Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 24 : Tragedi


__ADS_3

“Bahkan sekalipun aku lebih membutuhkanmu, kamu tetap memilih bersamanya, Ean?”


Bab 24 : Tagedi


“Kalau memang Kishi pintar dan nilai A+ yang didapat memang hasil Kishi sendiri bukan karena Dean, bukan masalah kan, kalau kalian duduk terpisah?” ucap Feaya tak lama setelah Dean dan Kishi duduk di kelas. Tentunya, sebelum itu, Kishi membersihkan meja berikut kursi miliknya maupun milik Dean, menggunakan tisu basah.


“Kenapa kamu selalu mempersulit hidup orang lain? Cukup urus dirimu biar enggak nyusahin hidup orang lain, itu sudah lebih dari cukup!” umpat Kishi yang sebenarnya sudah semakin muak kepada Feaya.


“Jangan didengar. Biarkan saja,” ujar Dean yang menuntun Kishi untuk duduk kembali.


“Tapi meski apa yang Fe lakukan memang terbilang keterlaluan, bukan masalah berarti juga, sih, kalau memang Kishi genius juga kayak Dean?” ujar salah satu siswi di sana.


Suasana mendadak senyap untuk beberapa saat sebelum akhirnya murid yang lain justru membenarkan anggapan siswi tersebut.


“Nah, kan, semuanya setuju sama usulku? Toh, aku juga ingin belajar lebih giat lagi. Kalau aku duduk sama Dean kan jadi adil, karena aku juga bisa sekalian belajar sama dia!” kilah Feaya bersemangat.


“Tapi aku enggak mau duduk sebelahan sama kamu!” tegas Dean cepat dan sukses membuat semua murid di sana refleks menahan tawa.


Feaya merasa dihakimi dan menjadi merengut atas kenyataan tersebut.


“Termasuk Kishi, ... Kishi juga enggak bisa dekat-dekat sama kamu,” lanjut Dean masih dengan suara tegas tak ubahnya tatapannya. Sebab, Kishi memang tidak bisa beradap tasi di tempat yang kotor termasuk dekat-dekat dengan orang yang jorok layaknya Feaya.


“Baru kali ini, aku sekolah bayar pakai uang dan ngerjain tugas pakai kemampuanku sendiri, tapi selalu saja dipersulit!” rutuk Kishi yang menjadi pusing sendiri.


Dengan wajah yang menahan banyak rasa kesal, Feaya pun menghela napas. “Ya sudah, siapa yang mau duduk sebelahan sama Kishi?” tegasnya.


Dan semua siswa langsung mengangkat sebelah tangannya dengan sangat bersemangat tanpa terkecuali siswa yang duduk di sebelah Feaya sendiri yang sempat mengalami penggusuran oleh Dean. Di mana, tak lama setelah itu, semua siswi di sana juga berangsur mengangkat tangan mereka kecuali Feaya sendiri. Kenyataan tersebut pula yang membuat kekesalan Feaya kepada Kishi menjadi semakin menjadi-jandi.


Feaya berdeham. “Baiklah. Sekarang aku tanya, siapa yang mau duduk bersebelahan denganku? Yang mau enggak usah angkat tangan!” ujarnya bersemangat.


Namun siapa sangka, semua murid di sana langsung mengangkat kedua tangan mereka tanpa terkecuali Dean dan Kishi.


“Kok gitu, sih?” rutuk Feaya kesal. “Apa salahku? Kenapa kalian jahat ke aku? Hanya karena tubuhku gendut? Heii, aku ini cinderella bertubuh gendut! Bahkan aku sedang dalam tahap diet!”


Semua murid di sana dibuat bingung dengan keluh kesah Feaya. Gadis itu yang memulai, tetapi gadis itu juga yang menanam kesedihan untuk hidupnya sendiri.


“Sudah lupakan. Kita fokus belajar saja. Ini sekolah tempat untuk belajar, menuntut ilmu. Bukan tempat survei apalagi tempat pencarian dukungan!” tegur Dean. 


Kemudian, Dean menatap serius Feaya. “Dan jika kamu masih sibuk cari perhatian, sebagai ketua kelas di sini, aku bisa melaporkanmu kepada wali kelas atau malah kepala sekolah.” 


“Silakan saja! Pemilik gedung sekolah ini saja papaku!” balas Feaya sewot.


Dean menghela napas dalam seiring rasa lelah yang tak lagi bisa ia tahan apalagi sembunyikan. Dean yang menatap Feaya sebal bahkan sampai bangkit dan berdiri dari duduknya. “Aku sudah cukup bersabar. Tapi karena kamu terus menyerang Kishi, aku enggak bisa diam lagi!”


Suasana di sana menjadi diselimuti banyak ketegangan. Namun, murid-murid di sana juga menjadi mengecam cara Feaya menyerang Kishi, semenjak Kishi mereka ketahui sebagai kekasih Dean. Karena semenjak itu juga, Feaya terus saja menyerang Kishi, dan terakhir puncaknya hari kemarin, ketika Feaya memaksa Kishi duduk di sebelahnya, sedangkan tak lama setelah itu, Kishi mendadak pingsan.


