
“Ya ... aku baik-baik saja ....”
Bab 79 : Aku Baik-Baik Saja
Gelisah dan tidak fokus, menjerat Kainya tanpa henti.
Ketika yang lain sibuk membahas kerja sama, menyampaikan setiap argumen mereka, Kainya hanya sesekali menyimak, karena yang ada, ia justru terngiang ucapan Intan yang menyamakannya dengan Steffy.
---
“Apa bedanya kamu dengan Steffy? Hanya karena kamu jauh lebih beruntung, Yuan menutup kasus itu, kan?”
“Jika kasus itu sampai dilanjutkan,”
“Jika keluarga kekasihmu tahu, apakah kamu yakin, mereka masih mau menerimamu?”
---
Kali ini, Kainya menjadi tertunduk sedih. “Meski aku sudah berusaha menjadi lebih baik bahkan hingga detik ini, ... tetapi apa yang tante Intan katakan memang benar ... dengan masa laluku yang enggak bisa dihapus, ... apakah Steven dan keluarganya bisa menerimaku? ... ah enggak-enggak! Bukan mereka yang harus menerimaku, melainkan aku yang harus sadar diri! Aku ... aku memang enggak sepantasnya mencintai dan mengharapkan cinta dari orang lain setelah semua kesalahan yang kulakukan di masa lalu.” Kainya tak hentinya berbicara di dalam hatinya dan memaksa dirinya untuk sadar diri. Mundur dari kebahagiaan yang sempat ia yakini pantas ia rasakan, dirasanya menjadi keputusan terbaik. Hingga akhirnya, genggaman dari sebelahnya dan itu dari Daniel, sukses membuat Kainya terkesiap. Kainya kembali ke alam sadar. Ia kebingungan dengan kenyataannya yang telah menjadi bahan perhatian.
Di kursi yang mengitari meja bundar berukuran luas tersebut, di sebuah kafe out door, Kainya duduk bersebelahan dengan Daneil dan Kimo, sedangkan di sebelah Kimo ada Ben disusul juga oleh Gio dan Yura yang ada di sebelah Daniel. Khusus untuk Ben dan Gio, keduanya kerap menatap sekaligus menganati Kainya dalam waktu lama.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Gio sarat kecemasan. Ia mencemaskan Kainya yang terlihat jelas tidak fokus dan seperti sedang memikirkan beban yang sangat berat, sampai-sampai Kainya juga terlihat sangat tertekan.
Kainya tak langsung menjawab, ia menatap bingung sekaligus sungkan semua wajah di sana kecuali pada Daniel yang memang tidak ia tatap. “Ya ... aku baik-baik saja.” Kainya mengulas senyum sambil mengangguk meyakinkan.
“Kau, yakin?” saut Yura tak kalah cemas sambil melongok ke arah Kainya.
Gugup melanda Kainya yang seketika diam atas pernyataan kepastian dari Yura dan bahkan masih menatapnya tidak yakin.
“Ya ... aku baik-baik saja!” ucap Kainya dan kembali mengulas senyum, berusaha meyakinkan semuanya.
Menyadari Kainya semakin tersudut, Daniel sengaja mendekatkan wajahnya ke sebelah telinga Kainya. “Semuanya menunggu presentasi dari Kakak ...,” bisiknya.
Kainya yang terkejut refleks berucap, “oh ...?”
Sekali lagi, Kainya menatap bingung wajah-wajah di sekelilingnya kecuali Daniel yang lagi-lagi tidak ia tatap. Kemudian, dengan pikiran yang masih kacau, ia beranjak sambil membereskan map yang tersanding di hadapannya, tetapi sebelah tangannya yang ada di dekat Kimo, justru menyempar air mineral berukuran enam ratus mili, dan refleks ditangkap Kimo.
Keadaan Kainya sukses membuat semuanya semakin cemas. Kainya sendiri menyadari kenyataan itu. Karena meski ia selalu menegaskan dirinya baik-baik saja, tetapi tidak dengan kenyataan yang berjalan. Sebab, pada kenyataannya ia justru tidak bisa fokus dan selalu melakukan kesalahan.
“Kenapa aku jadi begitu bodoh?” batin Kainya yang menjadi tertunduk sedih.
“Dia kenapa? Bukankah kemarin, dia baik-baik saja? Apakah dia bertengkar dengan Steven?” batin Ben.
“Santai saja. Kami juga sabar, kok, nunggunya.” Gio meyakinkan. Tak hanya melalui ucapan, melainkan tatapannya kepada Kainya.
