
Bersama Jean anak pertamanya yang sudah menginjak usia tujuh tahun, Pelangi baru selesai membuat pasta spesial.
Hari ini, Kim Jinnan ulang tahun yang ke tiga puluh satu tahun. Karenanya, Pelangi sengaja turun ke dapur dibantu Jean yang juga hobi memasak, layaknya Dean. Selain itu, Jean yang mewarisi ketampanan Kim Jinnan, juga memiliki keuletan tinggi, layaknya Kim Jinnan, semenjak menikahi Pelangi, kurang lebih delapan tahun yang lalu.
Jean tumbuh menjadi anak yang cerdas sekaligus manis. Bahkan boleh dibilang, Jean merupakan anak idaman yang sempurna. Nyaris semua orang apalagi Keinya dan Yuan, selalu membanggakannya.
Kini, anak pertamanya itu tengah membawa dua piring berisi pasta, layaknya apa yang Pelangi lakukan. Bedanya, ketika kedua piring Pelangi sama-sama besar, satu di antara piring yang Jean bawa berukuran kecil. Keduanya melangkah bersemangat menuju kamar Pelangi.
“Mah?”
“Iya, Sayang, ada apa?”
“Ini, pastanya enggak dikasih lilin buat ditiup papah?”
Pertanyaan lugu Jean sukses menambah senyum berikut kebahagiaan Pelangi. Sungguh, tak pernah terbayang sebelumnya oleh Pelangi, jika anak pertamanya juga akan tumbuh dengan hati yang begitu hangat. Jean sangat peduli kepada sesama khususnya keluarga.
“Mamah sudah bawa lilin sama korek, kok. Di saku celana Mamah!” balas Pelangi yang sengaja berbisik tak jauh dari telinga Jean, dan membuatnya cukup membungkuk.
Pelangi sengaja melakukannya untuk semakin membuat Jean bersemangat dalam membuat kejutan kali ini. Terlebih tadi sebelum kepergian mereka, mereka bilang jika mereka akan pergi ke rumah Keinya dan Yuan, untuk mengambil masakan yang sudah Keinya buatkan.
Lihatlah, usaha Pelangi langsung sukses. Selain Jean yang menjadi tersenyum lepas, wajah bocah itu juga sampai bersemu. Dan ketika sudah sampai di dekat pintu, Pelangi sengaja melangkah dengan cukup mengendap-endap diikuti juga oleh Jean. Kemudian Pelangi membuka pintunya dengan hati-hati, dan Jean segera menyelusup sambil berseru layaknya Pelangi.
“Selamat ulang tahun, Papah!”
Di dalam, di dekat meja kerjanya, Kim Jinnan yang berdiri memunggungi pintu, sedang menunggu kertas-kertas keluar dari mesin cetakan, langsung menoleh dan terlihat sangat terkejut.
“Waw ... thank you, Sayang! Mamah!” Kim Jinnan tersenyum semringah setelah membuat keadaan di sana senyap, lantaran kendati ia memang terkejut atas kedatangan Keinya dan Jean yang memberinya kejutan, tapi sepertinya Pelangi justru jauh lebih terkejut darinya.
“Mazing, Pah! Syok aku!” Jean terkagum-kagum dengan suasana di sana.
“Yes, Sayang! Ini, bakat terpendam Jenni. Keren banget, ya, dia?”
Seperangkat kosmetik berikut kuteks nilik Pelangi telah tercecer di lantai dalam keadaan nyaris terbuka semua. Nyaris semua lipstik patah menodai dinding, lantai, lemari, bahkan tempat tidur. Tanpa terkecuali maskara yang juga turut melekat di dinding berwallpaper putih gading dengan ukiran bunga di sana. Paling mencolok, semua itu sudah menempel di wajah Jennie anak perempuannya yang baru berusia dua tahun. Wajah Jennie tak ubahnya badut yang bergelopot make up, di mana sekitar mata saja, sampai dihiasi polesan lipstik warna maroon!
“Belum ada satu jam, sudah separah ini, Pah?” rutuk Pelangi sambil melangkah kesal mendekati Kim Jinnan.
