
Bab 101: Spesial Menuju Ending 💜💐
Semenjak mengetahui dirinya hamil, hari-hari Pelangi menjadi jauh dari tenang, apalagi ketika Kim Jinnan tak ada di dekatnya. Resah dan gelisah membuat wanita muda itu kerap memastikan keberadaan suaminya. Bahkan nyaris lima menit sekali, Pelangi mengirimi Kim Jinnan pesan, memastikan apa yang pria itu lakukan?
Sungguh, Pelangi benar-benar takut Kim Jinnan sampai mengkhianatinya. Pelangi takut pria itu hanya mempermainkannya, layaknya apa yang pernah terjadi pada orang tuanya di masa lalu. Mengenai Keinya yang sempat hanya dipermainkan oleh Athan. Dan Pelangi takut, semua itu sampai menimpanya. Bukankah buah jatuh, tidak pernah jauh dari pohonnya? Dan dengan kata lain, semua itu juga bisa saja menimpa Pelangi apalagi sekarang, Pelangi juga sedang hamil?
Layaknya kini, sudah berulang kali Pelangi mondar-mandir di dalam kamarnya. Kedua tangannya sibuk memastikan ponsel, sedangkan kedua matanya sudah bengkak karena air matanya tidak bisa berhenti berlinang, lantaran sudah hampir pukul sepuluh malam, Kim Jinnan tak kunjung pulang.
Meski kini Pelangi sedang tinggal di rumah orang tuanya, di mana Pelangi yang sedang hamil juga semakin mendapatkan banyak perhatian, tapi tanpa Kim Jinnan, Pelangi sungguh tidak bisa tenang. Bagaimana jika pria itu menemukan wanita lain yang lebih baik dari Pelangi? Bagaimana jika cinta Kim Jinnan menjadi berkurang bahkan hilang, lantaran pria itu sudah bosan dengan hubungan mereka?
Beruntung, seseorang membuka pintu kamar Pelangi dari luar, dan itu merupakan Keinya.
“Kamu kenapa?” Keinya yang membawa nampan berisi segelas susu, tak kuasa menyembunyikan kecemasannya lantaran baru juga masuk kamar, Pelangi justru sedang menangis sambil mondar-mandir nyaris menghampiri pintu.
“Mah ... Jinnan ....” Pelangi merengak tak ubahnya bocah yang akan mengadu.
“Jinnan kenapa? Jinnan belum pulang, kan?” Keinya semakin cemas. Sebelah tangannya mengelus pundak Pelangi.
Pelangi yang semakin berderai air mata, mengangguk-angguk. “Iya. Kenapa dia belum pulang?”
“Hari ini, dia keluar kota, kan? Ke Bandung?” ujar Keinya lagi.
Kembali, Pelangi mengangguk-angguk. “Iya. Tapi kenapa dia lama banget enggak pulang-pulang? Jangan-jangan, dia lupa lagi sama aku?”
Pernyataan lanjutan Pelangi membuat Keinya terkejut. “Kamu ini ngomong apa?” Namun, jauh di lubuk hatinya, Keinya juga menyadari jika rasa perih mendadak menyelusup di hatinya. Seperti ada luka yang kemudian ditetesi air perasan jeruk nipis.
“Dulu, ... ayah juga begitu, kan? Bagaimana jika itu juga sampai menimpaku, Ma?” Pelangi masih terisak-isak sambil menunduk dalam.
Tangis Pelangi terdengar semakin pilu.
“Kamu ini apa-apaan, sih? Jinnan enggak mungkin begitu. Bahkan kamu sendiri yang berhasil meyakinkan semua orang termasuk Mama, kalau Jinnan berbeda, kan? Jinnan bisa diandalkan? Dia sangat bertanggung jawab bahkan kepada adik-adikmu?” Keinya merangkul Pelangi menggunakan sebelah tangan, mengingat sebelahnya lagi masih menahan nampan.
“Aku takut, Ma. Aku takut Jinnan berubah kayak Ayah!” Pelangi tak hentinya berkeluh kesah.
