Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 38 : Wasiat Dari Feaya


__ADS_3

“Ryunana! Berani kamu menyentuh anakku bahkan meski ujung helai rambutnya, kupastikan hidupmu akan berubah menjadi mimpi buruk!”


Bab 38 : Wasiat Dari Feaya


Dean dan Kishi sedang mengantarkan tumpukan buku Sains yang hafus dikembalikan ke perpustakaan, ketika seorang wanita paruh baya bertubuh semampai,menghampiri mereka.


Wanita yang mengenakan nuansa hitam dalam penampilannya tersebut, memiliki garis wajah yang sama dengan Feaya. Bedanya, gaya wanita itu terbilang menor. Terlebih di usianya yang bahkan Dean dan Kishi tafsir jaih lebih tua dari Keinya, wanita tersebut justru masih tampil begitu seksi, sedangkan tempat yang dikunjungi merupakan sekolahan. Dan terlepas dari itu, tubuh si wanita juga begitu ramping. Dress sabrina tak berlengan yang membungkus pas tubuhnya menegaskan tidak ada lipatan lemak di tubuhnya.


Lantaran langkah mereka terhenti oleh kehadiran wanita itu yang tak hentinya menatap mereka penuh ingin tahu, Kishi dan Dean pun kebingungan. Pun meski sebenarnya, mereka mulai menduga-duga jika wanita tersebut memiliki hubungan darah dengan Feaya.


Mereka sudah ada di depan pintu perpustakaan yang memang akan selalu dibiarkan terbuka lebar, ketika jam sekolah masih berlangsung. Lebih tepatnya, Dean yang berdiri persis di sebelah pintu.


“Ki ... kamu masuk dulu,” ujar Dean lantaran takut, selain Kishi akan berpikir macam-macam dan membuat keadaan gadis itu kembali drop, Kishi juga akan keberatan membawa tumpukan bukunya. Pun meski yang Kishi bawa, tidak ada seperempat dari yang Dean bawa.


Kishi, menanggapi permintaan Dean dengan tatapan tidak yakin. Namun Dean langsung mengangguk, menuntun Kishi melalui tatapan sendunya.


“Baiklah,” balas Kishi dengan nada lemah.


Kishi berlalu dengan kemurungan yang kembali menyelimuti. Tak ubahnya bentangan awan gelap yang mendadak menguasai langit, ketika akan turun hujan. Dan kini, Dean siap menghadapi wanita yang memiliki garis wajah layaknya Feaya.


Ada luka berikut kekecewaan yang begitu mendalam, dan terpancar jelas di wajah wanita tersebut. Anehnya, wanita tersebut hanya memandangi Dean.


“Jika memang tidak ada yang ingin Anda bicarakan, saya mohon pamit,” ucap Dean sopan sambil cukup membungkuk kepada si wanita.


Dean menunggu hampir sepuluh menit. Namun si wanita sama sekali tidak memberikan perubahan yang berarti. Benar-benar hanya memandangi wajah Dean penuh tanya. Itu juga yang membuat Dean undur, berlalu tanpa memedulikan si wanita lagi.


“Kamu benar-benar mirip ayahmu ....”


Suara wanita tersebut terdengar mengambang, tak lama setelah kepergian Dean. Suara yang juga berhasil mematahkan langkah Dean. Di mana, Dean berangsur balik badan sembari mengernyitkan dahi.


“Maaf ...?” ucap Dean memastikan. Ia takut, apa yang baru saja pendengarannya tangkap justru kekeliruan.


“Yuan Fahreza ... Keinya ... pasangan yang selalu membuatku muak!” tegas wanita itu yang membenarkan pendengaran Dean.


Dan penegasan tersebut sukses membuat emosi Dean melesat. Ada, wanita yang bahkan jauh dari kata baik terlebih jika dibandingkan dengan Keinya, justru mencela orang tua Dean?


Dean menggeleng tak habis pikir. “Berarti Anda merupakan orang yang pendengki. Dan Anda salah besar, telah merendahkan orang tua saya, kepada saya!” tegasnya.


“Namun tunggu dulu!” tahan Dean kemudian. “Apakah Anda, ... perwakilan dari pihak keluarga almarhum Feaya?” lanjutnya menerka-nerka.


Si wanita langsung mengangguk sembari menatap tegas Dean. “Ya! Feaya adalah cinderella kesayangan kami! Dan kau adalah pembunuh cinderella kami!”


