Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 27 : Kimo dan Rara Kecelakaan.


__ADS_3

“Di dunia ini nggak ada yang bisa benar-benar mejadi yang terbaik apalagi kalau menyangkut skala besar, Kak. Predikat boleh saja ada, tetapi semuanya kembali pada selera kita, kan?”


Bab 27 : Kimo dan Rara Kecelakaan


Selama tiga hari terakhir, Keinya menerima bingkisan ungkapan cinta dari pengirim yang masih sama. Di mana dalam seharinya, bingkisan yang datang bisa lebih dari satu kali. Kalau bukan pagi-pagi sekitar pukul tujuh, bingkisan cinta itu akan datang sekitar pukul setengah enam sore, bertepatan dengan waktu pulang Keinya dari restoran.


Setelah cokelat dan sekuntum mawar merah berikut amplop berwarna merah muda yang akan selalu menyertai, kali ini justru sekotak eskrim bermerek ternama. Anehnya, tujuan dari kiriman yang sampai dibubuhi kata-kata romantis itu bukan untuk Keinya maupun Yuan sang suami, melainkan Daniel. Daniel, dan benar-benar hanya Daniel, sosok yang begitu dipuja-puja di setiap surat cintanya.


“Daniel enggak macam-macam, kan, sama orang ini? Namanya siapa? Itzy ...?” Keinya mengerutkan dahi kemudian memanyunkan bibirnya. Ia menerka-nerka, takut jika Daniel sampai membuat ulah yang membahayakan keluarganya, karena telah menyebar-luaskan alamat rumahnya.


“Tolong taruh kulkas dulu, ya, Mbak,” ucap Keinya. Seperti sebelumnya, bingkisan cinta dengan tujuan Daniel, kembali datang bertepatan dengan kepulangannya, setelah pagi ini juga sudah datang sekotak cokelat berbentuk hati.


Keinya memang baru pulang dari restoran. Karena meski tidak bekerja full time dan hanya memantau jalannya keadaan restoran, hampir setiap hari, ia akan berkunjung, menghabiskan sebagian waktunya di restoran apalagi jika Rara tidak ada.


Tidak adanya Rara sendiri membuat Keinya harus memantau jalannya perkembangan penerbitan yang juga disambungkan dengan restoran. Pun meski mereka sudah mempekerjakan pekerja khusus, untuk ikut membantu mengawasi jalannya penerbitan yang juga sedang mengadakan lomba menulis besar-besaran.


Gurat lelah mengiringi langkah Keinya yang memasuki rumah megah bernuansa putihnya sambil mengggendong Pelangi. Keinya menggendong Pelangi yang kebetulan sedang tidur tanpa kain emban, dengan sebelah tangan mendekap tubuh Pelangi, sedangkan sebelahnya lagi menahan kepala bocah itu.


Keinya yakin, anaknya itu kelelahan setelah hampir seharian bermain dengan Angela dan Kim Yeon Seok yang sampai membawa Pelangi pergi dari restoran. Orang tua Yuan memang begitu menyayangi Pelangi dan memperlakulannya dengan sangat baik. Bahkan, Keinya merasa jika orang tua Yuan jauh lebih memanjakan Pelangi ketimbang dirinya. Buktinya, baru seharian bersama keduanya, mainan yang Pelangi dapatkan sudah sangat banyak, sampai-sampi harus ditampung dalam dus besar. Dan dikarenakan sore ini Yuan pulang, baik Angela atau Khatrin tidak ada yang menginap lagi untuk menemani Keinya.


Mengenai sosok wanita aneh yang Keinya yakini mengincar Pelangi, wanita itu tak lagi mengintai mereka, padahal Keinya sampai memakai jasa satpam tambahan sebanyak dua orang, di mana, tak lama setelah keputusannya itu, Yuan langsung menelepon dan menanyakan perkara yang ada. Hanya saja, setelah mendengar cerita berikut alasan dari Keinya yang juga sampai dibubuhi tebakkan Kainya, bahwa si wanita pengintai tersebut justru mengincar Yuan, suaminya itu justru berkilah merasa jauh lebih lega, ketimbang si wanita justru mengincar Keinya apalagi Pelangi.


***


Beberapa menit kemudian, setelah menidurkan Pelangi di kamar, Keinya memilih untuk menghubungi Kainya perihal bingkisan dari Itzy. Karena yang ia tahu, Daniel sangat dekat bahkan manja kepada Kainya. Tidak menutup kemungkinan jika kali ini, Daniel yang ia ketahu sering curhat pada Kainya juga akan melakukan hal serupa mengenai sosok Itzy. Kecuali, kalau sosok Itzy ini, memang penggemar rahasia Daniel. Tentu Daniel tidak akan cerita karena tidak tahu, sedangkan Kainya juga pasti bernasib sama--sama-sama tidak tahu.


