Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 43 : Bukan Daniel, Tetapi Yuan.


__ADS_3

Selamat malam pembaca tercinta ... sebelumnya, Author ucapkan terima kasih banyak atas dukungan kalian terhadap cerita ini. Sebab, tanpa dukungan dari kalian--like dan komen apalagi vote dan rate, cerita ini tidak akan sampai sejauh ini.


Tapi, Author boleh minta tolong lagi, enggak? Tolong baca cerita Author yang selain ini, yang judulnya : Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh)? Ceritanya sudah selesai, tamat untuk season 1nya. Tetapi masih butuh banyak pembaca termasuk like dan komen biar bisa lanjut ke season 2. Sedangkan untuk cerita yang satu lagi, bergenre romance fantasi dan time travel, judulnya : CEO Mengejar Tuan Putri. Ini belum tamat, sih. Tapi mau ditamatkan juga ^^


Sudah, hanya itu cuap-cuap dari Author. Selamat membaca, ya. Terus ikuti dan dukung ceritanya dengan minimal memberi like agar ceritanya enggak jatuh. Sakit kalau ceritanya jatuh. Tapi, nantinya akan ada cerita baru setelah cerita ini tamat ^^


Selamat membaca,


“Aku lebih memilih melukai banyak orang, daripada membiarkan istriku terus-menerus dilanda kecemasan.”


Bab 43 : Bukan Daniel, Tetapi Yuan.


Ketika melintasi rumah Itzy, Keinya sangat berharap wanita muda itu melihat kebersamaannya dengan Yuan. Hanya saja, apa yang Keinya harapkan hanya menjadi wacana lantaran Itzy yang ia nanti tak kunjung keluar juga. Justru, Yuan yang masih mencurigainya kembali bertanya mengenai tujuannya.


“Ada wanita muda yang mencintaimu. Dia sangat cantik. Hanya saja, dia mengiramu bernama Daniel!” ucap Keinya dengan nada jengkel. Keinya yang melangkah selangkah lebih depan dari Yuan sambil bersedekap, kerap melirik sebal suaminya itu.


Yuan menyeringai sambil terus mendorong sepeda Pelangi. Sambil mendekati Keinya, ia tersenyum jail. “Memangnya ada, yang lebih cantik dari kamu? ... enggak, kan?” ucapnya sengaja menggoda.


Keinya bergeming, bingung. Apakah ia patut bahagia atas pujian sekaligus godaan yang Yuan berikan kepadanya? Lantas, harusnya ia melupakan segalanya, kembali baik-baik saja tanpa memikirkan wanita-wanita yang menginginkan suaminya?


Bagi Keinya, pujian ibarat tanggung jawab menjadi lebih baik. Dan kenyataan tersebut langsung membuat Keinya seperti ditampar. Karena jika pujian ibarat tanggung jawab menjadi lebih baik, apakah ia sudah menjadi istri yang lebih baik untuk Yuan? Dan bukankah semakin ke sini, ia justru semakin pencemburu?


Keinya berangsur menghentikan langkah, kemudian balik badan dan menatap Yuan sarat penyesalan.


Yuan balas menatap Keinya sambil menghentikan langkahnya. Tak jauh dari gerbang rumah Itzy.


“Ada obat biar enggak cemburu, enggak, sih?” tanya Keinya tanpa bisa mengontrol emosinya yang menjadi merasa bersedih sekaligus menyesal.


Yuan mengangguk. “Ada.”


“Apa?” Keinya menggigit keras-keras bibirnya demi menghalau rasa tidak sabar yang turut menyertai ketegangannya. Sebab, tidak bisa ia pungkiri, menanti balasan dari Yuan membuatnya menjadi semakin tegang.


“Cukup ingat betapa aku mencintaimu, juga, ... betapa kamu mencintaiku.” Yuan mengatakan itu dengan sangat tenang, berikut tatapannya yang begitu dipenuhi cinta.


Keinya menitikkan air mata. “Susah,” tukasnya.


