
“Kim Jinnan, ... kamu benar-benar datang?” ujar Irene untuk ke dua kalinya.
Irene menatap Kim Jinnan dengan mata yang berkaca-kaca, di tengah mata wanita muda itu memang sudah sangat sembam. Terlepas dari itu, kendati Irene tersenyum lepas, wanita itu juga sampai terengah-engah. Dan apa yang Irene lakukan kepada Kim Jinnan, menegaskan jika Irene masih belum bisa percaya, pria yang sangat ia harapkan justru hadir. Hadir di saat Irene nyaris menyerah.
“Ya ampun, Irene ... ya sudahlah, sukses buat kamu!” batin Atala.
Atala memilih mundur meninggalkan tempat duduknya, apalagi Irene juga sampai meliriknya tegas. Dan Atala paham, lirikan yang sampai disertai gerak wajah dari Irene, menegaskan wanita itu ingin Atala minggir.
“Benar-benar habis manis sepa dibuang. Awas saja kamu, Ren. Apa aku langsung pulang saja, ya?” batin Atala.
“Jinnan ... sini. Masuk!” sergah Irene, tak lama setelah Atala mundur dan meninggalkan tempat duduk di sebelahnya.
“Ya,” balas Kim Jinnan singkat, sebelum akhirnya balik badan dan berangsur membuka pintu.
“Duh ... berdarah,” keluh suara seorang wanita yang terdengar sangat merdu dan cukup manja. Wanita yang Atala dan Irene yakini ada di balik pintu yang sedang Kim Jinnan buka.
“Kenapa?” sergah Kim Jinnan yang kemudian berjongkok.
Dan Atala yang penasaran, segera melongok untuk memastikan. Sebuah punggung kaki dari kaki yang terbilang jenjang, tengah menyita kesibukan Kim Jinnan. Kim Jinnan yang sampai jongkok tepat di depan pintu, tengah menyeka darah segar dari luka baret di punggung kaki putih tersebut.
“Kok bisa sampai begini?” tanya Kim Jinnan dengan suara yang begitu lirih.
Sedangkan si wanita yang tak lain Pelangi, sengaja jongkok demi menyeimbangi Kim Jinnan, terlepas dari kedua tangan Pelangi yang sudah berpegangan pada pundak Kim Jinnan.
“Kayaknya sih itu istrinya!” batin Atala yang sampai menahan senyum.
Demi meredam tawanya, Atala sampai menekap mulutnya menggunakan sebelah tangan. Ia melakukannya sambil berangsur mundur. Dan bersamaan dengan itu, Atala mendadak merasa sangat jahat lantaran Irene jelas patah hati, melihat Kim Jinnan justru begitu peduli pada wanita berambut lurus panjang, yang kiranya jauh lebih muda dari Kim Jinnan. Juga, wanita yang Atala yakini merupakan istri dari Kim Jinnan sendiri.
Tampak kedua tangan Irene yang sampai mencengkeram selimut keberadaannya, seiring rahang wanita itu yang sampai mengeras. Karena Irene tak hanya cemburu, melainkan emosi melihat perhatian Kim Jinnan kepada Pelangi.
“Ya sudah, Jinnan ... enggak apa-apa,” lirih Pelangi yang begitu manja kepada Kim Jinnan.
“Ya sudah. Nanti kalau sudah di rumah, aku obati lagi,” balas Kim Jinnan yang berangsur berdiri diikuti juga oleh Pelangi yang masih berprgangan pada bahu Kim Jinnan.
__ADS_1
“Kamu cuci tangan dulu, itu kan tadi bekas darah?” ujar Pelangi lagi.
“Enggak usah, nanti saja. Lagi pula, kita juga cuma sebentar,” balas Kim Jinnan yang kemudian menggandeng dan menuntun Pelangi.
Sebenarnya, kemanjaan Pelangi juga beralasan. Bukan karena Pelangi sengaja ingin pamer kemesraan, melainkan karena Kim Jinnan selalu memanjakan Pelangi dan kenyataan tersebut, membuat Pelangi terbiasa manja kepada suaminya.
Pelangi menatap saksama Irene yang nyatanya langsung menepis kedatangannya dan Kim Jinnan. Lebih tepatnya, mungkin karena Pelangi ada bersama Kim Jinnan. Selanjutnya, hal pertama yang Pelangi lakukan adalah mengamati Irene.