Atau jangan-jangan, si Itzy hanya salah sasaran? Karena Itzy justru mengincar Yuan seperti dugaan Kainya? Keinya makin menduga-duga setelah menghubungkan perkara perihal wanita si pengintai yang ada sebelum kedatangan Daniel, dan tiba-tiba menghilang, sedangkan menurut Kainya, wanita pengintai itu pasti menginginkan Yuan. Dan anehnya, setelah wanita itu tak lagi mengintai, deretan hadiah hadir dengan tujuan Daniel.


***


Kainya merebahkan kepalanya dengan rasa lelah yang tak berkesudahan. Mengenai pekerjaan yang membuat otaknya seperti diperas, berikut Gio yang juga kembali muncul.


Setelah Roy dipenjara, mau tidak mau, Gio harus turun tangan mengambil alih pekerjaan sekaligus bisnis Roy. Bisnis yang juga sudah menjadi warisan sekaligus turun-temurun dari keluarga mereka. Hanya saja, perusahaan Gio justru tiba-tiba menjadi lawan keras perusahaan Philips yang tiba-tiba berkembang di usaha roti. Hari ini saja, Kainya harus menelan kekalahan lantaran produk baru yang ia dan perusahaannya siapkan dari awal tahun lalu, justru kalah telak dari perusahaan milik Gio dalam mendapatkan predikat sebagai produk terbaik.


Daniel yang kebetulan mengemudikan mobil Kainya, menatap cemas wanita itu. “Di dunia ini nggak ada yang bisa benar-benar mejadi yang terbaik apalagi kalau menyangkut skala besar, Kak. Predikat boleh saja ada, tetapi semuanya kembali pada selera kita, kan?” Ia yang tetap fokus dengan kemudinya, kerap melirik Kainya yang duduk di sebelahnya.


Lantaran Kainya masih belum berkomentar, masih sibuk memijat pelipis menggunakan kedua tangan sambil menengadah, Daniel pun melanjutkan, “sejauh ini, aneka produk roti kita selalu laris di pasaran termasuk roti tawar varian isi yang baru saja Kakak rilis. Aneka wafer kita juga oke-oke! Teman-temanku yang di luar negeri juga suka banget!”


“Anehnya kenapa produk mereka sangat mirip dengan punya kita? Lagi pula sejak kapan sih, perusahaan Gio sampai banting setir ke usaha roti juga?” keluh Kainya tanpa mengubah keadaannya.


Sambil mengerutkan dahi karena merasa ada yang janggal Daniel menatap Kainya. “Kakak kenal sama Gio juga? Benar-benar kenal?”


Bukannya menjawab, Kainya justru mendengkus. Meski jauh di lubuk hatinya, ia membenarkan jika Gio adalah cinta pertamanya sebelum ia mengenal Yuan.


Daniel cemberut karena merasa sebal. Rasa sebal yang terlahir karena cemburu. Baginya, tentu Kainya mengenal Gio yang tergolong salah satu pria hebat. Karena sebelumnya saja, Kainya bisa sampai kenal Yuan meski perkenalan itu hanya salah tangkap. Itu baru segelintir yang ia ketahu, belum yang belum ia tahu. Karena bisa jadi, stok pria hebat bahkan dekat dengan Kainya, masih sangat banyak.


“Baiklah, aku akan menjadi pria hebat juga melebihi mereka!” ucap Daniel sungguh-sungguh.


Sayangnya, apa yang Daniel katakan tidak mengubah keadaan Kainya. Meski tak lama setelah itu, panggilan masuk di ponsel kakaknya itu langsung mengusik bahkan dijawab Kainya.

__ADS_1


“Iya, Kei, ada masalah?”


Suara Kainya masih sarat beban. Benar-benar terdengar berat.


“Ada masalah? Kesannya aku selalu memberimu masalah, ya?” balas Keinya yang terdengar sungkan.


“Sekali lagi kamu bilang kayak gitu, aku akan langsung pesan molotof buat dilempar ke rumahmu!” omel Kainya.


Mendengar itu, Daniel langsung berkomentar, “Kak Kei, hati-hati ... tensi Kak Kai, benar-benar sedang tinggi!”


Kainya menyikapinya dengan mendengus sebal. “Ayo katakan kepadaku, siapa lagi yang bikin masalah?”


Dari seberang, terdengar Keinya yang mula-mula berdeham kemudian menceritakan perihal paket cinta yang dikirim ke rumahnya, tetapi justru dengan tujuan Daniel.


Kainya menoleh menatap Daniel. “Kamu kenal Itzy?”