“Temukan aku dengan wanita ity. Apakah wanita itu tinggal di sekitar sini? Atau justru, ... ini rumahnya?” ucap Yuan kemudian sesaat mengamati suasana sekitar dan menatap curiga rumah di sebelahnya.


Keinya menyeka air matanya sambil menatap dan mengamati rumah Itzy yang terbilang sepi. Tanpa pembenaran, juga penyangkalan, hal tersebut membuat Yuan yakin, dugaannya benar. Rumah wanita yang dikata Keinya mencintainya.


Yuan memaklumi ketakutan Keinya. Ia yakin, Keinya begitu karena masa lalu. Tak hanya tentang pengkhianatan sekaligus jebakan Athan, ... melainkan juga status Keinya. Karena terkadang, bayang-bayang masa lalu selalu menjadi cobaan terberat untuk masa yang sedang dijalani. Bahkan meski kita sudah menutupnya rapat-rapat. Menggantikannya dengan kenangan berikut kehidupan yang lebih indah.


Demi meredam semua itu, Yuan yang bahkan tidak bisa menghentikan ketakutan Keinya, segera mencari tahu lebih dalam. Yuan mendekati gerbang rumah. Setelah mengamati suasana rumah lebih teliti dan terbilang sepi, ia mendapati seorang satpam yang justru tertidur di depan televisi, dalam pos satpam di ujung sebelah kanan gerbang rumah.


Keinya membiarkan suaminya yang melakukan segala sesuatunya dengan tenang, menekan bel yang ada di belakangnya. Keinya yakin, Yuan akan menemui Itzy peringatan.


Seketika itu, satpam yang awalnya tidur, langsung terlonjak dari kursi tempatnya duduk sekaligus tidur. Satpam itu langsung kalang kabut, mencoba menguasai diri termasuk merapikan tampilan secara asal.


Sambil mengamati dalang di balik bunyinya bel rumah, ia yang mengamati sebelah gerbang di hadapannya sambil mengelap sisa iler di sekitar mulutnya, mendapati sosok Yuan. Satpam bernama Paimun itu dibuat takjub tak percaya dan sampai menjengit. Apa, alasan pria yang ia ketahu bernama Daniel dan sangat disukai majikannya, berdiri di balik tembok keberadaan bel, dan sepertinya, pria itu juga yang baru saja menekan bel, hingga membangunkan tidurnya.


Keinya yang menjadi menahan sepeda Pelangi, mengambil alih apa yang Yuan lakulan pun berkata, “Yu, jika kamu mengatakannya langsung, itu akan sangat melukainya,” tegurnya serba salah tetapi sarat dengan kesedihan.


Yuan yang masih terlihat santai sekaligus berwibawa, berangsur menoleh dan menatap Keinya. Tatapan yang benar-benar penuh cinta yang turut dibubuhi seulas senyuman, di tengah jarak mereka yang tak kurang dari tiga meter.


Pamimun menatap aneh cara komunikasi Yuan dan Keinya yang baginya cukup romantis layaknya orang sedang pacaran.


“Aku lebih memilih melukai banyak orang, daripada membiarkan istriku terus-menerus dilanda kecemasan.”

__ADS_1


Ucapan Yuan makin membuat Paimun bingung. “Kok malah ngomongnya begitu?” batinnya sampai kerap mengerjap saking bingungnya. Karena menurutnya yang masih normal, apa yang Yuan katakan jelas ditujukan untuk istrinya, dan dengan kata lain, pria di hadapannya sudah menikah. Bahkan Paimun sampai curiga, wanita dihadapannya dan sedang menahan sepeda berisi bocahlah, istri Yuan.


Paimun menatap Keinya yang berangsur menggendong Pelangi dan terlihat jelas kebingungan, kemudian berganti pada sosok Yuan yang masih menatapnya dengan tenang.


“Ada keperluan apa, ta, Tuan dan Ibu sekalian?” tanya Paimun yang sampai menatap takut kedua ajudan Keinya yang berdiri sangar di belakang kedua orang di hadapannya.


“Siapa namanya?” tanya Yuan kemudian masih menatap Keinya yang berangsur mendekatinya sambil menggendong Pelangi.