Balasan si wanita sukses membuat Dean bergidik ngeri, terlepas dari pemuda itu yang semakin sibuk menggeleng tak habis pikir. Dean merasa tidak heran, Feaya memiliki pemikiran sangat picik. Sebab wanita di hadapannya begitu picik bahkan egois.


Tak lama setelah itu, si wanita berangsur menggeledah isi totebag hitam yang menghiasi pundak kanannya. Sebuah buku catatan. Juga, beberapa tablet berikut serbuk dan penghisapnya.


“Feaya menuliskan semua wasiatnya di buku catatan ini! Dia sangat mencintaimu, tetapi kenapa kamu mengabaikannya?” protes si wanita yang sampai menggebu-gebu.


Dan dengan penuh emosi, wanita tersebut melemparkan benda-benda itu kepada Dean. Lemparan yang nyaris mengenai wajah Dean andai saja sebuah tangan tidak menangkap buku catatan berwarna merah muda berikut tablet dan seperangkatnya.


“Ryunana! Berani kamu menyentuh anakku bahkan meski ujung helai rambutnya, kupastikan hidupmu akan berubah menjadi mimpi buruk!” tegas suara itu dan Dean kenali sebagai suara Yuan.


Dean segera membuka matanya untuk memastikan. Benar, papanya telah terjaga dan menatap sengit si wanita. Tak hanya itu, di tengah tatapan tajam Yuan yang dipenuhi kemarahan dan tertuju pada si wanita, pria gagah itu membanting apa yang ada di kedua tangannya. Dan Yuan jelas sengaja menunjukkan ulahnya kepada si wanita yang tadi dipanggil Ryunana.


“Dasar manusia-manusia munafik!” caci Ryunana sembari menatap jijik wajah Yuan dan Dean.


Yuan segera memunggungi Dean dan jelas sengaja melindungi anaknya dari serangan seorang Ryunana. “Dean, masuk ke perpustakaan,” titahnya kemudian.


Meski sempat tidak yakin lantaran Dean ingin menyelesaikan urusannya sendiri, tetapi Dean ingin menghormati usaha Yuan yang jelas berusaha melindunginya. Pun meski jika dilihat dari sekilas, Yuan juga seolah mengenal Ryunana. Dan tanpa pamit, ia berangsur memasuki perpustakan yang di dalamnya sudah ada Kishi.


Ryunana menatap bengis Yuan, dan melakukannya juga kepada Dean yang meninggalkan kebersamaan. Ryunana benar-benar membenci Yuan dan Dean berikut semua yang berhubungan dengan keduanya.

__ADS_1


“Gara-gara anakmu, anakku mengonsumsi obat diet bahkan narkoba! Dia over dosis hanya karena ingin segera kurus untuk anakmu!” bentak Ryunana.


“Kupastikan pengacaraku akan segera menghubungimu jika kamu berani menyalahkan anakku! Kamu pikir anakku tertarik apalagi meminta anakmu untuk mengonsumsi barang-barang haram itu?!” tegas Yuan. “Bahkan tanpa harus dijelaskan, harusnya kamu tahu!”


Ryunana yang masih menatap bengis Yuan, berangsur tersenyum miris.


“Pergi dan jangan pernah mengganggu keluargaku lagi!” tegas Yuan lagi.


“Anakmu telah membunuh anakku!” teriak Ryunana tak tanggung-tanggung.


Yuan dibuat gerah atas kenyatan tersebut. Pun meski pada kenyataannya, suasana di sana sedang sangat sepi.


“Anakmu begitu karena didikkanmu! Karena kamu enggak becus mengurusnya!” balas Yuan yang sebenarnya sudah ingin menampar Ryunana yang berani-beraninya mencela Dean.


***


Di dalam perpustakaan, langkah Dean berhenti ketika ia nyaris sampai rak tujuannya yang masih kosong sebagian. Kishi ada di san, dan gadis itu memunggungi rak tujuan Dean, terlepas dari Kishi yang memang sudah menyusun bukunya di rak yang sebagiannya masih kosong.


Meski berangsur menunduk sembari geser, memberi Dean jalan, tetapi Kishi masih memilih diam.


“Semuanya baik-baik saja,” lirih Dean meyakinkan sembari menyusun buku-bukunya.


