
“Kalau dia masih ngeyel, kamu langsung hubungi aku. Aku akan menemuinya dan memintanya berhenti mengganggumu.”
Bab 96 : Positif
Setelah membuka kemudian menutup pintu kamar Pelangi dengan hati-hati, Kim Jinnan sengaja menguncinya. Ia sengaja melakukannya, demi menghindari gangguan yang tidak diinginkan, tanpa terkecuali kedatangan Zean. Sebab kini, Kim Jinnan benar-benar hanya ingin berdua dengan Pelangi, bersamaan dengan kebahagiaan yang tengah bergelora dalam jiwanya.
Ketika memastikan suasana kamar yang terang, di sana, di sudut kamar dekat jendela, Pelangi tengah sibuk di meja belajarnya.
“Ngie ...?” panggil Kim Jinnan sarat perhatian.
Pelangi yang mendengarnya langsung balik badan. “Mmm? Kamu sudah pulang?”
Kim Jinnan mengangguk. “Kamu lagi ngapain? Makan dulu gado-gadonya.”
“Ini, lagi urus tugas kuliah. Tinggal dikit lagi, sih.”
“Ya sudah maka dulu. Itu dilanjut nanti.” Kim Jinnan membawa dua piring gado-gadonya ke karpet lantai yang ada di depan tempat tidur. “Sini.”
Pelangi segera mengakhiri kesibukannya. Ia meletakan pena di tangan kanannya ke atas buku, kemudian menghampiri Kim Jinnan dan duduk di sebelah pria itu.
Kim Jinnan melepas mantel hangatya. Pelangi yang melihat suaminya buru-buru terepas dari Kim Jinnan yang sudah terlijat sangat lelah, terlebih kini sudah nyaris pukul sembilan malam, membantu melepas dasi yang menghiasi kerah kemeja Kim Jinnan. Bersamaan dengan itu, Kim Jinnan menjadi sibuk menciumi sebelah pipi Pelangi bahkan bibir wanita itu.
“Ayo, makan dulu. Kamu pasti lapar, kan?” tegur Pelangi.
Pelangi sangat tidak bersemangat dan terlihat jelas kurang sehat.
“Tadi kamu sudah makan?” sergah Kim Jinnan yang kemudian meraih sepiring gado-gado miliknya.
Pelangi yang juga meraih sepiring gado-gadonya, berangsur menggeleng. “Belum. Belum lapar. Pengin makan ini. Makasih banyak, Jinnan!”
Dan Pelangi mulai memakan gado-gado miliknya. Kenyataan yang langsung membuat Kim Jinnan tersenyum lepas.
“Apakah hari ini ada yang istimewa?” tanya Kim Jinnan di sela kunyahannya.
Pelangi yang masih mengunyah, mendadak menghentikan kunyahannya kemudian mengerucutkan bibirnya. Di mana, tak lama setelah itu, ia berangsur menggeleng.
“Belum nemu teman yang cocok juga?” ujar Kim Jinnan yang masih menatap serius wajah istrinya.
Yang Kim Jinnan herankan, seorang Pelangi yang memiliki semuanya, baik fisik, materi, bahkan kasih sayang keluarga, justru seorang introvert yang sangat parah. Pelangi sangat sulit bergaul apalagi menemukan teman baik.
Pelangi menggeleng lantaran kenyataan tersebut merupakan jawabannya untuk pertanyaan Kim Jinnan. Sebab meski sudah hampir satu bulan lamanya Pelangi kuliah, wanita muda itu belum juga menemukan teman yang cocok. Akan tetapi, tak lama setelah itu, Pelangi mendadak ingat, hari ini ada pemuda yang mengutarakan perasaan kepadanya.
Pelangi pun menceritakan semuanya kepada Kim Jinnan. Ya meski tahu suaminya akan cemburu bahkan kesal, tapi Pelangi hanya berusaha terbuka kepada Kim Jinnan.
“Kalau dia masih ngeyel, kamu langsung hubungi aku. Aku akan menemuinya dan memintanya berhenti mengganggumu.”
“Kan aku sudah punya pengawal?”
