Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 100 : Titik Terang


__ADS_3

“Kamu masih sangat cinta sama aku, tapi kamu gengsi!”


Bab 100 : Titik Terang


Hujan tiba-tiba mengguyur, kendati mendung belum sepenuhnya menguasai langit. Masih ada secercah cahaya mentari yang bersembunyi, di antara gumpalan awan putih. Jadi, beberapa murid yang awalnya akan meninggalkan sekolah menuju jemputan masing-masing di luar gerbang sana, juga mendadak urung dan buru-buru mundur untuk berteduh.


Kenyataan tersebut pula yang membuat Elena buru-buru mengeluarkan ponselnya dan berniat menghubungi sopirnya untuk membawakan payung. Dan tanpa menunggu lama, sopir Elena datang membawa dua payung. Satu payung untuknya sendiri, satu payung, dipayungkan kepada Elena. Hanya saja, Elena yang sadar sang sopir keteteran, memilih mengambil alih dan berpayungan sendiri.


Sementara itu, dari arah kedatangan, Arkan yang sudah ada di dekat sekolah Elena, dan merupakan sekolah Elia juga, menjadi bernapas lega lantaran pemuda itu langsung melihat keberadaan Elena yang baru keluar melewati gerbang sekolah.


“Akhirnya. Yang ditunggu-tunggu tiba juga.” Arkan sengaja menepikan mobilnya mendekati Elena yang sepertinya sampai akan menyeberang. Hanya saja, tak lama setelah Arkan membuka pintu, pemuda itu baru membentangkan payung sebelum ke luar, sebuah mobil justru sudah lebih dulu menepi di hadapan Elena.


Arkan mengenali mobil itu sebagai mobil Atala. Dan sialnya, pengemudi juga masih Atala, di mana kenyataan tersebut sukses membuat Arkan semakin murka sekaligus jijik, kepada Atala dan Elena.


“Tuh orang enggak tahu malu banget, sih? Enggak tahu diri! Enggak mikir apa, Irene sedang hamil?!” rutuk Arkan yang sampai menghantam setir di hadapannya.


“Cepat masuk. Aku antar kamu pulang!” seru Atala dari dalam mobilnya dan sampai menurunkan kaca jendela di hadapan Elena.


Kehadiran Atala langsung membuat Elena bingung. Tentu, Elena langsung menolak. Apalagi, Elena belum siap bertemu Atala tanpa bantuan Elia yang akan menjadi penengah hubungannya dan Atala. Namun, karena Atala langsung turun dan mencegat Elena hingga tubuh pria itu terguyur hujan, Elena jadi tidak tega.


“Aku antar kamu sampai rumah. Nanti sopirmu biar di belakang mobil kita!” tahan Atala yang sampai menahan sebelah tangan Elena.


Elena berangsur berjinjit agar ia bisa memayungi Atala. Di mana tak lama setelah itu, Atala langsung mendengkus sebal kepada gadis di hadapannya.


“Kamu masih sangat cinta sama aku, tapi kamu gengsi!” keluh Atala yang kemudian mengambil alih payung Elena, disusul merangkul pinggang gadis itu agar merapat kepadanya.


“Pak ... ikuti di belakang, ya. Takutnya Elena enggak mau kalau Bapak enggak ikut. Tapi sebelum pulang, kita makan dulu!” Atala sengaja berseru lantaran hujan semakin mengguyur dengan deras, hingga suaranya luruh menyatu dengan guyuran hujan.


Atala menuntun Elena untuk masuk ke dalam mobilnya sesaat setelah ia sampai membukakan pintu penumpang sebelah kemudi. Ketika Atala baru saja menutup pintu keberadaan Elena, tepat di depan mobilnya, Arkan berdiri dan menatapnya dengan banyak kebencian.


“Kita harus bicara!” tegas Arkan.