Di sekat tersebut hanya ada mereka berdua. Dan Kishi berangsur membantu Dean untuk menyusun buku-bukunya.


“Aku mengenal wanita itu,” ujar Kishi. “Namanya Ryunana.”


“Benar. Papa memanggilnya dengan nama itu,” sanggah Dean.


Kishi telah selesai menyusun buku. “Kami pernah bertemu sebelumnya. Di sebuah pusat perbelanjaan. Ketika aku membantu mama belanja keperluan dapur. Dia sempat mencaci mama dan mengatai mama wanita lemah.”


“Tadi kamu enggak cerita sama aku?” sergah Dean menyayangkan keputusan Kishi.


“Aku syok ... dan enggak menyangka jika wanita yang sempat mengejar-ngejar papa di masa lalu, justru mamanya Feaya.” Kishi tertunduk menyesal.


Kishi pun berangsur menatap Dean yang sampai berdiri di hadapannya. “Iya. Sebelum menikahi mama, ternyata si Ryunana ini sempat berusaha keras mengejar cinta papa. Bahkan si Ryunana tetap mau sama papa, meski sebelumnya, si Ryunana mati-matian ngejar cinta papamu.”


Dean menggeleng tak habis pikir sambil berkecak pinggang. “Wah ... emang enggak jelas tuh orang!” cibirnya.


“Tapi, De ...,” ujar Kishi yang terdengar menjadi tidak yakin.


“Ada apa?” balas Dean menjadi waswas.


“Aku mencemaskan Ngi-ngie,” balas Kishi sambil menatap serius Dean.


Dean mengernyit, seiring atmosfir kebersamaan yang menjadi terasa tidak nyaman.


“Memangnya kamu enggak kepikiran, ... dengan sakitnya kakeknya Jinnan, ... Jinnan pasti dipaksa menikah dalam waktu dekat?” jelas Kishi.


Dan seketika itu juga, raut wajah Dean menjadi dipenuhi kecemasan.


“Demi Tuhan aku enggak nyangka kalau keadaannya akan serumit ini. Tapi jika melihat situasi, sepertinya bukan hanya Jinnan yang menyukai Ngi-ngie. Karena kakek Jungsu juga sepertinya sangat mendukung hubungan itu?” tambah Kishi lagi.


Dengan wajah kecut lantaran kecemasan yang mendalam terhadap nasib Pelangi, Dean pun berkata, “ya, aku juga melihatnya seperti itu. Dan kenyataan ini sangat menguntungkan Jinnan.”


Dean mengangguk dua kali, membenarkan ucapannya, dan diikuti juga oleh Kishi yang melakukan hal serupa.


“Tadi pagi, Mo dan Rafa sempat berdebat hebat gara-gara nasib cinta mereka terhadap Ngi-ngie terancam kandas!” lanjut Kishi semakin semangat bercerita.


“Ah ... berondong-berondong itu ...!” keluh Dean sembari menggeleng geli namun sukses membuat Kishi terkikik.


“Berondong ...,” ulang Kishi yang merasa sangat geli jika mendengar panggilan itu terlontar dari mulut Dean. Dan lihatlah, saking gelinya pada ulah si kembar, Dean sampai berkecak pinggang sambil terus menggeleng.

__ADS_1


“Ayo kita balik ke kelas,” ajak Dean sembari menatap Kishi.


Kishi segera mengangguk dan mengikuti langkah Dean. “Tapi, kok, ... sepertinya kamu sudah enggak begitu membenci Jinnan?” ujarnya.


“Entahlah ... tapi sejauh ini, Jinnan cukup bisa dipercaya.”


“Si Jinnan emang aslinya baik, kan? Cuma kurang perhatian sama arahan saja. Dan yang bisa ngelakuin itu cuma Ngi-ngie. Ibaratnya, Ngi-ngie itu pawangnya Jinnan,” tambah Kishi.


“Pawang ... kesannya si Jinnan ular?” keluh Dean dan sukses membuat Kishi kembali terkikik.


Kishi sampai menekapkan kedua tangannya ke mulut.


Ketika mereka keluar dari perpustakaan, ternyata Yuan masih terjaga di depan pintu. Yuan menatap kebersamaan Kishi dan Dean sambil mengulas senyum. Dan Kishi, langsung membalasnya sambil tersenyum sekaligus membungkuk malu-malu.


