
Jika menurutmu menyia-nyiakannya adalah keputusan terbaik, seharusnya kamu juga tidak melakukan itu pada dirimu.
Bab 3 : Bertemu Dengan Calon Mertua
Kedatangan Kimo di kantor disambut dengan pemandangan yang kurang mengenakkan dikarenakan semua karyawannya menyambutnya dengan tatapan terheran-heran, bingung, bahkan terkejut. Dan ketika Kimo sampai di ruang kerjanya, Ana sekretarisnya mengabarkan, bahwa Kimo telah dipecat, sambil memberikan surat pemecatan yang sudah ditandatangani Franki. Kenyataan tersebut langsung disambut Kimo dengan senyum sarkastis sambil menatap tak percaya surat berikut amplop putih pemecatannya.
Tak lama setelah Kimo melempar surat berikut amplop pemecatannya ke meja yang bahkan sudah tidak didapati barang-barangnya berikut gelar jabatannya sebagai direktur utama, Ana minggir dan berangsur meninggalkan ruang kerja tersebut dikarenakan Franki datang dan memintanya untuk undur melalui gerakan wajah.
Setelah memastikan Ana pergi dan sampai menutup pintu, Franki berangsur mendekati Kimo. Pria bertubuh tambun yang sebagian kepalanya sudah dikuasai uban itu menghela napas dan terlihat jelas dalam keadaan yang tidak baik, walau sudah berusaha sesantai sekaligus setenang mungkin.
Kendati belum bersuara, tetapi derap langkah pelan tak bersemangat yang terdengar dari belakangnya, membuat Kimo berjaga dan segera balik badan. Benar dugaannya, Franki memang orang yang datang. Berbeda dengan sang mama yang keras kepala, papanya itu memang lebih santai dan mengedepankan realita termasuk mau mendengar setiap penjelasan untuk setiap kejadiannya.
“Kamu masih ingat dengan tawaran mamamu, kan?” ucap Franki yang merasa serba salah.
“Lusa, kalau Papa sempat, tolong datang ke pernikahanku.” Kimo mengatakan itu sesaat setelah menunduk. Sudah bisa ia pastikan jika Franki tidak bisa benar-benar memihak. Entah itu kepadanya, atau Kiara yang ia ketahui sangat Franki cintai.
Lantaran Franki tak kunjung memberikan respons, Kimo pun memutuskan pergi. Awalnya, ia memang melangkah sambil menunduk. Tetapi setelah ia keluar dari ruangan tersebut, ia mengangkat wajah bahkan dagunya—melangkah gagah layaknya biasa tanpa penyesalan sedikit pun. Karena seperti keyakinannya, ia adalah laki-laki yang akan memimpin sekaligus menentukan masa depan keluarganya. Pun meski ia harus kehilangan semuanya tanpa terkecuali pekerjaan. Kimo percaya, niat baiknya menikahi Rara dan membangun rumah tangga impian akan selalu diberi jalan termasuk dalam rezeki berikut kebahagiaan.
“Jangan gegabah. Kita pikirkan lagi dulu. Bila begini caramu, gadis itu pasti akan merasa sangat bersalah. Dia akan sangat bersedih. Kamu mau membangun hubungan berlandas kesedihan?” tahan Franki sesaat setelah berhasil mengejar dan menahan sebelah lengan Kimo.
“Ini kan, yang kalian inginkan? Tidak masalah. Aku pasti bisa mengatasinya.” Kimo tersenyum santai di antara duka yang masih menyelimutinya. Kemudian, dengan gaya yang masih sopan, ia menurunkan tahanan tangan Franki dari lengannya, sesaat sebelum berlalu meninggalkan pria itu.
***
“Kamu di mana?” tanya Rara ketika teleponnya pada Kimo, dijawab dari seberang. Ia menoleh ke sofa ruang keluarga yang sudah dihuni Franki. Pria itu tersenyum hangat padanya sambil mengangguk.
