Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 45 : Pernikahan Pelangi dan Kim Jinnan


__ADS_3

Ibarat malam yang akan selalu digantikan oleh pagi bahkan siang hari, begitulah harapan yang tengah Pelangi panjatkan di dalam hati, untuk kebahagiaan mereka.


Bab 45 : Pernikahan Pelangi dan Kim Jinnan


“Jinnan ...?”


“Aku enggak mungkin bilang, aku baik-baik saja, sedangkan sekarang dunia pun tahu, aku terlihat sangat menyedihkan, Ngie ....”


“Aku mengerti. Ini memang sulit. Aku bahkan merasa tidak berguna lantaran aku enggak bisa berbuat apa-apa.”


“Siapa bilang? Dengan adanya kamu di sini, ... aku merasa jauh lebih baik. Bahkan aku enggak yakin, aku masih sanggup bertahan jika kamu enggak maksa aku buat bertahan.”


Pelangi menatap sedih Kim Jinnan yang kali ini terlihat begitu menyedihkan. Kim Jinnan yang sedari awal menunduk, tetapi kali ini sampai menatapnya dengan sangat dalam. Tatapan dalam yang masih menahan banyak luka.


“Setelah ini, sedihnya kita ganti sama banyak-banyak doa buat kakek, ya? Aku yakin, kakek lebih bahagia kalau kita banyak kirim doa, ketimbang kita sedih apalagi menyalahkan diri kita,” bujuk Pelangi yang kali ini sampai berani membalas bahkan menatap Kim Jinnan.


Pelangi bahkan menatap Kim Jinnan tak kalah dalam dari apa yang Kim Jinnan lakulan, dan itu berlangsung terbilang lama. Di mana, ketika semua itu berlangsung, dunia mereka mendadak senyap dan kehidupan mereka juga seolah menjadi berhenti berputar.


Dan tak lama setelah itu, Kim Jinnan mengangguk sambil mengedipkan matanya yang sudah sangat sembam. “Makasih banyak, Ngie ... maaf jika selama ini, aku sering bikin kamu kesal bahkan emosi.”


Pelangi rasa, apa yang Kim Jinnan katakan barusan merupakan satu-satunya ungkapan cinta yang mampu membuat hatinya benar-benar bergetar. Dan Pelangi yang juga sampai menemukan rasa nyaman tersendiri untuk keadaan kini, segera mengangguk mengakhiri obrolan singkat mereka.


***


Pelangi tidak berharap Kim Jinnan segera berhenti menangis. Atau, berharap pria itu berhenti melamun seperti orang hilang arah. Asal Kim Jinnan masih bisa berpikir jernih, Pelangi rasa semua itu sudah lebih dari cukup.


Karena meski pernikahan sempat menjadi harapan utama Kim Jinnan untuk hubungan mereka bahkan hingga detik ini, tetapi kepergian Kim Jungsu yang sangat tiba-tiba, memang menjadi pukulan luar biasa. Tak hanya untuk Kim Jinnan, melainkan semuanya. Semua orang yang akan terlibat dalam pernikahan mereka sebelum pemakaman Kim Jungsu dilangsungkan. Termasuk keluarga besar Pelangi yang pasti merasa dilema lantaran pernikahan Pelangi sangat tiba-tiba, terlepas dari usia Pelangi yang terbilang masih sangat dini.


Pelangi hanya bisa berharap, kesedihan yang tengah menyelimuti mereka, segera berlalu. Berlalu dan kemudian segera digantikan dengan kebahagiaan. Ibarat malam yang akan selalu digantikan oleh pagi bahkan siang hari, begitulah harapan yang tengah Pelangi panjatkan di dalam hati, untuk kebahagiaan mereka. Semua orang bisa kembali hidup normal, tanpa terkecuali arwah kakek Jungsu yang akan damai di sisi Tuhan.