“Enggak usah sekaku itu, Ki ...,” ujar Yuan yang sengaja menambah senyumnya.


Namun sekali lagi, Kishi yang masih malu-malu memilih mengangguk sembari menunduk, dan hanya akan sesekali menatap Yuan.


Fokus pandang Yuan teralih kepada Dean. “Jadi, bagaimana? Kalian jadi pindah?” ujarnya.


Mendapati itu, Kishi dan Dean berangsur saling lirik.


“Wanita tadi pemilik sekolahan ini?” tanya Dean.


Yuan segera mengangguk. “Enggak usah khawatir. Dia enggak berani macam-macam, karena Papa sudah minta polisi buat pantau. Toh, penyalahgunaan narkoba yang menimoa anaknya juga sedang ditindak lanjuti.”


Mendengar itu, Kishi dan Dean refleks mengangguk seiring kelegaan yang detik itu juga mereka kantongi. Akhirnya, sengketa Feanya selesai juga.


“Pihak sekolah sangat takut kehilangan murid berprestasi seperti kalian. Jadi, pertahankan dan jika perlu ditingkaykan. Papa bangga sama kalian!” puji Yuan sampai berkaca-kaca.


Yuan menepuk-nepuk sebelah bahu Kishi dan Dean secara bersamaan. Dan kebersamaan tersebut diakhiri dengan senyum berikut kebahagiaan. Yuan yang harus kembali ke kantor lantaran setumpuk pekerjaan sudah menunggu, juga Dean dan Kishi yang harus kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung.


Sembari melangkah tegas dan kemudian diikuti seorang ajudan yang terjaga di depan lorong menunu gerbang sekolah, Yuan pun berinisiatif menelepon Athan.


“Than,” ucap Yuan ketika telepon yang ia lakukan kepada Athan, terhubung.


“Ada apa, Yu? Aku baru mau naik pesawat ini. Semuanya aman, kok. Kimi dan bayi laki-laki kami, sudah sangat sehat!” sergah Athan dari seberang yang terdengar sangat semringah.


“Jiaah ... aku bahkan belum tanya, kamu sudah jelasin sedetai itu? Tapi ya syukur kalau begitu. Selamat ya!” balas Yuan.


“Anakku bilang, dia mau kado, Yu!” sambung Athan lagi.


“Ya ampun ... kenapa kamu jadi enggak tahu malu kayak Kimo?!” cibir Yuan dan sukses membuat Athan bahkan Kimi kompak tertawa.


“Urusan hadiah, pasti ada. Nanti, setelah kalian sampai Indo. Tapi Tan, ini aku masih di sekolah anak-anak,” lanjut Yuan.


Semenjak Athan menikah dengan Kimi, hubungan keluarga Yuan, Athan, termasuk Kimo memang terjalin semakin baik.


“Ada masalah? Tapi Kishi enggak cerita?”


Yuan yang baru saja masuk setelah sang ajudan membukakan pintu penumpang untuknya pun berujar, “itu ... si Ryunana nyaris nerkam anak-anak kita!”


“Astaga ... kenapa lagi wanita gila itu? Ternyata dia masih hidup?”


Dari seberang, Athan terdengar langsung tersulut emosi. Dan Yuan pun segera menceritakan duduk perkara yang sebenarnya. Perihal kenapa anak-anak mereka sampai berurusan dengan Ryunana.


Dan ketika perkara Dean sudah selesai, yang kembali menguras perhatian Yuan adalah nasib Pelangi. Pelangi yang bahkan belum mengerti perasaannya sendiri sedangkan gadis itu sudah dihadapkan pada pernikahan.


Namun, dari kenyataan pelik tersebut, sebenarnya yang paling mengganggu pikiran Yuan adalah perihal tanggapan sekaligus restu dari Keinya. Karena Yuan yakin, Keinya tidak akan melepas Pelangi apalagi mengenai urusan pernikahan. Terlebih, sebelum bersamanya, Keinya sempat gagal dan trauma dari kegagalan tersebut masih menghantui wanita itu.


Bersambung ....

__ADS_1


InsyaAlloh, hari ini up dua episode. Jadi, masih ada 2 episode lagi, yaa ♥️💜


Oke. Author mau nulis yang di Dream dulu. Nulis Ipul 😂😂😂🙏


__ADS_2