Keinya menatap sang suami dengan mata bergetar seiring hatinya yang menjadi berdesir. “Apakah semua ini belum cukup membuktikan, betapa Yuan hanya mencintaimu?” batin Keinya yang berangsur menunduk. “Seperti ini saja sudah membuatmu sangat takut, bagaimana jika kamu menjadi Rara yang sampai dilupakan oleh suaminya karena amnesia.” Keinya masih berbicara di dalam hati.


Kesungguhan Yuan memang membuat Keinya merasa sangat bahagia, tetapi kebahagiaan itu masih saja disertau kesedihan.


Lantaran Keinya tetap bungkam, Yuan pun terpaksa mengambil keputusan sekaligus tindakan. Ia menghela napas kemudian menelan ludah sembari menghadap Paimun dan membuatnya membelakangi Keinya.


“Aku ingin bertemu bos Anda.”


Permintaan Yuan membuat Paimun gelagepan. Meski menemui bosnya selalu harus disertai alasan bahkan janji, tetapi setahunya Itzy majikannya tergila-gila kepada Yuan. Hampir tiap hari, Paimun ditugaskan mengantar bingkisan cinta oleh Itzy untuk pria di hadapannya. Bahkan belum genap satu jam, Paimun juga baru mrngabtarkan sebatang cokelat dan setangkai mawar merah segar berikut amplop merah muda dari Itzy untuk Yuan.


“Tuan Daniel, sudah ada janji dengan Nona Itzy, ya?” tebak Paimun dengan ekspresi tak berdosa.


Yuan mengerutkan dahi berikut bibirnya. “Jadi, namanya Itzy?” tanyanya pada Keinya yang sampai ia tatap.


Keinya yang sempat menatap Yuan, hanya menunduk dan benar-benar masih bungkam.


Mendapati itu, Yuan mengangguk-angguk sambil mengulas senyum kala kembali menatap Paimun.


Meski semakin curiga dengan respons Keinya yang terlihat begitu bersedih bahkan seperti sangat teraniaya, Paimun pun bergegas meninggalkan kebersamaan.


“Tunggu sebentar!” Paimun bahkan sampai berlari dan sesekali menoleh, memastikan kebersamaan Yuan bahkan Keinya, sosok yang membuatnya curiga.


Yuan menoleh dan mendapati Keinya yang semakin murung. Hal tersebut membuatnya mengambil alih Pelangi hingga Keinya menjadi terlihat sangat terkejut dan refleks mendongak menatapnya.


“Nanti malam, jatahku jadi tiga kali lipat, lho!” ucap Yuan sambil melirik Keinya penuh isyarat.


“Jatah apa?!” desis Keinya sambil mendelik pada Yuan, kemudian mengerling dan terlihat jelas berjaga. Ia sengaja merapatkan tubuhnya pada Yuan, sambil menatap suaminya penuh kepastian.


“Bikin adik buat Pelangi,” balas Yuan dengan entengnya dan sampai membuat kedua ajudan Keinya tersenyum geli.


Mendapati itu, Keinya hanya tertunduk malu sambil mendekap sebelah lengan Yuan. “Masih kurang sebulan lagi, kan?” lirihnya sambil melirik Yuan.


“Enggak usah nunggu kayaknya enggak apa-apa.” Yuan mengatakan itu tanpa menatap Keinya.


Keinya mengangguk-angguk, menyetujui usul Yuan. Hanya saja, ia menjadi penasaran, cara apa yang akan Yuan lakukan untuk meyakinkan Itzy atas hubungan mereka?


Tak lama berselang setelah pemikiran Keinya, Itzy keluar. Wanita muda bertubuh semampai itu berjalan tergesa dan terlihat tidak sabar. Tak hentinya ia tersenyum sambil menatap Yuan penuh cinta. Pun meski yang bersangkutan tengah menggendong bocah perempuan yang biasanya diajak jalan-jalan oleh Keinya, dan ia ketahui sebagai kakak Yuan yang ia ketahui bernama Daniel.


