Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 70 : Masak


__ADS_3

“Lho, kalau kamu enggak mau bubur, kamu maunya apa? Bedak sama lipstik, buat dandan?”


Bab 70 : Masak


Alarm ponsel baru saja bunyi, tetapi Kim Jinnan langsung terjaga. Pria itu mengerjap beberapa kali dan buru-buru meraih ponselnya di nakas, di mana ia juga segera mematikan alarm. 


Ketika usahanya berhasil, Kim Jinnan segera mengembuskan napas lega seiring tatapan khawatirnya yang seketika mendarat pada sang istri.


Pelangi masih terlelap meringkuk memunggungi Kim Jinnan dengan tubuh yang nyaris tertutup rapat oleh selimut. Dan setelah nyaris memandangi wajah Pelangi lebih dari dua menit, fokus Kim Jinnan kembali pada layar ponselnya. Ia dapati, waktu sudah menunjukkan tepat pukul setengah enam lebih tiga menit. 


Kim Jinnan kembali menatap dan kali ini sampai mendekati Pelangi. “Hari ini aku berangkat lebih awal. Sebelum setengah tujuh pagi,” bisiknya tepat di sebelah telinga Pelangi.


Tak lama setelah itu, Pelangi langsung bergumam dan kemudian mengulet. Ia menghadap Kim Jinnan dan menatap sang suami dengan mata yang masih setengah terpejam. “Makin ke sini, kamu makin sibuk?” ucap Pelangi dengan suara yang terdengar sangat berat.


“Iya. Kan sudah enggak ada kakek. Jadi aku yang urus semuanya. Enggak mungkin juga kan, aku terus-menerus merepotkan pak Jo, sedangkan pak Jo pasti ingin menikmati masa tuanya bersama keluarga?” Kim Jinnan segera meraih segelas air minum dari nakas sebelah Pelangi. Ia meletakkan tutupnya di nakas, kemudian membantu Pelangi untuk cukup bangun dan minum. 


Sambil meminum dan menerima bantuan Kim Jinnan, Pelangi menjadi terbesit lantaran sang suami mengalami kemajuan yang cukup pesat. Kim Jinnan bisa beradaptasi dengan keadaan jauh lebih cepat, dari yang Pelangi bayangkan.


“Harus tetap bisa bagi waktu juga,” ucap Pelangi selepas ia minum.


Kim Jinnan yang meminum sisa air minum di gelas Pelangi segera mengangguk. “Jujur saja kalau yang kamu maksud, waktu buat kamu?” ucapnya kemudian dan sengaja menggoda Pelangi. Beruntung, kali ini Pelangi tersipu, tak judes apalagi galak layaknya biasa.


“Ya sudah, aku mau masak buat kamu,” ucap Pelangi sembari menyingkirkan selimut dari tubuhnya.


Kim Jinnan langsung bengong menatap tak percaya Pelangi.


“Kenapa kamu langsung menatapku seperti itu? Di wajahmu seolah ada tulisan yang jelas-jelas meragukan kemampuanku dalam memasak,” cibir Pelangi sambil menatap sebal Kim Jinnan.


“Y-ya ... enggak begitu, Ngie. Maksudku,” ujar Kim Jinnan mencoba menepis maksud Pelangi, meski jauh di lubuk hatinya, ia justru membenarkan anggapan Pelangi lantaran hingga detik ini saja, ia masih belum percaya jika Pelangi bisa masak.


“Iya ... aku bisa masak meski enggak sehebat mama dan Dean,” lanjut Pelangi lantaran Kim Jinnan masih terlihat sangat meragukannya.


Kim Jinnan menggeragap dan berusaha untuk secepatnya bersikap biasa. “Iya ... iya ... ya sudah, aku mandi dulu, ya?”


Kim Jinnan segera meletakkan gelasnya di nakas keberadaan ponselnya.


“Ya sudah. Nanti kalau sudah beres, kamu sekalian bangunin Zean biar dia enggak bawel, cari-cari kamu terus,” pamit Pelangi yang kemudian bergegas meninggalkan kamar setelah Kim Jinnan mengangguk dan menyanggupi permintaannya.


“Kalau dipikir-pikir, kok si Zean lebih cocok jadi anakku, ya?” pikir Kim Jinnan sembari menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. 


Sembari melangkah ke kamar mandi, Kim Jinnan jadi takut jika Yuan merasa posisinya sebagai papa telah tergeser lantaran Zean lebih dan memang sangat bergantung kepada Kim Jinnan. “Ya sudahlah ... daripada dicemburui mertua, nanti aku coba kasih Zean pengertian.” Dan Kim Jinnan, benar-benar akan dengan pemikirannya daripada ia dicemburui oleh mertuanya sendiri.