Seperti biasa, Kim Jinnan menanggapi kemarahan Pelangi dengan sangat santai. Satu-satunya kenyataan yang juga selalu membuat Pelangi semakin kesal. Terlebih, sejauh ini Kim Jinnan begitu memanjakan anak-anak mereka.
“Sekali lagi, selamat ulang tahun, Papah!” Jean menyuguhkan sepiring besar pasta yang ia bawa kepada Kim Jinnan.
Kim Jinnan yang menjadi menyudahi kesibukannya berangsur menerimanya, kemudian memeluk Jean. “Makasih banyak, yah, Sayang. Teruslah jadi kesayangan sekaligus kebanggaan Papah!”
Ketika Kim Jinnan sampai menepikan piringnya dan juga yang masih Jean bawa, sebelum akhirnya menggendong Jean penuh kasih sayang, Pelangi yang menepikan kedua piring pastanya di meja kerja Kim Jinnan juga segera menghampiri Jennie.
Di sudut meja rias dan awalnya sedang mencoret-coret meja rias menggunakan lipstik, Jennie terdiam sambil ketakutan menatap Pelangi.
“Ni-nie, enggak apa-apa. Minta maaf ke Mamah dan jangan ulangi, ya?” ujar Kim Jinnan.
“Kamu sih! Kenapa enggak ditegur dari awal? Lihat semuanya!” keluh Pelangi masih uring-uringan.
“Enggak apa-apa, bisa dibereskan!” Kim Jinnan masih menyikapinya dengan sabar.
__ADS_1
“Jinnan!” pekik Pelangi yang kemudian menggendong Jennie. Ia mengelap wajah Jennie yang masih tertunduk takut menghindari tatapannya.
“Enggak apa-apa, nanti gampang beli lagi,” ujar Kim Jinnan lagi.
“Jennir, kamu mau jadi model apa bagaimana? Umur segini sudah acak-acak kosmetik?” ujar Pelangi dengan nada yang sudah dipenuhi perhatian.
Seulas senyum menggerakkan bibir mungil Jennie. Gadis kecil itu berangsur mengangkat wajah berikut tatapannya dan menatap wajah Mamanya dengan banyak cinta.
“I love, you, Mah!” ucap Jennie.
“Ahh ... Papah mau juga!” rengek Kim Jinnan pura-pura manja dan sukses membuat Jennie tertawa lepas tidak jelas.
Jennie menjadi terlihat sangat bahagia dan sampai menciumi wajah Pelangi, berikut Kim Jinnan dan Jean yang masih digendong pria itu. Tentu, kenyataan tersebut juga langsung meluruhkan kemarahan sekaligus kekesalan Pelangi kepada Kim Jinnan.
“Semua materi bisa kita cari dan dapatkan kembali, Ngie. Tapi enggak dengan kebahagiaan sekaligus keceriaan anak-anak yang sumbernya hanya dari hati!” bisik Kim Jinnan yang kemudian melayang ciuman dalam di kening istrinya.
“Aku harap kamu mengerti kenapa aku begitu membebaskan mereka. Terlebih, masa kanan-kanak dan semua masa yang akan menjadi masa lalu tak mungkin bisa kita dapatkan kembali.” Meski sama-sama menggendong anak, tapi Kim Jinnan srngaja menyandarkan wajahnya di kepala Pelangi. Sedangkan Jean dan Jennie sudah sibuk bercanda dan tergelak karena kesibukan mereka.
“Jinnan ... kamu benar-benar luar biasa! Aku merasa enggak ada apa-apanya!” lirih Pelangi.
Pelangi memang tersenyum, tapi air mata bahagia juga turut membersamainya. Sungguh, meski berasal dari keluarga yang membuatnya tidak mendapatkan kasih sayang sekaigus sentuhan keluarga, tapi Kim Jinnan bisa menjadi panutan yang baik untuk keluarga kecil mereka.
Meninggalkan keluarga bahagia ini, adakah yang merindukan kisah yang lainnya? Mari kita lanjutkan.
***
Di tengah kenyataannya yang menahan banyak ketegangan, Elia keluar dari ruang bersalin dengan tergesa. Dan kebetulan, di waktu yang sama sosok Atala langsung berhasil menghentikan langkahnya.
