
“Kenapa rahasia ini semakin membuatku tidak tenang? Kenapa rahasia ini semakin menyiksaku!”
Season 2 Bab 29 : Rahasia
Sepasang tangan berjemari lentik berkuteks merah menyala, tak hentinya gemetaran. Pun meski jemari-jemari itu sudah mencoba sibuk. Dari saling cengkeram, memegang ponsel, juga menepuk atau menekan kedua lutut yang tidak tertutup gaun putihnya.
Rona takut juga terlihat jelas dari gelagat tubuhnya yang tidak bisa diam. Kegelisahan dan keresahan itu terus membuatnya sibuk berpikir dan kadang mondar-mandir di sudut kamar. Dalam suasana redup minim penerangan, ia menghentikan langkah dan berangsur balik badan, membuatnya mendapati pantulan dirinya sendiri pada cermin rias. Ia memiliki wajah cantik. Rambut hitam lurus sepunggung, sedangkan postur tubuhnya juga semampai walau terbilang kurus.
“Aku lebih cantik dari Rara! Aku juga lebih kaya! Aku lebih berkelas! Aku benar-benar lebih segalanya dari dia! Bahkan Tante Kiara meminta aku untuk bersama Kimo dan menyingkirkan Rara dari hidup Kimo!” Steffy mengatakan itu penuh ketegasan. Menatap pantulan bayangannya dengan tatapan yang begitu tajam bersamaan dengan kedua tangannya yang mengepal kencang.
Tak lama kemudian, Steffy mengangkat kedua tangannya dan menatapnya. Kedua tangannya masih saja gemetaran walau sudah mengepal. “Sial! Susah sekali bersikap tenang. Semuanya baik-baik saja. Aku tidak tahu apa-apa. Mereka hanya kecelakaan. Tidak ada yang melihatku!”
Namun, belum juga mendapatkan ketenangan, suara ketukan dari pintu kamar yang ada tepat di seberang Steffy, membuat wanita itu terkesiap kemudian terlonjak. Steffy refleks menahan dadanya lantaran jantungnya juga seolah melesak dari posisi semestinya.
“Sial! Lagi tegang begini, kenapa ada yang tiba-tiba ketuk pintu?!” Steffy merutuk kesal di antara sisa ketegangan yang masih membuatnya tidak bisa tenang. Jangankan tenang, melangkah saja, ia seolah ada yang mengawasi. Bahkan di beberapa kesempatan, seperti ada bayang-bayang yang melesat, mengikutinya tanpa henti, tetapi akan hilang begitu cepat, ketika ia memastikannya.
“Fy ... kamu dipanggil Papa ... kemarin kamu yang pakai mobil Papa, kan? Itu kenapa mobilnya penyok sana-sini? Papa marah banget, tuh!”
Suara dari balik pintu, Steffy kenali sebagai suara Intan, sang mama. Sedangkan yang membuatnya semakin tidak baik-baik saja, tak lain mengenai apa yang dibahas oleh wanita itu. Mobil. Mobil papanya penyok di segala sisi dan ia tahu betul penyebabnya! Hal yang membuatnya semakin tidak tenang seiring bayang-bayang hitam putih yang menghiasi ingatannya. Mengenai Kimo dan Rara, berikut kecelakaan tragis yang menimpa keduanya.
Steffy tahu, Kimo merupakan pengemudi yang baik. Bahkan ketika masih SMA, kimo sempat menggeluti dunia balap. Baik balap motor, maupun balap mobil. Tak jarang, pria itu mengikuti balap liar, di mana terkadang, Steffy juga ikut menemani. Steffy menonton sambil menyemangati, bergabung dengan tim sukses yang mendukung Kimo. Jadi, demi menjebak Kimo dalam kecelakaan mobil, Steffy yang telanjur sakit hati karena cintanya ditolak mentah-mentah oleh Kimo yang lebih memilih Rara dan baginya tidak sebanding dengan dirinya, sengaja merusak rem mobil Kimo diam-diam.
Tepat ketika sopir yang mengantar mobil Kimo, meninggalkan mobilnya untuk membantu Kimo membawa barang-barang Kimo dan Rara, sebelum akhirnya sopir itu memberikan kuncinya kepada Kimo.
Steffy mengikuti mobil Kimo diam-diam. Rasa sakit hati yang sudah Steffy tahan, membuncah ketika melihat kemesraan Kimo dan Rara, dengan mata dan kepalanya sendiri. Steffy gelap mata, dan memanfaatkan suasana jalan tol yang kebetulan juga sepi.
Steffy sengaja memepetkan mobil Kimo, agar pria itu mengemudi dengan kecepatan di atas normal. Benar saja, setelah usaha demi usahanya memepetkan sekaligus menyudutkan mobil Kimo gagal lantaran pria itu mengambil alih kendali dengan berkendara lebih kencang, mobil Kimo langsung melaju tidak stabil dan terlihat jelas tidak bisa dikendalikan lantaran remnya Steffy rusak. Mendapati hal tersebut, jangan tanyakan bagaimana Steffy mengambil tindakan. Tentu, Steffy sengaja menabrak mobil Kimo tak hanya satu atau dua kali, sampai-sampai, mobil Pajero Sport tangguh milik ayahnya penyok di segala sisi. Yang Steffy ingat, mobil Kimo dan Rara sampai berguling beberapa kali dilengkapi percikan api yang berangsur membesar, membakar mobil bagian belakang.
__ADS_1
Anehnya, meski telah berhasil membuat pasutri baru yang bahkan baru pulang berbulan madu itu celaka seperti tujuannya, kegelisahan dan rasa takut, justru terus menghantui Steffy. Termasuk bayang-bayang aneh menyerupai sekelebat bayangan putih, yang seolah menghantuinya, dan akan langsung menghilang ketika Steffy memastikannya.