“Tapi yang ingin dia temui aku.”
“Oke.”
“Heran, ada cowok kayak gitu. Sudah bilang sudah menikah, juga!”
__ADS_1
“Dulu, kamu juga begitu?” ujar Pelangi dengan polosnya sambik menikmati gado-gado yang membuatnya semakin menyayangi Kim Jinnan, lantaran ia sangat menikmati gado-gado tersebut.
Pernyataan Pelangi membuat Kim Jinnan menjadi kikuk. “Dulu kan aku usaha, Ngie. Toh dulu, nyatanya kamu memang belum nikah, kan?” elaknya sambil menatap tak berdosa sang istri.
Pelangi menjadi tersenyum sekaligus menggeleng geli. “Jinnan ... serius. Gado-gadonya enak banget! Besok aku mau makan kayak gini lagi!”
“Oh ... ya sudah, besok aku pesenin lagi. Ada nomor pemesanannya kok. Yang jual sih bilangnya, makan dingin lebih enak.” Kim Jinnan menjadi antusias dan melupaka awal mula perjuangannya mendapatkan cinta Pelangi.
“Tapi, gini juga sudah enak banget!” balas Pelangi yang masih memakan gado-gadonya dengan sangat lahap.
Kim Jinnan hanya tersenyum menanggapinya. “Tadi sih, aku ada beli tujuh porsi. Tapi takutnya mamah sama papah mau makan juga.”
“Mmm ... buat aku sajalah. Aku mau nambah sekarang juga. Mamah sama papah besok saja!” Pelangi nyaris meninggalkan Kim Jinnan, tapi sebelah tangan suaminya itu segera menahan sebelah lengannya.
“Jinnan, kenapa? Kok kamu jadi serius gitu?” Karena sesuai yang Pelangi utarakan, Kim Jinnan memang menjadi menatapnya dengan sangat serius.
Sebelah tangan Kim Jinnan yang tidak menahan Pelangi, berangsur merogoh saku mantel hangatnya. Dan bersamaan dengan itu, Pelangi juga memastikan apa yang sedang suaminya lakukan. Sebuah kantong putih Kim Jinnan keluarkan dari sana, dan kemudian memberikannya kepada Pelangi.
“Apa ini?” tanya Pelangi dengan suara lirih, lantaran telanjur terbawa suasana Kim Jinnan yang memperlakukannya dengan serius.
Kim Jinnan tersipu. “Pastinya, bukan berlian.”
Pelangi mengerucutkan bibirnya sambil melirik sebal Kim Jinnan. “Apaan sih? Kamu kan sudah kasih aku banyak banget.” Ia berangsur membuka kantong tersebut di mana di detik berikutnya, apa yang menjadi isinya langsung membuatnya lupa bernapas untuk beberapa saat.
Pelangi yang terlihat sangat terkejut, berangsur mengangkat tatapannya, dan membuatnya menatap wajah Kim Jinnan.
Sambil mengulas senyum, Kim Jinnan mengangguk-angguk, sedangkan sebelah tangannya yang awalnya menahan lengan tangan Pelangi, menjadi sibuk membelai sebalah wajah wanita tersebut.
“Iya.” Kim Jinnan segera mengangguk lengkap dengan mengedipkan pelan matanya.
“Aku juga mikir begini. Tapi aku takut kecewa. Belum siap juga. Tapi aku juga pengin juga. Campur aduk.” Kali ini, Pelangi sengaja berkeluh kesah.
Kim Jinnan menertawakannya. “Dijalani saja. Kita sama-sama belajar.”
Pelangi mengangguk-angguk dan kemudian tersenyum miris. “Tapi kamu jauh lebih cepat belajar ketimbang aku.”
Kim Jinnan menjadi tersipu. “Nyesel, ya, dari awal kamu selalu galak sama aku?” lirihnya.
Pelangi menjadi tersipu dan tertunduk malu.
“Ya sudah, ... cek sana.” Kim Jinnan sengaja menyuguhkan senyum termanisnya.
“S-sekarang?” ujar Pelangi memastikan.