Di kediaman Kim Jinnan, nuansa duka masih sangat kentara. Bunga-bunga ucapan belasungkawa juga terua berdatangan memenuhi jalan sekitar rumah menyertai keheningan yang kadang terusik isak tangis.


Pelangi masih terjaga di sebelah Kim Jinnan. Mereka duduk bersebelahan menghadap tubuh Kim Jungsu yang sudah terbujur kaku dalam balutan kain kafan. Wajah Kim Jungsu yang tersenyum damai terlihat jelas di peti jenazah yang sedari kedatangannya langsung dibacakan surat yasin.


Di kediaman Kim Jungsu, para pelayat silih berganti berdatangan. Mereka semua berduka dan bergantian menemui sekaligus menyemangati Kim Jinnan. Kadang ada yang sampai mengelus bahu, tetapi tak jarang juga yang sampai mendekap Kim Jinnan seiring kata-kata belasungkawa berikut semangat yang mereka bisikan.


Dari pintu masuk, Keinya dan Yuan yang selalu bersama, masih mengamati kebersamaan Pelangi dan Kim Jinnan. Kedua insan itu selalu ditemani oleh pak Jo dan juga kedua ajudan Kim Jinnan. Tak jarang, mereka akan mendapati keadaan di mana seorang Kim Jinnan menyandarkan wajah pada punggung Pelangi, bersamaan dengan kenyataan kedua tangan Kim Jinnan yang sampai sibuk menyeka sekitar mata. Kim Jinnan terlihat begitu rapuh bahkan hancur.


Layaknya kini, lagi-lagi Kim Jinnan menyandarkan wajahnya pada punggung Pelangi. Dan melihat kenyataan tersebut di tengah padatnya pelayat yang datang dan tak segan antre hanya untuk menemui Kim Jinnan, hati Keinya dan Yuan menjadi terenyuh.


“Aku takut mereka lapar. Mereka belum makan, Yu,” ujar Keinya yang memang sudah menganggap Kim Jinnan bagian dari hidupnya. Karena Kim Jinnan akan menikah dengan Pelangi, dengan kata lain Kim Jinnan juga anaknya dan akan menjadi bagian dari tanggung jawabnya.


Pun dengan Yuan yang merasakan hal serupa layaknya Keinya. Karena dengan Kim Jinnan yang menikah dengan Pelangi, dengan kata lain Kim Jinnan juga menjadi badian dari hidup, sekaligus keluarganya yang akan selalu ia jaga.


“Ya sudah. Kita pergi ke dapur dan cari makanan untuk mereka,” balas Yuan dan langsung disambut anggukan berhias senyum hangat oleh Keinya.


“Tapi lebih baik kamu sama anak-anak. Temani Jinnan dan Ngi-ngie, Yu,” pinta Keinya dan langsung disanggupi oleh Yuan yang sampai mengangguk. Dan, baru juga Keinya akan berlalu meninggalkan Yuan yang bergabung dengan Kim Jinnan, Kim Jinnan mendadak pingsan.


Tubuh Kim Jinnan tersungkur dan nyaris menghantam peti keberadaan Kim Jungsu andai saja Yuan dan Pelangi tidak refleks menarik kemeja putih bagian punggung, yang Kim Jinnan kenakan.


“Jinnan ...?” isak Pelangi yang tak kuasa menahan kesedihannya.


Dibantu kedua ajudan Jinnan, Yuan meminta keduanya untuk memboyong tubuh pria muda itu menuju sofa yang ada di seberang kebersamaan mereka.

__ADS_1


Pelangi yang tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya pada keadaan Kim Jinnan pun sampai mendekap erat sebelah lengan Keinya, yang detik itu juga langsung menghampirinya.


“Ma ... kalau kayak gini terus gimana? Jinnan tinggal di rumah kita saja, ya?”


“Ya iya, ... sebentar lagi kan kalian menikah.” Keinya merengkuh tubuh Pelangi dan mencoba meyakinkan anak gadisnya jika semuanya akan kembali baik-baik saja.