“Kamu ini bagaimana? Ini kan masih jam kerja. Tentu saja aku masih kerja,” balas Kimo dari seberang sana terdengar sabar. Beda dengan biasanya yang akan marah-marah atau bahkan menggodanya.
“Kerja?” ucap Rara mengulang sebagian jawaban Kimo sambil menatap Franki.
Franki mengernyit.
“Flora, jam segini biasanya aku memang sedang kerja, kan? Kamu ini kenapa, sih? Kita belum genap lima jam berpisah. Kamu sudah serindu itu?” sergah Kimo dari seberang yang akhirnya menggoda Rara tapi bagi Rara masih terdengar sarat kesedihan.
Rara tertunduk pasrah. “Ya sudah. Kapan kamu pulang?” Karena yang ia tahu, Kimo benar-benar sudah kehilangan semuanya termasuk pekerjaan, seperti yang dituturkan Franki beberapa saat lalu.
“Memangnya kalau aku pulang, mau dikasih apa?” balas Kimo dari seberang yang jelas-jelas masih menggoda.
Pipi Rara menjadi bersemu karenanya dengan rasa hangat yang menyekap begitu kuat. “Iih! Ya sudah kalau begitu!” Ketika ia hendak memutus sambungan telepon, dari seberang terdengar Kimo yang tertawa lepas.
Rara segera menaruh ponselnya di meja kecil sebelahnya kemudian memutari sofa panjang di hadapannya hingga ia berdiri dan duduk pada sofa tersebut menghadap Franki. Secangkir teh hangat telah ia sajikan untuk pria tambun yang memiliki rahang tegas layaknya Kimo tersebut. Alunan senyum hangat juga kerap ia dapatkan dari pria yang memang calon mertuanya meski Kimo sudah melepas semuanya termasuk hubungan dengan orang tuanya.
“Kuncinya ada di kamu. Kalau kamu sabar dan bisa meyakinkan Kimo, pasti semuanya akan baik-baik saja.” Franki menatap Rara penuh pengertian.
Rara pikir, Franki akan menghakimi dan memarahinya habis-habisan. Tetapi ternyata tidak, karena Franki justru menitipkan Kimo sekaligus memintanya untuk semakin menjaga Kimo, menuntun kekasihnya itu untuk semakin bersabar serta menjadi pribadi lebih baik. Bahkan Franki meminta Rara untuk memanggil dengan panggilan papa seperti Kimo. Benar-benar ketulusan seorang ayah yang mengingatkan Rara pada almarhumah ayahnya.
“Iya, Pa. Tapi tentu aku nggak bisa langsung membuat Kimo berubah pikiran.”
Franki mengangguk-angguk menyikapi balasan Rara. Namun kemudian ia menatap wanita muda di hadapannya dengan mengernyit. “Tapi omong-omong, benar, lusa kalian akan menikah?”
__ADS_1
“K-kata, siapa, Pa?” Rara gelagapan saking bingungnya. Siapa yang mengabarkan lusa akan menjadi hari pernikahannya? Tidak mungkin juga, Franki asal bicara, kan?
Franki yang tak kalah bingung segera mengangguk-angguk. “Iya, lusa. Kimo sendiri yang bilang begitu.”
Rara tersenyum masam sesaat setelah mengembuskan napas pelan melalui mulut. Kimo kebiasaan bikin fitnah ....
“Jadi, tidak benar, ya?” ujar Franki.
Rara tidak bisa memberikan jawaban pasti. Tetapi malam kemarin, dengan keadaan yang tidak baik-baik saja, Kimo memang meminta untuk segera melangsungkan pernikahan tanpa memikirkan resepsi.
“Mengenai itu, nanti aku kabari lagi, Pa. Soalnya, terkadang Kimo memang susah ditebak.” Rara masih berusaha bersikap sesopan mungkin.
Franki tersenyum memaklumi. “Dia pasti lebih banyak menyusahkanmu, ya?”
