
“Percayalah, meski restu selalu menjadi kunci peresmian hubungan, semuanya tetap kembali pada kita yang menjalani hubungan.”
Bab 67 : Restu
****
“Jika aku memutuskan untuk mencintai dan hidup bersama Yuan, dengan kata lain aku harus menjadi wanita yang lebih kuat. Yuan sudah melangkah sejauh ini. Dia sudah banyak berkorban bahkan terluka hanya karena mencintaiku. Mana mungkin aku meninggalkannya meski Kainya juga akan sangat terluka, jika aku tetap bersama Yuan.”
Hati Keinya gamang. Kebahagiaan memang sudah ada di genggamannya, tetapi luka-luka yang harus ditanggung keluarganya juga ada di pelupuk matanya. Kebahagiaan dan luka-luka itu bak dua sisi mata pada uang logam. Benar-benar tidak bisa dipisahkan.
“Pelan-pelan. Kita selesaikan satu-persatu. Jangan terlalu memaksakan diri karena itu hanya akan membuatmu semakin sakit.” Yuan masih meyakinkan Keinya.
Yang Yuan takutkan, keadaan kini membuat Keinya tertekan. Perlu ia tekankan sekali lagi, semua yang menimpa Keinya juga akan berdampak pada Pelangi. Yuan tak mau Pelangi yang belum lama bisa mengonsumsi ASI Keinya, menjadi hanya mengonsumsi susu formula, dikarenakan ASI Keinya kembali tidak keluar, lantaran Keinya terlalu banyak pikiran dan sampai membuat Keinya tertekan. Karena itu juga, Yuan memilih menyelesaikan semuanya sendiri bahkan bila bisa tanpa sepengetahuan Keinya, daripada Keinya menjadi merasa tertekan.
Keinya terpejam sambil mengembuskan napas pelan melalui mulut. “Yang selama ini selalu melakukan semuanya diam-diam siapa? Bukankah kamu yang selalu menyelesaikan semua masalahku tanpa sepengetahuanku?” batinnya.
“Yu ...?” Keinya menyeringai menahan rasa sakit yang bertumpu di punggungnya. Yuan memeluknya terlampau erat, sampai-sampai sekadar bernapas saja, Keinya jadi tidak leluasa. Kenyataan tersebut membuat Keinya yakin, Yuan jauh lebih tertekan darinya sampai-sampai, memeluk saja sampai seerat sekarang.
“Mmm ...?”
“Sakit, tahu. Aku sampai susah napas ....”
Yuan termenung untuk beberapa saat. Ia mencoba mencari penyebab keluhan Keinya dan ia yakin karena ulahnya. Ketika ia mengamati apa yang terjadi, ia baru menyadari pelukan yang ia lakukan kali ini benar-benar erat. Pantas, Keinya yang masih terbilang kurus itu sampai mengeluh dan terlihat jelas kesakitan ketika ia memastikan ekspresi wajah wanitanya, sesaat setelah ia mengakhiri pelukannya.
Saking takutnya kehilangan Keinya, Yuan memang sampai memeluk wanita itu sangat erat. Takut jika sedikit saja ia lengah, Keinya benar-benar meninggalkannya, menghilang untuk selama-lamanya.
Sambil mengemasi tampilannya termasuk menyeka air matanya, Keinya pun menatap Yuan. Pria itu terlihat kebingungan. “Yu? Kamu kenapa?”
Terlepas dari semuanya, Keinya juga mencemaskan kesehatan maminya apalagi tadi, Khatrin terlihat sangat terpukul.
“Mama masih di bawah?” tanya Keinya sambil berlalu meninggalkan Yuan.
Yuan menahan sebelah pergelangan tangan Keinya. Hal tersebut membuat Keinya berhenti melangkah kemudian menoleh dan menatap Yuan. Ketika tatapan mereka bertemu, Yuan langsung bertanya, “apakah kamu sudah mengambil keputusan?”
“Keputusan?” Keinya mengernyit tak mengerti dengan apa yang Yuan maksud.
Yuan mengangguk dengan tatapannya pada Keinya yang tampak menahan kegelisahan. “Bagaimana?”
“Keputusan apa? Apa yang sebenarnya kamu maksud, Yu? Dan kenapa juga, kamu terlihat segelisah itu?”
Yuan mendengkus. “Ya, aku memang sedang takut karena hubungan kita. Mengenai keputusanmu.” Ia menghela napas sekenanya. “Aku benar-benar takut, Kei ....”
