
“Bagaimana mungkin aku tidak semakin mencintaimu, sedangkan kamu saja selalu berusaha memberikan yang sempurna untukku?”
Bab 93 : Pernikahan Kainya dan Steven
Tak terasa, lima bulan telah berlalu. Semua kisah baik romansa maupun pilu, perlahan-lahan menjadi kepingan puzzel yang menghuni masa lalu. Semuanya benar-benar tersusun rapi menjadi satu, menciptakan pembelajaran sekaligus keindahan tersendiri.
Kini, di sepanjang nuansa putih yang di beberapa bagiannya sampai dihiasi hamparan cermin, dengan perutnya yang semakin besar, Keinya menatap takjub semua itu. Dekorasi pernikah yang begitu mewah, dilengkapi deretan bingkai berisi kebersamaan romantis Kainya dan Steven. Ya, ... hari ini adalah hari bahagia keduanya. Hari yang telah ditunggu-tunggu sejak lama. Karena akhirnya, Kainya mau sekaligus mempercayakan hatinya kepada seorang pria.
Pria beruntung itu adalah Steven. Steven ... pria idaman yang hanya mencintai Kainya. Pria penyabar yang mencintai Kainya dengan sempurna. Layaknya apa yang Yuan lakukan kepada Keinya. Juga, ... Kimo kepada Rara. Dan setelahnya, Keinya juga berharap ada cinta sempurna dari pasangan lain. Bahkan meski sebelumnya pasangan-pasangan itu terjebak dalam luka bahkan trauma. Karena cinta dan luka akan menjadi seimbang ketika kesempatan juga ada di dalamnya.
Keinya mengalaminya sendiri. Berikut orang-orang yang telah mendapatkan kesempurnaan dalam cinta. Dari Keinya yang baru bisa menemukan cinta Yuan selepas perceraiannya dari Athan, juga Rara yang menemukan Kimo selepas perceraian misterius yang menimpa orang tua Rara.
“Apakah kamu juga ingin pesta yang lebih besar?”
Suara lembut Yuan berhasil membuat aliran darah Keinya menjadi hangat. Suara itu berasal dari belakang dan hal tersebut pula yang membuat Keinya buru-buru menoleh sekaligus balik badan. Yuan di sana. Jarak mereka tak kurang dari tiga meter. Dan seperti biasa, pria itu menatapnya penuh cinta di antara senyum tipis yang membuat hati Keinya menjadi semakin hangat.
Yuan yang sempat berhenti melangkah dengan fokus pandang hanya teruju pada wajah cantik istrinya, berangsur melanjutkan langkahnya. Kedua tangannya yang awalnya tersimpan dalam saku sisi celana panjang berwarna hitam layaknya jas yang mempertegas tubuh bidangnya, berangsur terulur dan siap mendekap Keinya yang juga melangkah perlahan menghampirinya.
Di lorong itu hanya ada mereka berdua. Sedangkan di depan sana, di antara hamparan panggung pelaminan bernuansa putih yang luas dilengkapi lampu kristal besar di atasnya, Steven dan Kainya berikut orang tua keduanya, sedang geladi bersih untuk acara yang akan digelar satu jam lagi.
Sebenarnya, Keinya dan Yuan juga harus mengikuti latihan lantaran biar bagaimanapun, Keinya bagian dari keluarga Kainya dan nantinya akan turut naik panggung bergiliran layaknya tuntunan pembawa acara. Namun, sepertinya keduanya baru akan bergabung beberapa saat lagi lantaran Yuan yakin, istrinya lebih membutuhkan waktunya untuk mendengarkan setiap cerita yang akan wanita itu sampaikan.
Yuan mendekap hangat tubuh Keiny dan turut dibalas pula oleh Keinya. Mereka masih berpelukan dengan isak tangis bahagia yang terdengar dari Keinya.
“Melihatmu hanya sebatas bagian tubuh atas, aku seperti melihat seorang remaja. Tapi pas turun, ... oh, itu istriku,” ucap Yuan yang sengaja menggoda.
Keinya yang tersipu berangsur menyudahi pelukan mereka. Keinya sibuk menyeka air matanya dengan hati-hati lantaran takut, rias di wajahnya menjadi berantakan. Menyadari hal tersebut, Yuan juga turut membantu dan sampai mengeluarkan sapu tangan dari saku dalam jasnya, untuk mengelapnya.
Mengenakan halter dress tak berlengan warna pech, sedangkan untuk susunan rambutnya disanggul elegan, Keinya memang tak hanya terlihat semakin segar, melainkan menawan. Terlebih, meski sudah memasuki kehamilan bulan ke tujuh, berkat rutinitas olahraganya, tubuh Keinya masih sangat terjaga dan memang hanya perutnya saja yang membesar.