“Sabar, ... enggak mudah mengobati luka apalagi kalau kita sudah memutuskan untuk menyembunyikan luka itu, Ngie.” Keinya masih berusaha meyakinkan Pelangi.


“Iya, Ma. Aku tahu. Aku juga akan berusaha keras biar Jinnan enggak terus-menerus bersedih,” balas Pelangi.


Meski akan melangsungkan pernikahan, tetapi tidak ada keistimewaan yang terpampang di sana. Pelangi juga hanya sebatas mengenakan setelan putih panjang tanpa riasan terlepas dari kedua mata gadis itu yang sangat sembam. Begitu juga dengan Kim Jinnan yang mengenakan kemeja lengan panjang warna putih dan celana bahan warna hitam.


Dan mengingat penghulu berikut seperangkat saksi pernikahan sudah datang, jadi, nanti ketika Kim Jinnan sadar, pernikahan juga akan segera digelar mengingat jenazah Kim Jungsu juga harus segera dikebumikan.


Keinya segera menuntun Pelangi untuk menghampiri keberadaan Kim Jinnan yang ada di sofa seberang. Jarak keberadaan mereka dengan sofa tersebut terpaut sekitar sepuluh meter. Yuan yang sudah mengambil alih perannya sebagai seorang ayah, langsung memoleskan minyak angin di sekitar bawah hidung Kim Jinnan, sebelum akhirnya membaluri tengkuk calon menantunya itu menggunakan minyak angin juga.


Dan dengan keadaan Kim Jinnan yang kepalanya masih terbungkus perban tebal, Yuan berikut orang-orang Kim Jinnan memperlakukan Kim Jinnan dengan sangat hati-hati.


*** 


Mungkin sekitar setengah jam kemudian setelah Kim Jinnan akhirnya tersadar meski menjadi seperti orang kebingungan, di mana Pelangi juga langsung menggenggam erat kedua tangan Kim Jinnan sambil menyemangati pria itu, akhirnya, semuanya menempati posisi masing-masing. Semuanya bersiap untuk pernikahan Pelangi dan Kim Jinnan yang dilangsungkan di hadapan jenazah Kim Jungsu. 


Keluarga besar Keinya dan Yuan berikut sahabat hadir di sana. Kainya dan Steven, Khatrin dan Philips, Yura dan Gio, Rara dan Kimo, juga Kishi yang berdiri di sebelah Dean, lantaran Athan memang hanya datang bersama Kishi mengingat keadaan Kimi belum memungkinkan.


Kishi dan Dean duduk di antara Yuan dan Keinya tepat di belakang Pelangi dan Kim Jinnan yang ditemani Athan.


Tentu, jangan tanyakan bagaimana keharuan di sana. Bahkan, Kim Jinnan termasuk Athan yang menjadi pusat perhatian tak kuasa menahan air mata mereka, hingga semua yang ada di sana juga menjadi mengalami hal serupa. Semuanya berduka. Dan semuanya berlinang air mata. Seperti ada yang sengaja menebarkan irisan bawang tiada henti di sana, sampai-sampai, semakin lama, mata mereka menjadi semakin perih, sedangkan linangan air mata tak hentinya mengurai jerit batin mereka.


Seperti ada luka yang menganga di setiap hati mereka yang kemudian dibubuhi cuka. Benar-benar perih, berikut dada mereka yang tak kunjung lepas dari rasa sesak. Mereka memang bahagia, tetapi duka yang mereka rasa jauh lebih besar dari kebahagiaan itu sendiri.


Semuanya mengucap puji syukur seiring rasa lega yang detik itu juga menyelimuti mereka. Yuan dan Keinya saling mengusap punggung satu sama lain, sebelum refleks merengkuh tubuh Kishi dan Dean yang masih duduk di tengah mereka. Juga, Pelangi yang langsung menyalami tangan Kim Jinnan kemudian mencium punggung tangan pria yang telah resmi menjadi suaminya itu, sangat lama.