Paimun terheran-heran dengan ekspresi penuh kebahagiaan Itzy yang baginya sangat berlebihan.


“Pak, gerbangnya dibuka, dong! Masa disuruh nunggu begitu?” tegurnya lirih.


Paimun menambah larinya dan segera membukakan gerbang, mendorongnya sekuat tenaga hingga tak ada lagi sekat di antara Yuan dan Itzy. Itzy sendiri sengaja mengambil posisi persis di hadapan Yuan.


Itzy sudah berdandan rapi, dan terlihat siap pergi ke kantor layaknya biasa. Namun bagi Keinya, kali ini ada yang berbeda dengan penampilan Itzy. Tak hanya karena wanita muda itu terlihat semakin ceria bahkan semringah, melainkan bibir wanita itu yang sampai dipolesi gincu merah menyala, padahal biasanya benar-benar warna natural.


“Hai!” sapa Itzy canggung sambil melambaikan tangan dan terlihat kaku. Kemudian tatapannya turun, menatap Pelangi. Hal yang sama juga ia lakukan pada Pelangi. Hanya saja, pada Pelangi ia sampai mencubit gemas pipi Pelangi yang cukup berisi.


Keinya yang masih diam, kerap melirik Yuan, menunggu reaksi sekaligus respons suaminya. Suaminya masih diam, menatap Itzy dengan pandangan yang sangat biasa.

__ADS_1


Karena Yuan justru tidak merespons lebih dan bahkan menjadi menatap lama Keinya, Itzy pun berusaha mengakhirinya.


“Kak Daniel, ada perlu apa, ya?” ucap Itzy kemudian sambil menatap Yuan harap-harap cemas.


Yuan menjadi mengeenyit dan berangsur mengalihkan tatapannya daru Keinya, untuk menatap Itzy. Benar kata istrinya, wanita muda dihadapannya mengiranya sebagai Daniel.


“Bukan Daniel, tetapi Yuan. Nama saya Yuan Fahreza. Saya suami Keinya. Sebagai tetangga baru, lusa, tepat di Minggu sore, saya sekeluarga ingin mengundang keluarga Anda secara langsung, untuk syukuran rumah baru kami.”


Itzy dibuat tak percaya mengenai penuturan Yuan. Ia menggeragap dan melirik Paimun yang tak kalah kebingungan.


“Y-yuan?” ucap Itzy memastikan berikut tatapannya kepada Yuan. Ia sampai memiringkan kepalanya hanya untuk mendapatkan kebenaran dari pria di hadapannya.


“Bukankah nama Tuan, Daniel?” ujar Paimun memastikan.


Yuan menatap Paimun sambil mengulas senyum. Kemudian ia menggeleng lemah. “Daniel itu adik ipar saya. Adik istri saya.”


Keinya mendapati kedua mata Itzy menjadi berkaca-kaca seiring deru napas wanita muda itu yang juga menjadi terdengar memburu. Bahkan, dada Itzy sampai naik-turun dengan teratur dengan ritme cepat. Dan kenyataan tersebut membuat Keinya merasa sangat bersalah.


“Sepertinya hanya itu yang bisa saya sampaikan. Terima kasih banyak. Maaf telah mengganggu waktu Anda.” Yuan mengatakan itu sambil menatap Itzy sebelum akhirnya menatap Keinya. “Sayang, ayo, kita pulang.”


Keinya menatap Yuan penuh cinta. Pemandangan yang justru semakin membuat hati Itzy terluka. Bahkan karenanya, Itzy sampai menepisnya, memalingkan wajah.


“Itzy, kapan-kapan aku akan mengenalkan Daniel kepadamu. Atau kalau tidak, Minggu sore, kalian juga bisa bertemu,” ujar Keinya sesaat sebelum berlalu mengikuti tuntunan Yuan. Yuan, ya ... pria yang hidup hanya untuk mencintai sekaligus membahagiakannya.


Seperginya Keinya dan Yuan dan itu Itzy ketahui ke arah rumah keduanya, air mata Itzy rebas seiring ia yang kemudian menatap sebal Paimun.


