
“Kalau aku melamarmu sekarang, kamu mau?”
Bab 51 : Cinta Pertama Yuan
****
Keinya memelotot, menatap tak percaya foto dalam dompet cukup panjang, milik Yuan. Dompet yang dulu sempat Yuan berikan kepada Keinya sebagai jaminan ketika Keinya menitipkan Pelangi kepada Yuan, untuk menjalani pengobatan luka di telapak kaki Keinya. Sialnya, saat itu Keinya tak sampai melihat dengan teliti, padahal ternyata, di bagian penyimpanan foto bersanding dengan deretan kartu kredit, ada foto cinta pertama Yuan! Namun, kalaupun saat itu Keinya melihat, tentu tidak akan berdampak banyak sekaligus semarah sekarang, karena sampai saat ini saja, Keinya tidak berpikir dirinya akan sangat mencintai Yuan.
Dengan rahang mengeras menahan kesal, Keinya membawa dompet tersebut, melangkah hati-hati sambil memastikan kanan kiri dikarenakan di apartemen itu ada Yura berikut orang tua Yuan.
Keinya tidak, mau kehadirannya diketahui mereka di tengah waktu yang sudah tak pantas untuknya berkeliaran, sedangkan kini sebelah tangannya juga sampai menyita dompet Yuan.
Keinya benar-benar berjaga dan sengaja melakukannya karena biar bagaimanapun, bahkan meski Yuan yang memulai menyelinap ke apartemennya, ia tetap ingin tampil sempurna di mata keluarga calon suaminya.
Ketika berhasil menutup pintu apartemen Yuan, Keinya tak langsung meninggalkannya. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu dengan kedua tangan mencengkeram dompet di belakang punggung. Sesekali, ia menghela napas pelan. Dan terus begitu sambil meredam emosinya agar menjadi lebih santai sekaligus tenang. Namun, ketika Keinya memastikan foto gadis yang menghuni dompet Yuan, sekali lagi ia menjadi sangat kesal. Dunianya hanya berisi rasa yang membuatnya ingin marah bahkan meledak. Dan dengan keadaan kesal itu pula, Keinya menekan sandi pintu apartemennya dan segera memasukinya.
Awalnya, Keinya memang berlari karena tidak sabar. Tapi ketika Keinya ingat di kamar sebelah ada Rara, Keinya jadi memelankan langkahnya, mengendap-endap sambil sesekali melirik ke arah keberadaan kamar Rara yang berseberangan dengan kamarnya. Karena meski keberadaan kamar mereka sudah berbeda lorong, Keinya merasa tak beda dengan maling yang harus bersembunyi-sembunyi dalam melakukan misinya. Keinya takut diketahui Rara, apalagi Yuan tengah ada di dalam kamar Keinya.
Ketika berhasil memasuki kamar, Keinya juga tidak langsung menghampiri Yuan yang menyambutnya dengan tatapan sudah sangat mengantuk. Kenyataan tersebut membuat Keinya memastikan waktu di beker yang ada di nakas sebelah Yuan.
Sudah lewat pukul satu pagi. Pantas Yuan terlihat begitu mengantuk apalagi obat yang Yuan konsumsi juga membuat pria itu gampang mengantuk, selain Yuan sendiri yang jadi gampang lapar.
Terlebih dulu, Keinya mengunci pintunya, kemudian berjalan cepat dan berhenti di hadapan Yuan sambil memasang wajah sebal. Wajah sebal atas kekesalan yang juga disertai kemanjaan.
“Ampuni aku, Kei. Ampun. Tapi apa salahnya kalau aku menyimpan foto—?”
“Sudah cukup! Kamu ini sudah keterlaluan, masih saja meledek!” Keinya menitikkan air mata dengan wajah yang begitu sedih sekaligus manja. Ia meraih bantal guling di belakang Yuan kemudian menghantamkannya pada Yuan.
Yuan sendiri hanya meringkuk pasrah dalam penghindarannya sambil tertawa pelan.
Tak lama setelah itu, Keinya membuang bantal gulingnya begitu saja ke lantai, kemudian melemparkan dompet berwarna cokelat di tangannya, ke sisi wajah Yuan.
Yuan mengulurkan tangan kirinya pada Keinya, dan mengabaikan dompetnya begitu saja.
