
“Jika kita memilih seperti ini, ... hanya merahasiakan perasaan kita, mencintai sendiri, ... kita juga harus siap jika orang yang kita cintai justru bersama dan bahkan bahagia dengan orang lain. Bukan kita.”
Bab 9 : Cinta Sendiri
Gelisah menjerat Pelangi maupun Kim Jinnan. Keduanya sudah berulang kali mondar-mandir di dalam kamar masing-masing. Mengenai Pelangi yang masih belum bisa menerima kenyataan perihal Kim Jinnan yang ada dalam hidupnya, juga Kim Jinnan sendiri yang hingga detik ini belum berani menghubungi Pelangi.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Kim Jinnan benar-benar kehilangan nyali. Pria itu merasa sangat malu. Bahkan semenjak agenda Pelangi sampai membuang ponsel Kim Jinnan, saking malunya, Kim Jinnan memilih berlalu dan pamit melalui pesan WA yang pria itu kirimkan kepada Pelangi. Pelangi, Pelangi, ... dan benar-benar hanya gadis itu.
Kim Jinnan benar-benar heran, kenapa seorang gadis yang masih teramat belia dan selalu mengabaikannya, justru menjadi gadis yang membuatnya nyaris gila? Padahal selama ini, selain lebih sering mengencani wanita yang jauh lebih dewasa dari usianya, Kim Jinnan juga tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita yang lebih muda. Bahkan sekadar terpikir pun, Kim Jinnan tidak pernah. Karena selama ini, selera Kim Jinnan benar-benar wanita seksi tak ubahnya mereka yang sering tampil di majalah dewasa. Mereka yang memiliki buah dada besar, pinggang ramping, dan kalau bisa kulit yang cukup gelap selain pakaian yang selalu minim.
Kim Jinnan meraih ponselnya. Ponsel yang masih menjadikan wallpaper seorang wanita seksi yang hanya mengenakan bikini hitam. Juga, ponsel yang menjadi alasan Pelangi mendiamkannya selain Kim Jinnan sendiri yang menjadi kehilangan nyali.
Kali ini Kim Jinnan memutuskan untuk menelepon Pelangi. Namun pria itu berubah pikiran dengan cepat lantaran yang ada, setelah sampai mendadak mengakhiri panggilannya, Kim Jinnan justru melakukan panggilan video kepada Pelangi.
“Besok kamu akan pergi, tetapi hubungan kita justru jadi begini? Ayolah, jangan begini. Tidak terpikir olehku jika kakek sampai menjodohkanku dengan wanita aneh, bahkan lebih parahnya, aku dibuang dari sini dan kemudian menjadi gelandangan,” gumam Kim Jinnan masih mondar-mandir menanti balasan Pelangi yang masih saja mengabaikannya.
Kali ini, Kim Jinnan yang menyerah setelah selalu gagal bahkan hingga waktu sudah lewat pukul dua belas malam, duduk di tepi tempat tidurnya. Pria itu mengirim pesan singkat kepada Pelangi.
--Aku menyerah. Cepat katakan apa yang harus aku lakukan. Apa pun--
--Bahkan semua pesanku tidak ada yang kamu baca. Ayolah, besok kamu pergi, dan kenapa juga hubungan kita jadi begini?--
--Aku janji, meski kamu pergi ke London, aku akan sering mengunjungimu--
--Hei, Pelangi ... Kim Jinnan menunggumu di sini--
Benar-benar tidak ada yang dibalas. Dan kenyataan tersebut membuat Kim Jinnan membantingkan tubuhnya ke tengah-tengah kasur.
***
Pelangi sengaja mendiamkan ponselnya yang bahkan ia simpan di dalam laci nakas sebelah tempat tidurnya, lantaran Kim Jinnan terus saja menghubunginya. Namun, ketika seseorang membuka pintu kamarnya dari luar, dada Pelangi menjadi berdebar-debar. Takut jika yang datang membuka pintu kamarnya juga masih orang yang sama, Kim Jinnan.
Dean, pemuda itu datang dengan wajah yang dipenuhi kecemasan. Dean melongok keadaan dalam kamar Pelangi, di mana tak lama setelah itu, tatapan pemuda itu juga bertemu dengan tatapan Pelangi.