Atala mengangguk. “Baiklah. Tapi jangan sekarang. Aku sedang ada urusan.” Karena pada kenyataannya, Atala ingin menghabuskan quality time dengan Elena, meski hanya dalam kebersamaan singkat.


“Bahkan aku juga punya urusan dengan dia!” tegas Arkan sembari menunjuk Elena dengan dagunya.


Di dalam mobil, Elena yang mengenali Arkan sebagai pemuda yang ia jumpai di apartemen Atala, yakin, pemuda itu baru saja menunjuknya melalui dagu. Hanya saja, yang membuat Elena bingung, sosok Arkan yang terlihat sangat marah, juga melibatkan Elena di dalamnya.


“Apa maksudmu?” Atala menyikapi Arkan dengan serius. Ia menatap pemuda di hadapannya sambil mengernyit.


“Memangnya, semuanya kurang jelas?!” umpat Arkan sesaat setelah sampai menghela napas cepat.


Atala semakin tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya Arkan maksud. Jadi, daripada menunggu lebih lama dan membuatnya membuang-buang waktu, ia pun meminta Atala untuk ikut serta dengannya.


“Yang benar saja, si Atala minta aku gabung bareng dia dan Elena? Dia beneran mau poligami apa bagaimana?” pikir Arkan.


Demi mendapatkan kejelasan dan menyelesaikan semuanya, Arkan memutuskan untuk mengikuti ajakan Atala.


“Itu tadi siapa, sih?” tanya Elena tak lama setelah Atala masuk dan bersiap mengemudi.


“Adiknya Irene.” Atala menjawab tanpa menatap yang bersangkutan.


“Dia kelihatan marah banget,” lanjut Elena.


Atala yang baru saja menyalakan mesin mobilnya, menjadi menatap Elena. “Jangan dipikirkan.”


Elena yang menjadi mengerutkan dahi pun yakin, Arkan memiliki alasan kuat, kenapa pemuda itu begitu marah bahkan kepadanya. “Kayaknya dia mikir, hubungan kita telah melukai Irene?”

__ADS_1


Elena sengaja menoleh dan menatap Atala demi mendapatkan kepastian dari pria itu, perihal anggapannya.


Bukannya menjawab, Atala justru menepis tatapan Elena dan mulai mengemudi.


“Hidup ini pilihan, At. Dan kamu harus memilih. Kamu enggak boleh egois. Karena jika kamu tetap memaksa, yang ada, apa yang kamu lakukan justru melukai semuanya bahkan dirimu sendiri.” Elena berharap Atala membalasnya. Namun, pria itu tidak memberinya kejelasan.


“Aku tahu niatmu baik. Tapi maaf, aku enggak bisa kalau harus berbagi kamu, apalagi kalau sampai jadi nomer sekian, dalam hidup kamu. Sesederhana itu aku menjalin hubungan.”


Sampai detik ini, Atala masih bungkam mengabaikan Elena.


“Aku enggak mau gegabah apalagi mengenai hubungan yang dampaknya bisa sampai masa depan,” lanjut Elena.


“Jadi, kamu maunya bagaimana?” saut Atala yang sesekali menatap serius Elena.


“Aku mau fokus sama pendidikanku dulu. Fokus belajar. Berkarier ....” Elena sengaja menepis tatapan Atala.


“Bukan itu, tapi mengenai hubungan kita. Maumu bagaimana?” balas Atala semakin menyikapi keadaan dengan serius.


“Seperti tadi. Kamu harus memilih.” Elena masih belum berani menatap Atala. Antara takut Atala marah, juga karena Elena takut Atala justru memilih Irene. Namun jika memikirkan nasib Irene, sebenarnya wanita itu juga kasihan bahkan sangat kasihan. Bahkan karena itu juga, tiba-tiba saja, Elena juga sampai berpikir, lebih baik Atala memilih Irene saja.


“Ya sudah,” ujar Atala yang sampai menghela napas pelan.


