
Apa kabar semuanya? Terima kasih banyak atas dukungan kalian terhadap cerita ini. Dan maaf jika karya ini masih banyak kekurangannya. Buat yang kurang berkenan dengan ceritanya, budayakan menjadi orang yang lebih pintar. Cukup jangan baca tanpa meninggalkan jejak kasar. Entah itu komentar jahat, atau malah kasih rating buruk.
Oke, deh. Selamat membaca dan tetap dukung ceritanya, ya! Ditunggu like dan komen kalian~~
***
“Apakah semuanya benar-benar sudah terlambat?”
Bab 50 : Terlambat
Keinya keluar dari kamar mandi sambil menepuk-nepuk pelan pipinya penuh keceriaan. Keinya mengenakan piama kimino warna jingga senada dengan piama panjang yang Yuan kenakan. Dengan kepala yang masih terlilit handuk, berikut wajahnya yang terlihat segar sekaligus merona, Keinya menghampiri suaminya yang sedang duduk di ujung kasur sambil membaca surat kabar.
Keinya menghampiri sang suami dengan perasaan tak sabar saking antusiasnya.
“Pipinya jangan ditepuk-tepuk terus, Ma ….” Yuan mengatakan itu, tepat sebelum Keinya duduk menempel padanya.
“Yu, hari ini aku seneng banget!” sergah Keinya.
Yuan berangsur melipat surat kabarnya, dan meletakkannya di nakas sebelah. Dengan penuh kasih sayang berikut senyum hangat, ia menghadap sang istri, kemudian melepas lilitan handuk di kepala Keinya.
Sambil mengeringkan kepala Keinya, Yuan berkata, “kalau kamu jujur dari kemarin-kemarin, kamu juga sudah sebahagia ini, kan?”
Keinya mengerutkan kening berikut bibirnya. “M-maksudmu?” ucapnya yang kemudian menengadah demi menatap Yuan. Ia tidak mengerti mengenai apa yang sedang dimaksud suaminya itu.
Yuan tidak membalas tatapan Keinya. Lebih tepatnya, ia memang tidak menatap istrinya, karena ia telanjur fokus mengeringkan rambut hitam wanitanya itu. Sebab, ia tidak mau, Keinya sampai masuk angin hanya karena telat mengeringkan rambut.
“Tetangga sebelah,” ucap Yuan tanpa mengurangi fokusnya. Namun tak lama kemudian, ia pergi meninggalkan Keinya sambil membawa handuk yang tadi melilit kepala Keanitanya itu.
Yuan berjalan menuju area rias yang keberadaannya tidak lebih lima meter dari keberadaan Keinya. Pertama-tama, ia menyampirkan handuknya di tangan-tangan kursi rias. Kemudian ia membuka laci lemari meja rias dan mengambil hair drayer dari sana.
Sedangkan yang terjadi pada Keinya, ia yang masih menatap Yuan baru menyadari jika yang sedang dimaksud suaminya itu adalah Itzy.
“Seharusnya kamu mulai membiasakan diri,” ucap Yuan kemudian yang mulai melepas gulungan kabel hair drayer dan siap mencolokkannya pada stop kontak di belakang lampu meja sebelahnya. “Karena menjadi istriku, memang ujiannya begitu. Bahkan ke depannya bisa ada yang lebih parah. Hanya saja, sebisa mungkin aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”
Keinya tertunduk bak bocah yang sedang mendengarkan nasehat orang tuanya.
“Lagian kamu juga aneh. Siapa yang mengejar, siapa juga yang disalahkan? Aku bahkan enggak tahu apa-apa, tetapi kamu justru marahnya ke aku.” Yuan mulai menyalakan hair drayer-nya.
Keinya yang terdiam hanya melirik Yuan.
“Serius, enggak mau jawab?” lanjut Yuan kemudian yang mulai mengeringkan rambut Keinya.
__ADS_1
“Iya, maaf. Mulai sekarang aku janji, aku enggak bakal cemburu lagi karena aku yakin, kamu hanya mencintaiku ….” Keinya masih tertunduk. Merasa gengsi untuk mengakui kesalahannya. Terlebih, bersama Yuan yang selalu memanjakannya membuatnya bak ratu yang tidak pernah salah. Semua yang ia lakukan benar walau ia sadar, apa yang terjadi justru kebalikannya.
