Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 67 : Menyerah


__ADS_3

“Bukankah merendahkanku sudah menjadi keahlianmu semenjak kita dijodohkan?”


Bab 67 : Menyerah


Ketika Kainya baru keluar dari kamar mandi sambil mengelap pelan wajahnya menggunakan handuk kecil yang tersampir di sebelah pundaknya, dering ponsel tanda pesan WA masuk mengusik wanita itu. Kainya yang sudah mengenakan piyama panjang warna kuning segera memastikan ponselnya yang terkapar di nakas sebelah ranjang tidurnya yang mewah.


Itu pesan WA dari Steven yang mengiriminya foto dua buah tiket menonton bioskop untuk besok malam.


“Aku sudah membeli tiket. Jadi kamu enggak bisa menolak lagi. Maaf jika cukup memaksa.” Tulis keterangan di bawah foto tiket dan turut dibubuhi emotion senyum lepas.


Membaca itu, Kainya menjadi tersipu.


Kainya : Baiklah, jika kamu memaksa. Besok aku akan mengatur ulang jadwalku.


Steven : Apakah kita harus mengenakan pakaian khusus?


Kainya : Untuk apa?


Steven : Biar kompak dan terlihat seperti anak remaja.


Membaca balasan dari Steven, Kainya menjadi terkikik. Kainya bahkan sampai terduduk di tepi kasurnya lantaran tidak bisa mengendalikan tawanya.


Kainya : Baiklah. Kita pakai warna pink.


Steven : Kau serius?


Kainya : Kenapa? Apakah kamu keberatan?


Steven : Tentu saja tidak. Apakah aku harus mengenakan kaus, kemeja lengan panjang, atau apa?


Kainya : Kalau aku memintamu mengenakan kaus warna pink dengan gambar barbie atau kuda poni, memang kamu mau?


Steven : Asal aku masih berpakaian lengkap dan menutupi tubuhku, aku mau.


Kainya menelan ludah. Ia yakin, misinya mengetes keseriusan Steven kepadanya, hanya sia-sia lantaran pria itu memang tulus kepadanya.


Kainya : Kemeja lengan panjang saja. Seperti biasa. Tidak usah warna pink.


Steven : Baiklah. Sekarang, istirahatlah. Selamat malam.


Kainya menghela napas pelan tanpa ada niat membalas pesan Steven. Namun, baru juga ia meringkuk, dering pesan WA masuk kembali menggetarkan ponselnya. Dan ternyata, itu masih dari Steven.


Steven : Aku mencintaimu.

__ADS_1


Sungguh, pesan itu sukses membuat Kainya senyum-senyum sendiri seiring dadanya yang menjadi berdebar-debar. Kendati demikian, Kainya tetap tidak berniat membalas pesan Steven. Yang ada, wanita itu buru-buru menarik selimut dan menyelimuti tubuhnya sambil berangsur terpejam. Jujur, selain malu, hingga saat ini, Kainya masih gengsi jika harus mengakui dirinya ada rasa istimewa kepada Steven. Mengenai Steven yang sebenarnya spesial untuknya.


“Selamat malam juga, Ven. Besok kita ketemu!” batinnya semangat. Tak hentinya tersenyum walau kedua matanya sudah terpejam.


***


Di depan pintu masuk rumah Itzy, Ben terjaga dengan buket mawar merah berukuran besar yang pria itu dekap menggunakan sebelah tangan.


Sesekali, Ben menghela napas pelan, di mana, ... harap-harap cemas tampak dari wajahnya yang tegang.


“Cinta atau tidak, tidaklah penting. Yang terpenting, aku harus bisa meluluhkan hati Itzy agar aku bisa memberikan kehidupan layak untuk mama!” batin Ben.


Ketika pintu terbuka, Ben langsung mengulas senyum. Senyum yang begitu sopan dan membuat wajah berkarismanya makin berwibawa. Dan Ben tetap mempertahankan semua itu, meski yang membukakan pintu bukan Itzy langsung, melainkan pekerja di rumah calon istrinya itu. Kendati demikian, Olivia mama Itzy langsung menyambutnya dengan sangat ramah. Olivia bahkan sampai merangkul Ben kemudian menuntunnya untuk langsung menaiki anak tangga yang menghubungkan lantai keberadaan mereka, dengan lantai atas selaku lantai keberadaan kamar Itzy. Olivia, ... wanita itu langsung menyuruh Ben mendatangi Itzy ke kamar.