“Iya ... iya. Aku dan semuanya tahu, kok. Kamu masuk saja. Papah sama Mamah memang ada di dalam. Tapi Elena maunya sama kamu. Dari tadi, dia manggil-manggil kamu terus,” sergah Elia yang sampai mendorong pelan Atala agar secepatnya memasuki ruang bersalin.
Di salah satu ruang bersalin di sana dan baru Elia tinggalkan, ditemani Steven dan Kainya, Elena memang akan melahirkan anak pertamanya. Elena dan Atala memang baru menikah sekitar sebelas bulan, tapi Tuhan sudah langsung memberi mereka kepercayaan karunia yang begitu besar.
Tak lama setelah kepergian Atala yang memasuki ruang bersalin, Elia dikejutkan oleh kedatangan Rafaro. “Sayang, kamu kok di sini?”
Rafaro segera mengangguk dan kemudian memeluk singkat Elia. Tak lupa, sebelah tangannya juga langsung mengelus perut Elia yang sudah cukup buncit, mengingat kehamilan Elia memang sudah menginjak bulan ke empat.
“Mo bilang, dia butuh nomor telepon beberapa desainer pakain pengantin, dan dia minta segera. Tapi karena nomor ponselmu sibuk, ya aku enggak bisa ngubungin kamu. Kamu tahu sendiri kalau Mo sudah ada kemauan, harus segera terwujud.”
“Ya ampun ... tuh orang ribet banget, sih? Perasaan yang mau nikah enggak cuma dia deh. Dean sama Kishi juga adem-ayem saja? Mereka pesan pakaian pengantin langsung fix. Dulu kita juga gitu. Semua orang juga gitu.”
Rafaro menjadi menertawakan Elia lantaran wanita muda yang ia nikahi satu tahun lalu itu justru uring-uringan sendiri.
“Sudah ... sudah ... semua ini bukan sepenuhnya kesalahan Mo. Masalahnya, Nathasya juga bingung. Dia tertarik dengan model gaun pengantin yang pernah pakai, tapi dia juga suka sama model gaun pengantin Elena. Nah tadi, pas lihat Instagram Kishi yang foto pakai gaun pengantin, Nathasya juga ingin yang begitu juga.”
“Ya ampun ... mereka benar-benar memiliki sifat yang sama. Kembar siam mereka!” rutuk Elia yang kemudian mengeluarkan ponsel dari saku bajunya. Lain halnya dengan Rafaro yang menjadi tertawa geli.
“Habis ini mau balik ke klinik, apa pulang?” tanya Rafaro kemudian sambil melihat jemari Elia yang sibuk mengirimi Kimo beberapa kontak desainer.
“Kalau kamunpulang, aku ikut sekalian, ya? Sudah sore juga, dan kakiku rasanya oanas banget, bolak-balik nemenin Elena jalan biar cepat pembukaan.”
“Ya sudah, ... aku mau kabari sekretarisku dulu biar dia beresin sisanya. Kita langsung pulang saja,” ujar Rafaro yang kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku sisi celana bahan warna hitam yang dikenakan.
__ADS_1
“Tapi nanti, ya. Nunggu Lena beres lahiran?” bisik Elena dan Rafaro langsung mengangguk setuju.
***
Dean, terdiam kesal lantaran di sesi pemotretan preweddingnya, Zean yang ia ajak turut serta ke pulau Dewata, justru sibuk mondar-mandir dan terlihat jelas sengaja.
“Zean, diam kenapa jangan mondar-mandir? Aku kirim kamu ke pluto, biar kamu enggak kelihatan lagi, ya!” omel Dean.
Dengan santainya, Zean yang memiliki bentuk tubuh sempurna dan tak lagi kelebihan berat badan, tersenyum lepas membelakangi kamera. “Makanya, aku difoto juga, dong!”
“Kamu pikir ini foto masal? Kan kamu tahu sendiri kalau aku sama Kishi sedang foto prewedding!” Dean sampai mendelik lantaran bukannya mengindahkan tegurannya, kali ini Zean justru sibuk bergaya di depan kamera.
Di sebelah Dean, Kishi yang mengenakan dress panjang tak berlengan warna putih khas pakaian pantai, tak hentinya terkikik. Di tengah terik mentari yang mulai redup karena waktu akan memasuki senja, mereka memang sedang melakukan pemotretan di pantai.