Rara tertunduk. “Kami selalu berusaha untuk saling melengkapi.” Ia menatap Franki sambil tersenyum hangat.
Senyum Franki kian lepas. Bahkan ia sampai mengangguk-angguk. “Memang harus terus seperti itu.”
“Omong-omong, Papa bisa bantu aku buat mendekati mama?” sambung Rara.
Franki langsung bergeming detik itu juga. Antara berpikir, tetapi cenderung bingung.
***
Kimo terduduk menunggu dengan rasa gelisah yang membuatnya tidak bisa tenang. Di sofa ruang tunggu perusahaan kenalannya, ia memang tengah menunggu hasil lamaran kerja yang ia lakukan. Ia sangat berharap bisa segera mendapatkan pekerjaan meski tentu bukan dalam jabatan tinggi serta gaji yang memadai. Belum lagi, lowongan pekerjaan yang ia datangi untuk ke lima di hari ini, setelah lowongan pekerjaan di tempat sebelumnya selalu ditolak dengan alasan mereka hanya perusahaan kecil dan tidak bisa memberi gaji memadai bila melihat pengalaman kerja Kimo, juga bukan perusahaan yang lebih besar dari perusahaannya. Jadi, kalaupun kali ini ia kembali ditolak dengan alasan pengalaman berikut gaji, Kimo akan memaksa untuk mencoba lebih dulu tanpa memikirkan gaji. Pun meski dalam keadaan Kimo yang sekarang, gaji menjadi urusan nomor satu, seberapa pun sulit pekerjaan yang harus ia lakukan. Terlebih ia sudah berkomitmen untuk menikah. Dengan demikian, ia juga harus memberikan kehidupan lebih layak untuk istrinya bagaimanapun keadaannya, bahkan meski ia harus melalui situasi yang sulit.
Kimo segera beranjak dari duduknya, ketika kenalannya yang bekerja di perusahaan tersebut kembali sembari membawa map berwarna biru selaku seperangkat keperluannya melamar pekerjaan. Sayangnya, wajah muram pria berkumis tipis tersebut membuat suasana hati Kimo langsung tidak enak.
Pria berkumis tipis itu menggeleng. “Perusahaan kami bisa bermasalah kalau menerima kamu,” sesalnya dengan berbisik juga layaknya apa yang Kimo lakukan.
Kimo mengernyit tidak mengerti. “Maksudmu bagaimana? Mengenai pengalaman dan gaji jangan dipikirkan dulu. Mengenai itu disamakan saja. Aku mohon tolong aku. Aku sedang sangat membutuhkan pekerjaan.” Kimo sampai memohon sambil menggenggam sebelah tangan pria di hadapannya.
Untuk pertama kalinya, aku rela menjadi pengemis. Aku rela membuang harga diriku asal aku masih bisa membahagiakan Rara dengan keringat sekaligus jerih payahku.
Pria berkumis tipis itu menggeleng. “Percuma, Kimo. Masalahnya, akun sekaligus seperangkat keperluan lamaran darimu ini, sudah dicekal dari perusahaanmu.”
Hati Kimo mencelus saking tak percayanya dengan apa yang baru saja ia dengar. Dicekal? Pantas ia yang seharusnya mudah mendapatkan pekerjaan justru ditolak dengan alasan tidak masuk akal.
Pria berkumis tipis itu menghela napas. “Coba selesaikan dulu masalah ini dengan perusahaanmu. Setelah itu, kami baru berani menerimamu. Maaf banget, ya Kim. Bukan karena aku nggak mau membantu. Tetapi ini menyangkut perusahaan, jadi kami nggak mau ambil risiko,” sesalnya.
Kimo yang seketika terdiam berangsur mengulas senyum. “Ya sudah, tidak apa-apa. Terima kasih, ya, sudah kasih info penting ini.”
Pria berkumis tipis itu mengangguk. “Segera hubungi kami kalau masalahnya sudah beres.”