Kim Jinnan langsung membalasnya dengan anggukkan kepala.
Detik itu juga, ketegangan mendadak menyergap Pelangi. Dan di tengah kenyataan jantungnya yang sampai menjadi berdegup sangat kencang, Pelangi bergegas meninggalkan Kim Jinnan. Tentu, tujuan Pelangi adalah kamar mandi. Namun, karena Kim Jinnan yang mengikuti juga nyaris masuk, ia pun buru-buru menahannya.
“Kenapa? Aku sudah lihat semuanya. Masa iya masih malu juga?” ujar Kim Jinnan.
“Tapi serius aku memang malu. Kamu tunggu di sini saja.”
“Ya sudah, kalau gitu aku ngintip saja.”
__ADS_1
“Ihh Jinnan!”
“Iya ... iya ... aku tunggu di sini!”
Belum lama setelah masuk, tiba-tiba Pelangi kembali. “Jinnan ... ini pakainya bagaimana? Aku kan enggak tahu?”
“Apalagi aku ...? Tapi, biasanya ada petunjuknya sih?” Kim Jinnan segera mengambil alih test pack-nya. “Kan, ada caranya nih!”
Setelah sama-sama membaca petunjuk yang ada, Pelangi bergegas masuk dan melakukan pengecekan, bersamaan dengan Pelangi yang saat itu juga sedang ingin pipis.
“J-jinnan ....” Dua garis merah yang semakin lama terlihat semakin terang, langsung menyapa Pelangi sebagai hasil pemeriksaannya.
Kim Jinnan yang penasaran pun bergegas masuk, terlepas dari pintu kamar mandi yang memang tidak tertutup rapat. Di mana, di depan wastafel, Pelangi terjaga menatap test pack.
“Wah ... positif, Ngie!”
Ketika Kim Jinnan langsung tersenyum lepas, Pelangi masih kebingungan. Pelangi benar-benar gugup, bingung, sekaligus takut, lantaran belum siap dan tidak yakin bisa mengurus anak.
“Alhamdullilah ....” Sudah tak terhitung ciuman yang Kim Jinnan singgahkan di kening istrinya. Sungguh, kehamilan Pelangi membuat Kim Jinnan sangat bahagia. “Akhirnya ....”
“Jinnan ... tapi aku takut.”
“Takut kenapa?”
“Aku takut enggak bisa urus anak.”
“Kan kita sama-sama belajar. Lagipula, papah sama mamah bahkan semuanya, pasti bakalan bantu.”
Pelangi mendekap erat tubuh Kim Jinnan. Ia menengadah dan membuatnya menatap penuh wajah suaminya. “Tapi aku juga malu.”
“Malu bagaimana?” balas Kim Jinnan yang memang sudah lebih dulu mendekap tubuh Pelangi.
Di mata Kim Jinnan, Pelangi istrinya mendadak menjelma menjadi bocah. Terlepas dari itu, Pelangi juga terlihat jelas kehilangan banyak rasa percaya diri.
“Iya malu saja. Kok hamil?”
“Kan kamu sudah nikah. Ya wajar kalau hamil.”
“Iya, sih. Terus, ngomongnya gimana ke papah mamah?”
Kim Jinnan berusaha keras meyakinkan Pelangi atas kehamilannya. Ya, Pelangi yang memang kehilangan banyak rasa percaya diri, terlepas dari wanita itu yang sepertinya memang belum siap.
“Enggak boleh malu. Kamu harus seneng. Dijamin, nanti pasti kamu seneng!”
“Maaf, ya, Jinnan. Aku jadi gugup, bingung, campur aduk begini. Makasih banyak buat dukungannya.” Pelangi membenamkan wajahnya di dada suaminya.
Kim Jinnan tersipu. “Sudah jadi kewajiban pasangan untuk saling menguatkan dalam segala keadaan, kan?”
“Tapi serius, ya ... nanti kamu bantu aku ngomong sama mamah papah?”
Lantaran Pelangi terus merengek tak ubahnya bocah, yang ada kenyataan tersebut membuat Kim Jinnan tertawa.
Bersambung ....
__ADS_1