Kini, Steffy mencoba menguasai dirinya. Ia mengatur napas secara perlahan. Menarik napas pelan dan membuangnya secara perlahan melalui mulut. Tak lupa, ia juga melakukan peregangan tubuh termasuk punggung.
“Aku baik-baik saja!” Untuk ke sekian kalinya, Steffy meyakinkan dirinya sendiri.
“Meski Kimo dan Rara tidak mati, seenggaknya mereka terluka parah dan bila perlu cacat! Mereka harus merasakan betapa besar luka di hatiku gara-gara mereka!” batin Steffy kemudian yang segera memilih membuka pintu agar Intan berhenti menggedor pintu sambil berteriak-teriak.
Steffy tahu kenapa mamanya menjadi begitu marah. Tak lain mengenai keputusannya yang memakai mobil kesayangan Wiranto papanya. Karena dari semua yang papanya miliki di dunia ini, mobil koleksi menjadi kesayangan nomor satu pria berjiwa olahraga itu. Bahkan bila disuruh memilih, Wiranto akan lebih memilih koleksi mobilnya yang memenuhi garasi rumah mereka, ketimbang istri dan anak-anaknya. Jadi, Intan yang tahu betul sifat sang suami juga tidak akan berani mengusik mobil-mobil suaminya.
“Kamu ini kenapa, sih? Dua hari ini di kamar terus? Itu mobil papa kamu apain?” omel Intan sesaat setelah Steffy membuka pintu kamarnya.
Steffy mendengkus kesal. “Kalian ini orang tua aneh. Bukannya cemas ke aku yang ana kalian, kalian justru meributkan keadaan mobil!” cibirnya sambil bersedekap tanpa sudi menatap Intan yang memiliki perawakan gendut.
Intan mengerutkan dahi sambil menatap menyelisik sang putri. “Kamu nggak macam-macam sama mobil itu, kan?” ucapnya hati-hati.
“Kenapa kamu jadi gelisah begitu? Steffy, kamu enggak menyembunyikan rahasia dari Mama, kan?” sambung Intan makin gelisah.
Ketakutan yang semakin bertambah, membuat Steffy gugup. “Apaan, sih, Ma!” tepisnya yang buru-buru menutup pintu kamarnya.
Steffy sampai mengunci kamarnya dan menyandarkan punggungnya pada pintu. Ia terus bertahan dengan keputusannya, meski dari balik pintu, Intan kembali menggedor pintunya lebih keras sambil berteriak.
“Steffy buka pintunya! Sebenarnya kamu kenapa? Jangan-jangan benar dugaan Mama, kalau kamu menyimpan rahasia?”
“Kamu nggak macam-macam, kan, Fy?”
Dari balik pintu, tubuh Steffy sudah gemetaran hebat. Keringat dingin juga tak hentinya mengalir, menciptakan buih kesakitan. Di mana perlahan, tubuh jenjang Steffy berangsur ambruk dan terduduk, tergolek tak berdaya dengan kedua tangan bersimpuh pada lantai.
__ADS_1
“Rahasia ...? Rahasia ...?” lirih Steffy dengan suara gemetaran.
Tak lama kemudian, kejadian yang membuat Kimo dan Rara kecelakaan, tiba-tiba saja bergulir memenuhi ingatan Steffy. Tak mau menyerah, wanita itu segera mencoba menepisnya dengan terpejam sambil menggeleng, sedangkan kedua tangannya menekap telinganya erat-erat. “Kenapa rahasia ini semakin membuatku tidak tenang? Kenapa rahasia ini semakin menyiksaku!” erangnya diakhiri jerit histeris seiring linangan air mata yang turut menuangkan ketakutannya.
***
Di rumah sakit, Rara diantar Keinya ke ruang rawat Kimo menggunakan kursi roda. Hanya saja, keberadaan Kiara yang kebetulan terjaga di ruang tunggu kamar rawat Kimo bersama Kimi, membuat keinginan Rara bertemu Kimo pupus. Kiara melarang Rara masuk, sambil berdiri di depan ruang rawat Kimo yang masih ada di dalam salah satu ruang ICU.
“Aku ini istrinya Kimo, Ma! Jadi, Mama enggak berhak melarang aku menemui suamiku sendiri!” tegas Rara yang tak lagi mengenakan perban di kepalanya. Hanya saja, ada plester berikut kain kasa dibunuhi obat merah yang menghiasi pelipis kanannya.
Bersamaan dengan penegasan Rara, di dalam ruang rawatnya, kedua mata Kimo perlahan-lahan bergerak dan berangsur terbuka.
Kiara menatap tak percaya Rara yang baginya semakin tidak sadar diri. Ia bahkan sampai menghela napas sambil tersenyum sarkastis, mengejek keras ulah wanita yang telah diperistri oleh anaknya.
“Aku istri Kimo. Dan aku berhak bertemu dengan suamiku. Justru, Mama bisa bermasalah kalau terus-menerus menghalangiku menemui suamiku sendiri!” tambah Rara sambil berlinang air mata, menatap Kiara dengan memohon.
Di dalam ruang rawat, Kimo mulai mengamati langit-langit ruang keberadaannya. Ia juga sampai mengerutkan dahi ketika mendengar suara Rara, meski terdengar samar-samar.
Bersambung ....
Hallo, pembaca tercinta ....
Hari ini, Author sengaja up dua kali. Ayo, ramaikan ^^
Salam sayang,
Rositi.
__ADS_1