Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 89 : Masa Muda


__ADS_3

Di antara udara yang sejuk berikut suasana yang cukup hangat, Dean dan Kishi menelusuri koridor menuju kelas mereka. Kishi menahan kaitan kedua tas gendong yang menghiasi punggungnya, sedangkan Dean hanya menyampirkan sebelah sisi tas gendongnya pada pundak kanan.


“Hari ini Elia ikut olimpiade SAINS ....” Dean mengatakannya tanpa banyak perubahan ekspresi. Ekspresi tenang yang seolah sudah melekat dalam kepribadiannya.


Kishi yang langsung mengulas senyum, berangsur menoleh dan membuatnya menatap Dean. “Untung aku enggak ikut, ya? Kalau ikut, bisa lawan saudara sendiri.”


“Dalam kehidupan, siapa pun bisa menjadi lawan. Bahkan diri kita sendiri!” balas Dean yang menatap gadis di sebelahnya dengan penuh cinta. Ia sampai mengangguk dua kali demi membuat Kishi semakin percaya perihal anggapannya.


Kishi tersipu. “Iya ... lawan tersulit itu memang diri sendiri, apalagi kalau sudah ‘mager’!”


“Pengalaman ....” Dean sengaja menyindir Kishi di tengah kenyataannya yang sampai menahan senyum. 


“Enggak, sih. Cuma kebiasaan!” Kishi menimpali dan kemudian tertawa.


Dean yang berangsur menatapnya, hanya menggeleng geli. “Nah, lho ... tuh di depan sudah ada fans!” lanjutnya ketika mendapati Frendy ada di depan pintu kelas mereka.


Kishi menelan ludah pelan sambil menatap bingung Frendy yang kali ini membawa setangkai mawar putih berikut sebatang cokelat. “Enggak apa-apa, kalau dia ngefansnya sama aku. Daripada dia ngefansnya sama kamu, aku justru takut!”


Dean membenarkan posisi tas di pundak kanannya. “Iya. Aku juga takut kalau itu sampai terjadi. Ya sudahlah, biarkan ... toh, aku juga sudah capek cemburu ke dia. Buang-buang waktu dan tenaga saja.”


“Omong-omong mengenai fans—” Kishi segera menyambung obrolan. Ia menatap Dean yang masih menatap lurus ke depan, penuh harap.


Dean yang sengaja menghentikan langkah dan kemudian berangsur menoleh pada Kishi. “Apa?”


“Feaya ... semalam aku memimpikannya!”


Dean mengerutkan dahi sambil sedikit memiringkan kepalanya. “Kamu masih memikirkannya?”


“Itu bukan salahmu ... sudah jangan dipikirkan.” Dean meyakinkan.


Kishi segera menggeleng enteng, menyangkal anggapan kekasihnya. “Sama sekali enggak. Namun, berbeda dari biasanya, ... tadi malam dia tersenyum sambil melambaikan tangan kepadaku!”


“Feaya seperti melayangkan salam perpisahan!” lanjut Kishi masih antusias.


Keantusiasan Kishi membuat Dean tersenyum lantaran baginya, kekasihnya itu akan terlihat lucu bahkan menggemaskan, jika sudah seperti itu. Hanya saja, sejauh ini, Dean tahu Kishi memang memiliki kelebihan yang tidak semua orang memilikinya. Bukan sekadar kelebihan kecerdasan apalagi kelebihan omong dan berat badan, bukan. Namun, perihal Kishi yang merupakan seorang indigo. Di mana, Kishi tak hanya bisa melihat mahluk tak kasat mata, karena gadis itu juga bisa melihat masa depan.


“Ki ...?” panggil Dean kemudian yang sampai menatap serius Kishi.


Tentu, kenyataan tersebut membuat Kishi cukup tegang sebelum akhirnya menanggapi Dean dengan serius juga. Kishi melakukannya sambil menahan kaitan tasnya lebih erat ke depan. “Apa?”


“Kamu bisa lihat masa depan, kan?” Dean masih bersikap serius.