Yura yang tidak hanya cemas, melainkan kasihan kepada Kainya yang belum pernah ia lihat sekacau sekarang, juga berusaha menyemangati. “Iya, Kai. Santai. Kita bukan orang lain, kan?”
Semangat sekaligus dukungan dari semuanya, justru membuat Kainya semakin tidak baik-baik saja. Kainya bahkan nyaris menangis karena hal tersebut justru menjadi tamparan keras untuknya. Ia yang dulu begitu jahat dan kini justru dicintai oleh semuanya.
Kimo menghela napas dalam sambil beranjak. “Yura, ... kemarilah. Kita bertukar tempat. Sepertinya Kainya gugup duduk di sebelahku karena aku terlalu tampan!”
Kimo yang terlihat begitu bangga sukses membuat Yura nyaris muntah. Yura yang telanjur refleks berseru, “uwek!” juga berangsur mengikuti apa yang Kimo lakukan.
“Kamu pura-pura muntah, karena kamu trauma, dulu cintamu selalu aku tolak, kan?” cibir Kimo.
“Aku laporin ke Rara, lho!” ancam Yura.
“Eh, jangan!” balas Kimo panik. “Tadi, aku cuma lucu-lucuan!” jelas Kimo.
Gio berdeham dengan sebelah tangan sibuk menggeser-geser ponselnya. Gayanya benar-benar santai. Di mana, tak lama setelah itu, rekaman suara Kimo terputar dari sana.
Kimo yang kebetulan masih ada di belakang Gio pun refleks berhenti melangkah, kemudian menoleh dan memastikan layar ponsel Gio. Celaka, di layar ponsel Gio tengah menampilkan ruang obrolan WA Gio dengan Rara!
--
__ADS_1
“Yura, ... kemarilah. Kita bertukar tempat. Sepertinya Kainya gugup duduk di sebelahku karena aku terlalu tampan!”
“Kamu pura-pura muntah, karena kamu trauma, dulu cintamu selalu aku tolak, kan?”
---
“G-gio? Apa-apaan, kamu? Cari mati, kamu, hah?!” omel Kimo yang tak segan menoyor kepala Gio kemudian merebut ponsel pria itu. Sial, pesan suara yang Gio ambil dan membuat Gio tertawa puas, sudah langsung dihiasi centang dua berwarna biru yang menandakan Rara telah membuka bahkan mendengarnya.
“Ya ampun, aaah! Aku bisa disuruh tidur di luar, kalau gini caranya!” keluh Kimo yang kemudian mengacak-acak susunan rambut Gio. Ia sengaja melakukannya demi meluapkan emosinya.
Pemandangan keributan antara Kimo dan Gio membuat semuanya tersenyum geli tanpa terkecui Yura yang berangsur mengelilingi meja, melangkah di belakang Gio dan Ben, sesaat setelah mengemasi barang-barangnya dan memboyongnya.
“Terus saja kamu acak-acak rambutku. Aku belum keramas selama seminggu, lho!” ucap Gio dengan santainya dan memang masih tersenyum bahagia.
“Ya ampun! Jorok banget, sih!” Kimo buru-buru mengelap tangannya pada punggung Gio yang kali ini mengenakan jas hitam. Kemudian ia buru-buru meninggalkan pria itu, menaruh barang-barangnya, berupa beberapa dokumen dan tas tenteng warna hitam, di meja bekas Yura.
Tak lama setelah Kimo duduk dan turut Gio pastikan, ponsel yang baru saja ia letakan, bergetar satu kali dan hal tersebut merupakan tanda pesan masuk. Dan ketika Gio memastikannya, ternyata itu dari Rara.
Rara : Enggak apa-apa. Kimo memang paling tampan, karena dia suamiku. Mana mungkin aku mau sama dia, kalau dia enggak tampan, kan?
Membaca itu, Gio yang awalnya masih menertawakan Kimo menjadi berdecak sebal. “Dasar pasangan aneh!” cibirnya pelan tanpa ada niat memberi tahu Kimo.
Gio : Lebay!
Rara : Syirik bertanda, Anda masih jomlo dan membutuhkan banyak perhatian. Muehehe ....
Gio : Semenjak sama Kimo, kok kamu jadi alay!
Rara : Ini bukan alay. Ini karena aku sangat bahagia!
Dan kenyataan sekarang membuat Kainya merasa jauh lebih baik. Ya, menyibukkan diri memang cara terampuh membuatnya merasa baik-baik saja. Berbaur dengan kebersamaan dan tidak terus-menerus terpuruk dalam kesedihan berikut kekelamannya di masa lalu, merupakan cara terampuh agar ia baik-baik saja, sekaligus mampu menghadapi kehidupan. Karena meski ia berniat menutup diri, tetapi tidak kepada orang-orang terdekatnya layaknya saat ini.