Keinya menghela napas dalam sambil menggeleng tegas. “Enggak ... enggak ... enggak akan ada yang seperti itu lagi. Jinnan enggak gitu. Kamu jangan berpikiran buruk. Ini bisa mempengaruhi kesehatan kamu sama si baby. Justru, kalau kamu terlalu posesif begini, kasihan Jinnannya.”
“Tapi Mah ....”
“Ngie, ... lihat! Papa sama Mama. Kalau cara pikir Mama seperti kamu, bisa gila Mama, bertahun-tahun jadi istri papa! Papa punya semuanya. Papa sering dinas bahkan ke luar negeri. Papa sering bertemu wanita yang jauh lebih baik dari Mama, dan bahkan sering kali, mereka enggak segan menggoda papa! Ini realistis, sayang! Semuanya kembali ke kita!”
“Karena ketika kita sudah sepakat berkomitmen, ... apa pun itu, ayo dihadapi bersama. Dari kekurangan pasangan, juka waktu yang sering jadi bahan pemicu pasang surut hubungan.”
“Kamu menikah sama Jinnan, ... dia adanya begitu! Bahkan semakin ke sini, dia semakin sibuk. Kamu sadar enggak, kalau kesibukkannya itu rezeki anak kalian? Rezeki pernikahan kalian?”
“Ayo ... jangan begini. Harus belajar lebih dewasa. Lebih tenang, apalagi bentar lagi, kamu juga jadi mama!”
Keinya terus meyakinkan Pelangi. “Cara pikir yang begini, jangan dilanjutkan, ya? Kamu harus lebih tabah. Lebih kuat buat dukung suami dan masa depan hubungan kalian! Ini belum apa-apa, Ngie. Bayangkan ... dulu, waktu Mama sama papa bulan madu saja, ada saja wanita yang datang ke papamu. Apalagi kalau enggak ada Mama? Kayak tawon mungkin mereka berbondong-bondong berusaha menggoda papa!”
“Tapi aku tetap takut, Ma ....” Pelangi semakin mengeratkan dekapannya.
“Daripada kamu terus takut dan justru bikin hubungan kalian semakin buruk, lebih baik kamu jadi Pelangi yang lebih baik lagi. Tambah perhatian sama suami, mulai belajar masak, dan semua yang Jinnan mau. Karena suami juga ingin dimanja sama istri. Mereka bakalan tambah sayang, kalau kita juga tambah perhatian sama mereka!”
“Iya juga sih, Ma,” lirih Pelangi.
“Ya iyalah. Kamu ini. Sudah, jangan nangis lagi. Nanti Jinnan bingung, pulang-pulang matamu bengkak!” Keinya bergegas menyeka air mata Pelangi.
“Minum susunya, ya? Kamu sampai lupa. Sudah papa buatin juga! Ihh ...!” Kali ini, Keinya sampai mencubit gemas hidung Pelangi.
Pelangi merengut manja dan kemudian menerima segelas susu yang sampai dituntunkan oleh Keinya. Karena meski sebelah tangan Keinya mengelus perut Pelangi yang sudah terbilang buncit, Keinya juga masih membantu Pelangi minum dan tak segan memperlakukan Pelangi bak bayi.
“Dua minggu lagi syukuran empat bulan kehamilanmu. Acaranya di sini saja, kan?” ujar Keinya kemudian, tak lama setelah Pelangi baru saja menuntaskan susu di gelasnya.
Sambil menyeka sekitar bibirnya menggunakan punggung tangan kanan, Pelangi yang balas menatap Keinya, justru berangsur menggeleng.
“Lho ... kalian, mau bikin acaranya di rumah kalian?” Keinya terheran-heran.
“Enggak, Ma.”
“Lah, terus, di mana?”
__ADS_1
Pelangi menjadi tersenyum. “Aku sama Jinnan sepakat buat acaranya di beberapa panti asuhan, sekalian doa bersama buat orang tua Jinnan dan almarhum kakek Jungsu.”
“Ya ampun kalian hebat banget? Mama saja enggak sampai berpikir ke situ? Ya sudah, nanti Mama bilang ke papa.”
Pelangi menjadi tersipu. “Mama sama papa enggak usah repot-repot. Kami sudah urus dan semuanya sudah beres, kok.”
