Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 33 : Masa Lalu Gio


__ADS_3

Satu perubahan besar baru Keinya lewati. Perubahan besar yang akan mengubah hidupnya dan ia harapkan mampu membuatnya menjalani kehidupan lebih baik lagi. Juga, perubahan besar yang membuat wanita itu merasa sangat lega.


Jauh di lubuk hatinya, Keinya sudah berulang kali bersyukur untuk semua yang telah menimpa sekaligus dimilikinya. Ia bersyukur karena Tuhan mengambil Athan dari hidupnya. Juga, karena Tuhan memberikan kesempatan kepada Yuan untuk hadir dalam hidupnya. Bahkan meski kedua hal tersebut harus membuatnya melewati drama yang begitu menyakitkan.


Keinya sudah berulang kali menghela napas dalam semenjak persidangan pertamanya dan Athan ditutup, terlepas dari Athan yang hanya bungkam dan dianggap pihak pengadilan membenarkan semua yang Keinya tuntutkan. Mengenai perselingkuhan, serta penelantaran tanpa sedikit pun nafkah yang diberikan semenjak Keinya hamil. Selebihnya mengenai bisnisnya yang juga dihancurkan, Keinya belum mengungkapnya selagi Athan tidak macam-macam dan mau menjalani persidangan dengan kooperatif.


“Apa yang kamu lakukan sampai-sampai Athan tunduk begitu?” tanya Yuan dengan suara lirih sembari menyeimbangi langkah cepat Keinya dalam meninggalkan beranda Pengadilan Agama yang sempat membuatnya sangat tegang dikarenakan Yuan takut, Athan mempersulit agenda perceraian.


“Aku mengancamnya dan membuatnya enggak punya pilihan selain diam.”


Jawaban Keinya terdengar sangar dan itu membuat Yuan menertawakannya.


“Aku salut sama kamu!” ucap Yuan di sela tawanya sambil mengacak pelan punggung kepala Keinya.


“Lah ...? Setelah semua kejahatan yang dia lakukan, aku masih harus bersikap baik? Bisa-bisa dia makin enggak tahu diri, Yu! Seenggaknya, aku juga ingin dia belajar dari kesalahan yang sudah dia lakukan karena biar bagaimanapun, dia tetap papanya Pelangi.”


“Kalau begitu, aku bisa mengerjakannya di tempatku, supaya kita bisa memantau kehidupannya,” usul Yuan yang menyimpan kedua tangannya di ke dua saku sisi celana bahan warna hitam yang dikenakan.


“Me-mengerjakan Athan?” Keinya tergagap tak percaya sambil menatap Yuan.


Yuan mengangguk santai dengan seulas senyum yang menghiasi wajah sekaligus tatapannya kepada Keinya.


“Yang benar saja? Jangan kurang kerjaan, Yu! Kalaupun memang iya, tolong jangan sekarang. Lihat Athan saja emosiku langsung memuncak. Rasanya pengin ngulitin terus mencincang tubuhnya jadi bagian yang enggak bisa disatukan. Engak kebayang kalau aku tahu apalagi sampai lihat dia ada di tempatmu!”


Keinya mengomel dan itu makin membuat Yuan harus menahan tawa, terlepas dari Keinya yang sampai tidak mau menatapnya.


“Barusan kamu bilang ingin membuat Athan belajar dari kesalahannya, kan? Ya dengan cara menempatkannya di posisi aman juga, agar dia mendapatkan perubahan positif dari lingkungan barunya.”


Keinya mendengkus dan masih terlihat jengkel. Namun tiba-tiba ia teringat nasib Pelangi dan Rara yang ditemani teman Yuan di apartemen.


“Sejauh ini Kimo pria yang baik. Memangnya mau ke mana lagi? Ini maksudnya kamu mau ngajak kencan, jadi enggak mau langsung pulang. Begitu?”


“Duh, Yu. Belum waktunya untuk bersenang-senang. Aku ingin menemui Gio dan memberi pria jahat itu pelajaran.”


“Kamu bahkan aku tidak boleh ikut campur urusan mereka, Kei.”


“Atas dasar apa? Urusan Rara berarti urusanku, Yu!”


“Biarkan Rara belajar dari apa yang akan menimpanya. Lagi pula, memangnya kamu masih belum percaya karma, setelah apa yang telah menimpa Athan dan juga Tiara?”


Keinya menghentikan langkahnya kemudian menatap serius Yuan. Atas dasar apa pria itu jadi melarangnya mengurus kasus Rara? “Apakah ada yang kamu sembunyikan dariku?”


Yuan juga menghentikan langkahnya dan balik menatap Keinya. Yuan mengangguk santai di tengah tatapannya yang semakin serius. “Kamu memang alasan Gio melakukan semua ini.”

__ADS_1


Keinya mengernyit dan menatap tak mengerti Yuan. “Kok aku, sih?”