*** 


Nuansa sarapan di kediaman Kimo kali ini, terasa berbeda atas kenyataan wajah Mofaro yang masih babak belur. Nyaris semuanya bungkam dengan pemikiran masing-masing, apalagi Rfaro yang cenderung terlihat tidak tenang bahkan tidak baik-baik saja.


“Hari ini, dan sampai wajahmu tidak sehancur sekarang, lebih baik kamu di rumah dulu. Papa takut, orang-orang akan berburuk sangka jika melihat wajahmu seperti itu,” ucap Kimo sembari memakan spageti yang ada di piringnya.


Rara dan Aurora langsung menatap Mofaro. Pemuda itu merengut dan terlihat jelas keberatan dengan permintaan sang papa.


“Aku ada beberapa kunjungan dan pertemuan penting, kan, Pa?” ujar Mofaro dengan mulut yang masih dipenuh spageti. Bahkan, Mofaro juga sampai menghentikan kunyahannya lantaran permintaan Kimo langsung membuatnya kehilangan semangat.


“Rafa akan menggantikanmu,” jawab Kimo cepat dan kerap menatap serius Mofaro.


“Berarti gaji bulan ini juga pindah ke rekeningku semua, ya?” ujar Rafaro yang tetap fokus dengan spageti di piringnya dan melahapnya.


Tak hanya Kimo dan Rara yang merasa jika sikap Rafaro pagi ini terbilang berbeda dari biasanya. Karena Mofaro sudah merasakan perubahannya semenjak Rafaro tak jadi membantunya mengkompres wajah. Rafaro yang tak hanya semakin diam, melainkan terbilang ketus.


“Kamu kenapa lagi?” Kali ini fokus Kimo berikut semuanya, langsung tertuju pada Rafaro.


“Aku setuju,” ujar Mofaro yang kemudian melanjutkan kunyahannya.

__ADS_1


Semuanya memang sudah rapi. Ketiga pria yang sudah memakai pakaian dinas dan siap ke kantor. Juga Aurora yang sudah mengenakan seragam putih merahnya dengan sebuah cepit motif bunga yang menghiasi kedua poninya dan sukses mempermanis penampilan bocah itu. Lain halnya dengan Rara yang masih mengenakan piama tidur kendati celemek masak masih menyertai tubuhnya.


“Kenapa kalian melihatku seperti itu?” ujar Rafaro yang sampai memanyunkan bibirnya lantaran baginya, tatapan orang-orang di sekitarnya kali ini sedang menghakiminya.


Kimo melirik Rara yang ada di sisinya dan kebetulan duduk bersebelahan dengan Aurora menghadap Rafaro dan Mofaro. Rara paham, maksud suaminya meliriknya, tak lain lantaran Kimo memintanya untuk mengambil alih.


Rafaro baru menenggak air minumnya ketika Rara tiba-tiba bertanya, “kamu mencemaskan Elia?”


Dan detik itu juga, Rafaro yang terkejut sampai tersedak. Tak habis pikir oleh Rafaro, kenapa sang mama bisa langsung menebak jika kekesalan yang mendadak menjadi teman baiknya memang karena ia mencemaskan Elia? Tak hanya perihal keadaan gadis itu yang merasa tertekan atas kasus Atala. Melainkan, ... perihal Elia yang Rafaro takutkan sampai berpindah ke lain hati.


Sialnya, keempat orang yang ada dalam satu meja dengan Rafaro, tetap diam sambil terus menatap penasaran Rafaro, hingga yang ada, terdakwa di sana semakin salah tingkah. Terlebih, tak mungkin juga Rafaro jujur atau setidaknya mengakui pernyataan Rara. Barulah, ketika seorang ART tiba-tiba datang dan mengatakan jika Elia datang, semuanya langsung berubah.


“Ngapain si nenek sihir ke sini?” uring Mofaro yang kemudian melirik Rafaro.


“Suruh masuk saja, Mbak,” ujar Rara.


“Iya. Ajak sarapan sekalian,” sambung Kimo yang kemudian menggarpukan spagetinya dan melahapnya.


“Biar aku saja yang menemuinya,” sergah Mofaro yang tiba-tiba bangkit dari kursinya.


Dan setik itu juga, dunia Rafaro seolah mendadak hening, sebelum akhirnya ada suara nguingan yang begitu menyiksa pendengarannya bahkan hingga melukai hatinya.


“Kenapa mereka menjadi semakin dekat? Hanya dalam satu hari, mereka langsung sedekat itu?” pikir Rafaro. 