Keinya segera menggeleng. “Tapi tetap, Mama sama papa juga akan bikin acara di rumah.”
Pelangi tak kuasa menolak niat baik Keinya. “Iya, enggak apa-apa, Ma.”
“Ya, iya ... buat cucu! Nenek jugapada heboh mau bikin acara besar-besaran.”
“Tapi, Ma ....”
“Temenin makan, yuk. Aku laper!” Pelangi mendekap sebelah lengan Keinya.
“Ya sudah. Kamu mau Mama siapin apa? Saran Mama, ke depannya kalau Jinnan enggak sedang libur, kalian tinggal di sini saja, biar kamu masih ada yang nemenin. Ada Mama papah, Dean, sama Zean, kan, kamu jadi enggak terlalu bosan.”
“Iya, Ma ... Jinnan juga mintanya gitu ke aku.”
“Nah, itu, suamimu saja sudah mikir begitu! Masih saja kamu curiga! Ih, kamu ya, enggak bersyukur banget!”
“Ya Mama ....”
“Tapi kamu memang salah, Ngie.”
“Jarang-jarang, lho, seusia Jinnan sudah mikir. Mama sama yang lain saja, awalnya takut, karena usia kalian yang terlalu muda, kalian jadi semena-mena. Tapi yang ada, justru Jinann yang lebih mikir!”
“Ya ampun Mama ... kesannya aku bobrok banget!” keluh Pelangi yang kembali merengek tak ubahnya bayi.
“Si Ngi-ngie ... gara-gara hamil, jadi berisik kayak tukang bakso Malang!” celoteh Zean dan yang melongok dari pintu kamarnya.
Zean menatap sebal Pelangi yang langsung menertawakannya.
“Sayang, kamu belum tidur?” tegur Keinya yang juga menjadi menertawakan Zean.
Zean mendengkus kesal di tengah kenyataannya yang sampai memasang ekspresi judes. “Ngi-ngie berisik, Ma. Padahal aku lagi sakit gigi! Pipiku saja jadi berat sebelah gara-gara bengkak sebelah!” keluhnya sambil mengelus-elus pipi kanannya yang bengkak dan sangat merah.
“Kenapa aku harus makan yang manis-manis, sedangkan aku saja sudah sangat manis, Ma?” kilah Zean yang kemudian menyeringai menahan sakit di gigi sebelah kanannya, lantaran saking bengkaknya, untuk berucap saja, ia jadi terbatas.
“Kamu ketawa terus, Ngie ... nanti anakmu pipinya gede sebelah, lho!” ancam Zean sambil menatap sebal kakak perempuannya.
“Eh ....” Pelangi yang masih tertawa segera menekap mulutnya menggunakan tangan kanan, sedangkan sebelahnya lagi mengelus-elus perut. “Amit-amit ... amit-amit!”
Tak lama kemudian, kedatangan Kim Jinnan sukses menjadi bahan rebutan Pelangi dan Zean yang sama-sama mengharapkan perhatian dari pria itu. Namun, lantaran keadaan Zean terbilang mengenaskan, Kim Jinnan yang sebenarnya sudah sangat lelah, memutuskan untuk menggendong Zean sesaat setelah merangkul Pelangi dan mengelus perut wanita itu. Pelangi hanya menerima sekantong cukup besar berisi aneka makanan.
“Lotek? Yang mirip pecel tapi bumbunya kental itu? Yang kamu makan tadi siang? Memangnya enggak basi?” ujar Pelangi.
“Harusnya enggak. Itu kan, aku minta dibuatinnya dadakan.” Kim Jinnan meyakinkan Pelangi.
“Tahu bulat kali, dadakan. Jinnan ini, ada-ada saja,” ujar Zean yang masih bergelendot manja dalam embanan Kim Jinnan.
Ocehan Zean sukses membuat Pelangi kembali tertawa. Namun, lantaran Zean sedang emosi-emosinya, Pelangi sengaja menekap mulutnya.
“Zean ... ayo ikut Mama. Jinnan mau mandi terus makan dulu. Lagian ini sudah malam. Ayo kamu tidur. Mama temenin, ya?” bujuk Keinya.