“Kira-kira, ... Athan, ikut naik panggung?” tanya Yuan sambil mengerutkan dahi dan memang penasaran.
Mendengar pernyataan tersebut, Keinya tak kuasa mengendalikan tawanya lantaran baginya, hubungan Athan dan Kimi terbilang lucu. Tak menyangka saja, wanita polos seperti Kimi, justru berakhir pada Athan yang dulunya sempat dibutakan cinta Tiara. Namun kalau dipikir-pikir, sebenarnya Athan juga korban cinta buta. Dan jika ditaya kenapa Kimi sampai mau menerima Athan, mungkin karena Kimi juga menemukan sisi baik dari Athan. Bahkan kendati hubungan resmi keduanya yang baru berjalan selama dua minggu terakhir, sempat ditentang keras oleh Kimo.
Sambil menuntun Keinya untuk menoleh ke belakang, sumber kedatangan tamu dan di sana ada Athan yang mengenakan setelan jas hitam mengemban Pelangi dengan sebelah tangan, sedangkan sebelah tangannya lagi menggandeng Kimi, Yuan berkata, “hubungan mereka, ... sebatas apa, sih? Hanya pacaran, apa ...? Bukankah, mereka jauh lebih terlihat sebagai keluarga kecil bahagia, ketimbang kita?”
Yuan masih sibuk menggoda. Dan lagi-laagi sukses membuat Keinya terjebak dalam gelak-tawa. Keinya bahkan sampai menggunakan kedua tangannya untuk menutup di depan mulutnya demi meredam tawa tanpa mengusik polesan lipstik berwarna peach.
Tak beda dengan Keinya dan Yuan, Kimi dan Athan juga mengenakan nuansa pakaian yang sama, sesuai warna yang sudah ditentukan untuk konsep pernikahan Steven dan Kainya. Athan mengenakan setelan jas hitam, sedangkan Kimi mengenakan gaun panjang tak berlengan warna peach, dengan rambut panjang indah Kimi yang digerai ke belakang.
Yuan yang masih merangkul mesra pinggang Keinya segera menatap Pelangi penuh cinta. “Ngingi masih betah sama Yayah?”
Pelangi mengangguk-angguk, meski tak lama kemudian, bocah itu justru mengulurkan kedua tangannya kepada Yuan dan bertanda meminta gendong kepada Yuan.
“Kalau enggak ada Kimi, mana mungkin mau lama-lama,” cibir Keinya dan sukses membua Kimi tersipu.
Athan memberikan Pelangi kepada Yuan dan diaambut hangat oleh Yuan. Dan tak beda dengan Kimi dan Keinya, Pelangi juga mengenakan gaun panjang warna peach dengan gaya yang sama dengan Keinya.
“Kalian belum masuk untuk latihan?” ujar Kimi sambil mengarahkan tas tangannya ke arah lorong pintu masuk menuju panggung yang disertai hamparan karpet merah.
__ADS_1
“Sebentar lagi. Kalian dulu saja,” balas Keinya sambil tersenyum ramah.
Tak lama setelah menjawab, Keinya mendapati ponsel yang tersimpan dalam tas tangannya berdering. Dering telepon masuk dan membuatnya segera memastikannya.
Yuan, Kimi, berikut Athan yang masih di sana, menatap penasaran perihal kelanjutan yang akan terjadi mengingat telepon masuk tersebut dari Rara.
“Iya, Ra ... ada apa?”
“Aduh, Kei ... aku sudah kontraksi. Sudah pembukaan pertama, jadi aku dan Kimo sepakat buat fokus ke persalinan. Tolong sampaikab permintaan maafku pada Kainya dan Steven, ya ...,” jawab Rara dari seberang dan terdengar menahan sakit luar biasa.
“Wah ... benarkah? Sudah pembukaan pertama? Ahhh, semangat, ya! Aku seneng banget dengarnya. Ini, Yuan, Athan, sama Kimi juga ikut seneng!” balas Keinya antusias dan sampai berkaca-kaca saking bahagianya.
Tak beda dengan Keinya, Kimi yang terlihat begitu girang juga mrnjadi berkaca-kaca.
“Duh ... kalian tahu? Aku kayak orang gila, jalan mondar-mandir di depan rumah sakit demi menambah pembukaan!” keluh Rara dari seberang.
Lanjutan Rara sukses membuat keempat orang dewasa di sana menahan tawa.
“Kimo, ada, kan?” tanya Keinya di sela tawa yang masih susah payah ditahan.
“Wajib! Ini. Dia yang bantu aku jalan. Aku dituntun ke sana-kemari kayak orang jompo, tahu!” balas Rara maaih mengeluh dan terdengar menahan sakit.
“Sudah ... enggak usah mikir macam-macam. Yang penting semuanya sehat, lancar ... ayo semangat!” terdengar suara Kimo yang berusaha menenangkan.