“Kishi ... mulai hari ini, kita pindah sekolah saja,” ucap Dean yang kemudian menatap Kishi sambil mengangguk, menuntun gadis itu untuk mengikutinya.


“Wah ... sekolah ini akan kehilangan murid genius dong?” lirih salah satu dari mereka yang langsung membuat suasana kelas menjadi riuh.


Dean segera menggandeng Kishi dan menuntun gadis itu untuk berdiri. Namun setelah itu, Dean juga mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Yuan.


“Pa, sepertinya aku akan pindah sekolah saja,” ucapnya ketika telepon yang dilakukan memang langsung mendapat jawaban.


“Gila ... Dean sedang mengobrol dengan papanya?”


“Eh, sebelum Pelangi keluar saja, ada beberapa wali murid yang dipanggil pihak sekolah gara-gara kasus bully yang menimpa Pelangi. Wali murid itu diminta Yuan Fahreza untuk datang.”


“M-masa, sih?”

__ADS_1


“Serius! Masa kamu enggak tahu? Kasus ini rame, lho!”


“Lah, terus, kalau pemilik sekolah ini justru papanya Feaya, kira-kira kasusnya bakalan bagaimana, ya?”


“Dibawain telur dinosaurus terus suruh berkembang biak di sini kayaknya, biar penghuni sekolah kembali ke jaman bahela!”


Murid-murid yang bergosip menjadi terkikik dan sibuk menekap mulut demi meredamnya.


“Sepertinya masalahnya terlalu berat?” ujar Yuan dari seberang.


Dean mengangguk. “Mm ... tapi sebelum ini, aku akan menemui wali kelas dan juga kepala sekolah,” balasnya.


“Memangnya enggak bisa ditoleransi lagi? Terlebih dari awal, kamu yang minta sekolah di situ, kan?” tawar Yuan dari seberang.


“Enggak, Pa. Papa pasti tahu. Dan aku akan menceritakan semuanya setelah kita bertemu. Ya sudah, ya, Pa ... aku mau langsung urus semuanya dulu.”


“Baiklah. Lakukan yang terbaik.”


“Iya, Pa.”


“Mm ... segera hubungi Papa untuk perkembangan kasusnya,” balas Yuan sebelum mengakhiri sambungan telepon mereka tepat setelah Dean juga menyanggupi permintaannya.


Dean segera mengantongi ponselnya. “Ada yang mau pindah juga? Enggak usah, ya. Kalian harus betah sekolah di sini. Jangan lupa, tetap ramaikan grup WA meski aku sudah bukan bagian dari kelas sekaligus sekolah ini.” Dean mengulas senyum. Senyum yang selama ini belum pernah di dapatkan oleh penghuni kelas kecuali Kishi.


“Kok jadi melow begini, sih, Ean? Siapa, sih, yang tebar-tebar bawang di sini?” sela salah satu dai siswi yang sampai berkaca-kaca dan sibuk mengelap air matanya.


Ya, kesedihan benar-benar menyelimuti kelas.


“Fe ... minta maaf, lah. Kamu sudah keterlaluan, lho. Diam saja kenapa kamu?”


“Iya. Kayak biasanya saja. Makan yang banyak terus tidur. Biasanya kamu begitu, kan? Enggak dikit-dikit marah, protes ini itu?”


“Iya ... Fe yang sekarang jadi ngeselin. Mana minta dipanggil cinderella gendut segala!”


“Tapi kalau tiap hari dirusuhin begini, rasanya enggak nyaman banget, Ki!” Dean berusaha meyakinkan.


Kishi berangsur menatap Feaya. “Fe, sebenarnya kamu kenapa, sih?”


“Karena sebelum ada kamu, Dean perhatiannya ke aku!” keluh Feaya meledak-ledak. “Tapi semenjak ada kamu, Dean jadi berubah!”


Penegasan Feaya membuat teman kelas mereka syok.


“Aku perhatian ke kamu, ini maksudnya bagaimana? Jangan bikin yang lain salah sangka deh, Fe ...!” keluh Dean.


“Sebenarnya, aku dan Dean sudah kenal dari kecil. Jadi, jika kamu atau kalian semua berpikir hubungan kami terlalu tiba-tiba, itu salah besar,” jelas Kishi.


“Sudah, pergi! Ngapain kalian masih di sini? Katanya mau pindah sekolah!” usir Feaya tiba-tiba.


Dean yang sudah kehabisan batas kesabaran segera menggandeng Kishi dan membawanya pergi dari kelas. Dean meninggalkan kelas tanpa sudi menatap penghuninya apalagi Feaya.


“Maaf, ya, kalau aku sama Dean banyak salah,” sesal Kishi sembari menatap sedih semua murid di sana yang juga balas menatapnya dengan tatapan sedih.


Tak lama setelah kepergian Dean dan Kishi, semua murid pun menjadi tertunduk sedih.


“Gila, ya, enggak kebayang di otakku yang cetek ini. Mereka yang berasal dari kaum berada saja ditendang, apalagi aku yang terlahir dari kaum jelata tanpa bisa ditawar?”