“Bahkan seharusnya, aku yang mengatakan, biar aku saja yang menemui Eli!” Dan Rafaro masih merutuk kesal jauh di lubuk hatinya.


*** 


“Aku ke sini bawa bubur.” Elia tertunduk menyesal di hadapan Mofaro. 


Di ruang tamu dan Rafaro menguping di balik pintu.


“Yang sakit itu wajah aku. Bukan mulut apalagi lambung. Ngapain kamu bawa bubur ke sini?” Seperti biasa, Mofaro kembali mengomel jika harus berhadapan dengan Elia.


“Ya ampun kamu ini enggak tahu terima kasih banget! Hari ini aku sengaja bangun jauh lebih awal hanya untuk memasak bubur ini untukmu!” balas Elia tak kalah galak dari Mofaro sambil menatap sebal yang bersangkutan.


Dan di balik pintu, Rafaro langsung terpejam seiring dadanya yang tiba-tiba saja terasa sesak.


“Bahkan tanganku jadi melepuh gara-gara terkena bubur dan minyak pas goreng ayamnya! Lihat ... melepuh begini,” keluh Elia kemudian sambil memamerkan luka-luka merah kehitaman di sepanjang pergelangannya. Sungguh, kulitnya yang putih bersih sampai belang-belang akibat luka tersebut.


“Iya ... iya, bawel! Aku ambil serantang bubur buatanmu! Brisik!” balas Mofaro yang masih mengomel.


Akan tetapi, ketika Mofaro akan mengambil alih rantang berisi bubur yang sampai diwadahi kantong kain berwarna biru dari tangan Elia, gadis itu justru mendadak mundur dan menghindari tangan Mofaro.


“Sebenarnya itu bubur buat siapa?” omel Mofaro yang kadung kesal.


Elia memanyunkan bibirnya dan masih menatap sebal Mofaro. “Ya buat kamu ... tapi kan, aku belum kasih ke kamu?” ucapnya.


“Apa bedanya, kalau niatmu sudah seperti itu!” omel Mofaro yang kali ini sampai menunduk dan nyaris menerkam Elia hidup-hidup.


Dan bukannya takut, Elia yang sampai membungkuk justru tertawa lepas. “Gila kamu ya? Sedang sakit saja suaranya bisa ngalahin toak! Hahaha! Ya sudah, ini!” lanjut Elia yang kemudian langsung memberikan apa yang ia bawa pada Mofaro.


Mofaro baru menerimanya, tetapi karena ia langsung memegang rantang tak memegang simpulan kantongnya layaknya apa yang Elia lakukan, ia menjadi menyeringai lantaran kepanasan.


“Gila kamu, ini masih panas banget!” omel Mofaro yang langsung memegang rantang melalui simpul kantong yang membungkusnya.


Elia semakin tertawa lepas, sementara Rafaro yang bersembunyi di balik pintu juga bergegas mengakhiri simakannya. Rafaro melangkah tegas seiring rasa kesal yang menyelimuti hatinya hanya karena melihat keakraban Mofaro dan Elia.


“Oh iya ... kedatanganku ke sini juga karena aku mau minta maaf secara pribadi ke orang tuamu. Sedangkan nanti malam, orang tuaku juga akan ke sini,” lanjut Elia yang kali ini bersikap jauh lebih serius.


“Ngapain orang tuamu sampai mau ke sini? Mereka mau melamarku?” balas Mofaro yang sebenarnya sangat penasaran.

__ADS_1


“Ya minta maaflah, masa iya melamar kamu! Iya, melamar kamu jadi tukang kebun di rumahku! Hahahaha!” Elia berlalu begitu saja dari hadapan Mofaro.


Dan ulah Elia sukses menyulut emosi Mofaro. “Woiii, siapa yang izinin kamu masuk?” serunya.


Mofaro bergegas menyusul Elia dengan langkah tergesa. “Aku mau kabar Elena, dong. Apakah perihal ini, dia juga tahu?” ucapnya dengan emosi yang jauh lebih terkontrol.


Dan detik itu juga, Elia berangsur memelankan bahkan menghentikan langkahnya. 


“Bagaimana hubungan Elena dan Atala?” lanjut Mofaro.


Elia berangsur menggeleng. “Aku enggak tahu. Itu papa yang urus. Soalnya, mulai kemarin, aku tinggal di rumah nenek.”


“Jadi sekarang, kamu tinggal di rumah nenekmu? Nenek siapa?” Mofaro menanggapi pengakuan Elia dengan serius.


“Nenek Khatrin dong ....” Elia berlalu meninggalkan Mofaro.