Kimo mengangguk sembari berusaha berlapang dada. Kalau sudah begini, seberapa pun banyak aku melamar pekerjaan, pasti akan selalu ditolak. Tapi sepertinya mama papa memang sengaja mempersulit agar aku menyerah. Kimo melangkah sambil membungkuk. Sedih bahkan kecewa memang menggoyahkannya. Tetapi dengan kenyataan sekarang, justru membuatnya semakin tertantang.
Jika cara kalian begini tanpa peduli kepadaku, aku juga akan melakukan hal yang sama bahkan lebih!
Ketika akan melewati pintu keluar perusahaan berbahan kaca di hadapannya, Piera melangkah bersama seorang ajudannya. Ketika Kimo sampai berhenti, Piera yang sempat menurunkan kacamata hitam tebal yang dikenakan dan menatap Kimo seperti memastikan, justru berangsur berlalu begitu saja. Dengan gaya elegan tersebut, Piera terkesan sengaja menghindari Kimo.
__ADS_1
Kimo menghela napas tak habis pikir. “Kamu tidak merindukan anakmu? Kalaupun kamu tidak bisa mengurusnya, setidaknya kamu harus meminta maaf, kan?” ucapnya sambil menoleh bahkan balik badan demi menatap Piera.
Piera memang berhenti. Tapi hanya sebatas itu tanpa menoleh apalagi menatap Kimo. “Aku mau melahirkannya saja juga sudah untung, kan?”
Balasan Piera terdengar begitu sinis. Dan itu langsung membuat Kimo geram, di mana rahang pria itu langsung mengeras akibat gigi-giginya yang saling bertautan. Bahkan Kimo nyaris mengumpat, memaki habis-habisan wanita yang memiliki tubuh ramping dan jelas menjaga penampilan itu, andai saja ia tidak ingat wanita menyebalkan itu calon mertuanya.
Dengan napas terengah-engah, Kimo berujar dalam hati, “kalau ada yang menjual jasa santet online boleh lah, aku pesan buat calon mertuaku itu ....”
Piera berlalu tanpa menghiraukan Kimo.
“Kamu adalah orang yang akan paling menyesal karena telah menyia-nyiakannya!” tegas Kimo lantang.
Piera memang mendengarnya, tetapi ia yang sempat memelankan langkahnya tetap dengan keputusannya mengabaikan Kimo yang ia ketahui dekat dengan Rara.
Merasa disepelekan, Kimo bergegas mengejar dengan berlari dan berhenti di hadapan Piera yang refleks menghentikan langkah. Lain halnya dengan ajudannya yang bergegas terjaga bahkan langsung melakukan gerakan defensif, melindungi Piera dari Kimo.
Tanpa memedulikan ajudan Piera yang membusungkan dada sembari menghardiknya melalui tatapan bengis, Kimo mendorong pria tegap berkulit hitam tersebut sekuat tenaga tanpa sedikit pun meliriknya. Sesaat setelah sampai terempas, ajudan tersebut nyaris memberi Kimo balasan, andai saja Piera tidak menahannya dengan membentangkan sebelah tangannya.
“Lusa, aku dan Rara akan menikah. Aku hanya ingin mengatakan itu.” Kimo menatap tegas Piera yang ia yakini langsung bergeming meski wanita itu tetap berlindung di balik kacamata hitam yang dikenakan.
“Meski aku sangat mengecam caramu, tetapi aku juga ingin berterima kasih karena kamu telah sudi melahirkan wanita yang begitu istimewa seperti Rara.” Tatapan Kimo berubah menjadi hangat. Pun dengan nada suaranya yang menjadi begitu sopan. Tak lama setelah itu, Kimo mendekat kemudian menyalami tangan kanan Piera bahkan sampai menciumnya.
Piera menatap tak percaya apa yang Kimo lakukan. Bahkan ia sampai gemetaran.