Elena yakin, Atala baru saja mengambil keputusan dan siap untuk disampaikan. “Enggak usah, At. Lebih baik kamu sama Irene saja. Kita berteman saja.”


Pernyataan Elena membuat kerut di dahi Atala semakin bertambah. Atala bahkan sampai menoleh dan menatap tajam Elena.


Meski awalnya menunduk lantaran takut pada reaksi Atala, tapi Elena berusaha berpikir bijak. Itu juga yang membuatnya memberanikan diri untuk menatap Atala bersamaan dengan rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.


“Seperti yang kamu pikirkan, ... Irene sangat membutuhkan dukungan. Dia bahkan sudah dikucilkan oleh orang tua berikut keluarganya. Sederhananya, Irene tidak punya siapa-siapa lagi. Jadi, tidak ada alasan kenapa kita harus tidak peduli kepadanya? Bukankah kamu yang memintaku untuk berpikir seperti ini? Aku pikir, anggapanmu memang benar.”


“Len ....”


“Tapi aku enggak bisa kalau tanpa kamu, Len!”


“Kalau kamu tetap maksain aku buat bertahan, itu namanya egois, At!” Elena menghela napas dalam.


“Ya sudah, aku milih kamu!” tegas Atala kemudian.


Dirasa Elena, dirinya baru saja menjadi manusia paling jahat karena ia telah membuat Irene benar-benar sendiri.


“Aku pilih kamu. Serius!” tegas Atala lagi.


Meski awalnya sangat berharap bersama Atala, tapi, kenapa kini Elia justru seperti harus menelan buah simalakama?


Elena masih menatap sedih Atala.


“Aku benar-benar milih kamu. Aku enggak akan urus Irene lagi. Aku akan meminta orang lain untuk melakukannya. Kamu benar-benar jadi nomor satu. Tapi tolong, nantinya, izinkan aku mengurus anak Irene, biar dia enggak merasa berjuang sendiri!”


Tak hanya Atala yang berkaca-kaca, karena Elena juga sudah sampai menangis.


“Tapi, At ....”


“Sudah, Len ... itu keputusan yang terbaik!”


Kembali, Elena bingung sendiri. Harusnya ia bahagia dengan keputusan yang baru Atala tegaskan? Atau, Elena harus mengakui dirinya egois?


“Aku egois, ya?” tanya Elena kemudian.

__ADS_1


“Jangan mikir macam-macam!”


“Tapi, At ....”


“Len. Kamu enggak salah. Karena aku sendiri juga enggak mau kalau kamu jadikan nomer sekian. Aku maunya selalu jadi yang terpenting buat kamu!”


Elena seperti tersesat di dunia lain. Akan tetapi, ia tak mungkin meminta Atala mengubah keputusannya, apalagi ia yakin Atala sudah berusaha melakukan yang terbaik.


***


Mereka mengunjungi restoran Italia. Atala langsung membukakan pintu untuk Elena di tengah kenyataannya yang masih mengenakan payung, lantaran hujan masih mengguyur. Dan tak lama setelah mobil Atala menepi di tempat parkir, mobil sopir Elena, berikut Arkan juga menepi.


Sungguh, kebersamaan Elena dan Atala yang tetap mengumbar kemesraan, Atala yang tak segan memperlakulan Elena penuh perhatian, membuat Arkan semakin geram. Arkan bahkan menjadi tidak sudi jika Irene tetap memilih bersama Atala.


Elena dan Atala belum sampai masuk restoran, tapi Arkan sudah berseru. Keduanya kompak balik badan demi menatap sekaligus memastikan Arkan.


“Serius, ya, At! Aku enggak sudi, kalau Irene tetap milih kamu!” tegas Arkan.


Elena dan Atala kompak mengerutkan dahi. Akan tetapi, keduanya langsung paham, ke mana arah pembicaraan Arkan.