“Enggak usahlah, Ma. Malam ini, aku mau tidur sama Jinnan sama Ngi-ngie.” Zean masih merengut.
“Jangan. Nanti kalau kamu sampai nendang perut Ngi-ngie, gimana?” kilah Keinya. “Kamu tidur sama Mama saja.”
“Ya Mama ... gara-gara sakit gigi saja, aku sudah enggak bisa makan dan tubuhku sampai lemes begini. Masa iya, tidur sama Jinnan saja enggak boleh?” keluh Zean lagi.
Baik Kim Jinnan maupun Pelangi, sama-sama sibuk menahan tawa. Akan tetapi, meski gara-gara sakit gigi, Zean semakin menjengkelkan dan semuanya menjadi sibuk dikomentari, tapi jika melihat pipi bocah itu yang besar sebelah, bahkan tubuh Zean saja sampai menyusut hanya karena tiga hari sakit gigi dan membuat bocah itu hanya minum jus dan sup, rasanya tidak tega jika tidak mengabulkan setiap permintaannya.
“Zean ... ini sudah malam,” tegur Yuan yang kebetulan baru saja datang menghampiri kebersamaan.
“Gigiku sakit, Pa!” rengek Zean.
“Besok kan Papa antar kamu ke Singapura buat cabut gigi, kan?” ujar Yuan sembari terus menghampiri kebersamaan.
__ADS_1
“Ah, enggak, ah!” tolak Zean cepat.
“Ya mending enggak dicabut, daripada kalau dicabut diganti pakai gigi kucing!” rajuk Zean.
Ke empat orang yang ada di sana, sukses menertawakan balasan Zean yang masih saja memasang wajah judes.
“Kata siapa, mau diganti pakai gigi kucing?” Yuan mengambil alih Zean dari Kim Jinnan.
“Si Dean bilang begitu, Pa! Katanya kalau gigiku dicabut di Singapura, bakalan diganti pakai gigi kucing! Enggak jelas bangetlah, kalau gigiku diganti pakai gigi kucing! Kalau aku jadi ngeong-ngeong, gimana?”
Tawa kembali pecah menghiasi kebersamaan. Sampai-sampai, Pelangi menyerahkan kantong makanannya kepada Kim Jinnan, lantaran tawa yang membuat Pelangi sampai sakit perut, juga membuat wanita muda itu kebelet pipis.
“Hati-hati, Ngie,” tegur Yuan lantaran Pelangi sampai lari terburu-buru dalam memasuki kamar.
Dari balik pintu kamarnya, Dean yang nyatanya melongok dan menyimak, juga tak kuasa menahan tawanya.
“Tuh Pa, si Dean. Marahin dong Pa! Mah, aku mohon, marahin Dean!” rengek Zean.
“Hahaha ... kamu masih untung, Zean, kamu sakit gigi bertepatan dengan Rora yang pergi ke Ausi. Bayangkan jika Rora enggak pergi dan dia main ke sini, terus lihat pipimu gede sebelah?”
“Ya ampun ... jangan!” keluh Zean yang menjadi ketakutan.
“Hahaha ....”
“Sini ... sini ... aku foto terus kirim ke Rora, ya?” Dean sengaja menjaili Zean. Ia mengarahkan ponselnya dan siap mengambil foto bocah itu melalui kamera di ponselnya.
Tentu, apa yang Dean lakukan sukses membuat Zean merajuk kesal. Dan andai saja Keinya tidak menjewer Dean, mungkin Dean masih betah meledek Zean.
“Jewer, Ma ... sampai putus, Ma ... dia sudah jahat banget sama aku!”
***
“Kenapa matamu bengkak?” tanya Kim Jinnan ketika mereka hanya berdua di dapur.
Pelangi yang menjadi merengut manja pun menjawab jujur. “Kamu lama pulangnya.”
“Ya ampun ... kalau kamu enggak kuliah, pasti sudah aku ajak. Sekarang jadwal kita bentrok karena kamu juga fokus kulaih, kan?” Kim Jinnan berusaha memberikan pengertian kepada istrinya.