Daniel tak langsung menjawab dan tampak merenung. Namun tak lama kemudian, pria muda itu langsung mengangguk. “Yang girlband Korea, bukan?”


Balasan Daniel yang begitu polos, langsung membuat Kainya mengambil keputusan. “Sudah. Paling itu untuk Yuan. Kalau kamu nggak mau makan, kasih saja ke orang asal jangan Yuan yang makan, takutnya ada guna-gunanya.”


“Serem bener, ada guna-gunanya?” lirih Daniel tak percaya sambil sesekali menatap cemas Kainya.


“Yang benar saja ini buat Yuan?” balas Keinya terdengar tidak percaya.


“Masa iya buat kamu apalagi aku? Lagi pula, kalau ditelusuri memang beralasan. Di hari pas aku dan Daniel datang, itu juga awal kamu mengeluh si wanita aneh itu, kan? Nah, kemarin pas aku mau masuk rumah kamu, ada orang pakai mantel hujan, ngobrol sama satpam rumah kamu sambil nunjuk-nunjuk Daniel. Sedangkan setelah itu, kamu bilang si wanita aneh sudah nggak datang lagi, tapi justru paket-paket itu yang datang?” Kainya sengaja menjelaskan.


“Oh, gitu?” balas Keinya dari seberang.


“Fix, dia salah sasaran!” timpal Kainya. “Kayak pas Ben ngikat aku!” batinnya kemudian yang kembali merasa kesal bila teringat agenda Ben yang asal menyekapnya, padahal pria itu hanya salah sekap. Sayangnya, sekarang Ben amnesia dan sudah tidak ingat lagi kepadanya. Namun tiba-tiba Kainya mengoreksi anggapannya. Kenapa ia harus menyayangkan amnesianya Ben? Bukankah itu jauh lebih baik?


Tak lama setelah memikirkan Ben, berikut telepon masuk dari Keinya yang sudah berakhir, telepon masuk dari Gio juga semakin mengaduk-aduk perasaan Kainya.


“Hobi banget sih, bikin aku tambah stres? Sengaja biar aku jalan-jalan ke rumah sakit jiwa lagi?!” cibir Kainya dalam hati sebelum akhirnya menjawab telepon masuk dari Gio.


“Telepon dari sapa lagi, sih? Bukan dari cowok, kan? Ekspresi Kak Kai kesel begitu?” batin Daniel waswas. “Semoga bukan dari cowok atau gebetan Kak Kai ....” Daniel masih bicara dalam hati dan kerap melirik Kainya.


“Ada apa?” tanya Kainya terdengar membentak.


“Aku minta maaf,” balas Gio dari seberang.


Kainya tidak mengomentari, meski ekspresi berikut gelagatnya terlihat jelas menahan kekesalan mendalam.


“Aku baru tahu kalau kamu yang pegang Candy Bakery.”


“Bohong banget kalau kamu bilang begitu?Mana mungkin kamu enggak tahu, sedangkan kita sempat bekerja sama beberapa kali!” balas Kainya mengomel. “Kamu mau pura-pura amnesia, biar kayak Ben?!”


“Nah, kena semprot, kan!” batin Daniel.


Mereka mulai memasuki jalan tol yang sepi dan cenderung minim penerangan. Di tengah suasana yang mulai gelap, sedangkan kini ia sedang membawa Kainya, Daniel semakin berjaga dalam berkendara.

__ADS_1


“Tapi kita bekerja sama untuk bidang lain, kan?” Balas Gio dari seberang dan terdengar sabar sekaligus santai.


Kainya mendengkus kesal. Kalaupun sebelumnya mereka memang bekerja sama untuk bidang lain, jika memang Gio mencintainya, seharusnya pria itu juga mengetahui semua tentangnya, kan? Itu juga yang menjadi alasan Kainya memutus sambungan telepon Gio secara sepihak lantaran telanjur kecewa. Meski tak lama setelah itu, percikan api dari sebuah mobil yang menggelundung di hadapan mobilnya, membuatnya kalang kabut.


“Daniel, ke kanan!” teriak Kainya di antara ketegangan yang sampai membuatnya gemetaran.


Daniel memang langsung bergerak cepat, banting setir ke kanan demi menghindari mobil yang menggelinding dan sampai disertai percikan kobaran api. Hanya saja, ketika Kainya memastikan mobil tersebut yang sampai berhenti di belakang mobilnya, pengemudi beserta penumpang dari mobil tersebut langsung membuat jantungnya seolah melesak.


“Bukankah itu Kak Kimo dan Kak Rara!” pekik Daniel yang semakin menambah kekacauan Kainya.


