Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 56 : Mengantar Elia ke Sekolah


__ADS_3

“Mengantar Elia ke sekolah? Yang benar saja!”


Bab 56 : Mengantar Elia ke Sekolah


Alarm di ponsel Pelangi bunyi, tepat ketika Kim Jinnan keluar dari kamar mandi. Di tengah kepalanya yang masih setengah basah, Kim Jinnan yang sudah mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih, segera meraih ponsel Pelangi yang ada di nakas.


Kim Jinnan segera mematikan alarm, kemudian membangunkan Pelangi. “Ngi-ngie, ayo bangun,” bujuknya sembari menyibak sebagian rambut Peangi yang menutupi wajah, ke belakang telinga.


“Jinnan, lima menit lagi ...,” gumam Pelangi yang masih meringkuk tanpa mengubah keadaannya.


Kim Jinnan yang masih ada di atas wajah Pelangi terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya mendaratkan ciuman di sebelah pipi wanita itu.


“Aku sudah mau berangkat, ya?” ucap Kim Jinnan kemudian.


“Alaramku kan aku atur pukul lima?” keluh Pelangi yang kemudian balik badan, meringkuk menghadap Kim Jinnan.


“Pukul lima kan pengaturannya, sedangkan kamu sudah berulang kali melewatkannya,” balas Kim Jinnan sembari mengancing kaitan pergelangan tangannya.


Balasan Kim Jinnan membuat Pelangi membuka matanya. “Memangnya ini sudah pukul berapa?”


“Sudah pukul enam, Ngi-ngie ...!” balas Kim Jinnan yang kemudian mencubit gemas hidung Pelangi.


“Ya ampun, Jinnan! Kok kamu enggak bangunin aku, sih? Aku kan harus bikin bekal buat kamu juga? Bakan kamu sudah mau berangkat!”


Pelangi langsung terjaga seiring kedua matanya yang mencari-cari ke sekitar. Di mana, sebuah daster yang terkapar di nakas sebelahnya langsung menjadi tujuannya. Pelangi meraih, kemudian mengenakan daster tersebut, disusul menyingkirkan selimut yang masih menutupi tubuhnya. Sedangkan Kim Jinnan yang melihat kesibukan sang istri, justru tersenyum geli.


“Jinnan!” omel Pelangi yang kemudian merapikan rambut dan menyimpulnya menggunakan ikat rambut yang diambilnya dari nakas. Nakas yang masih sama selaku tempat Pelangi menemukan daster, yang kali ini telah menutupi tubuh wanita muda itu.


“Aku makan siangnya nanti bareng kamu saja,” ucap Kim Jinnan yang kemudian mengikuti Pelangi.


Pelangi yang awalnya sudah berjalan cepat, berangsur menoleh dan menatap Kim Jinnan. “Maksudnya, nanti siang kamu mau ke kantorku?”


Kim Jinnan mengangguk-angguk dan kemudian merangkul pinggang sang istri dengan mesra. Keduanya berjalan nyaris seirama meninggalkan kamar.


“Jinnan, kamu mau sarapan apa?” tanya Pelangi.


“Terserah kamu. Kamu mau buatkan aku sarapan apa?”


“Kim Jinnan ... aku penasaran.”


“Penasaran bagaimana?”


“Kenapa di kamarmu enggak ada hiasan apa pun? Memangnya kamu enggak suka Naruto, One Piece, atau tokoh apa?”


“Lho, memangnya kenapa?”


“Ya maksudnya kamu enggak mengagumi hal apa pun?”


“Enggak sih. Aku cukup mengagumi diriku saja.”


“Ya ampun, Jinnan ... kami narsis banget!”


“Narsis? Bukan, ah! Lihatlah, Ngie ... aku begitu sempurna. Apalagi sekarang aku juga sudah menikah denganmu. Menjadi bagian dari hidupmu dan mendapatkan banyak cinta darimu. Memangnya ada, hal yang lebih membahagiakan dari semua ini? Enggak!”

__ADS_1


Melihat Kim Jinnan yang sampai menjadi kegirangan, Pelangi menjadi yakin, jika pria yang telah menjadi suaminya itu memang tidak tertarik pada hal apa pun, kecuali hubungan yang menyangkut dengan kenyataan.


“Tapi kalau sudah kayal Kim Jinnan, unik, apa aneh, atau malah kelainan?” pikir Pelangi yang kemudian menyapa Keinya.


Di dapur, Keinya sudah menyiapkan kotak bekal sedangkan beberapa masakan sudah tersaji di meja makan.