Keinya dibuat tak percaya, Yuan yang selalu tenang dan bisa menyelesaikan semuanya dengan cekatan, terlihat begitu takut hanya karena hubungan mereka. Namun, bukannya iba, ia justru menertawakannya.
“Pelan-pelan, Yu,” ucap Keinya sambil menepuk pelan dada Yuan beberapa kali. Kemudian ia menatap Yuan lebih serius. “Kan kamu yang minta aku pelan-pelan? Sabar, ya. Maaf juga buat semuanya. Kita bereskan semuanya satu-persatu.”
Yuan tersipu menertawakan dirinya sendiri. Baru ia sadari, mencintai Keinya sampai membuatnya linglung bahkan bodoh. Kemudian ia mengangguk sambil menatap Keinya di sela senyumnya. “Baiklah. Pelan-pelan. Kita selesaikan satu-persatu.”
“Iya. Aku juga harus menyelesaikan urusan mengenai pria yang sedang bersama Papi.”
Yuan membasahi bibir bawahnya sesaat termenung dan menerka. “Wajah pria itu enggak begitu asing. Sepertinya, aku pernah melihatnya sebelumnya. Tapi di mana, ya?”
“Tapi omong-omong, bagaimana dengan acara ketemu kliennya?” sela Keinya lantaran awalnya mereka memang akan menemui klien Yuan.
__ADS_1
“Jangan Khawatir. Aku sudah meminta Yura dan sekretarisku untuk mengurusnya.”
Keinya mengangguk. Ia baru ingat kalau sekarang Yura sudah turun tangan membantu pekerjaan Yuan. Itu juga yang membuat Yura tak lagi kembali ke Korea. “Kalau begitu kita temui Mami. Biar Kainya menenangkan dirinya dulu. Oh iya, kamu juga harus siap-siap buat besok, kan?” Jauh di lubuk hatinya, Keinya masih memanjatkan doa terbaiknya untuk Kainya.
Meski awalnya Keinya yang memimpin langkah mereka, Yuan buru-buru mengambil alih. Kenyataan itu juga yang membuat Keinya kembali menertawakan kegelisahan yang sampai membuat Yuan setegang sekarang.
“Yu, jangan setegang itu,” lirih Keinya.
Yuan menoleh dan menatap Keinya sambil mengulas senyum. Senyum yang terlihat begitu dipaksakan. Bagaimana tidak, tadi, ketika Keinya meninggalkannya bersama Khatrin untuk mengejar Kainya, Khatrin justru memberikan Yuan dua pilihan.
“Kalau kamu nggak bisa meyakinkan Kainya untuk melupakanmu, tinggalkan Keinya. Meski awalnya sulit, pasti setelahnya Keinya juga akan terbiasa.”
Dan jika teringat kata-kata tersebut, Yuan sungguh takut kehilangan Keinya, terlepas dari Yuan yang sedang berusaha mencari cara agar Kainya mau melepas sekaligus melupakannya.
***
Khatrin masih termenung di sofa seperti terakhir ketika Keinya meninggalkannya.
“Mi,” ucap Keinya sambil meninggalkan Yuan. Ia duduk di sebelah Khatrin yang langsung menyambutnya dengan senyuman. Senyum tulus yang juga sarat kesedihan.
“Bagaimana ... Kainya?” tanya Khatrin terdengar tak bersemangat.
“Biar Kainya tenang dulu, Mi,” balas Keinya yang kemudian menggenggam kedua tangan Khatrin. Melalui tatapan berikut genggamannya, Keinya berharap Khatrin merasa jauh lebih baik.
“Mengenai masalah ini, saya benar-benar minta maaf,” ucap Yuan sambil menunduk menyesal.
Mendengar itu, hati Keinya menjadi terasa perih. “Yu ... kamu enggak perlu minta maaf karena apa yang terjadi bukan salah kamu. Alasan Kainya melakukan semuanya karena aku. Dia sakit hati padaku karena selama ini, semua orang mengenalinya sebagai aku.”
Yuan menggeleng, tak rela rasanya kalau Keinya harus menanggung semua kesalahan atas alasan Kainya melakukan semua kekacauan. Seperti sekarang saja, meski sudah mengakui dan terlihat begitu tulus, Keinya juga menjadi menunduk sedih.