“De ...?”
“Belum tidur, Ngie?” Dean berangsur melangkah mendekati Pelangi sesaat setelah menutup pintu kamar Pelangi dengan hati-hati.
Meski mereka beda ayah, tetapi karena kebersamaan yang terjalin selama ini, keduanya selalu cocok dan bahkan memiliki pemikiran sekaligus hati yang sama.
“Apakah masih karena Kim Jinnan?" Dean sudah berdiri di hadapan Pelangi. Kemudian ia bersedekap dengan gayanya yang masih teramat tenang.
Pelangi yang sampai menengadah hanya untuk menatap Dean sambil mendekap boneka beruang kesayangannya, berangsur mengangguk. “Aku sengaja mengabaikannya. Dan dari semua pesan sekaligus usaha yang dia lakukan, dia bilang dia menyerah. Dia terus meminta maaf dan berjanji akan selalu menuruti semua syarat dariku. Intinya begitu.”
Sambil menghela napas, Dean berangsur duduk di sebelah Pelangi. “Biarkan dia begitu. Itu baik untuknya. Kamu berhasil mengubahnya Ngie. Namun, ... semudah itu membuatnya menyerah? Tapi memang begitu, sih, ya?” Dean menerka-nerka, mencoba membaca perihal apa yang sebenarnya terjadi pada Kim Jinnan.
“Namun, play boy memang harus benar-benar jatuh cinta agar dia menyerah.” Kali ini, Dean setuju dengan anggapannya.
“Jika kamu Kim Jinnan, apa yang akan kamu lakukan? Melupakanku, kan? Aku harap begitu,” ujar Pelangi yang memang sangat berharap lepas dari Kim Jinnan. Bahkan kalau bisa, Kim Jinnan juga melupakannya.
Dean mengerucutkan bibir seiring dahinya yang juga menjadi berkerut. Dengan tatapan yang menjadi kosong, dan sedang menerka-nerka, ia berkata, “aku bukan Kim Jinnan. Jadi aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Aku bahkan tidak berani mendekati siapa pun karena hasilnya pasti akan fatal. Kalaupun aku memang menyukainya, aku rasa dia lebih pantas kukaguni dalam hati tanpa benar-benar membuatnya terlebih orang lain sampai mengetahui.”
Apa yang Dean katakan sukses membuat Pelangi penasaran. Sang adik, sedang membahas kisah cintanya sendiri? Dean sudah memiliki gadis yang pemuda itu cintai?
“Siapa?” tanya Pelangi sambil menahan senyum. Ia sengaja melongok di bawah wajah Dean.
“Ngi-ngie saja,” balas Dean dengan santainya sambil balas menatap Pelangi.
Pelangi langsung menggeleng seiring senyumnya yang menjadi semakin lebar. “Aku akan mencari tahu. Dan aku akan meminta bantuan Zean.”
Dean hanya menggeleng geli sambil tersenyum, menutup rapat-rapat semua kisah tentangnya berikut apa yang baru saja pemuda itu sampaikan.
“Jangan sampai Zean mengetahui ini. Mulutnya sangat ember sedangkan fansku sangat fanatik.” Dean mengatakan itu sambil menunduk.
Pelangi berangsur menyandarkan wajah berikut tubuhnya pada bahu Dean. “Status storynya Mofaro sama Rafaro hitam begitu.”
“Mereka sedang patah hati bahkan berduka,” balas Dean dengan tampang tak bersemangat.
“Aku merasa bersalah,” ucap Pelangi dengan wajah tak bersemangat.
__ADS_1
“Besok juga semuanya sudah baik-baik saja,” balas Zean tanpa melakukan perubahan berarti.
Pelangi langsung menatap Dean dengan dagu yang bertopang pada bahu pemuda itu. “Kamu yakin?”
“Kita lihat saja besok. Aku bisa memegang kata-kataku,” balas Dean jauh lebih yakin dari sebelumnya. “Besok Kishi pindah ke sekolah kita. Dan aku rasa itu tidak baik untuk dia.”