“Jinnan, kamu mau sarapan berat, apa ringan?” tanya Keinya yang kemudian berjalan meninggalkan meja makan untuk mengaduk nasi di rice cooker.


“Berar, Mah!” balas Kim Jinnan yang langsung semringah memandangi menu makanan di meja.


Keinya dan Pelangi kompak tersenyum sambil menggeleng geli. “Kim Jinnan benar-benar mirip Zean!” pikit mereka.


Pelangi pun segera meraih piring dari lemari dan menyiapkan nasi berikut lauk-pauk, untuk sarapan suaminya.


Ketika Pelangi mulai belajar meladeni Kim Jinnan, kenyataan tersebut membuat hati Keinya terenyuh. “Rasanya baru kemarin, kamu berebut makanan di pangkuan papa, ketika mama mengambilkan makanan untuk papa, tetapi sekarang, kamu justru sudah mengambilkan makanan untuk suamimu, Ngie,” batin Keinya.


***


Pagi ini, Mofaro mendapat tugas dari Rara untuk mengantar popok bayi, ke rumah Kishi, sebelum pemuda itu pergi ke kantor. Sialnya, ketika Mofaro baru saja masuk ke ruang keluarga di rumah Kishi, di sana justru ada Elia yang baru saja turun dari anak tangga lantai atas.


“Ya ampun, kamu lagi!” cibir Elia sembari menggeleng tak habis pikir dan menatap sebal Mofaro.


“Kalau enggak mau lihat aku, ya sana kamu pindah ke Mars!” omel Mofaro yang kemudian membantingkan tubuhnya di salah satu sofa besar yang ada di sana.


“Kenapa kamu minta aku buat pindah? Kalau kamu mau, sana kamu saja yang pindah! Enak saja. Kamu pikir, di sini aku ngontrak!” balas Elia yang juga mengomel.


Elia yang sudah mengenakan seragan sekolah, melirik sinis wajah Mofaro yang masih saja bisa ia lihat meski pemuda itu sudah duduk di sofa yang membelakanginya.


“Ya ampun! Masih pagi, sudah ngajak ribut?! Bahkan kalau aku bisa sumo, kayaknya kamu juga bakal ngajak tanding sumo! Sstt!” uring Elia yang sampai mendelik dan kemudian melirik Mofaro dengan emosi yang langsung melejit.


Andai, dari mata Elia bisa mengeluarkan kobaran api, pasti Mofaro sudah gosong karena terbakar.


Mendengar itu, Mofaro yang baru menurunkan dua dus popok sekali pakai yang ia bawa ke meja, menjadi cekikikan.


Dan ketika Mofaro baru mengeluarkan ponselnya, tiba-tiba saja ia teringat Elena. “Elia di sini. Berarti Elena harusnya juga ada?!” pikirnya yang kemuduan berkata. “Si Lena ke mana? Kok enggak kelihatan?”


Mendengar nada suara Mofaro yang sampai menjadi sangat tenang layaknya manusia normal dan itu karena menanyakan Elena, Elia langsung melirik sinis. Lirikan sinis karena Elia merasa ada yang janggal perihal Mofaro kepada Elena.


“Ngapain kamu tanya-tanya Elena?” tanya Elia sambil bersedekap dan masih melirik sinis Mofaro.


Mofaro memanyunkan bibirnya. “Bertarif gitu, kalau tanya-tanya tentang Lena?” tanyanya yang kemudian membuka aplikasi Instagram.


“Kamu saja enggak kasih aku kesempatan deketin Rafa, ngapain aku kasih kesempatan?!” balas Elia.


“Hahahaa ... ada yang dendam!” balas Mofaro yang justru menertawakan Elia.


Kimi yang baru keluar dari kamar sembari menggendong Kenzo anaknya, menjadi mengernyit bingung. “Tadi kayak ada suara Mo? Tapi cuma ada Elia?” pikirnya yang kemudian mendekati Elia untuk memastikan.


“Li, kamu sudah sarapan belum? Mau langsung berangkat ke sekolah, kan?” tanya Kimi sarat perhatian.


Mendengar suara Kimi yang bahkan bertanya kepadanya, Elia pun segera menoleh ke sumber suara. “Iya, Aunty. Tapi sopirnya belum datang.”


Balasan Elia membuat Kimi mengerutkan dahi. “Belum datang? Sudah jam berapa ini? Eh ada popok? Mo sudah datang?”

__ADS_1


“Iya, Darling. Aku ditugaskan untuk mengantar popok buat baby Kenken sama Mom. Tapi bentar, rehat dulu,” balas Mofaro dengan santainya tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel.