“Ya sudah ... ya sudah ... kamu bakalan ikut difoto. Tapi kamu jangan dekat-dekat kami, ya. Kamu pegang payung di belakang,” ujar Dean.
Dean menyerah. Namun apa yang Dean lakukan hanya untuk mengelabuhi Zean yang kini berusia dua belas tahun dan sedang narsis-narsisnya, ingin selalu difoto. Dan mungkin karena itu juga, Zean memaksa untuk ikut serta terlepas dari Zean yang memang sedang libur sekolah.
“Wahh ... asyik! Tapi fokus fotonya ke aku, yah!” Zean langsung kegirangan dan segera menerima payung putih yang diberikan oleh kru.
“Zean ... lihat tuh, itu Rora, kan?” ujar Kishi kemudian sambil menunjuk kedatangan Rora yang mengikuti rombongan Mofaro dan juga Nathasya.
Tak beda dengan Kishi dan Dean, Mofaro dan Nathasya juga akan melakukan pemotretan prewedding.
“Ya kalian ... kenapa kalian sudah foto di situ? Ah kalian plagiat, ah! Enggak asyik!” uring Mofaro sambil terus melang dan menunjuk-nunjuk kesal, kebersamaan Kishi dan Dean.
“Lah, tempat ini kan bukan punya kamu!” tegas Dean sambil menggeleng tak habis pikir.
“Tapi tempat ini warisan dari nenek moyangku!” balas Mofaro masih ngeyel.
“Mo ... kebiasaan deh!” tegur Kishi.
“Iya, ih ... si Mo, dari tadi bikin gara-gara terus!” timpal Nathasya yang melangkah di belakang Mo.
Mofaro langsung balik badan dan menatap bingung calon istrinya. “Kok kamu malah belain mereka, Hon?”
Melihat suasana semakin memanas, Zean menjadi tersenyun puas. “Terus saja pada marah-marah ... biar enggak jadi foto sekalian!” semprotnya. “Lagian, apa bagusnya sih, di sekitar sini? Terlalu biasa. Sudah banyak yang pakai di internet! Coba deh, kalian amil foto kayak semacam akan hanyut kena ombak! Kan bagus tuh!”
Merasa usul Zean menarik, Mofaro langsung berkata, “itu konsepku, lho!” Dania yang tak mau kecolongan juga segera menyuruh krunya untuk melakukan seperti yang Zean usulkan.
“Hahaha ... Dean, kamu fotonya juga jangan cuma berdiri terus kejar-kejaran di tepi pantai! Sekalian adegan jatuh dari tebing itu, tuh!” lanjut Zean lagi sambil menunjuk tebing di seberang sana.
“Dasar kewarasan!” cibir Dean sambil menghela napas dan menggeleng tak habis pikir.
“Ya sudahlah ... aku mau pacaran dulu sama Rora!” ujar Zean yang segera mendekati Rora di tengah kenyataannya yang menjadi sangat ceria.
Dean dan Kishi saling bertukar tatapan. Dan melalui kenyataan tersebut, mereka yang mengangguk sepakat untuk melanjutkan pemotretan.
--Tamat--
Alhamdullilah. Yang mau tahu perkembangan cerita-cerita Author, kalian bisa lihat di IG : Rositi92. Jangan sungkan buat menyapa via DM, ya. Nanti pasti Author balas, kok. Makasih banyak sudah mendukung dan membersamai cerita ini. Yang punya aplikasi ******* atau Dreamee, sekarang Author fokus nulis di sana. Buanyak ada 12 cerita. Yang mau join grup pembaca cerita Author, langaung WA : 085795733549 💜🙏♥️
__ADS_1
[CATATAN TAMBAHAN : Berkat dukungan kalian, cerita ini akan terbit versi buku. Lihat keterangan di sampul depan ada tulisan sudah terbit, kan? Cerita ini masih tahap revisi. Jangan lupa follow IG aku buat baca cerita menarik lainnya. Sedangkan karena alasan kontrak karya, di NOVELTOON aku hanya ada dua cerita tamat. Selepas Perceraian, satunya lagi Menjadi Istri Tuanku. Cek saja, ya💜]