“Lah ... apalah aku yang remukan tepuk yang sudah sampai diayak, sampai-sampai lebih hina dari sebutir debu?”


Satu persatu murid di kelas saling berkeluh-kesah, membuat Feaya yang masih di sana, menjadi merasa semakin muak. Ya, Fe yang tidak tahan memutuskan untuk pergi. Fe melangkah cepat meninggalkan kebersamaan dengan banyak kekesalan.

__ADS_1


“Itu mau ngapain lagi tuh si gendut?” bisik mereka penasaran.


Semua murid langsung mengekor, tetapi hanya sampai depan pintu. Mereka berkumpul dan mengamati kepergian Feaya dari sana.


“Kira-kira, Fe mau ke mana, dan ngapain juga?” ujar salah satu dari mereka.


“Mungkin menyusul Dean dan Kishi. Sejenis minta maaf?” tebak salah satu dari mereka.


“Masa, sih? Tadi saja langsung main usir?”


“Iya. Aku juga sanksi!”


“Ya asal jangan bunuh diri saja, sih.”


“Kok, bunuh diri, sih? Gimana ceritanya? Pakai tali? Ya talinya yang patah. Pakai obat? Obatnya enggak mempan! Jatuhin diri? Lantainya yang rusak!”


*** 


Dean dan Kishi baru saja keluar dari ruang kepala sekolah, ketika suara Feya terdengar berseru memanggil nama Dean. Suara itu terdengar sangat jelas, tetapi tidak disertai penampakan. Tidak ada di segala lorong atau ruangan di sekitar sana. Namun tak lama setelah mencari-cari, Kishi menemukan Feaya ada di balkon atas ruang kelas mereka.


“De!” pekik Kishi sembari menatap ngeri Feaya.


Dean segera memastikan apa yang mengganggu Kishi. Gadis itu menatap seram ke balkon kelas mereka yang memang berhadapan dengan ruang kepala sekolah. Dan ketika Dean memastikan, di sana ada Feaya yang sudah merentangkan kedua tangannya. Feaya seolah siap untuk loncat, dengan ketinggian balkon yang menyentuh sekitar tiga puluh meter.


“Gila, kamu! Turun!” bentak Dean.


Lain halnya dengan Kishi. Kishi yang telanjut lemas memilih bersembunyi di balik punggung Dean.


“Aku hanya mau turun kalau kamu mau jadi pacar bahkan nikah sama aku!” ancam Feaya.


“Enggak akan!” tegas Dean cepat. 


Sungguh, apa yang Feaya lakukan sukses membuat Dean sangat membenci gadis itu.


“Kalian masih di sini?” ucap Kepala Sekolah yang kebetulan baru keluar dari ruangannya.


Kishi refleks menoleh. Dengan pandangannya yang sampai menggelap, Kishi berkata, “Pak, di atas ada Fe. Dia mau bunuh diri!”


Pria berkumis tebal di hadapan Kishi langsung syok. Ia memastikan apa yang Kishi katakan dan memang benar, Feaya ada di sana. “Fe, apa yang kamu lakukan? Mundur, jangan begitu!” serunya.


Kishi yang telanjur lemas tak karuan, akhirnya terjatuh pingsan. Tentunya, kenyataan tersebut sukses merenggut fokus Dean. Dean yang segera jongkok dan lebih memilih fokus mengurus Kishi.


“Ki ... Ki, ya ampun, Ki ....” Dean membopong Kishi dan membawanya ke UKS yang keberadaannya ada di ujung lorong depan.


Menyadari Dean justru pergi membawa Kishi, fokus Feaya pun buyar. Gadis itu refleks melangkah. Feaya bermaksud menahan Dean. Namun apa daya, ulahnya justru membuatnya benar-benar terjatuh sesuai ancaman yang ia layangkan kepada Dean. Sebab, apa pun yang terjadi, Dean memang lebih memilih Kishi.


“Bahkan sekalipun aku lebih membutuhkanmu, kamu tetap memilih bersamanya, Ean?” sesal Feaya yang pasrah tubuhnya terjatuh sangat cepat ke bawah.


Bug ...


Bunyi jatuhnya tubuh Feaya yang terdengar sangat kencang, sukses merenggut semua perhatian yang mendengarnya, terlebih Kepala Sekolah yang menyaksikannya sampai berteriak histeris.


“Feaya jatuh ... dia lompat dari balkon kelas!” dan berita itu, menyebar dengan sangat cepat.


Dan apa yang Feaya lakukan tak ubahnya tragedi yang tidak akan terlupakan oleh mereka.


Bersmabung ....


Tetap ikuti dan dukung ceritanya. Dan yang sudah baca, tolong jangan pelit like dan komentar kalian, ya. Karena like dan komentar kalian, sangat menentukan nasib cerita ini di Mangatoon atau Noveltoon. Oh, iya, Jangan lupa baca cerita Author yang judulnya : Menjadi Istri Tuanku. Di sana sudah banyak episode juga 😍

__ADS_1


Salam sayang dan semoga sehat selalu,


Rositi.


__ADS_2