Ben sudah sampai di depan pintu kamar Itzy. Di kamar berpintu putih dan masih tertutup itu, Ben tak lantas mengetuk pintu apalagi masuk, lantaran tiba-tiba saja hatinya menjadi terbesit. Karena entah mengapa, memikirkan hubungannya dan Itzy, sebentar lagi mereka akan melangkah ke jenjang pernikahan, membuat Ben menjadi sangat nelangsa. Hal tersebut terjadi lantaran Ben sadar, bukan hanya dirinya yang tidak menginginkan perjodohan mereka, melainkan Itzy. Belum lagi, sebagai anak tunggal yang begitu dimanjakan, Itzy juga tipikal manja yang keterlaluan dan tak segan semena-mena kepada Ben. Boleh dibilang, Itzy masih sangat kekanak-kanakan. Andai saja tidak memikirkan kebahagiaan sekaligus kelangsungan hidupnya dengan sang mama, Ben juga tidak mungkin menerima perjodohan itu.


Menurut informasi dari Olivia, Itzy sangat suka dengan semua hal yang romantis. Itzy juga sangat senang jika dimanjakan dan diperlakukan layaknya seorang tuan putri. Jadi, malam ini, Ben yang sudah bekerja sebagai manajer di perusahaan keluarga Itzy dan kebetulan baru pulang kerja, sengaja membawa buket mawar merah berukuran besar untuk Itzy.


Ketika Ben mengetuk pintu, suara Itzy terdengar berseru dari dalam.


“Siapa? Ada apa ....?”


“Ini aku. Boleh, aku masuk?” balas Ben langsung.


Suasana kamar Itzy kembali senyap lantaran dari dalam tak lagi terdengar apa pun, termasuk suar Itzy. Jika keadaan sudah seperti itu, Ben yakin, Itzy masih berusaha menghindarinya.


“Jika seperti ini terus, sepertinya, ... lebih baik aku tidak bersama Itzy. Karena sekalipun Itzy memiliki semuanya, tetapi untuk apa kupertahankan sedangkan padaku saja, dia semena-mena? Bagaimana jika Itzy juga menginjak-injak harga diri mama dan semakin memandang sebelah mata kepada kami?” pikir Ben. Demi meredam sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya, Ben pun menghela napas dalam. “Baiklah, maaf sudah mengganggu. Aku membawa bunga dan cokelat kesukaanmu. Aku letakkan di meja depan kamarmu, ya?” ucapnya kemudian.


Ben baru menaruh bunga berikut cokelat yang dimaksud, di meja, ketika pintu kamar Itzy terdengar terbuka. Ya, ketika Ben memastikannya melalui lirikan, Itzy yang sudah berpiama panjang warna merah muda, memang keluar.


Ben masih bersabar, meski ada tidaknya Itzy sudah telanjur mengukir luka di hati sekaligus ingatannya. Ia berangsut menoleh dan berdiri tegap menghadap Itzy.


“Kita harus bicara,” ucap Itzy dengan gaya malas layaknya biasa. Gaya malas yang Itzy berioan semenjak ia dijodohkan dengan Ben.


Ben tidak menjawab, tetapi, lantaran Itzy justru kembali masuk ke kamar tanpa menutup pintunya, Ben yang sampai mengerling memutuskan untuk menyusul.


“Tolong tutup pintunya, Kak. Aku enggak mau, ada yang mendengar obrolan kita.” Itzy bersedakap menatap Ben yang baru saja melewati pintu.


Ben yang masih berjaga sekaligus waspada, berangsur menutup pintu sesuai permintaan Itzy. Di tengah suasana kamar bernuansa merah muda dengan penerangan terang itu, Ben yakin, Itzy tidak akan memberinya kabar atau perubahan baik untuk hubungan mereka. Terlebih, wajah masam, kesal bahkan angkuh, masih menjadi raut dominan di wajah Itzy yang terbilang imut.


Itzy berdeham sebelum akhirnya berkata, “ini mengenai hubungan kita. Mengenai kita, khususnya Kak Ben.”


Ben mengangguk. “Baiklah, ... katakan saja.”

__ADS_1


“Pertama, mengenai Kak Ben yang bekerja di perusahaan orang tuaku.”


Ucapan lanjutan Itzy, membuat Ben mengerutkan dahi. Ben bahkan mulai menerka-nerka, kenapa Itzy sampai menyinggung pekerjaan, sedangkan yang Ben rasa, ia sudah bekerja dengan sangat keras dan tak jarang pulang larut untuk lembur demi memajukan perusahaan.


“Meski papa dan mama sangat menyukai kakak termasuk pekerjaan kakak, tetapi sampai kapan pun, akulah yang akan memimpin perusahaan, karena aku anak orang tuaku, bahkan meski aku hanya seorang wanita,” lanjut Itzy.