Sebelah tangan Yuan menahan bahu Keinya. Namun bukannya memberikan penjelasan lanjutan, pria tampan itu justru hanya diam.


“Yu, tolong beri aku penjelasan! Kenapa kamu bilang, Gio melakukannya karena aku?”


“Di masa lalu, kalian punya hubungan, kan?” Yuan mengatakannya dengan sangat hati-hati.


“Apa maksudmu? Sejauh ini, aku hanya memiliki Athan sebagai masa laluku, Yu! Aku berani bersumpah!” Keinya terbawa emosi.


“Tapi masa lalu enggak harus mantan, Kei.”


Keinya berangsur mundur sambil menghalau rasa pening yang menyerang kepalanya. “Yu, tolong jangan berbelit-belit. Langsung katakan saja. Aku enggak ngerti dengan apa yang kamu maksud.”


“Beberapa orangku bilang, hubunganmu dan Gio sempat sangat dekat. Tapi hubungan kalian berubah semenjak Athan ada dalam hidup kalian. Dan sebelum hubungan kalian merenggang, kalian sempat bertengkar hebat lantaran kamu lebih percaya Athan ketimbang Gio.”


“Dari awal sebenarnya Gio juga sudah tahu kalau Athan berniat jahat ke kamu. Dia sudah berulang kali mengingatkan kamu, agar kamu tidak bersama Athan, kan?”


Penjelasan dari Yuan membuat Keinya kebas. Keinya benar-benar tak menyangka jika karenanya, Gio melampiaskan semuanya kepada Rara. Padahal selama ini Keinua selalu berusaha melindungi dan sebisa mungkin membahagiakan Rara. Belum lagi semenjak Rara kehilangan ayahnya di mana semenjak itu juga, Rara diusir dari rumah oleh ibu tiri yang nyatanya hanya menginginkan harta ayah Rara. Rara yang sebatang kara benar-benar harus berjuang sendiri. Karena kenyataan tersebut pula, Keinya selalu memberikan perhatian lebih kepada satu-satunya sahabatnya itu. Pun meski hubungan mereka tak luput dari salah paham.


“Kenapa yang selalu kulindungi, justru menjadi yang paling terluka karena diriku?”


“Bukan begitu, Kei.”


Omongan Keinya mulai terdengar melantur.


“Kei. Jangan salah paham. Dan jangan menyamakan dirimu dengan Tiara. Kalian berbeda.” Yuan mencoba meyakinkan Keinya. Namun wanitanya justru sudah sampai berlinang air mata dan menepisnya sambil menggeleng.


“Aku harus menemui Gio. Aku harus minta maaf ke dia dan meminta dia buat berhenti menyakiti Rara karena Rara enggak tahu apa-apa!” Keinya meyakinkan Yuan.


Yuan menepisnya sambil menggeleng tegas.


“Yu ....”


“Aku sudah mengirim Kimo untuk menyelesaikan ini. Percaya padaku. Jangan mencampuri urusan mereka apalagi Gio yang sekarang bukan Gio yang dulu. Mungkin dulu Gio rela berkorban dan selalu ingin memberikan yang terbaik untukmu. Namun yang sekarang? Dia sangat membencimu karena rasa kecewa sekaligus sakit hatinya.”


“Tapi aku harus menemuinya. Aku—”


“Kei, apa yang kamu lakukan hanya akan membuat keadaan runyam. Apalagi kamu tahu Rara seperti apa? Untuk sekarang Rara masih sangat mencintai Gio. Jadi biarkan Kimo dan Rara sendiri yang menyelesaikannya. Mereka memiliki tujuan yang sama. Jika keadaan sudah memungkinkan, kamu baru boleh menemui Gio dan menyelesaikan kesalahpahaman di antara kalian.”


“Kimo punya tujuan yang sama dengan Rara? Maksudnya?”


Yuan hanya mengangguk tanpa memberikan penjelasan berarti, meski sebenarnya Keinya menginginkan lebih. Kimo sahabat Yuan bahkan memiliki tujuan yang sama dengan Rara? Kenapa dunia Keinya mendadak terasa begitu sempit?

__ADS_1


***


“Ya ampun … ikat rambutmu kalau kamu mau gendong Pelangi. Nanti kalau Pelangi tercolok rambutmu bagaimana?” Rara tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. Pria bernama Kimo yang Yuan tugaskan membantunya mengurus Pelangi, dirasanya teramat sembrono. Lihat saja, Rara bahkan sudah memberi pria berambut gondrong sepundak dan berantakan itu karet untuk mengikat rambut, tapi Kimo justru nekat menggendong Pelangi tanpa mengikat rambutnya lebih dulu.


“Kamu pikir rambutku ini kawat, sampai-sampai ada tragedi tercolok?” semprot Kimo.