Kali ini, lanjutan Dean sukses membuat pemikiran Pelangi buyar. Ada dentaman-dentaman tidak wajar, dan terdengar cukup keras dari dada pemuda itu. Bahkan, Dean terdengar menjadi menahan napas. Dean menjadi sesak napas sekaligus gugup.
Seulas senyum menjadi bermekaran menghiasi bibir Pelangi. “Kamu enggak bisa tidur gara-gara ini? Kishi?”
Dean melirik sebal Pelangi.
“Aishh ... bahkan kalian puber lebih dulu ketimbang aku!” Pelangi menertawakan Dean.
“Ngie, jangan berpikir macam-macam,” tegur Dean.
Pelangi yang masih tertawa, berangsur menggeleng. “Aku enggak berpikir macam-macam kok, De. Soalnya yang aku pikirkan cuma satu. Kamu mencintai Kishi yang juga sangat mencintaimu. Sesederhana itu.”
“Namun karena kamu takut Kishi diserang fansmu yang kebanyakan fanatik, kamu justru menjauhi Kishi? Begitu, kan?”
“Apa bedanya kamu ke Rafa?” sergah Dean.
Pelangi langsung terdiam sambil mengerutkan dahi. “Enggak ada sih!” jawabnya yang kemudian tertawa lepas.
Karena meski merasa patah hati bahkan kehilangan, tetapi melihat Mofaro dan Rafaro menjadi jauh lebih kompak tanpa bersaing apalagi berebut, jauh lebih membuat Pelangi merasa lega.
“Jika kita memilih seperti ini, ... hanya merahasiakan perasaan kita, mencintai sendiri, ... kita juga harus siap jika orang yang kita cintai justru bersama dan bahkan bahagia dengan orang lain. Bukan kita.” Pelangi mengatakannya dengan hati yang tiba-tiba saja menjadi terasa gamang.
“Sakit, ... tapi enggak berdarah.” Tak beda dengan Pelangi, Dean juga mengalami hal serupa. Seperti yang baru saja ia katakan, sakit, ... tetapi tak berdarah.
“Mengenaimu tidak begitu serius karena kalian bisa tatap diam-diam menjalani tanpa ada yang harus terlalu dipikirkan. Percaya padaku, De. Katakan saja!” Pelangi meyakinkan Dean.
“Nanti saja. Toh, kami masih terlalu muda memikirkan cinta.”
“Nanti nyesel, *lh*o!”
Dean melirik Pelangi. “Tadi dia juga WA. Dia percaya kita mau pindah ke luar negeri.”
Kehadiran Dean sukses membuat beban di kepala Pelangi berkurang. Perihal gangguan dari Kim Jinnan, juga perasaan Mofaro dan Rafaro. Itu juga yang membuat Pelangi merebahkan tubuhnya lantaran kantuk mulai menyerang. Pelangi sudah mulai mengantuk. Namun sekali lagi, gadis itu masih menyayangkan keputusan Dean.
“Jika kamu mau, aku akan menjagakan Kishi untukmu.”
“Tapi aku akan mencintainya dengan caraku.”
“Caramu hanya akan melukainya. Karena dalam cinta juga ada lelah yang membuat kita memilih menyerah.”
Dean, semakin gamang. Haruskah ia mengatakan perasaannya? Namun, kenapa ia merasa jika dirinya apalagi Kishi masih terlalu dini untuk mengenal cinta?
Ketika Dean menatap Pelangi, bermaksud meminta pendapat gadis itu, Pelangi justru sudah terlelap. “Ngi-ngie ....”
Dean tidak berniat mengganggu Pelangi. Ia memutuskan untuk menyelimuti tubuh Pelangi sebelum akhirnya berlalu meninggalkan gadis itu.
Namun, jika kembaki teringat kata-kata Pelangi, Dean menjadi takut. Ia yang sudah nyaris akan meninggalkan kamar Pelangi, berdiri di ambang pintu, menatap wajah gadis itu penuh pembenaran. “Jika kita memilih seperti ini, ... hanya merahasiakan perasaan kita, mencintai sendiri, ... kita juga harus siap jika orang yang kita cintai justru bersama dan bahkan bahagia dengan orang lain. Bukan kita.”