“Kata Bapak namanya Daniel!” omel Itzy di tengah tangisnya. Pun meski tentu, benar tidaknya semua yang ia ketahui tentang Yuan berikut nama pria itu, tidak akan mengubah keadaan, lantaran pria yang ia taksir sudah menikah. Terlebih, geral-gerik Yuan yang bahkan sangat membatasi berkomunikasi bahkan walau sekadar tatapan padanya, sudah menunjukan betapa setianya pria itu kepada istrinya.


Paimun sampai menjengit tatkala Itzy sampai mengentakkan sebelah kaki seiring wanita itu yang balik badan secara kasar, ketika meninggalkannya. Majikannya itu terlihat sangat kecewa, marah bahkan sedih.


“Jangan-jangan, sebentar lagi aku bakalan dipecat?” gumam Paimun risau. Bisa jadi malapetaka ketika ia kehilangan pekerjaannya. Tak hanya mengenai masa depan keluarganya berikut kebutuhan yang semakin hari semakin menggunung, melainkan pekerjaan yang bisa jadi akan semakin sulit ia dapatkan, dengan modal sekaligus latar belakang pendidikannya yang pas-pasan.


***


Rara yang awalnya baik-baik saja, melangkah santai menuju dapur, dikejutkan oleh suara air keran yang terdengar dari dapur. Rara yang sampai menghentikan langkahnya demi mendengar suara yang ia yakini itu, menjadi harap-harap cemas. Siapa yang ada di dapurnya, sedangkan selain rumahnya dalam keadaan terkunci, juga tidak ada orang lain selain dirinya, sebab sejauh ini, ia belum sempat mencari pekerja?


Rara mencari-cari barang yang bisa ia gunakan untuk melakukan perlindungan diri. Sialnya tidak ada yang bisa ia gunakan kecuali vas bunga di meja keluarga. Jadi, ia mengambil vas itu dan membuatnya semakin menjauhi area dapur.


Berbekal vas bunga, Rara berjalan mengendap-endap menuji dapurnya. Dan betapa kagetnya wanita itu ketika Kimo menjadi sosok yang ada di depan wastafel dan sedang mencuci wajan.


Tak berselang lama, Kimo menoleh ke arah Rara. Hal tersebut membuat Rara buru-buru menyembunyikan vas bunga hang awalnya akan ia gunakan untuk melindungi diri, ke belakang punggung menggunakan kedua tangan.


Kimo mengulas senyum sambil meniriskan wajannya ke rak piring yang posisinya di sebelah wastafel. “Selamat pagi? Selamat pagi, baby?”


Kimo tak hanya menyapa Rara. Melainkan perut wanita itu dan Rara yakin, Kimo sedang menyapa anak mereka.


Tak mau berlarut-larut untuk masalah itu apalagi mereka sudah sepakat untuk bercerai, Rara yang sempat menunduk, menatap perutnya pun segera menatap Kimo sambil berkata, “kenapa kamu di sini?”


“Aku enggak punya tujuan. Enggak punya kerjaan juga. Jadi, berhubung di sini juga belum ada yang kerja sekalian jagain kamu, boleh, kan, aku jadi asisten kamu? Jadi aisten rumah tangga juga enggak apa-apa,” ucap Kimo dengan santainya, memasang ekapresi tak berdosa. Pernyataan yang sukses membuat Rara kehilangan ekspresi.


Rara benar-benar tak percaya dengan permintaan Kimo. Calon mantan suaminya, melamar menjadi asisten bahkan asisten rumah tangganya?


“Aku pinter masak, loh. Kamu juga tahu itu, kan? Urusan beres-beres, aku juga pinter! Lihat, lantai rumah sudah mengkilap, kan? Itu karena aku! Aku bangun pagi-pagi dan mengerjakan semua pekerjaan rumah!”


Semakin Kimo meyakinkan, semakin bingung juga Rara dibuatnya. Apa tujuan Kimo yang justru menjadi terkesan selalu ingin dekat dengan Rara?


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2