“Dekat dong. Naik motor sepuluh menit juga sampai,” ujar Mofaro yang kemudian langsung menyusul mengikuti kepergian Elia yang ia yakini akan ke ruang makan.


“Iya, sepuluh menit kalau kamu naik motornya pakai kecepatan setan!” cibir Elia tanpa sedikit pun melirik Mofaro.


Mofaro menjadi senyum-senyum sendiri. “Tapi omong-omong, ini bubur layak makan, enggak?”


“Kasih saja dulu ke kucing. Pingsan enggak kucingnya setelah makan itu bubur!” Elia mengakhiri balasannya sambil menahan tawa.


“Si Elia beneran enggak bisa diajak serius!” batin Mofaro yang menjadi merengut kesal. “Aku jadi ragu. Kalau aku sampai meninggal gara-gara makan bubur ini, ... enak Rafaro sama Rora, dapat jatah warisan lebih banyak!” pikirnya lagi.


*** 


“Mom ... Pa ... lihat ... katanya elien kayak dia bisa masak. Ini hasil harus dikasihkan ke kucing dulu, buat tahu layak enggaknya dimakan,” ujar Mofaro sesampainya di ruang sarapan, di mana Elia sudah duduk di sebelah Aurora, sedangkan kursi milik Rafaro justru sudah kosong.


Kimo dan Rara langsung tertawa lepas dan berakhir dengan tersipu.


“Ya ampun si Mofaro ... niat banget bikin aku malu,” batin Elia yang makin sebal kepada Mofaro.


Elia tak hentinya melirik sebal Mofaro yang kali ini sudah kembali duduk di kursinya, meski sesekali, gadis itu juga akan tersenyum ketika menanggapi Rara dan Kimo termasuk Aurora. Hanya pada Mofaro saja Elia mendengkus atau malah ingin menerkam pemuda itu, detik itu juga.


“Kamu pintar masak, Li?” tanya Kimo di antara sisa tawanya. Akan tetapi, tujuan Kimo bertanya juga untuk sekaligus memuji.


Elia mengulas senyum sambil menatap Kimo. Dan Elia nyaris berkata, andai saja Mofaro tidak langsung mencibir.


“Pintar bagaimana? Baru masak bubur saja sudah mengeluh tangannya melepuh. Lagian aneh ... wajahku yang bonyok, eh malah dimasakin bubur,” cibir Mofaro lagi.


“Lho, kalau kamu enggak mau bubur, kamu maunya apa? Bedak sama lipstik, buat dandan?” balas Elia yang kali ini sengaja mengontrol emosinya. Ia tetap tersenyum kendati tatapannya begitu sengit kepada Mofaro.


Ketika Mofaro langsung merengut, lain halnya dengan Rara, Kimo, bahkan Aurora yang langsung tertawa lepas.


“Kamu pikir, aku tukang mangkal, apa, mau dikasih bedak sama lipstik?” cibir Mofaro lirih dan sampai memelotot gemas kepada Elia.


Dan balasan Mofaro, kian menambah tawa dalam kebersamaan mereka.


“Akhirnya mengakui,” batin Elia yangnjuga sampai ikut tertawa. Terlebih, jauh di lubuk hatinya, ia juga langsung membayangkan penampilan Mofaro jika sampai dandan dengan bedak menor bahkan mengenakan pakaian seksi dengan warna mencolok.


“Elia mirip banget sama kamu, waktu kamu masih muda, Ma!” ujar Kimo yang masih harus mengendalikan tawanya.


Rara hanya tersipu sembari berusaha mengakhiri tawanya.


“Li ... ayo aku antar kamu ke sekolah,” sergah Rafaro yang baru datang dan sukses mengusik kebersamaan yang awalnya masih dihiasi sisa tawa.


Dan semua mata di sana langsung tertuju pada Rafaro yang kali ini berjalan menghampiri Elia. Rafaro sudah menenteng tas kerjanya, terlepas dari wajah Rafaro yang masih terlihat jelas menahan kesal.


“Si Rafa enggak cemburu ke aku, kan?” pikir Mofaro lantaran baginya, gerak-gerik Rafaro semakin mencurigakan. Mengenai Rafaro yang Mofaro rasa akan semakin kesal jika kembarannya itu menatap ke arahnya.

__ADS_1


Sedangkan yang terjadi pada Rara dan Kimo, diam-diam keduanya saling lirik sembari senyum-senyum sendiri memperhatikan Rafaro. Entah apa yang keduanya pikirkan, meski jika dilihat, apa yang keduanya pikirkan seolah masih mengenai hal yang sama.


Bersambung ....


__ADS_2