“Jadi, dari awal kalian enggak jujur mengenai status kalian, kalau kalian kembar?” tanya Khatrin sambil menatap Keinya penuh kepastian.
Keinya mengangguk sambil menunduk. “Maaf, Mi.”
Khatrin menghela napas dalam, merasa tak habis pikir atas keputusan putri-putrinya.
“Maaf, Tan. Tapi mengenai masa lalu, seharusnya enggak perlu dipikirkan lagi. Yang terpenting sekarang mengenai apa yang kita hadapi. Sedangkan mengenai Kainya, dia hanya butuh waktu,” ucap Yuan.
Keinya menelan salivanya kemudian mengangguk mengiyakan anggapan Yuan. Ia menatap Khatrin dan mencoba meyakinkannya.
Khatrin menatap Keinya kemudian Yuan. Ke duanya terlihat saling mencintai sekaligus mendukung satu sama lain.
“Dan mengenai hubungan saya dengan Keinya, meski sekarang memang bukan waktu yang tepat untuk membahasnya, saya ingin meminta restu mengenai keseriusan saya kepada Keinya. Saya sangat berharap Tante memberikan restu untuk hubungan kami,” lanjut Yuan.
Restu yang Yuan minta sungguh membuat Keinya gugup bahkan takut. Apalagi bukannya membalas, dengan wajah yang menjadi masam, Khatrin justru menunduk. Tak ada tanda-tanda Khatrin akan memberi lampu hijau atau setidaknya kesempatan untuk hubungan mereka.
“Mi ... aku dan Yuan saling mencintai,” lirih Keinya lantaran Khatrin tak kunjung merespons. Ia benar-benar mengharapkan restu Khatrin. Restu yang baginya tak beda dengan kunci untuknya maupun Yuan mengarungi rumah tangga.
Khatrin menghela napas pelan, mencoba mengenyahkan sakit berikut sesak di dadanya. “Dulu, kamu juga pernah meminta restu untuk bersama Kainya ...,” lirihnya bersedih sekaligus kecewa.
Gelagat Khatrin terlihat sangat tidak nyaman. Kenyataan tersebut langsung membuat Keinya bersedih. Apalagi ketika Keinya juga melihat kesedihan di wajah Yuan yang seketika seolah dihiasi awan hitam. Mata Yuan sampai berembun.
Khatrin kembali menghela napas dalam dan terlihat sangat berat. “Kita bicarakan ini lain kali saja, setelah Kainya bisa menerima kenyataan. Kita fokus ke kamu dulu. Mami ingin tahu kehidupanmu. Sekarang kamu tinggal di mana, dan bagaimana kehidupanmu?” Khatrin menatap saksama Keinya dan sengaja mengalihkan perhatian.
__ADS_1
Pupus. Yuan dan Keinya menyalurkan kesedihan mereka melalui tatapan mereka yang basah. Kecewa pasti, tapi mau bagaimana lagi? Posisi sekarang memang sedang sulit. Bahkan meski Keinya nyaris meyakinkan Khatrin, Yuan langsung memberi Keinya peringatan melalui tatapan sambil menggeleng.
“Yu ... maaf,” batin Keinya sambil menatap Yuan penuh sesal. Ia benar-benar merasa bersalah pada Yuan yang harus kembali terluka karenanya.
Yuan mengulas senyum. Senyum yang membuat pria itu terlihat tidak baik-baik saja.
“Sekarang kamu tinggal di mana?” tanya Khatrin yang sudah mencondongkan kedua lututnya pada lutut Keinya. Ia terpaksa mengulang pertanyaannya lantaran Keinya tak kunjung merespons.
Dengan berat atas kesedihan restu yang tak Khatrin berikan, Keinya berkata, “Yuan memberiku apartemen. Dia mengurus semuanya untukku. Bahkan sehari saja Pelangi tidak bertemu Yuan, dia akan rewel dan ... sakit.”
Mendengar itu, kesedihan juga menjadi menyekap Khatrin maupun Yuan. Yuan bahkan sampai memalingkan wajahnya lantaran tak kuasa melihat Keinya berlinang air mata.
Khatrin melirik Yuan dan mendapati pria itu menangis, di mana Yuan juga buru-buru mengelapnya. “Kalau begitu, mulai malam ini juga kamu dan Pelangi pindah ke sini.”
Keputusan yang baru Khatrin buat langsung membuat Keinya dan Yuan kebas. Harapan mereka untuk bersama seolah semakin tipis. Apakah Khtarin sengaja memisahkan mereka?