“Sudahlah, lupakan saja. Lihat saja nanti, ... atau besok,” gumamnya yang kemudian menutup pintu kamar Pelangi dengan hati-hati.
Mengenai Kishi, memang menjadi beban tersendiri untuk Dean. Dean bahkan sampai tidak bisa tidur gara-gara memikirkan gadis itu. Apalagi mulai besok, mereka akan satu sekolah.
***
Kim Jinnan baru saja menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Pelangi, ketika mobil yang membawa Pelangi dan Dean, keluar dari rumah. Meski masih dalam mobil, tetapi Kim Jinnan yang sudah berpenampilan rapi, bisa memastikan, baik Pelangi maupun Dean masih mengenakan seragam sekolah.
“Aku enggak salah lihat, kan? Mereka enggak jadi pindah sekolah? Apa Pelangi membohongiku? Pelangi sengaja bohong mau pindah ke luar negeri, hanya untuk mengelabuhiku?” pikir Kim Jinnan yang langsung menyusul mobil yang membawa Pelangi dan Dean.
Di dalam mobil, di tempat duduk penumpang, Pelangi memastikan keberadaan Kim Jinnan yang mengekor di belakang sana, melalui kaca spion yang ada di atas sopir. Mobil Kim Jinnan yang tadi sempat ia lihat terparkir di depan gerbang rumahnya, benar-benar ada di belakang mobil yang membawanya dan Dean, tanpa penghalang.
Pagi ini, ada yang membuat suasana sekolah mendadak ramai. Bukan karena Dean apalagi Pelangi, melainkan kehadiran Kim Jinnan yang sepertinya memang sangat familier untuk kaum hawa.
“Kim Jinnan!”
__ADS_1
Seruan tersebut membuat Pelangi menghela napas sambil menggeleng tak habis pikir. “De, kalau begini caranya, aku positif pindah ke luar negeri,” ucap Pelangi yang terus saja melangkah sambil menggandeng sebelah lengan Dean, meninggalkan Kim Jinnan yang masih saja berusaha mengejarnya, kendati pria itu sudah dikerumuni oleh siswi-siswi yang mengidolakannya. Karena ternyata, Kim Jinnan memiliki banyak fans.
“Kalau begitu aku juga ikut. Agar semuanya aman," balas Dean.
“Semuanya apa? Yang kamu maksud hanya Kishi, kan?” tepis Pelangi sambil menatap sebal Dean.
Dean tidak berani berkomentar. Namun diamnya pemuda itu membuat Prlangi yakin, dugaannya benar.
“Pelangi!” seru Kim Jinnan dari belakang.
Sontak, suasana yang awalnya ramai oleh siswi yang berebut mengajak Kim Jinnan berfoto, menjadi sunyi detik itu juga. Pun dengan Pelangi dab Dean yang detik itu juga menjadi menghentikan langkah mereka lantaran semua mata di sekeliling mereka, langsung menjadikan Pelangi fokus perhatian.
“Aku minta maaf ... benar-benar minta maaf. Tapi sungguh, aku mencintaimu. Aku serius dengan ucapanku!” lanjut Kim Jinnan masih berseru.
Apa yang Kim Jinnan lakukan membuat Dean naik pitam. Pun dengan Pelangi yang detik itu juga menjadi syok.
“Jinnan masih waras, kan?” cibir Dean. “Gila dia!” Dean benar-benar mencemaskan Pelangi. Apa jadinya jika fans Kim Jinnan sampai nekat memberi Pelangi perhitungan? Mereka berbuat anarkis dan benar-benar ingin menghancurkan Pelangi hanya karena pengakuan Jinnan?
Kim Jinnan segera menyingkirkan siswi-siswi yang menahan sekaligus menghalang-halangi langkahnya.
“Apa yang kamu lakukan?!” hardik Dean ketika Kim Jinnan sudah ada di hadapan mereka.
“Pelangi yang membuatku melakukan semua ini,” ucap Kim Jinnan serius.