Kishi menjadi ragu, dan bahkan menepis tatapan Dean. Khisi berangsur menunduk lantaran takut, Dean tidak sependapat dengannya jika membahas mengenai dirinya yang memang seorang Indigo. “Kenapa? Bukan hal yang harus kuumbar sih. Cukup syukuri saja.”


Dean mengangguk-angguk santai, membenarkan cara pikir Kishi. “Akhir-akhir ini, aku juga bisa melihat masa depan. Jelas banget, malah!” ujarnya kemudian.


“Woah ...? Benarkah?” Kishi terkagum-kagum menanggapi Dean. Jadi, mereka sama-sama indigo? Pikirnya.

__ADS_1


“Iya ... tuh ....” Dean melakukan gerakan wajah dan menunjuk wajah Kishi.


“Hah ...?” Dan tiba-tiba saja, Kishi merasa jika otaknya mendadak jongkok. Baginya sulit untuk percaya, lantaran nyatanya, Dean hanya sedang merayu.


“Aku pikir, beneran!” protes Kishi yang sampai mengerucutkan bibirnya.


Dean menjadi tersenyum geli. “Ya iya ... kan masa depanku kamu. Bagaimana, sih?”


Namun kali ini, lanjutan Dean sukses membuat Kishi tersipu. Kishi mendongak hingga membuatnya kembali menatap Dean. Dean yang masih menatapnya dan kali ini sampai mengangguk-angguk.


“De ... aku sayang kamu!” seru Frendy dari depan dan sukses mengejutkan semuanya tanpa terkecuali Dean dan Kishi, yang awalnya sedang bertatapan mesra.


“Gila kamu! Yang benar saja!” bahkan Dean menjadi takut sendiri. Terlebih, Frendy sampai berjalan menghampirinya sambil menyodorkan sekuntum mawar putih yang sampai dihiasi pita warna merah hati, berikut sebatang cokelatnya.


“Terimalah, De!” rengek Frendy lagi dan sukses mencuri perhatian seisi kelas Dean.


Semua murid di kelas Dean langsung berbondong-bondong keluar untuk menonton.


“Ayolah, De ... terima ... aku sayang kamu. Aku kasih ini ke kamu, terus Kishi buat aku!” rengek Frendy lagi.


“Ih ... kirain apa. Sudah sana pergi!” omel Dean yang memperlakukan Frendy layaknya Zean.


Dean bergegas menggandeng sebelah tangan Kishi dan membawanya pergi dari Fendy. Dan lantaran Fendy nyaris menahan sebelah tangannya, Kishi buru-buru menoyor jidat pemuda itu.


“Kapan sih, dia kapoknya?” gerutu Dean sembari melalui murid di kelasnya yang berangsur menepi dan memberinya jalan.


“Hahaha ... aku pikir, kamu beneran gay, Frend. Saking depresinya kejar Kishi enggak kelar-kelar, seleramu juga jadi hambar!”


“Hahaha ... aku pikir juga gitu. Orang tadi, dia serius banget pas ngomong dan ngeyakinin Dean!”


“Jangan-jangan, memang bener, lagi, sebenarnya kamu gay ... dan ....”


“Kalian berani ngomong lagi, aku cium satu-satu!” ancam Frendy saking kesalnya menjadi bahan ledekan.


“Lagian, kan ... kamu yang mulai? Masa iya, kamu mau nyium kami semua? jontor-jontor, bibirmu!”


“Hahaha ....”


Namun sungguh, satu lawan puluhan akan tetap kalah. Terlebih, yang menyerang Frendy cewek-cewek masa kini yang sangat budiman, dan sulit untuk disalahkan.


“Nyesel gue, datang ke sini!” rutuk Frendy yang kemudian melempar asal bunga berikut cokelatnya, pada kerumunan murid yang masih memenuhi ambang pintu kelas Kishi dan Dean.


Dan Frendy pergi diiringi sorakkan yang selalu menyertainya, di setiap kepulangannya dari sana.


“Ya sudahlah. Aku enggak mau ngejar Kishi lagi. Ngejar emak sama bapaknya saja, biar dapat kunci jadi mantu!” pikir Frendy yang mendadak senyum-senyum sendiri.


