia segera menjalankan permintaan Rara menghampiri kedua perawat yang dimaksud.
Menanggapi pertanyaan polos dari Rara dengan suara yang tidak begitu tinggi lantaran Rara juga sengaja menjaganya dari Kiara, kedua perawat itu langsung mengangguk ramah. “Bisa, Bu. Semuanya akan kelihatan, kok,” ucap salah satu di antara mereka.
“Oh, begitu? Syukurlah ... soalnya suami saya paling susah kalau diminta cek kesehatan. Makasih, ya, Kak!”
Keinya tertunduk sedih mendapati gurat ekspresi Rara yang menjadi dipenuhi kecemasan. Ia yakin, hal tersebut karena apa yang baru saja Rara keluhkan kepada perawat.
Kemudian, Keinya menelan ludah, menatap cemas Rara berikut Kiara silih berganti. “Rara sadar, nggak, sih? Kalau apa yang terjadi pada Kimo dan dia, mungkin saja karena Rara hamil? Tapi sebentar, aku rasa bilang ini ke Rara di dekat Tante Kiara, sangat kurang tepat,” batinnya yang menjadi bersedih. Ia yakin, sekalipun apa yang ia pikirkan memang kebenaran, pasti Rara juga belum siap membuat Kiara juga mengetahuinya.
Tak lama berselang, kedua perawat tadi masuk ke ruang CT scan, dan tak lama kemudian membawa Kimo keluar. Meski terlihat baik-baik saja, tetapi Kimo terlihat tidak bisa menyembunyikan kegelisahan berikut kecemasannya. Bahkan kedua tangannya sampai saling bercengkeraman di atas tubuh.
Tatapan Kimo menyapu suasana sekitar ruangan yang baru ditinggalkan olehnya. Masih ada tiga orang berwajah sama dan terlihat berjaga untuknya. Keinya, Rara, berikut Kiara. Ketiga wajah yang kemudian langsung mengaduk-aduk perasaannya meski fokus tatapannya menjadi hanya tertuju pada Rara.
Baik Kimo maupun Rara, sama-sama merasa, waktu menjadi berputar melambat ketika tatapan mereka bertemu.
“Dia istriku? Dia terlihat sangat mencemaskanku. Dia juga terlihat sangat bersedih ...,” batin Kimo. Ia sedang mencoba mengumpulkan puing-puing sisa kebenaran yang benar-benar tidak ada di dalam ingatannya.
“Kamu selalu bilang, hanya melihat mataku, kamu akan selalu menemukan kebenaran. Apakah sekarang, kamu juga bisa merasakannya?” tanya Rara kemudian jauh lebih santai.
__ADS_1
Kimo menyikapinya dengan menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari Rara. Tatapan yang menjadi dipenuhi sesal sekaligus kesedihan. “Maaf. Aku benar-benar nggak ingat.”
Rara mengangguk di antara sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Di mana, tenggorokannya juga menjadi terasa sangat kering. “Nggak apa-apa, pelan-pelan.” Kemudian ia meraih sebelah tangan Kimo dan menggenggamnya, menyalurkan begitu banyak ketulusan sekaligus cinta yang selama ini terlahir dari hubungan mereka.
Namun, semuanya berubah ketika ketukan langkah cepat dan terdengar menyerupai hak sepatu, mendekat ke arah mereka.
Tak hanya Kimo yang menjadi menoleh ke sumber suara. Karena ketiga wanita yang sedari awal terjaga untuknya, tanpa terkecuali Rara, juga melakukan hal yang sama. Fokus mereka menjadi teralih pada sumber kedatangan. Sesosok wanita yang memang mengenakan heel tinggi. Steffy, wanita itu mengenakan gaun tepat di bawah lutut warna putih yang begitu mengekspos kerampingan tubuhnya. Gaun lengan panjang berikut rias cukup tebal yang membuat tampilannya terlihar sangat segar. Selain itu, Steffy juga tersenyum semringah. Wanita itu melangkah dengan bersemangat sembari menenteng tas tangan berwarna krem.
Hati Kimo gamang mendapati kehadiran Steffy yang langsung memberinya senyuman begitu lepas. Karena biar bagaimanapun, di hadapannya ada Rara yang menjadi tertunduk sedih bahkan sampai menitikkan air mata.
“Sayang, lihatlag! Steffy sengaja datang hanya untuk kamu karena kalian memang saling mencintai!” sergah Kiara di antara luapan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
Ucapan Kiara benar-benar memperkeruh suasana. Kiara yang sampai menyambut Steffy dengan menggandeng sebelah tangan wanita muda itu kemudian sengaja menyodorkannya kepada sang anak.
Kimo tertunduk sambil menghela napas berat. “Aku rasa, sekarang bukan saatnya memikirkan siapa yang benar-benar kucintai, apalagi aku memang amnesia,” sesalnya.
Balasan Kimo begitu mengejutkan orang-orang yang terjaga untuknya tanpa terkecuali Steffy yang baru datang. Kimo bisa melihat sekaligus perubahan ekspresi mereka kepadanya.
“Aku enggak boleh egois, dan mengorbankan apa yang sudah aku punya apalagi istriku sendiri.”
Lanjutan Kimo membuat tangis Rara pecah bersamaan dengan kebahagiaan yang seketika itu menggantikan sesak di dadanya. Dan hal yang sama juga menimpa Keinya yang menjadi berlinang air mata. Kontras dari Kiara dan Steffy yang langsung kehilangan senyum kebahagiaan mereka.
“Aku yakin, keputusanku ini yang paling tepat karena aku tahu, siapa diriku meski aku memang kehilangan sebagian ingatanku. Karena aku tidak mungkin main-main dalam menjatuhkan pilihan apalagi yang menyangkut pernikahan.” Kimo tertunduk pasrah. “Bahkan meski di ingatanku sama sekali tidak ada tempat untuk istriku,” batinnya.
Di ingatan Kimo kembali dihiasi ucapan Rara dan Keinya.
“Meski otak kamu rusak, tapi aku yakin, hati dan cinta kamu selalu sempurna buat aku. Percayalah, ini hanya ujian untuk rumah tangga kita!”
“Kalian saling mencintai! Bahkan kalian baru pulang berbulan madu! Hanya saja, mamamu memang menentang hubungan kalian! Demi Tuhan, inilah kebenaran yang kamu lupakan. Tapi tunggu, Yuan dan Papamu akan segera datang!”
Namun, tiba-tiba Kiara menegaskan, “pernikahan kalian terjadi karena Rara menjebakmu, Kimo! Percaya ke Mama, karena Mama enggak mungkin berbohong!” Kiara menatap Kimo penuh keyakinan.
“Ma, cukup, Ma!” seru Franki dari belakang.
Kehadiran Franki yang sampai disertai Yuan dan seorang pria yang Keinya ketahui sebagai pengacara suaminya, langsung menjadi angin segar untuknya. Keinya sangat berharap, Kiara mendapat pelajaran dari semua kekacauan yang wanita itu lakukan bahkan kepada rumah tangga anaknya sendiri.
Lain halnya dengan Keinya yang jelas-jelas berkode mata melalui tatapan mata dengan Yuan yang juga langsung membalasnya penuh kecemasan, Steffy justru tiba-tiba merasakan kecemasan yang luar biasa, di mana, tubuhnya kembali gemetaran.
Bersambung ....
Halllo, Author di sini mau tanya, ada yang mau tambahan update lagi? Kalau banyak, nanti Author update. Author tunggu, lho, sampai pukul 12 siang!
__ADS_1
Salam sayang,
Rositi.