“Maaf, ya, Ar. Aku harus mengoreksi agar kamu tidak terus-menerus berburuk sangka kepada kami.” Elena angkat suara.


Arkan siap menyimak, tak ubahnya Atala yang membebaskan Elena buka suara.


“Aku dan Atala memang berpacaran. Sedangkan Atala dan Irene hanya teman. Selebihnya, anak yang dikandung Irene tentu bukan anak Atala. Atala mengakui anak itu sebagai anaknya, karena Atala peduli kepada kakakmu. Sedangkan mengenai ayah biologis dari anak yang sedang kakakmu kandung, semuanya sudah diurus oleh polisi.”


“Jadi, berhentilah berburuk sangka kepada kami, karena kami juga tidak mau berada di posisi serba salah seperti ini.”


Arkan bak dihujani bom atom detik ini juga. Jika melihat dari raut Elena, gadis itu sama sekali tidak terlihat berbohong. Namun, apakah Elena bisa dipercaya?


“Jika kamu masih ragu, kamu boleh menanyakannya kepada kakakmu, meski tentu, kenyataan tersebut sangat berisiko akan semakin melukai kakakmu. Lihat saja, apakah kakakmu melarang aku dan Atala tetap berhubungan? Tidak, kan?” Elena masih menatap serius Arkan. “Aku bersyukur karena kamu belum sampai melakukan hal nekat, apalagi sampai melukaiku hanya karena hubunganku dan Atala. Seenggaknya, kamu sudah ada niat untuk melukaiku, kan?”


Arkan refleks menjengit sesaat setelah sampai terkesiap, perihal pernyataan yang baru saja terlontar dari bibir Elena.


“Apakah kebencianku kepadanya terlihat begitu jelas?” pikir Arkan.


“Apa lagi yang ingin kamu ketahui?” tanya Atala kemudian yang akhirnya angkat bicara.


“Aku benar-benar ingin mengetahui kebenaran.” Arkan menatap serius Atala.


Atala menghela napas pelan dan kemudian melakukan gerakan wajah, agar Arkan masuk ke dalam restoran. “Masuklah. Kita lanjutkan bahasan ini di dalam.”


Diam-diam, Elena menghela napas pelan seiring kelegaan yang gadis itu rasakan. “Apakah ini merupakan titik terang hubunganku dan Atala?” pikir Elena yang kembali mengikuti Atala.


Atala masih mendekap pinggang Elena dengan erat, sambil mengendalikan payung yang melindungi mereka dari terpaan hujan.


Di dalam, Atala menjelaskan semuanya. Benar-benar semuanya. Hingga kemarahan bahkan jengah membuat Arkan terpuruk detik itu juga.


“Kenapa papamu begitu brengsek?!” Arkan sampai mencengkeram kerah kemeja yang Atala kenakan.


Arkan bahkan nyaris mencekik Atala, andai saja Elena tidak menghantam tangan pria itu menggunakan buku menu berukuran besar, yang tersedia di meja.


“Jangan salahkan Atala! Kalau disuruh memilih, Atala pasti juga tidak mau dan tidak akan membiarkan semua itu terjadi! Kamu ini, masih saja sibuk menyalahkan!”


“Coba kamu katakan, apa yang akan kamu lakukan jika kamu ada di posisi Atala? Kita hanya korban. Jadi jangan terus-menerus menyalahkan. Jadikan saja ini pembelajaran agar di masa depan, kita bisa menjadi manusia lebih baik!” Elena benar-benar emosi kepada Arkan, kendati kemarahan Arkan terbilang lumrah.


Namun bagi Elena, hal terpenting sekarang bukanlah menyalahkan penyebab dari kesalahan fatal yang telah terjadi dan itu dilakukan oleh Anton. Karena baginya, tidak ada yang lebih penting dari menjadikan kesalahan tersebut sebagai pembelajaran, daripada terus meratapi tanpa melakukan perubahan menjadi lebih baik.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2