Rara yang baru keluar dari dapur untuk membuatkan susu formula untuk Pelangi, sampai setengah berlari kemudian buru-buru mengambil paksa Pelangi yang beberapa hari terakhir, selalu mengenakan pakaian senada dengan Keinya. 


Yuan memang menyelaraskan semua keperluan termasuk sandang Keinya dan Pelangi. Di mana, Yuan sampai membelikan keperluan lengkap Keinya dan Pelangi, termasuk untuk urusan yang terbilang sensitif seperti pakaian dalam, popok bahkan pembalut. Hal tersebut pula yang membuat Rara berpikir, sebagai sahabat Yuan, Kimo memiliki sifat seperti Yuan. Namun nyatanya sedikit saja tidak. Kimo tak hanya berantakan dalam berpenampilan, melainkan sifatnya. Rara benar-benar tidak bisa percaya kepada Kimo meski Yuan sempat berpesan kalau Rara bisa mengandalkan Kimo.


Sambil menggendong Pelangi yang ia elus pelan punggungnya, Rara menatap kesal Kimo, yang Rara takutkan justru melukai Pelangi.


“Lagian kamu ini masih muda tensi bawelnya kayak nenek-nenek! Kayak bisa urus anak saja! Sekadar bikin susu formula saja, masih berabad-abad!” omel Kimo.


Hal yang membuat Rara makin tidak suka pada Kimo, tak lain karena Kimo juga cerewet dan gesit membalas kata-kataRara, padahal di mata Rara, pria yang pakaiannya mirip preman itu salah.


Rara yang telanjur kesal, refleks menelan salivanya. “Sudah … lebih baik kamu pergi sana. Bukannya bantu malah merepotkan!”


Mendengar itu, emosi Kimo tersulut. “Ya ampun, kamu bahkan berani mengusirku? Kamu pikir kamu siapa?” omelnya sembari berkecak pinggang.


Rara mendengkus, tak percaya dengan apa yang Kimo lakukan kepadanya. Bahkan pria itu berani membentaknya? 


“Heh, Kimo! Kamu pikir, aku takut sama kamu? Tadi kamu tanya aku ini siapa? Aku adiknya Yuan! Kemarin Yuan baru saja mengangkatku sebagai adik, puas?!” omel Rara dengan suara lantang. Jika bisa, Rara sungguh ingin melahap Kimo hidup-hidup detik itu juga.


Kimo menertawakan balasan Rara. “Ya ampun lucunya. Kamu ngaku adiknya Yuan? Aku malah bapaknya Yuan. Nah, aku lebih tinggi statusnya dari kamu, kan?”


“Bapaknya Yuan? Dasar duri hubungan orang! Diam-diam kamu ini tukang nikung hubungan orang, ya?” cibir Rara.


“N-nikung? Hei ..!” Kimo tergagap.


Bentakan Kimo terhenti bersamaan dengan seseorang yang membuka pintu apartemen dari luar. Yuan dan Keinya datang. Keduanya langsung menatap bingung kebersamaan Rara dan Kimo.


“Kalian mirip pasutri yang terlilit kebutuhan ekonomi saja. Teriak-teriak ribut begitu. Bagaimana jika pendengaran Pelangi jadi bermasalah?” celetuk Yuan sambil menatap tak habis pikir Rara dan Kimo, silih berganti.


Meski awalnya masih tampak sedih, apa yang Yuan lakukan berhasil membuat Keinya menahan senyum. Lain halnya dengan kedua sejoli yang dimaksud dan jelas menepis anggapan itu. Di mana yang ada, ke duanya juga langsung kompak berpencar dan jelas sengaja menjaga jarak. Hanya saja, ketika ponsel Rara berdering dan Rara memanggil penelepon dengan sebutan “sayang”, Kimo langsung tercengang.


“Serius, ada yang mau sama Rara? Ah! Waktunya balas dendam!” batin Kimo yang sengaja merebut ponsel Rara untuk balas dendam.“Ini siapa? Jangan sembarangan telepon istri orang, ya!”


“K-kim-mo!” Rara gemetaran menahan kesal. Ia nyaris mengamuk Kimo, andai ia tak menggendong Pelangi. Bahkan ketika Kimo memberikan ponselnya sesaat sebelum pergi, Rara tak segan melemparkan ponselnya dan sukses mengenai kepala Kimo.


Yuan dan Keinya saling pandang tanpa sepatah kata pun, saking terkejutnya.


“Tanpa kita minta, Tuhan sudah kasih kita jalan. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka. Cepat ambil Pelangi agar Rara bisa menghajar Kimo dan membawanya menemui Gio,” lirih Yuan dan langsung dikerjakan oleh Keinya. Ke duanya sepakat membuat Rara dan Kimo dekat, dengan catatan, Kimo tidak melukai Rara seperti apa yang telah Gio lakukan.

__ADS_1


*****


__ADS_2