“Kamu ini benar-benar gila!” Dean benar-benar kesal bahkan ingin menampar Kim Jinnan detik itu juga andai saja mereka tidak sedang di depan umum.
Sialnya, dengan tampang tak berdosa, Kim Jinnan justru merangkul dan menarik Pelangi dari Dean.
“Bukankah kalian sudah mendengar kabar pernikahanku yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat?” seru Kim Jinnan sambil memamerkan kemesraannya terhadap Pelangi.
“Apakah itu Pelangi?”
“Jinnan akan menikah dengan Pelangi?”
“Kenapa begitu?”
“Kenapa harus Pelangi?”
“Pelangi masih terlalu muda untuk Kim Jinnan!”
Kenyataan kini, menjadi bahan perhatian sekaligus gunjingan, sukses membuat kepala Pelangi menjadi terasa begitu pusing. Belum lagi, bersamaan dengan itu, pandangan Pelangi juga berangsur menjadi gelap.
“Jika kamu tidak bisa membalas cintaku, akulah yang akan mengikatmu. Semudah itu, caraku untuk memilikkimu!” bisik Kim Jinnan tepat di sebelah telinga Pelangi.
Dengan kenyataannya yang sudah tak karuan, Pelangi menyingkirkan kasar rangkulan Kim Jinnan. Gadis itu berlalu dengan perasaan sekaligus pikiran yang detik itu juga menjadi kacau.
Pelangi benar-benar tidak peduli pada hal apa pun. Yang ada di pikirannya kini hanyalah pergi sekaligus berada jauh dari Kim Jinnan. Ia terus melangkah sambil menunduk kendati semua mata di sana terus menjadikannya sebagai fokus perhatian. Bahkan hampir semua dari mereka tak hentinya membicarakan perihal hubungan Pelangu dan Kim Jinnan.
“Sial! Awas saja kau Kim Jinnan. Tunggu pembalasanku!” batin Pelangi dalam hatinya seiring kedua tangannya yang mengepal kencang di kedua sisi tubuh.
“Sepulang dari sekolah, aku ingin berbicara empat mata denganmu!” tegas Dean yang masih menatap Ki. Jinnan penuh kebencian.
“Kenapa harus nanti, tidak sekarang saja?” balas Kim Jinnan yang masih menanggapinya dengan santai.
“Karena aku bukan dirimu yang gila! Seharusnya kamu tahu akibat dari apa yang baru kamu lakukan kepada Ngi-ngie!” balas Dean masih dengan suara lirih, kendati tampangnya terlihat jelas ingin menerkam pria di hadapannya, hidup-hidup.
Kim Jinnan tersenyum sarkastis sambil bertolak pinggang. “Kamu berbicara seperti itu karena kamu bukan aku. Andai kamu ada di posisiku yang begitu menginginkan kakakmu ....”
Kim Jinnan menghela napas dalam. “Tadi, ... aku hanya memberimu contoh bagaimana caranya mendapatkan wanita!”
Sungguh, andai saja tidak memikirkan Pelangi termasuk perasaan keluarganya, Dean sudah sangat ingin merobek mulut Kim Jinnan, detik itu juga.
Pemandangan kini, Kim Jinnan dan Dean yang saling berhadapan, dengan Kim Jinnan tak hentinya tersenyum sarkastis, juga Dean yang terlihat begitu emosi, menjadi pembahasan tersendiri oleh sebagian mereka yang bahkan sampai mengabadikannya melalui bidik kamera ponsel.
Kim Jinnan yang bertolak pinggang dan begitu santai, juga kedua tangan Dean yang mengepal kencang di sisi tubuh. Dan mereka yang sama tingginya, bertatapan dengan jarak tak kurang dari dua jengkal.
Bersambung ....
Like, komen, sama votenya, Author tunggu, yaaa 😍
__ADS_1
Oh, iya, kalian sudah baca cerita Author yang judulnya : Menjadi Istri Tuanku?
Yang belum, baca dan dukung ceritanya juga, ya. Jangan lupa dimasukkan ke bacaan favorit kalian juga, biar enggak ketinggalan update sekaligus perkembangan ceritanya 😍😍