Karena hanya memikirkan itu saja, Frendy menjadi bersemangat. Pemuda itu sampai lari kegirangan di tengah keputusannya yang akan mencari tahu lebih jauh mengenai keluarga Kishi.

__ADS_1


***


Meninggalkan Frendy yang berniat mendekati Kishi dari cara lain, di kelas, Kishi yang membersihkan meja berikut bangkunya menggunakan tisu basah, berniat mengunjungi Elia.


“Jangan ... jangan. Elia bilang, dia enggak mau didatangi siapa pun. Takut fokusnya buyar. Rafa saja enggak boleh.” 


Kishi menatap aneh Dean. “Apa hubungannya dengan Rafa? Kan maksudnya, sepulang sekolah, kita langsung ke tempat olimpiade. Dekat lho, dari sini ...?”


Dean yang sudah duduk dan menyimak apa yang Kishi lakukan yaitu bersih-bersih meja dan kursi sebelum ditempati, menjadi mengernyit. “Memangnya kamu enggak tahu, Elia sama Rafa sudah jadian?”


“S-serius? Ya ampun, aku syok! Kirain mau sama Mo?” Tangan kanan Kishi refleks mengelus dada, seiring ia yang juga sampai menatap tak percaya Dean.


“Ya kamu ... ngikutin Zean, jadinya dukung Lili sama Mo!” Dean tertawa geli.


Dan hal yang sama juga menimpa Kishi yang mulai duduk di kursinya. “Kasihan Mo ... jomlo sendirian.”


Tawa Dean nyaris lepas andai saja pemuda itu tidak menekap mulutnya menggunakan tangan kanan. “Tapi Mo rese, ganggu Elia terus! Rafa saja sampai bosen!”


“Itu karena Mo kesepian! Jodohkan saja sama siapa!” usul Kishi yang turut tertawa geli.


“Ya ampun ... kasihan. Tapi kayaknya enggak ada, deh ...dan enggak usah jodoh-jodohin jugalah. Nanti kalau sudah waktunya, juga ketemu!” Dean berusaha mengakhiri tawanya.


“Iya juga, sih. Tapi, De. Sejak pacaran, kok kita jadi sering gibah urusan orang, sih?” ujar Kishi yang kemudian menertawakan dirinya sendiri.


“Oh, iya, ya? Tapi enggaklah. Kan kita cuma bahas orang-orang kita saja.” Dean mulai mengeluarkan buku berikut alat tulis dari dalam tas yang masih ada di atas pangkuannya.


“Terus, bagaimana dengan Atala?” lanjut Kishi yang juga melakukan hal yang sama. Ia mengeluarkan buku berikut alat tulisnya.


Mengingat Atala, Dean menjadi terenyuh. Sebab menurut cerita dari Yuan, Anton papa Atala menjadi dalang dari kehamilan yang menimpa Irene, sedangkan Atala memutuskan untuk merawat Irene. Dan masih menurut keterangan dari Yuan yang Yuan dapatkan dari orang kepercayaannya, Atala juga sudah mengajak Irene menikah, tetapi Irene selalu menolak.


Tentu, Yuan hanya menceritakan kasus Irene tanpa membahas apa yang menimpa Elena atas ulah Anton, lantaran Yuan dan Steven bahkan Atala, telah sepakat untuk mengubur kasus tersebut.


“Gilaaa ....” Kishi benar-benar merasa ngeri mengetahui kenyataan tersebut.


Dean mendengkus sebal. “Buat pembelajaran, Ki. Waspada, tapi jangan sampai panik.”


“Jadi parno sendi!” rutuk Kishi.


*** 


Ketegangan itu terpancar nyata di raut Elia. Mengenakan tanda pengenal yang dikalungkan pada tengkuk dan tertera di dada, gadis itu bersiap memasuki ruang olimpiade.


“Semoga aku bisa ... jangan tegang begini, Ly!” batin Elia menyemangati dirinya sendiri.


Ketika Elia memasuki ruang olimpiade, gadis itu merasa jika dunianya mendadak berputar lebih lambat. Karenanya, Elia sampai mencengkeram ujung jas seragam berwarna hitam yang dikenakan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2