Kainya benar-benar kebas. Ketakutan yang begitu besar kembali membuatnya tidak baik-baik saja. Semakin lama tubuhnya menjadi gemetaran hebat, tak beda dengan orang yang sedang sangat kedinginan dan sampai menggigil.


“D-daniel ... Daniel ... telepon polisi. Ambulans! Cepat!” erang Kainya sambil menekuk tubuhnya. Kedua kakinya sampai naik ke jok tempatnya duduk.


Daniel dilema. Ia harus melakukan perintah Kainya untuk menolong Rara dan Kimo yang terlihat sudah tidak sadarkan diri bergelepot darah, atau menenangkan Kainya yang kembali mengalami gejala depresi?


“K-kak ...?!” Daniel menggigit keras bibir bawahnya. Tak kuasa melihat Kainya yang tak beda dengan pecandu obat-obatan terlarang. Kini, Kainya yang selalu serba bisa dan sangat tangguh, sedang berada dalam titik paling buruk. Wanita itu tak hanya menyedihkan, melainkan mengenaskan. Kainya tak hentinya merintih sembari menjambak-jambak rambutnya dan terkadang membekap telinganya erat-erat.


Di tengah kenyataannya yang membuatnya nyaris sekarat saking takutnya, dengan pandangan yang mulai menggelap, Kainya tidak sengaja melihat sesosok wanita yang sangat ia kenal, melintas berlawanan dengan arah mobilnya.


“Bukankah itu Steffy?” gumamnya. “Daniiiel! Polisi!” jerit Kainya mulai tidak bisa mengontrol emosinya. “Jangan bilang kalau ini ulah Steffy ... Steffy itu mantan Kimo dan dia menyesal, ingin kembali ke Kimo!” Kainya mulai meracau tidak jelas.


Daniel yang menjadi semakin bingung segera mengeluarkan ponselnya. Mula-mula ia menghubungi polisi, menceritakan duduk perkara kecelakaan, kemudian menghubungi ambulans, dan terakhir meghubungi Keinya lantaran ia mencari aman. Khatrin bisa jantungan kalau tahu Kainya kembali kambuh layaknya sekarang. Karena boleh dibilang, dari semua anak Khatrin termasuk Daniel yang sebatas anak angkat, Kainya adalah yang paling diperhatikan apalagi setelah Yuan justru menikahi Keinya.


***


Awalnya, Keinya baik-baik saja dan baru saja menyambut kepulangan Yuan. Yuan yang langsung merangkul mesra sang istri sedangkan tas yang awalnya ia tenteng, juga ia berikan kepada pekerja di rumahnya.


“Bentar ... bentar, kok rasanya nggak enak begini?” ucap Keinya tiba-tiba.


Yuan menatap cemas Keinya. “Kamu sakit?” tanyanya cemas dan sampai memastikan suhu tubuh Keinya dengan meraba kening berikut leher Keinya.


Keinya sampai berhenti melangkah dan segera menatap Yuan sambil menggeleng. “Enggak. Tapi perasaanku tiba-tiba enggak enak," keluhnya. “Aneh ... semuanya bak-baik saja, kan, Yu? Aku takut ....”


“Jangan dilanjutkan. Lawan. Jangan biarkan pikiran kamu dikuasai sugesti buruk!” Yuan menatap sang istri penuh keyakinan. Di mana, tak lama setelah itu, Keinya langsung mengangguk.


Yuan menghela napas lega sambil menuntun Keinya ke lantai atas selaku keberadaan kamar mereka, melalui rangkulannya. Meski tak lama setelah itu, telepon masuk dari Daniel, justru membuat istrinya pingsan.


“Kei?!”


Tubuh Keinya terjatuh ke kasur dan hampir menimpa Pelangi yang masih tidur, sedangkan Yuan yang awalnya akan masuk kamar mandi dan sudah melepas kancing kemeja yang dikenakan, segera menghampiri Keinya, kemudian mengambil ponsel sang istri yang sampai tergeletak di lantai. Tadi, Keinya sempat mengulang kabar dari Daniel bahwa Kimo dan Rara kecelakaan. Yuan yakin itu, karena Keinya mengucapkannya dengan cukup lantang dan mungkin efek dari saking terkejutnya.


“Daniel ... Daniel ... ini Kak Yuan. Jelaskan pada Kakak, Kimo dan Rara kecelakaan?” tuntut Yuan tegas. “Jelaskan ke Kakak sejelas-jelasnya! Jangan panik, kamu harus tenang. Pelan-pelan ....”


Bersambung ....


Siap-siap, drama akan dimulai. Maafkan Author. Maaf juga kalau masih banyak typo. Author dan typo susah dipisahkan karena jari-jari Author gede saking seringnya ngetik di hape. wkwkwk ....


Salam sayang,

__ADS_1


Rositi


__ADS_2