***
Bertemu Athan, membuat Keinya harap-harap cemas. Keinya merasa tidak baik-baik saja. Pun meski beberapa kali, Keinya selalu meyakinkan Yuan, dirinya baik-baik saja.
Di kafe Keinya, Athan sudah duduk menunggu dengan bingkisan besar terbungkus kertas kado yang tersanding di kursi sebelahnya.
Keinya menatap sebal Athan. Namun, karena ia teringat janjinya pada Yuan, ia pun berusaha menepis rasa tersebut. “Aku baik-baik saja. Ya ... aku baik-baik saja. Athan berhak bertemu sekaligus dekat dengan Pelangi, karena dia ayah kandung Pelangi! Sabar, Kei! Jangan egois!” batin Keinya yang menyemangati dirinya sendiri.
Kehadiran Keinya dan Yuan yang membopong Pelangi, sukses membuat Athan tidak bisa berkata-kata. Bahkan Athan bingung, bagaimana caranya ia menyapa mereka. Ya, mereka yang terlihat begitu kompak, mencerminkan keluarga bahagia. Di mana, ketiga orang tersebut terlihat bak berkilau. Keinya yang terlihat semakin cantik dengan perhiasan berlian putih yang menghiasi leher, telinga, tangan berikut jari manis wanita itu. Juga, Pelangi yang terlihat jelas sangat terawat. Pelangi tumbuh dengan kulit yang bersih dan mewarisi kecantikan Keinya.
Athan berangsur berdiri menyambut kehadiran ketiganya, seiring kecanggungan yang menjadi menyelimuti kebersamaan.
“Maaf sudah membuatmu menunggu,” ucap Yuan membuka obrolan lantaran baik Keinya maupun Athan sama-sama diam. Diam karena bingung dan canggung.
“Ayo duduk ...!” lanjut Yuan.
Kainya duduk di kursi sebeh keberadaan bingkisan, sedangkan Yuan dan Pelangi duduk persis di sebelahnya.
“Papa?” ucap Pelangi tiba-tiba dan sukses membuat kecanggungan semakin memenuhi kebersamaan.
Tak hanya Athan dan Yuan yang refleks menatap Pelangi. Sebab Keinya juga melakukan hal yang sama. Keinya dapati, Pelangi yang menengadah menatap Yuan, sedangkan ketika Keinya menoleh ke sebelahnya lagi, Athan terlihat terbawa suasana dan menginginkan ada di posisi Yuan.
“Ng-ngi duduk di sini!” ucap Pelangi kemudian sambil menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.
Yuan tertawa geli. “Ya ampun, Pelangi sudah gede minta duduk sendiri?” ujarnya dengan kebahagiaan yang seketika meluap.
Tanpa dosa, Pelangi mengangguk mantap. “He’um!” ucapnya.
Dengan senyum lepas yang masih berlangsung, Yuan mendudukkan Pelangi di kursi sebelahnya sesuai permintaan bocah itu. Dan kebahagiannya semakin bertambah, lantaran setelah Pelangi duduk, bocah itu juga pamer gaya cantik sambil tersenyum ceria pada mereka.
“Hallo, Om? Namaku Ng-ngingi!” sapa Pelangi dengan cerianya kepada Athan.
Jantung Athan seolah melesak mendapatkan sapaan tersebut. Om? Pelangi memanggilnya Om?! Athan benar-benar tak percaya dipanggil Om oleh anak kandungnya sendiri!
__ADS_1
Meski sempat kembali merasa canggung atas ulah Pelangi, tetapi Keinya segera mengulas senyum lantaran ia menjadi giliran tujuan Pelangi.
“Mama cantik ... ai ... love you ...!”
Yuan yang tersipu atas ulah Pelangi juga merasa bangga. Bangga atas keceriaan yang selalu menyelimuti bocah itu. Dan ketika Pelangi menjadikannya tujuan, Yuan pun buru-buru memasang ekspresi sangat antusias.
“Papa sayang ... ai, love you!” ucap Pelangi.
“Ahh ... i love you too, Sayang!” balas Yuan yang kemudian mencium gemas kening Pelangi.
“Ng-ngingi, Sayang. Ini, ... ini bukan Om.” Keinya berusaha menjelaskan.
Yuan diam menyimak. Pun dengan Pelangi yang melakukan hal serupa. Sedangkan yang terjadi pada Athan, harap-harap cemas tengah pria itu rasakan.