“Mi,” rengek Keinya refleks. Bahkan ada sesal yang tiba-tiba memenuhi hatinya, karena bertemunya dengan Khatrin justru membuat hubungannya dan Yuan berjarak.
***
Di apartemen, Rara tengah menatap wajah Pelangi lekat-lekat yang tidur di ranjang bayi. Beberapa mainan sengaja ia tepikan agar tidak mengganggu Pelangi ketika berganti posisi tidur. Anehnya, semakin lama ia amati, buih keringat di wajah berikut sekitar leher Pelangi menjadi semakin banyak.
“Ac nyala. Suasana juga adem enggak panas,” keluh Rara yang kemudian meraba kening Pelangi untuk memastikannya. “Ya ampun, Pelangi demam!” Rara yang panik refleks menelan salivanya. Buru-buru ia beranjak dan sampai setengah berlari meninggalkan kamar Keinya.
“Ada apa?” tanya Kimo yang sedang duduk di sofa ruang bersantai sambil menikmati popcron. Dikarenakan harus menjaga Pelangi, mereka memang gagal menonton bioskop.
“Pelangi demam. Coba kamu jaga Pelangi sebentar. Aku mau ambil plester kompres dulu di kulkas,” ucap Rara buru-buru.
Kimo mengerutkan bibir kemudian mengakhiri kesibukannya makan popcron. Ia segera memasuki kamar Keinya dan memastikan Pelangi di sana.
“Ada apa, ya? Biasanya Pelangi rewel kalau Keinya dan Yuan bermasalah. Tapi ... ah enggak ... enggak. Enggak boleh berpikir macam-macam!” tepis Rara yang tak mau berpikir buruk.
Namun, apa yang Rara pikirkan memang selalu terjadi. Sakitnya Pelangi selalu terjadi akibat keadaan Keinya bahkan Yuan yang bukan siapa-siapa Pelangi. Namun karena Yuan tulus menyayangi Pelangi, sepertinya Pelangi seolah bisa merasakannya dan memiliki ikatan yang spesial dengan Yuan. Faktanya, ketika Yuan kecelakaan saja, Pelangi sampai demam tinggi. Dan ketika sakit Yuan beranjak pulih, Pelangi juga kembali baik-baik saja.
****
Sesaat setelah Khatrin pergi tanpa menerima permohonan dari Keinya yang menolak pindah dari apartemen, Yuan menghampiri Keinya dengan loyo. Yuan bersimpuh sambil menggenggam erat ke dua tangan Keinya di pangkuan wanita itu.
“Kita masih tinggal satu kota. Dan aku juga masih bisa menemui kalian. Sabar, nanti kalau sudah menikah, kita juga tinggal serumah. Eggak lagi pisah apalagi bertetangga.” Yuan yang bertutur lirih sengaja meyakinkan Keinya.
Keinya merajuk, geregetan pada Yuan yang masih sempat-sempatnya bercanda bahkan menggodanya. “Di saat seperti ini kamu masih sempat-sempatnya bercanda, Yu ....”
“Lah, mau bagaimana lagi? Masa aku harus marah apalagi menyerah?”
Keinya terpejam dan tak kuasa membalas Yuan di tengah air matanya yang terus berlinang. Karena meski Yuan mencintainya dengan tulus, meski mereka saling mencintai, masa lalu membuat hubungan mereka harus semakin berjuang.
“Percayalah, meski restu selalu menjadi kunci peresmian hubungan, semuanya tetap kembali pada kita yang menjalani hubungan.” Yuan kembali meyakinkan Keinya sambil tersenyum tulus. Dan ketika bibir Keinya bergetar nyaris kembali meminta maaf kepadanya, ia segera mengunci bibir tipis itu dengan kecupan kilat.
“Jangan terus-menerus meminta maaf. Karena semakin kamu sering meminta maaf, semakin besar pula rasa bersalahku kepadamu.”
Keinya mengangguk-angguk sambil menyeka air matanya.
Yuan tersenyum lepas hingga kedua lesung pipit yang menghiasi kedua sisi wajahnya melengkung dengan sempurna. “Maaf karena aku belum bisa membahagiakanmu dan juga Pelangi. Maaf karena aku belum bisa—”
__ADS_1
“Yuan!” Keinya mencubit gemas pipi Yuan di mana pria itu justru kian tersenyum lepas.
*****