Di dapur, mereka sedang menikmati lotek yang menjadi salah satu makanan khas Bandung. Kim Jinnan memang sengaja membeli makanan berupa sayuran yang akan dicampur dengan bumbu kacang menyerupai pecel itu untuk Pelangi, lantaran semenjak hamil, Pelangi sangat menyukai semua makanan yang kaya sayuran sekaligus lalapan. Dari gado-gado, pecel, juga aneka sayuran rebus yang kemudian akan dicocol dengan sambal. Bahkan saking senangnya makan sayuran, Pelangi sampai jarang makan yang lain termasuk nasi.
“Iya ... maaf ....” Pelangi menunduk menyesal sambil mengunyah pelan lotek yang sudah ada dalam mulutnya.
Tanpa menjawab, sebelah tangan Kim Jinnan mengelus punggung kepala Pelangi. Terhitung, semenjak tahu hamil, istrinya itu memang semakin posesif bahkan gampang parno. Dari Pelangi yang menjadi sibuk memantau aktivitas Kim Jinnan, juga kedua mata Pelangi yang Kim Jinnan jumpai bengkak parah layaknya sekarang.
Kim Jinnan yakin, semua itu karena sang istri sibuk menangis menakutkan banyak hal, ketika mereka dipisahkan oleh jarak. Pun meski Kim Jinnan sudah membagi waktunya sebanyak mungkin untuk Pelangi. Dari Kim Jinnan yang akan langsung menghubungi Pelangi di setiap kesempatan bahkan ketika pria itu sedang memimpin rapat besar, juga Kim Jinnan yang tak segan mengajak Pelangi ikut serta dalam dinasnya. Semua itu benar-benar belum bisa membuat Pelangi tenang apalagi percaya.
“Padahal, yah, Ngie ... meski aku ada di sisimu dan kamu tertawa lepas saja, aku masih takut, aku belum bisa bikin kamu bahagia.”
“Jinan ...?”
“Makanya, kamu jangan sedih-sedih terus. Parno, cemas, risau ini itu. Emosimu sangat mempengaruhi anak kita.”
“Contohnya sudah ada. Kamu, Dean, dan juga Zean. Kalian dilahirkan dari rahim yang sama.”
“Namun karena ketika mengandung kamu, mamah dalam keadaan sangat tertekan bahkan setres, hasilnya ... kamu lihat sendiri pada dirimu. Kamu bukan tipikal yang bisa mengutarakan isi hatimu. Kamu juga bukan tipikal seceria saudara-saudaramu.”
Kim Jinnan masih berusaha memberi istrinya pengertian. Dan kenyataan tersebut membuat Pelangi semakin menunduk dengan banyak sesal.
“Jangan dilanjutkan, ya. Kamu bisa percaya aku, kok. Buat apa aku capek-capek kerja, kalau bukan buat kamu dan keluarga kita? Kita sudah menikah dan sebentar lagi akan punya anak, lho.”
“Iya, Jinnan. Aku akan belajar.”
“Iya. Begitu. Kamu santai saja. Bawa bahagia. Nonton, jalan-jalan, olahrahraga.” Kim Jinnan berangsur mendekap kepala Pelangi. “Kamu punya semuanya, lho. Tuhan sayang banget sama kamu. Hidupmu itu terbilang sempurna. Tapi kamu lupa dan sepertinya, kamu juga enggak pernah mensyukurinya.”
Meski kali ini Pelangi menangis, tapi tangisnya bukan karena kerisauan apalagi ketakutan Pelangi akan ditinggal Kim Jinnan. Melainkan karena Pelangi menyesal lantaran dirinya memang tidak pernah mensyukuri apa yang dimiliki.
“Iya, benar. Hidupku sempurna, apalagi semenjak aku punya kamu!” ucap Pelangu sembari mendekap tubuh suaminya.
“Bahagia itu kita yang tentuin. Aku saja belajar setelah kehilangan banyak hal. Bahkan, aku juga belajar banyak dari kamu.” Kim Jinnan mengelus punggung istrinya, dengan harapan, kali ini Pelangi benar-benar akan mengerti dan menyudahi ketakutannya.
__ADS_1
“Iya, Jinnan. Aku mengerti. Aku benar-benar akan belajar!”
Bersambung .....