Jika dilihat sekilas dari wajah, Pelangi yakin, Irene jauh lebih tua dari Kim Jinnan. Selain itu, melihat perut Irene yang belum terlalu besar, Pelangi yakin usia kandungan wanita itu masih muda. Kemudian, lantaran Kim Jinnan masih diam, Pelangi yang menyadari gandengan suaminya menjadi semakin erat, dan mungkin karena Kim Jinnan cukup tegang, memilih melongok Atala yang ada di belakang mereka.
Melihat Pelangi, membuat Atala teringat wajah Elia dan Elena. Pelangi memiliki garis wajah yang cukup mirip dengan keduanya. Dan meski bingung harus melakukan apa, Atala berangsur mengangguk sambil sedikit mengulas senyum, demi basa-basi menyapa Pelangi.
Sementara itu, Pelangi yang sadar Atala menyapanya, juga balas mengangguk sambil mengulas senyum. Tentunya, senyum jauh lebih lepas kendati senyumnya juga pasti terlihat sangat canggung. “Benar, Atala terlihat sangat dewasa melebihi Jinnan. Wajahnya juga masih babak belur,” batin Pelangi. “Untung sebelumnya, aku dan Atala belum pernah bertemu. Jadi aku enggak harus memperkenalkan diri,” lanjut Pelangi yang masih berbicara dalam hati.
“Hai ... apa kabar?” sapa Kim Jinnan yang akhirnya memulai pembicaraan.
Ketika Pelangi siap menyimak perihal apa yang akan suaminya sampaikan pada Irene, fokus perhatian Atala justru tercuri pada kedua kaki Pelangi dan Kim Jinnan yang sama-sama mengenakan sandal jepit. Di mana, Pelangi yang terlihat mulai gemetaran dan mungkin kedinginan, berangsur mendekap lengan Kim Jinnan, terlepas dari Pelangi yang sampai merapatkan jarak tubuhnya dari Kim Jinnan.
“Ya ampun ... kasihannya Irene. Pasti panas banget lihat Kim Jinnan sama istrinya semesra ini!” batin Atala yang sampai menjadi menahan senyumnya. “Tapi omong-omong. Si Jinnan beneran tobat, ya? Serius. Awal lihat dia saja aku sampai enggak mengenali. Bocah yang dulu pecicilan, tengil, enggak banget, kok sekarang kelihatan suami idaman banget?” Atala masih bicara dalam hatinya, perihal ia yang menjadi sibuk menilai Kim Jinnan.
Pelangi masih menjadi penyimak sekaligus pendamping yang baik. Entah dengan Irene yang hanya diam saja sambil menunduk.
“Dan aku benar-benar terkejut ketika mengetahui kehamilanmu, tapi kamu justru berharap aku yang bertanggung jawab untuk itu,” lanjut Kim Jinnan.
Atala yang kali ini sampai bersedekap, berangsur mengernyit. “Kim Jinnan sudah tahu? Dia tahu dari mana? Jadi, tujuannya malam-malam ke sini, bahkan sampai membawa istrinya, sebenarnya untuk apa?” batinnya.
“Aku sadar, di masa lalu, kita pernah memiliki hubungan, dan aku pernah menyakitimu. Namun sungguh, tidak ada yang lebih penting dari apa yang kujalani saat ini. Aku sudah menikah dan aku memiliki istri sekaligus keluarga yang begitu menyayangiku. Dan aku berharap, kamu juga akan mengalami hal yang sama dan tentunya dengan ayah dari anak yang sedang kamu kandung,” lanjut Kim Jinnan.
“Jadi, mulai detik ini juga, aku ingin menegaskan kepadamu, bahwa seburuk-buruknya aku di masa lalu, aku tahu batasan dalam hubungan. Kalaupun ada wanita yang mengaku hamil dan itu karenaku, tentu itu hanya istriku.” Kali ini, Kim Jinnan menatap mesra Pelangi.
“Tetap semangat, ya. Kamu tetap bisa bahagia, kok, meski tanpa suamiku. Maaf, bukannya lancang, tapi coba kamu bayangkan jika kamu ada di posisiku?” ujar Pelangi. “Selebihnya, tolong jangan pernah merusak kebahagiaan orang lain, karena itu bisa menutup kebahagiaanmu sendiri.”