“Jadi selama ini, kamu belum percaya juga, kalau aku tulus hanya mencintaimu?” sindir Yuan.
“Ih … enggak gitu, Yu!” rajuk Keinya sambil menengadah.
“Mau jadi tante Kiara ke dua?” Yuan menatap Keinya tak habis pikir.
“Ih … amit-amit. Kamu ini, kalau ngomong!” keluh Keinya.
Yuan tak menjawab. Hanya saja, ia yang tersenyum jail justru mempercepat putaran hair dryer dan mengarahkannya pada Keinya.
Menyadari hal tersebut sengaja dilakukan, Keinya segera menjauh, memutari ranjang mereka yang megah dan luas, kemudian meraih sebuah bantal guling dan melemparkannya pada Yuan.
“Yuan Fahreza!” keluh Keinya kemudian setelah lemparan bantal gulingnya mengenai lengan suaminya.
Yuan mematikan hair dryer kemudian menyisikannya di nakas sebelahnya. “Kemarilah. Masih banyak yang ingin kamu ceritakan, kan?” ucap Yuan sambil mengendalikan tawanya.
Keinya mendengus sebal. Ia berangsur naik dan merangkak mendekati Yuan. Yuan yang langsung duduk kemudian menyelonjorkan kedua kakinya.
Yuan menepuk-nepuk pahanya, memberi Keinya kode agar istrinya itu duduk di pangkuannya. Hanya saja, Keinya lebih memilih untuk duduk di sebelah Yuan sambil menyandar ke dada pria itu.
Yuan mesem sambil menggeleng geli atas ulah istrinya. Ia yakin, setelah ini, istrinya itu akan membahas mengenai masalah yang menimpa Kimo dan Rara. Pertemuan keduanya bersama Kimi dan Franki yang begitu hangat di restoran milik Keinya. Juga, … mengenai kecelakaan yang menimpa Steffy.
***
Kiara yang masih mengurung diri dikamar, tiba-tiba saja terbangun.
Dengan tampilannya yang berantakan; rambut sebahu terurai awut-awutan, berikut mata sembam dan wajah pucat, Kiara yang juga terlihat lebih tua dari biasanya merasa sesak luar biasa. Dadanya terasa begitu sakit, sampai-sampai, ia yang berusaha bangun untuk meraih segelas air minum di nakas sebelahnya pun kesusahan. Belum lagi, karena menahan sakit yang luar biasa, tubuhnya juga sampai gemetaran. Bahkan karenanya, gelas berisi air minum yang isinya siap ia tenggak justru terjatuh dan berakhir pecah di lantai.
Kiara yang sempat menatap tak percaya apa yang terjadi pun menjadi ditawan cemas. “Pa … Mama haus, Pa ….”
“Kimi … tolong ambilkan minum, dada Mama sesak banget ….”
“Kimo … Kimo sayang? Sayang, tolong bantu Mama!”
Kendati Kiara sudah memanggil ketiga orang yang paling berharga dalam hidupnya, tetapi tidak ada satu pun yang datang bahkan sekadar menjawab. Suasana kamarnya tetap sepi dan remang-remang. Tak ada tanda-tanda akan ada orang yang datang meski sambil menahan sakit di dada, ia juga terus menatap penuh harap ke arah pintu. Pintu kamarnya tetap tertutup rapat hingga akhirnya ia terbatuk-batuk karena sudah tidak tahan.
Ketika Kiara memastikan telapak tangan yang digunakannya untuk menekap mulut dan ia yakini sampai menampung dahak, ia mendapati darah segar yang ternyata menjadi dahaknya.
Tak percaya dirinya sampai mengeluarkan darah, Kiara segera menarik dua helai tisu dari nakas untuk mengelap sekitar bibirnya yang basah dan diyakininya merupakan sisa dahak. Benar saja, warna merah terang masih menjadi yang Kiara dapatkan di tisu bekasnya mengelap. Kiara benar-benar tak percaya, sangat terpukul atas kenyataan yang juga membuat tubuhnya sampai lemas.
__ADS_1
Kiara sadar, dirinya sakit. Sakit parah. Dan sepinya kamarnya tanpa Franki, Kimi, apalagi Kimo, juga karena keegoisannya. Ia benar-benar sendiri karena tidak ada satu pun dari mereka yang akan peduli. Bahkan meski ia menyesali keputusannya dan menangis tiada henti layaknya kini.