Dahi Ben semakin berkerut. “Sebenarnya apa maksudmu? Langsung saja? Bukankah merendahkanku sudah menjadi keahlianmu semenjak kita dijodohkan?” ucapnya dan sengaja mengulas senyum.


Itzy merengut kesal. “Baiklah, aku akan langsung ke intinya.” Nada suaranya mulai terdengar ketus.


Ben mengangguk tanpa mengakhiri senyumnya.


“Pertama, aku sudah mengetahui semuanya, bahwa tujuan Kak Ben mendekati keluargaku, karena Kak Ben sedang dalam keadaan sulit, dan Kak Ben sengaja memanfaatkan perjodohan kita. Kedua, selain papa Kak Ben sudah berulang kali selingkuh, biasanya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dan ketiga, aku sangat berharap Kak Ben sadar diri. Itu saja!” tegas Itzy yang kemudian membuang wajah dan sengaja menepis tatapan Ben.


Mendengar itu, hati Ben menjadi terasa sangat sakit. Sungguh, apa yang Itzy katakan sukses menyulut emosi Ben. “Baiklah, ... kita lihat saja, siapa yang benar-benar akan menemukan kebahagiaan. Simpan semua kekayaan dan kekuasaanmu, dan carilah orang yang bisa menyeimbangimu. Mulai sekarang juga, aku menyerah. Aku juga akan meminta mamaku untuk tidak dekat-dekat dengan keluargamu, jika memang kamu tidak sudi memiliki kenalan apalagi teman dekat seperti kami.” Ben tetap mempertahankan senyumnya. Ia berlalu tanpa kesedihan apalagi kekalahan, karena baginya, lepas dari orang seperti Itzy yang sangat perhitungan dan tak segan memandang rendag orang lain justru merupakan sebuah keberuntungan. “Hal semacam inilah yang membuatku tidak percaya dengan cinta. Dan beruntung, aku sama sekali tidak memiliki rasa lebih kepada Itzy,” batin Ben.


Meski seharusnya merasa lega karena akhirnya bisa membuat Ben menyerah setelah dua bulan terakhir sengaja menyusahkan pria itu, tetapi, kenapa Itzy justru merasa ada yang salah? Bahkan Itzy merasa, menyerahnya Ben membuat sesuatu dalam hidupnya ada yang hilang? Dan karena semua itu juga, Itzy yang masih berdiri di tempat sampai dlanda keresahan.


***


“Ben, bagaimana?” sapa Olivia dengan ramah sesampainya Ben di lantai bawah.


Olivia yang awalnya sedang menonton televisi sendiri di ruang keluarga, sampai menghampiri Ben lantaran penasaran.


Ben dan Olivia bertemu tak jauh dari anak tangga terakhir. Olivia yang terlihat sangat penasaran, tak hentinya mengulas senyum.


“Maaf, Tante ... sepertinya memang enggak bisa,” ucap Ben masih dengan gaya tenang.


Olivia mengerutkan dahi seiring senyum du wajahnya yang menjadi usai. “Enggak bisa maksudnya bagaimana?” tanyanya bingung sekaligus penasaran.


Ben masih mengulas senyum dan bersikap sesopan mungkin, lantaran ia juga berharap hal serupa turut menimpa mamanya. Ben tidak rela dan akan langsung marah, jika mamanya diperlakukan semena-mena lagi hanya karena keadaan mereka sekarang yang memang sangat sulit. Pun meski kabar gagalnya perjodohan antara ia dan Itzy akan mengukir luka untuk mamanya tak beda ketika Ryunana tiba-tiba memutuskan Ben setelah wanita itu mengetahui keadaan Ben.


“Nanti Itzy pasti akan jelasin juga ke Tante.”


“Kalian bertengkar lagi?”


“Enggak, Tan. Kami baik-baik saja, karena sebelumnya pun memang tidak ada apa-apa. Oh, iya, Tan ... aku langsung pamit, ya. Masih ada urusan yang harus aku bereskan.” Ben membungkuk sopan, meski kata-kata Itzy yang menyakitkan sangat sulit ia lupakan. Bahkan, kata-kata tersebut menuntutnya untuk segera menjadi orang sukses agar ia bisa membuktikan kepada Itzy bahkan dunia, jika ia tidak seharusnya dianggap sebelah mata.


Bersambung ....


BTW, Author sedih loh, nulis adegan Ben dihina Itzy >,<


Terus dukung ceritanya. Like komennya jangan lupa biar performa ceritanya enggak turun, yaa ^^

__ADS_1


Salam sayang,


Rositi.


__ADS_2