“Tapi sakit banget, Kimo!” rengek Rara dan terdengar nyaris menangis.
Mendengar itu, Yuan jadi mencemaskan Keinya. Jika melahirkan begitu mengerikan karena menahan sakit yang luar biasa, rasanya, ... tak tega membiarkan Keinya merasakan lebih dari sekali. Namun, jika itu yang terjadi, dengan kata lain, cita-citanya memiliki banyak anak dari Keinya, juga harus pupus?
Keinya menatap bingung Yuan yang terlihat menjadi sangat mencemaskannya. Suaminya itu tak sebatas mengelus perut Keinya, melainkan memikirkan kemungkinan buruk bahkan beban. Apakah Yuan terbawa suasana proses persalinan Rara?
Keinya tersenyum lepas demi meyakinkan Yuan sebelum akhirnya menyemangati Rara. “Semangat, Ra ... sakitnya bakalan langsung hilang, kalau kamu lihat si kembar, kok!”
Mendengar kata-kata semangat dari Keinya, Kimi dan Athan saling lirik dan tampak kikuk. Sedangkan yang terjadi pada Yuan, Tuan Besar itu benar-benar tidak bisa mengakhiri kecemasan berikut ketakutannya perihal sakitnya dalam melahirkan.
Mengingat waktu yang sudah tidak memungkinkan untuk diulur lagi, Keinya segera mengajak Yuan untuk masuk mengikuti sesi latihan geladi bersih. Membuat mereka berpisah dengan Kimi dan Athan yang mempersilahkan mereka untuk pergi lebih dulu.
“Siapa yang mau melahirkan, siapa yang ketakutan?” ujar Keinya sengaja menyindir Yuan.
Mereka berjalan menuju batas gelaran karpet merah dengan Pelangi yang tiba-tiba turun dan hanya mau sebatas digandeng oleh Yuan.
“Melahirkan itu memang sakit. Sakit banget! Bahkan saking sakitnya, bagi wanita yang menjalani persalinan, semua yang ada saat proses melahirkan itu salah! Tapi percayalah, semua itu hanya bagian dari proses karena setelahnya, setelah anak lahir dan kita melihatnya, semua rasa sakit itu benar-benar berkurang bahkan terkadang hilang.” Keinya menjelaskannya seiring mereka yang menjalani geladi bersi menaiki panggung menuju pelaminan.
“Itu juga yang membuat wanita yang akan menjalani persalinan, membutuhkan dukungan berkalilipat lebih besar. Dan kamu enggak usah separno itu. Karena asal ada kamu, aku pasti bisa melewati semuanya, meski awalnya mungkin enggak mudah.” Keinya masih meyakinkan Yuan.
Yuan menjadi menatap sangat dalam Keinya. “Bagaimana mungkin aku tidak semakin mencintaimu, sedangkan kamu saja selalu berusaha memberikan yang sempurna untukku?” batinnya. “Makasih, ya! Kita sama-sama berjuang!” ucapnya dengan mata yang sampai berkaca-kaca kendati senyuman tengah meliputinya.
Meski di tengah-tengah altar menuju pelaminan dan sedang menjalani sesi latihan di mana anggota keluarga berikut kru yang bertugas ada di sana, Yuan tak malu menuangkan rasa sayangnya kepada Keinya di depan mereka semua. Menatap dalam Keinya penuh cinta dengan sebelah tangan mengelus perut wanita tersebut sementara sebelahnya lagi menggandeng Pelangi, mungkin hal biasa. Sebab Yuan juga sampai mencium dalam kening istrinya di depan mereka semua, sesaat setelah langkah mereka berhenti.
Daniel yang kebetulan ada di sana, sengaja bertepuk tangan mendukung keromantisan Yuan dan Keinya. Membuat semua yang awalnya hanya berdecak kagum, iri, atau bahkan tersipu dalam menyaksikannya, melakukan hal serupa. Keinya yang mendapatkannya menjadi tersipu dan tampak malu-malu sambil tersenyum pada setiap orang yang ada di sana, menjadikannya fokus perhatian. Bahkan Philips dan Khatrin yang baru duduk di tepi altar setelah sesi latihan, sampai berdiri sambil mengacungkan kedua jempol tangan mereka kepada Yuan dan Keinya.
__ADS_1
“Kalau begini caranya, kita bisa merebut panggung pengantinnya, Yu,” bisik Keinya yang masih tersipu dan mati-matian menepis rasa malu karena menjadi pusat perhatian.
Yuan tersipi dan nyaris tertawa mendengar pengakuan Keinya sambil memasang senyum seramah mungkin membalas semua orang di sana.
“Keren, Sayang!” teriak Khtarin yang sampai berkaca-kaca melihatnya.