“Apakah semuanya benar-benar sudah terlambat?” batin Kiara yang tak hentinya menangis, meratapi darah segar di telapak tangannya. Karena meski tidak sering, tetapi di setiap ia batuk, selain terasa sangat sakit dan sesak, ia juga kembali mengeluarkan darah segar.
***
Malam ini, Rara kembali tidak baik-baik saja. Wanita itu kembali tidak bisa tidur. Namun ketika malam sebelumnya Rara tidak bisa tidur karena memikirkan nasib keluarga Kimo, kali ini justru karena Rara teringat tanggapan Kimo yang langsung berubah drastis ketika mendengar Steffy kecelakaan dan terluka parah.
Kimo terlihat jelas mencemaskan keadaan Steffy. Hanya saja, karena menjaga perasaan Rara, Rara yakin Kimo pura-pura, baik-baik saja. Faktanya, malam ini saja, Kimo tak lagi datang ke kamar Rara, untuk menemani seperti malam sebelumnya.
Rara takut, Kimo yang tentunya masih memiliki rasa bahkan masih mencintai Steffy jika melihat keadaan pria itu yang amnesia, justru akan berubah bahkan meninggalkannya. Karenanya, sambil mendekap sebuah bantal guling, Rara meninggalkan kamarnya.
Rara memasuki kamar Kimo yang untung saja tidak dikunci. Setelah melongok dan memastikan keadaan kamar lebih dulu, Rara mendapati Kimo sudah terlelap dan berselimut rapat.
“Pasti sengaja tidur pulas biar besok bisa jaga Steffy!” cibir Rara sambil melangkah mendekati Kimo.
Rara menarik sebelah selimut Kimo kemudian meringkuk di sebelahnya. Selain itu, setelah menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang masih sama dengan selimut Kimo, Rara juga langsung mendekap sebelah lengan Kimo.
Rara tidak langsung tidur. Ia menatap wajah Kimo sesaat menyandarkan wajahnya di dada pria itu. “Awas saja kalau kamu berani mendekati wanita lain apalagi Steffy! Bahkan memikirkan wanita lain saja, aku enggak akan sudi!” batinnya yang kemudian mengguncang-guncang lengan Kimo. “Kimo, aku enggak bisa tidur lagi!” rajuknya.
Kimo mengulet dan berangsur membuka matanya. Ia menatap Rara sekilas, kemudian menggunakan tangannya yang masih bebas, untuk mengelus kepala wanitanya itu.
“Tidurlah, kamu harus tidur,” lirih Kimo sambil kembal memejamkan matanya dan terlihat sangat mengantuk.
Rara mendengus sebal. Semakin yakin, Kimo tak peduli lagi kepadanya. Hanya membujuknya untuk tidur sambil mengelus kepalanya saja tidak cukup.
“Aku lapar! Aku … aku mau bebek bakar! Sate kambing juga!” rengek Rara kemudian. “Aku benar-benar mau makan itu. Bebek bakar dan sate kambing!”
Karena Rara terus merengek, Kimo pun kembali bangun. Meski terlihat linglung, Kimo berusaha terjaga, tak hentinya memelototkan matanya dan menyimak setiap keluhan Rara.
“Kenapa Rara jadi sangat cerewet dan banyak mau?” batin Kimo terkantuk-kantuk. “Bebek bakar, sate kambing, salad buah, jus alpukat, kue moci, eskrim? Si Rara mau buka restoran apa bagaimana? Kenapa semuanya diminta?” Kimo masih berbicara dalam hati, mengingat semua permintaan Rara di memorinya yang sempat rusak akibat kecelakaan.
Bersambung ….
Wah, sebentar lagi novel ini tamat. Enggak kerasa, ya? Bagaimana pendapat kalian? Terharu, lho, Author pas ada yang bilang, novel ini jangan tamat dulu. Huhuhu.
Eh, ngomong-ngomong, kalian mau baca cerita Author yang judulnya “Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh)” enggak? Sudah banyak yang nangisin minta cerita itu dilanjut, tapi karena belum banyak pembacanya, Author masih butuh banyak pembaca dan like berikut komentar. Dibantu, ya … biar naskah itu ada harapan.
Oke, deh … kita ketemu lagi besok.
Salam sayang,
__ADS_1
ROSITI.