Dan suasana menjadi semakin haru, ketika Pelangi dan Kim Jinnan sama-sama sungkem kepada Keinya dan Yuan, juga Philips dan Khatrin.


“Tuan ... akhirnya impian Tuan terwujud. Lihatlah, ... tuan muda Jinnan akhirnya menikah dan mendapatkan keluarga yang tepat. Dan semuanya, ... benar-benar menyayangi tuan muda ... jadi, damailah di sisi Tuhan, sedangkan aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk terus mengabdi kepada tuan muda,” batin pak Jo sambil menyeka air matanya.


Pak Jo yang berdiri di sebelah peti jenazah Kim Jungsu, menatap jenazah itu dengan banyak rasa bahagia. Rasa bahagia yang membuatnya tersenyum tetapi juga berderai air mata. Tak ubahnya Kim Jungsu yang mengakhiri kehidupannya dengan wajah yang tersenyum, begitulah yang akan pak Jo lakukan dalam menghabis sisa hidupnya.


“Semoga, pernikahan yang begitu mengharukan ini, menjadi awal kebahagiaan untuk rumah tangga mereka,” batin Keinya yang masih saja tidak bisa mengakhiri air matanya.


***


Di tempat yang berbeda, di lantai sebelah kasur keberadaan Rafaro, Mofaro yang duduk selonjor tak ubahnya orang hilang pun berujar, “masa iya, kakekku harus meninggal juga, biar Ngi-ngie juga mau menikah sama aku?”


Mofaro kerap melirik Rafaro. Karena khusus hari ini, tidak ada yang jadi pergi ke kantor, dan ia mendapat tugas khusus untuk menjaga Rafaro.


“Jawab, dong ... masa iya, gara-gara Ngi-ngie nikah, kmau jadi sariawan enggak bisa ngomong?” ujar Mofaro yang sedari awal kerap melongok Rafaro.


“Raf ...?” Dan Mofaro masih berusaha membujuk Rafaro.


“Ngi-ngie pasti punya alasan khusus, kenapa dia memilih menikah dengan Kim Jinnan.” Rafaro berkomentar kendati ia masih meringkuk membelakangi Mofaro.


Mofaro mencebikkan bibirnya hingga tampangnya yang kadang garang, menjadi terlihat seperti bayi. “Kamu mau menyalahkanku lagi, gara-gara kita menyukai wanita yang sama?” omelnya.

__ADS_1


Rafaro tidak langsung menjawab. Namun pemuda itu berangsur beranjak duduk, sambil menatap Mofaro di tengah kedua matanya yang tampak sembam.


“Jika di masa depan, kita kembali mencintai wanita yang sama, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Rafaro serius.


“Aku rasa tidak ada wanita lain yang lebih menarik dari Ngi-ngie?” balas Mofaro jujur.


“Apa maksudmu? Kamu akan tetap menunggunya dan menjadi duri dalam rumah tangga orang?” balas Rafaro mengomel.


Mofaro menghela napas dalam dan berakhir dengan mendesah. Dan sambil beranjak, ia pun berkata, “nanti, deh ... aku mau semedi dulu biar dapat pangsit buat makan bakso panas-panas terus dikasih sambal sama sedikit cuka kan seger. Siapa tahu, setelah itu aku bakalan dikasih jodoh persis kayak Ngi-ngie.”


Balasab Mofaro yang justru melantur, membuat Rafaro mendengkus kesal. Terlebih, Rafaro benar-benar serius dengan pertanyaannya. Mengenai apa yang akan kakak sekaligus kembarannya itu lakukan, jika di masa depan, mereka kembali mencintai wanita yang sama?


“Ini yang bikin aku sulit mengerti Mo. Dia selalu mengalihkan keseriusan dan malah membuat keadaan jadi enggak hidup.” Rafaro menunduk bingung.


Dan di luar kamar Rafaro, Mofaro juga menjadi bertanya-tanya. “Apa yang akan aku lakukan, jika di masa depan, aku dan Rafaro kembali mencintai wanita yang sama?”