Sambil menyeka air matanya, Keinya berangsur menggenggam uluran tangan Yuan disusul membenamkan diri dalam dekapan pria tersebut, di mana tak lama setelah itu, isak tangis Keinya terdengar semakin keras. Kendati demikian, Yuan menanggapinya dengan begitu santai tanpa ada sedikit pun rasa bersalah terlebih sesal yang terpancar. Kontras dari biasanya yang bahkan akan selalu sakit, meski hanya melihat Keinya gelisah.
Meski tangan berikut kaki kanannya masih sangat terbatas dalam bergerak, Yuan berusaha menyeimbangi Keinya. Pria tersebut menggunakan dagunya untuk mengunci kepala wanitanya, sedangkan tangan kiri yang masih digenggam Keinya, ia lingkarkan di punggung Keinya tanpa mengakhiri gandengan tangan mereka.
“Kamu jahat, Yu!” lirih Keinya di tengah isaknya.
“Jahat kenapa? Salah, kalau dari dulu aku sudah mencintaimu?” Yuan menanggapinya dengan santai. Tatapannya menerawang langit-langit ruang keberadaan mereka.
Keinya berangsur menarik wajahnya, ia menatap Yuan dengan saksama. Di mana tak lama setelah itu, tangan kiri Yuan berangsur melepas genggaman mereka untuk menyeka setiap linangan air mata Keinya.
“Memangnya dulu kita pernah bertemu? Foto itu kamu minta ke ibu panti, kan?” Keinya merasa sanksi jika alasan Yuan mendapatkan foto masa kecilnya yang bertubuh gendut, tapi memiliki senyum sangat manis bak malaikat, karena mereka pernah bertemu ketika masih kecil. Mustahil kalau mereka pernah bertemu ketika mereka masih kecil dengan kenyataan mereka yang begitu bertolak belakang.
“Kita hanya terpaut tiga tahun. Aku tiga tahun lebih tua darimu.” Tangan kiri Yuan meraih dompetnya.
__ADS_1
Keinya memperhatikan apa yang Yuan lakukan. Pria itu membuka dompet dan mengambil foto masa kecil Keinya dengan cukup kesulitan. Keinya memutuskan untuk membantu, mengambil alih dikarenakan Yuan memang masih sangat terbatas dalam beraktivitas, tanpa terkecualu untuk sekadar menggerakkan tangan. Di mana, seharusnya Yuan juga belum boleh banyak bergerak.
Ketika foto tersebut terus ditarik, ternyata selain fotonya berukuran lebih panjang, foto dengan warna cukup buram khas foto lawas, tak hanya berisi foto Keinya, melainkan seorang anak laki-laki yang sudah terlihat sangat tampan di usianya yang masih sangat muda.
“Wah ... dari kecil kamu sudah terlihat tampan.” Keinya menatap tak percaya foto tersebut. Itu memang fotonya yang masih bertubuh gendut, sedangkan Yuan kecil yang ada di sisinya memiliki tampilan tampan hingga, barusan Keinya melayangkan pujian secara spontan.
“Aku memang ditakdirkan menjadi tampan.” Yuan mengucapkannya dengan penuh rasa percaya diri sekaligus bangga.
Di foto tersebut, wajah keduanya sama-sama gelepotan butter cream. Yuan mengenakan setelan kemeja lengan panjang warna putih berompi hitam, sedangkan Keinya yang berada di depan sampingnya mengenakan gaun lengan pendek warna merah muda. Mungkin umur Keinya sekitar delapan tahun. Ke duanya sama-sama tersenyum ke arah kamera dengan sebelah tangan Yuan yang merangkul pundak Keinya.
Keinya melirik Yuan sambil tersenyum dan menggeleng tak habis pikir atas tanggapan pria tersebut yang jelas sengaja menggodanya. “Tapi tunggu, kapan kita bertemu? Foto ini diambil kapan?” Ia benar-benar tidak ingat pernah bertemu Yuan bahkan sampai ada agenda foto bersama yang terlihat cukup dekat.
“Dasar payah. Ingatanmu sangat lemah!” cibir Yuan.
Keinya mengangguk pasrah. “Ceritalah ... Aku benaran enggak ingat.”
Dulu, sewaktu masih kecil, Keinya yang hobi makan memang memiliki tubuh tiga kali lipat lebih besar dari Kainya yang sedari kecil sudah menjaga penampilan.