Ketika Elia mendengus dan kemudian menggeleng geli sesaat setelah mendengar balasan Mofaro yang bahkan masuh hobi menggida Kimi, Kimi justru mendadak mengulas senyum.


“Ya sudah, Mo ... nanti kalau sudah beres istirahatnya, kamu sekalian antar Elia, ya. Kasihan dia, harus sekolah juga. Kalau sama kamu kan, pasti cepat. Kamu naik motor, kan?” ucap Kimi dan sukses membuat kedua remaja di sana langsung mendelik.


“No, Aunty! Ogah! Mending hari ini aku bolos sekolah daripada diantar dia!” tegas Elia buru-buru.


“Harom! Seumur-umur, cukup Ngi-ngie sama Kishi yang aku bonceng! ... eh, istriku juga!” tegas Mofaro.


Kimi menghela napas dalam. Meski bukan untuk pertama kalinya Elia dan Mofaro berdebat lantaran kenyataan itu sudah terjadi semenjak keduanya masih balita, tetapi jika keduanya terus ribut, Kimi justru gemas dan ingin menjodohkan keduanya.


“Kalau bukan sama Mo, kamu bisa telat. Nanti papamu marah terus kamu enggak boleh nginep di sini lagi,” ucap Kimi berusaha memberi Elia pengertian.


Setelah Elia tertunduk pasrah, Kimi segera mengalihkan tatapannya pada Mofaro yang masih duduk di sofa. “Mo ...,” panggilnya penuh penekanan sekaligus peringatan.


“Iya, Aunty. Aku mengerti!” balas Mofaro pasrah. Wajah tampannya sampai tertekuk lantaran apa yang baru saja ia sanggupi sangat tidak sejalan dengan kenginannya. “Mengantar Elia ke sekolah? Yang benar saja!” batin Mofaro.


Sekitar lima menit kemudian, Mofaro sudah duduk di motornya dan siap mengemudi lantaran ia juga sudah sampai menyalakan mesin motornya. Hanya saja, Elia yang akan di bonceng masih bersedekap kebingungan harus bagaimana?


“Kamu tahu caranya naik motor, membonceng itu bagaimana, kan?” cibir Mofaro sembari menoleh dan menatap sebal Elia. “Ayo, sudah siang, ini, nanti aku telat kekantornya!” omelnya lagi.


“Aku pakai rok, lho!” keluh Elia.


“Ya ditutupin!” balas Mofaro masih mengomel.


“Ya seenggaknya kamu lepas jasmu, buat nutup apa bagaimana!”


“O-gah! Cepet, ah!”


Mofaro benar-benar tidak meminjamkan jasnya kepada Elia. Jadi, Elia terpaksa menggunakan tas gendong miliknya untuk menutupi pahanya. Tentu, berpegangan pada tengkuk Mofaro yang sampai ia cekik ketika baru akan naik motor, juga bagian dari pembalasannya terhadap pemuda itu.


“Ya ampun, kamu sengaja mau bunuh aku?” omel Mofaro.


“Niatnya sih gitu,” balas Elia dengan santainya dan kemudian menurunkan tangannya untuk berpegangan pada jas bagian punggung Mofaro.


“Awas saja, aku bawa ngebut biar Elia tahu rasa!” batin Mofaro yang benar-benar dendam kepada Elia.


“Eh, Mo ... kayaknya kamu bisa bantu aku, deh!” ucap Elia tiba-tiba.


“Big, No! Aku bukan tukang bantu!” tegas Mofaro yang sudah siap tancap gas andai saja Elia tidak kembali berbicara.


“Aku enggak suka sama pacarnya Lena. Pokoknya enggak suka. Jadi, kamu harus bantu aku!” tegas Elia.


“Kenapa Elia sampai enggak suka sama pacar Lena? Bukankah kata Dean, pacar Lena seorang pilot dan bahkan ... keren?” batin Mofaro yang menjadi penasaran.


Bagi Mofaro, memang ada yang tidak beres dengan pacar Elena. Atau jangan-jangan, Elia yang justru memiliki rahasia dan itu menyangkut pacar Elena?


Memikirkan itu, Mofaro jadi ingin tahu lebih jauh, perihal apa yang sebenarnya terjadi. “Awas saja kalau memang ada yang enggak beres!” batinnya.


Bersambung ....


Nah, ada yang mau motoran bareng 😂😂😂😂. Kira-kira, jadi dibawa ngebut enggak nih, si Elia 😂😂😂. Tunggu besok, yaa 😍🌟

__ADS_1


__ADS_2