“Bukankah enggak ada yang lebih berharga dari hubungan kita?” ucap Rafaro dari balik pintu dan sukses membuat Mofaro terkesiap.


Mofaro yang refleks menoleh, mendapati Rafaro menatapnya sambil berlinang air mata.


“Dari dulu, ... bahkan hingga detik ini, ... enggak ada yan lebih berharga dari hubungan kita. Bahkan saking berharganya, kita juga sampai memiliki perasaan bahkan cinta yang sama.”


Dan lanjutan Rafaro, sukses membuat butiran bening mengalir dari kedua ujung mata Mofaro. Mofaro yang selama ini sangat sulit menunjukkan kesedihan apalagi air matanya.


“Orang lain bahkan cinta bisa saja meninggalkan kita, tetapi kita jangan sampai begitu. Bahkan, dari dalam kandungan, kita sudah ditakdirkan untuk selalu bersama.” Rafaro yang berangsur mendekati Mofaro, meninju sebelah dada pria itu.


“Cengeng!” umpat Rafaro sengaja meledek Mofaro.


“Sebenarnya yang jadi adik, aku, apa kamu sih? Dan siapa juga yang lancang tabur-tabur bawang di sini sampai-sampai, mataku jadi seperih ini?” keluh Mofaro sambil menyeka air matanya.


Dan kali ini, apa yang menimpa Mofaro sukses membuat Rafaro menertawakannya. Jadi, pernikahan Pelangi bukanlah awal kehancuran hubungan mereka. Melainkan, awal di mana mereka menyadari, betapa berharganya hubungan mereka yang sudah bersama-sama semenjak di dalam kandungan.


“Aku enggak mau dipeluk, ya!” seru Mofaro yang nyatanya justru mendekap Rafaro lebih dulu.


“Aku enggak bisa ngebayangin, betapa sialnya wanita yang bakalan jadi pasangan kamu!” ujar Rafaro di sela tawanya. “Jangan begitu. Katakanlah apa yang benar-benar kamu rasakan. Jangan mengatakan kebohongan yang akan membuat keadaan menjadi salah kaprah.”


“Aku akan belajar untuk itu!” balas Mofaro yang menjadi terisak-isak. “Dan mengenai ini, jangan sampai ada yang tahu. Awas saja kalau ada orang lain yang tahu kalau aku pernah menangis karena patah hati!” lanjutnya sengaja mengancam.


“Tapi aku tahu. Bagaimana?”


Suara Zean terdengar dari belakang. Dan di sana, bocah banyak tahu itu berdiri bersama Aurora di tengah kenyataan keduanya yang masih mengenakan seragam sekolah.


“Sial!” batin Mofaro yang langsung menyeka tuntas air matanya.


“Hahaha ... Mo nangis!” ledek Zean yang sengaja berlari mendekati Mofaro.


Zean bahkan sampai mengeluarkan ponselnya dan membidikkannya kepada Mofaro yang detik itu juga langsung sibuk menghindar sekaligus mengomel. Kenyataan yang sukses membuat Aurora dan Rafaro terbahak-bahak menertawakannya.


Bersambung ....


Alhamdullilah. Author sekarang selalu galau kalau bikin cerita sedih. Ditunggu undangan dari mereka ya? Wajib kondangan. Cukup doa terbaik saja untuk mereka 😄😄😄


Doain juga semoga Author bisa terua nulis. Soalnya anak Author lagi hobi ngamuk 😨😨😨😨.

__ADS_1


Dan terakhir, yang masih kesulitan menemukan cerita : Perfect Pasutri (Menjadi Istri Tuanku Season 2) kalian masuk ke akun : Rositi. Di akunDreame atau Innovel. Namun khusus untuk kalian yang ada di luar negeri, kalian bacanya lewat Dreamesaja, karena Innovel hanya ada di Indonesia.


Semoga, siang atau sore nanti, bisa up lagi 😆😆😁


__ADS_2