Sejak kecil, Kainya yang bercita-cita menjadi artis atau pramugari agar bisa naik pesawat dan keliling dunia, memang begitu merawat penampilannya. Beda jauh dengan Keinya yang hobi makan dan bercita-cita menjadi koki hebat. Keinya sungguh terobsesi menghasilkan banyak makanan lezat. Karena bagi Keinya, dengan memakan banyak makanan lezat, orang-orang akan lebih sehat khususnya orang yang Keinya sayangi, agar mereka tidak cepat meninggal seperti orang tua Keinya. Sebab yang Keinya tahu, alasannya ada di panti asuhan karena orang tuanya meninggal akibat kurang mengonsumsi makanan lezat.
Namun mengenai foto sekaligus kejadian Keinya dan Yuan bisa kenal bahkan sampai foto berdua, Keinya sungguh tidak ingat. Kenapa dia bisa sampai bertemu Yuan? Bukankah itu kemustahilan? Yuan terlahir di keluarga kaya raya dan tidak menutup kemungkinan pria itu menghabiskan masa kecilnya di luar negeri, sedangkan Keinya sudah tinggal di panti asuhan sejak bayi?
“Kalau jodoh enggak bakalan ke mana, Kei. Kita memang pernah bertemu, dan aku enggak pernah menyangka, sekarang kita sedekat ini?” ucap Yuan.
“Ayolah, Yu. Cerita. Jangan sengaja bikin aku tambah penasaran!”
“Aku akan menceritakannya setelah kita menikah,” ucap Yuan sambil memejam.
Kendati sudah terpejam, Yuan masih membalas kata-kata Keinya. “Berarti kamu berharap kita nikah sekarang?”
“Sudah kuduga jawabanmu akan seperti itu!” Keinya nyaris kembali marah, menuntut Yuan untuk menceritakan pertemuan mereka di masa lalu, andai saja pria itu tidak terlelap dan terlihat sangat kelelahan. Bahkan Yuan sampai mendengkur lirih.
Keinya menghela napas pelan sambil menatap setiap inci wajah Yuan, berhias senyuman. Kemudian ia membelai kepala Yuan dan mengakhirinya dengan melayangkan sebuah kecupan di kening pria tersebut. “Tidurlah. Mimpi indah,” lirihnya. “Tapi besok kamu harus tetap cerita! Awas saja kalau enggak!” batinnya.
Ketika Keinya nyaris menarik tubuhnya dari tubuh Yuan, tiba-tiba saja pria itu membuka mata dan kemudian melayangkan kecupan singkat di bibir Keinya.
“Selamat malam juga, Sayang!” lirih Yuan menatap Keinya dengan senyum kemenangan.
Keinya yang bergeming dengan mata memelotot saking terkejutnya, dibuat mati gaya atas ulah Yuan yang ia yakini sengaja menjebaknya. Buktinya, Yuan sampai tersenyum puas sesaat sebelum kembali terpejam.
“Kalau begitu, pulang ke apartemenmu jangan di sini!” tuntut Keinya dengan suara lirih.
“Aku beneran ngantuk, Kei. Mager banget. Rasanya nyaman banget tidur di sini.”
“Ih, Yu. Enggak enak sama mereka. Bagaima kalau mereka mikir aneh bahkan macam-macam ...?”
“Dengan keadaanku seperti ini? Sudahlah enggak usah mikir aneh-aneh. Tidur ... tidur. Stttt ….”
__ADS_1
Tangan kiri Yuan mengelus-elus kepala Keinya.
“T-tapi, Yu ....”
Lantaran Keinya terus sibuk protes di balik punggung dan sampai membungkuk di atas tubuhnya, tanpa menatap wanita itu, Yuan yang masih terpejam sengaja menarik sebelah lengan Keinya. Ulah Yuan langsung membuat tubuh Keinya limbung, dan seketika terbanting meringkuk menghadap Yuan.
Rasa tegang menyekap Keinya detik itu juga, terlebih ketika kedua mata Yuan juga berangsur terbuka, menatapnya dengan sangat intens, sedangkan tangan kiri pria tersebut berangsur membelai wajah Keinya.
Jantung Keinya bekerja sangat keras melebihi batas normal. Bahkan degup suaranya terdengar begitu jelas. Terlepas dari itu, Keinya juga merasa jika aliran darahnya menjadi hangat, sampai-sampai tubuhnya berkeringat.