“Dan mengenai ini, mertuaku sudah mengutus pengacara, untuk mengurusnya. Awalnya kami memang sepakat untuk menyelesaikan sendiri. Namun, karena pernikahan tidak hanya menyangkut hubungan suami dan istri, melainkan juga keluarga besar kami, bersikap terbuka dengan keluarga besar merupakan satu-satunya cara untuk menjaga hubungan kami,” lanjut Kim Jinnan.
__ADS_1
Irene merasa dihakimi, terlepas dari wanita itu yang sampai tak kuasa membalas.
“Aku tahu ini berat. Namun, jika kamu memang tidak bisa mengungkap siapa ayah dari anakmu, kami akan membantu dengan senang hati,” lanjut Kim Jinnan.
Dan kali ini, tatapan Irene langsung terempas pada Atala. Sungguh, Irene merasa tak habis pikir, kenapa sahabatnya itu justru hanya bungkam tanpa melakukan pembelaan untuknya.
“Ya ampun, ... lihat Kim Jinnan sama istrinya kok, aku jadi pengin nikah, ya?” batin Atala yang menjadi terbawa suasana. Terlebih, Kim Jinnan dan istrinya begitu mesra kendati keduanya tidak banyak bicara.
Hingga Kim Jinnan dan Pelangi pergi, baik Atala maupun Irene, sama sekali tidak berkomentar. Keduanya tenggelam dalam pemikiran masing-masing, kendati Irene merasa sangat kecewa kepada Atala yang benar-benar tidak membantunya.
“Jika kamu benar-benar sahabatku, kenapa kamu tidak membelaku? Kenapa tadi, kamu hanya diam dan membiarkanku dipermalukan?” tegas Irene sambil menatap Atala yang kali ini sudah berdiri di hadapannya, setelah sebelumnya, pria itu sampai mengantar kepergian Pelangi dan Kim Jinnan, hingga ambang pintu.
“Jawabannya hanya satu, Ren. Aku masih waras. Terserah kamu mau anggap aku apa? Tapi aku yakin, cepat atau lambat, kamu pasti menyadari, apa yang kamu lakukan memang salah!” tegas Atala.
Irene langsung menunduk di tengah kenyataannya yang terisak-isak.
“Ya sudah, kalau begitu, kamu istirahat, karena aku juga mau pulang.” Atala benar-benar berlalu tanpa menunggu balasan Irene.
Akan tetapi, ketika Atala nyaris meraih gagang pintu untuk meninggalkan ruang rawat Irene, lemparan gelas masih berisi air, dari belakang dan mengenai dinding di sebelah pintu, membuat Atala terjaga.
Atala menjadi mematung saking kecewanya pria itu kepada pemikiran sekaligus cara Irene, dalam menyelesaikan masalah.
“Semua ini gara-gara papamu! Dia yang sudah membuat semua ini terjadi! Papamulah yang membuat kehidupanku sehancur ini, At!”
“Dan sekarang, coba tolong katakan kepadaku, apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus kulakukan pada papamu? Papa sahabatku sendiri yang sudah aku anggap sebagai papaku juga?!”
Ketika Irene menangis meronta-ronta dan tak hentinya membanting semua yang ada di sekitarnya, tanpa terkrcuali penopang tabung infus, Atala yang masih berdiri di depan pintu justru seperti disambar petir di siang bolong. Jantung Atala berdegup sangat cepat sekaligus keras, terlepas dari aliran darahnya yang juga mendadak memanas.
“Jangan gila kamu, Ren! Bercandamu keterlaluan!” balas Atala yang kali ini menatap Irene dengan banyak kemarahan.
“Kalau kamu enggak percaya, bawa dia kemari! Bahkan dia mengancamku! Dia punya videonya! Dia merekam semuanya!”
Tidak ada kebohongan yang terpancar dari wajah Irene. Wajah wanita cantik itu hanya dipenuhi amarah dan kebencian. Benar-benar tanpa hal lain, di mana, kenyataan tersebut membuat hati Atala seperti dicabik-cabik. Atala benar-benar hancur meski ia belum membuktikannya. Namun, Atala tidak mungkin mengabaikan pengakuan Irene begitu saja. Tak sekadar lantaran Irene sahabatnya, tetapi karena kenyataan tersebut juga sampai menyeret sang papa, ke dalamnya.
__ADS_1
Benarkah, pria yang telah menghamili Irene dan sudah berulang kali Atala sumpah-serapah, justru ayah Atala sendiri? Di mana dengan kata lain, sahabatnya itu justru tengah mengandung adik Atala?
Bersambung ....