“Ini, ... ayah,” lanjut Keinya sambil menunjuk sebelah lengan Athan, kendati tatapan seriusnya terus tertuju pada Pelangi. “Ayah itu sama seperti papa. Ng-ngingi ... punya dua papa.”
Pelangi merengut bingung. Bocah itu tak lagi ceria dan terlihat menerka-nerka sambil menatap Yuan, Keinya, berikut Athan.
“Papa?” panggil Pelangi kemudian sambil menatap sedih Yuan.
“Sini ... sini,” balas Yuan yang kemudian mengemban dan memangku Pelangi lagi. “Jangan terlalu dipaksa. Biarkan semuanya berjalan dengan sendirinya. Asal sering bertemu dan berkomunikasi, pasti Pelangi juga akan mengerti.” Ia menatap Athan penuh keyakinan. Berharap, pria itu bisa lebih sabar lantaran ia juga tidak akan tinggal diam jika sesuatu yang buruk sampai menimpa Pelangi.
“Baiklah,” balas Athan yang mau tidak mau harus menerima lantaran ia juga tidak mungkin memaksa jika itu untuk kebaikan Pelangi.
“Than, kamu sudah cuci tangan? Kamu seteril, kan?” lanjut Keinya.
Athan menatap heran Keinya yang menghakiminya melalui tatapan penuh tuntutan. “Baiklah, aku cuci tangan lagi,” ucapnya pasrah dan segera beranjak dari duduknya.
“Kalau sama anak kecil harus lebih seteril. Apalagi sekarang sedang marak wabah penyakit!” omel Keinya.
Melihat Keinya yang berbicara tegas kepada Athan, Pelangi terkikik dan membaginya kepada Yuan.
“Kalian kenapa?” tanya Keinya terheran-heran menatap Yuan dan Pelangi yang justru cekikikan melepas kepergian Athan.
“Papa ngajarin yang enggak-enggak, ya?” tuding Keinya.
“Kok, ... Papa, sih?” balas Yuan heran.
“Mama malah-malah!” saut Pelangi sambil menunjuk-nunjuk Keinya, dan kemudian kembali tertawa.
Yuan yang nyaris tertawa pun tak jadi dan sengaja menahannya, sebab Keinya langsung merengut dan meliriknya dengan sebal.
“Kalian selalu menertawakan Mama ...,” keluh Keinya yang masih cemberut.
“Sittt!” bisik Pelangi yang berhenti tertawa, sambil meletakkan telunjuk tangan kanannya di tengah-tengah mulut. Ia melakukannya sambil menatap Yuan dan Keinya penuh peringatan.
Ulah Pelangi sukses membuat Keinya dan Yuan menertawakannya.
“Kok, Ngingi pintet banget, sih?” ucap Yuan yang kemudian mengangkat tinggi tubuh Pelangi, di mana, Pelangi langsung tergelak.
Ketika Athan datang, baik Yuan maupun Keinya, berusaha membuat pria itu dekat dengan Pelangi. Yuan dan Keinya kompak membantu Athan mendekati Pelangi termasuk memanfaatkan hadiah yang sudah Athan siapkan.
“Demi kebahagiaan sekaligus masa depan Pelangi, aku harus berdamai dengan hati sekaligus masa laluku. Ya, ... aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja, meski aku harus memberikan kesempatan kepada orang yang dulu menyia-nyakanku!” batin Keinya sambil mengamati kebersamaan ketiga orang di hadapannya. Pelangi yang tetap lebih dekat dengan Yuan, kendati mereka selalu menciptakan peluang agar Pelangi bergantung kepada Athan. Dari sekadar mengambilkan barang yang sengaja ditaruh di dekat Athan, juga mereka yang sengaja meninggalkan Pelangi hanya berdua dengan Athan. Yang ada, Pelangi langsung lari mengikuti ke mana pun Keinya terlebih Yuan pergi.
Apa yang menimpa Athan dan Pelangi merupakan wujud dari kesalahan di masa lalu. Mengenai Athan yang tidak pernah peduli bahkan sekadar mendekati Pelangi dari awal, juga, ... Yuan yang selalu ada dan menyayangi Pelangi tanpa jeda.
Bersambung ....
Selamat malam, semuanya?
Duh, Author syok virus korona sudah menyebar di Jakarta dan mau tidak mau, jadwal nulis Author diubah total. Enggak boleh begadang sama pak suami, karena yang lebih rawan, katanya yang kurang tidur malam.
Kalian sehat-sehat semua, kan?
Jaga terus kesehatan kalian, yaa.
__ADS_1
Salam sayang,
Rositi.