“Yu! Ayo kita turun!” pinta Keinya semakin sulit mengendalikan diri lantaran terus saja menjadi pusat perhatian. Padahal, Pelangi yang ada di tengah-tengahnya dan Yuan sampai sangat girang karena semua orang bertepuk tangan.
“Kayaknya, aku juga harus kayak Kak Yuan, deh ... biar bisa jadi pria impian!” batin Daniel yang berangsur mengakhiri tepuk tangannya kendati senyum lepas yang menghiasi wajah tampannya, belum benar-benar usai.
***
Di ruang rias, Kainya dibuat tegang tak karuan sambil sesekali menatap bayangan dirinya di cermin yang ada di hadapannya. Mengenakan gaun putih bergaya modern internasional berekor panjang sekitar lima meter, ia benar-benar terlihat memukau. Pun dengan rias tipis yang menyertai sedangkan rambut indah yang kerap digerai, kini disanggul modern dilengkapi sebuah mahkota kecil warna silver di atasnya.
“Semangat, Kai! Jangan gugup! Ini hari bahagiamu!” Kainya menatap dalam pantulan bayangannya di cermin, kembali menyemangati dirinya sendiri untuk ke sekian kalinya. Hingga akhirnya pintu ruang keberadaannya terbuka, sedangkan Daniel, Khatrin, berikut Philips, ada di depan sana dan berangsur mendekatinya.
“Sebelum digandeng Steven atau Papi, biar aku yang menggandeng Kakak. Aku akan mengantar Kakak pada Steven.” Meski Daniel mengatakan ingin menggandeng, tetapi pada kenyataannya, ia mengukurkan kedua tangannya dan justru berangsur mendekap Kainya.
Kenyataan tersebut sukses membuat hati Kainya terbesit seiring air mata bahagianya yang turut berlinang. Kainya yang balas mendekap erat Daniel sangat berharap, kebahagiaan juga akan segera menyertai adiknya itu. Semoga, Daniel juga menemukan wanita terbaik yang mampu membuat hidup Daniel menjadi lebih baik. Mengikuti jejaknya dan juga Keinya.
***
Lagu Beautiful In Withe yang dipopulerkan oleh Westlife mengiringi langkah Steven dan Kainya menuju altar pelaminan. Keduanya terus bergandengan erat sambil sesekali bertukar pandang kendati rona tegang sangat sulit mereka tinggalkan. Bertabur kelopak mawar putih yang tiba-tiba menghujani, kebahagiaan raja dan ratu sehari tersebut semakin sempurna. Kainya terperangah takjub menikmati hujan kelopak mawar putih yang mengiringi langkahnya dan Steven. Ya, ... Steven. Pria tampan yang mengenakan setelan jas putih senada dengannnya dan beberapa menit lalu telah resmi menjadi suaminya. Juga, ... pria tanggung jawab yang telah berhasil membuatnya percaya, bahwa di dunia ini benar-benar ada pria yang tulus mencintainya.
Steven ... pria yang mencintai Kainya dengan sempurna. Juga, pria yang selalu membuat Kainya merasa sempurna dan kali ini menghujani Kainya dengan tatapan penuh cinta.
Sedangkan bagi Steven, Kainya merupakan wanita paling sempurna untuknya. Satu-satunya wanita yang mampu membuat hidupnya menjadi sempurna. Itu kenapa, Steven terus berjuang mendapatkannya. Dan kini, setelah janji suci pernikahan telah menyatukan mereka, Steven benar-benar akan membuat waktu mereka menjadi sempurna.
Di kursi undangan, tampak Ben dan Itzy yang begitu semringah bertepuk tangan. Mengenakan setelan warna biru dongker, keduanya tampak sangat serasi.
“Kak Ben! Nanti ikut rebutan buket pengantin, ya!” pinta Itzy antusias sambil menatap Ben penuh cinta layaknya biasa.
“Tanpa merebut buket, dua bulan lagi kita juga akan menikah. Biarkan buket itu untuk Gio atau Athan saja,” balas Ben santai.
Dengan keadaan yang masih diselimuti kebahagiaan, kedua mata Itzy langsung bekerja. “Kak Athan kan sama Kimi. Nah, Kak Gio sama Yura? Itu beneran apa pura-pura?”
Ben menghela napas dalam. Menatap sekilas kebersamaan Gio yang kali ini berdiri bersebelahan dengan Yura. Tak beda dengannya dan Itzy, keduanya yang memang satu meja juga bertepuk tangan untuk kebahagiaan Kainya dan Steven. Di sudut kanan paling depan, Gio dan Yura yang masih belum bisa dipastikan statusnya, berada.
Bersambung .....
Alhamdullilah ☺️😆
Yang belum, semoga disegerakan, yaa.
Tiga episode lagi TAMAT.
Terus ikuti dan dujung ceritanya!
Salam sayang,
__ADS_1
Rositi.