“Jaga dirimu. Kamu harus tetap sehat dan menjalani hidup dengan lebih baik. Jika menurutmu menyia-nyiakannya adalah keputusan terbaik, seharusnya kamu juga tidak melakukan itu pada dirimu. Semua yang kamu miliki sekarang tidak bisa kamu bawa mati. Tetapi memiliki anak istimewa seperti Rara, akan selalu membantumu bahkan hingga kamu mati.” Kimo belajar dari Rara menyikapi Tiara. Baginya, meminta orang yang telah berbuat banyak dosa bahkan menyakiti kita agar tetap hidup adalah salah satu cara mengingatkan yang bersangkutan untuk bertobat. Menjalani kehidupan lebih baik, berikut hukuman yang seharusnya dituntaskan.
Setelah berkata seperti itu, Kimo membungkuk, berlalu dari hadapan Piera. Sedangkan yang terjadi pada Piera, wanita itu berlinang air mata melepas kepergian punggung Kimo yang semakin menjauh.
***
Rara tersenyum semringah menatap layar laptopnya yang menampilkan web novel miliknya dan Keinya. Di situs baca dan menulis online tersebut, memang sengaja didesain dalam beberapa fitur. Dari karya terbaik menurut genre, karya terpopuler, karya baru, serta karya berkualitas.
“Tulisan bagus. Apa yang orang-orang pikirkan tentang tulisan bagus? Tentu jawaban dari setiap orang akan berbeda. Kembali pada selera sekalipun dalam dunia tulis-menulis, juga tidak luput dari peraturan. Jangankan sekadar alur cerita yang harus selalu runtut bahkan berhubungan, sekadar penggunaan tanda baca berikut huruf dan sebagainya saja memiliki aturan. Jika tidak, tentu tidak akan ada jasa ghost writer yang bahkan disewa oleh penulis best seller sekelas Ryunana ....”
Rara tersenyum santai mengamati layar laptopnya. Bahkan saking senangnya bisa membuka lomba pertama di web novelnya yang diberi nama Dream Zone!, Rara sampai menopang wajahnya menggunakan kedua tangan.
“Tetapi di Dream Zone!, semua orang memiliki kesempatan untuk menjadi penulis. Dan semua orang juga bebas mendapatkan bacaan favorit mereka. Karena Dream Zone!, tidak hanya menempatkan cerita berdasarkan kepopuleran, tetapi juga kualitas!”
“Kalaupun tulisan itu belum banyak peminat, tetapi jika tulisan berkualitas, kami akan senantiasa mempromosikannya dan meletakannya di halaman utama. Ini cukup adil karena menjadi penulis yang mengutamakan segi kualitas, tidaklah mudah.”
“Ya, inilah alasan Dream Zone! terlahir. Karena aku dan Keinya merasakan betapa sulitnya menjadi seorang penulis yang mengedepankan kualitas.”
Ketika Rara sibuk berbicara sendiri, Kimo yang sudah ada di belakangnya dengan kepala juga sebagian tubuh kuyup, tersenyum sambil menggeleng geli. “Karena karya bagus nggak menjamin laris. Sedangkan karya laris, belum tentu bagus, kan, Bu Primed?” sergahnya sembari meletakan dagu di sebelah pundak Rara dan langsung berhasil mengejutkan Rara yang sampai terlonjak, nyaris terjatuh dari duduknya andai saja kedua tangan wanitanya itu tidak berpegangan pada meja.
“Sejak kapan kamu di situ?!” omel Rara sambil mengelus dadanya. Kehadiran Kimo yang tiba-tiba, membuat jantungnya berdegup kencang bahkan ia nyaris jantungan.
Kimo terkikik. “Sebelum kamu curhat di depan laptop, aku juga sudah di belakang kamu!”
Rara mendengus. “Itu kenapa, kamu sampai kuyup begitu?!” Rara segera meninggalkan Kimo. Ia masuk ke kamar dan kembali dengan membawa handuk besar. Baginya, memiliki orang dekat apalagi pasangan seperti Kimo yang jail dan hobi memberinya kejutan, juga bagian dari cobaan hidup yang cukup besar.
__ADS_1
***