Bukankah Yuan baru saja mempermasalahkan keadaannya yang masih sakit? Namun, dengan keadaannya yang masih sakit saja, pria itu dengan begitu mudah menarik dan menjatuhkan tubuh Keinya hanya dengan sebelah tangan. Apalagi jika pria itu tidak sakit?
Keinya ingin meminta Yuan untuk tidak menatapnya begitu intens, tapi untuk berucap saja, lidah Keinya terasa begitu kelu.
“Kalau aku melamarmu sekarang, kamu mau?” ucap Yuan dengan suara yang terdengar berat khas suara sudah sangat mengantuk.
Keinya yang semakin gugup buru-buru menggeleng sambil sesekali menepis tatapan Yuan.
Yuan berangsur membelai kepala Keinya dan menyisikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Keinya, ke belakang telinga. Kenyataan yang membuat kedua mata lebar Keinya terus bergerak liar seiring rasa tegang yang kian memenjarakan wanita itu. Dan setelah menatap Keinya lama, Yuan mencium kening Keinya sangat lama.
“Aku mencintaimu,” ucap Yuan tulus. Tangan kirinya mengusap lembut kening bekasnya mendaratkan ciuman.
“Kalau kamu mencintaiku memangnya kenapa?” omel Keinya sambil buru-buru mundur. Namun ulahnya yang ia yakini terlihat begitu gugup sekaligus tegang, justru membuat Yuan tertawa.
“Memangnya kamu enggak cinta juga sama aku?”
“Apa, sih? Jadi hobi banget nggombal!”
“Tapi suka, kan, digombali?” Yuan tergelak dan menekap mulutnya.
Keinya yang telanjur kesal, meski jauh di lubuk hatinya sangat girang mengiyakan anggapan Yuan, meraih bantal guling di sebelahnya dan menghantamkannya pada kepala Yuan.
Benar, meski selalu membuatnya tegang, mendapat pujian sekaligus kata-kata cinta dari Yuan juga ibarat obat mujarab Keinya dalam mengatasi kebosanan sekaligus rasa lelah menjalani kehidupan. Dan mengenai tanggapan kesal bahkan marah yang Keinya berikan, sepenuhnya itu hanya pura-pura mewakili rasa gengsinya dalam mengakui.
“Kamu takut kepadaku? Baguslah. Jangan macam-macam karena aku bisa lebih macam-macam,” ucap Yuan dengan sisa tawa yang masih berusaha ia redam.
Keinya mendengkus sebal kemudian mengambil dua bantal guling di belakangnya sebagai pembatas mereka. Namun, Yuan yang sengaja menggoda Keinya selalu berusaha membuang ke dua bantal guling tersebut, meski kedua matanya sudah kembali terpejam.
“Kamu benar-benar sukses bikin aku kesal. Sudah enggak mau cerita, eh sekarang sengaja menggoda!” rutuk Keinya yang justru menjadi hanyut memandangi wajah Yuan ketika tidur layaknya sekarang. Pria itu terlihat begitu damai, sangat tampan.
Namun baru Keinya sadari, Yuan selalu terlihat tampan dalam keadaan apa pun. Alis yang tebal dan tegas, hidung yang mancung dan memiliki pahatan sempurna, serta bibir tebal di bawahnya yang menghiasi wajah berdagu runcing pria itu. Sempurna, apalagi ketika pria itu tersenyum di mana lesung pipit yang Yuan miliki juga akan membuat senyum Yuan semakin spesial.
“Jangan memandangiku seperti itu, nanti kamu tambah cinta. Cepat tidur.”
Keinya buru-buru kembali menghindar dan refleks menelan salivanya. Tak disangka ternyata Yuan juga masih belum tidur meski ia sudah memandangi pria itu sangat lama.
*****
__ADS_1
Meski awalnya Keinya yang menjaga jarak, Keinya juga yang akhirnya mendekat. Dan itu terjadi di luar kesadaran Keinya. Di mana, Yuan yang merasa tidak nyaman atas kehadiran kedua guling semakin mendesak tubuhnya juga menyingkirkannnya, hingga Keinya berakhir dalam dekapannya. Ke duanya sama-sama terlelap. Apalagi meski Pelangi juga sampai bangun, bocah itu sibuk main sendiri dengan mainan yang ada dalam ranjangnya, sama sekali tidak menangis terlebih sampai mengusik mereka.
****