Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 53 : Amnesia


__ADS_3

“Karena kamu bukanlah Kimo, yang akan tetap menjaga sekaligus mencintai apa yang telah kamu miliki, meski kamu amnesia!”


Bab 53 : Amnesia


Steven mengembuskan napas cepat dari hidung seiring senyum tak percaya yang menyertainya. Senyum tak percaya yang juga dibubuhi luka. “Kok sakit, ya?” batinnya sambil menatap Kainya maupu. Daniel silih berganti.


Steven mencari hal-hal yang kiranya membuatnya baik-baik saja. Ia ingin melihat penolakkan dari Kainya untuk Ben. “Mungkin ini terkrsan jahat, ... tapi demi Tuhan, aku tidak mau kehilangan Kainya, bahkan untuk Beb, sahabatku sendiri,” batinnya memohon.


Kainya masih diam. Sedangkan Ben, berangsur melangkah mendekati dan sampai melewati Steven. Steven sendiri menjadi menunduk pasrah karena kenyataan tersebut.


“Kainya itu cantik. Berpendidikan. Selain itu, Kainya juga tegas dan berpendirian. Pantas jika banyak pria yang menyukainya bahkan sekelas Ben sekalipun,” batin Steven lagi yang menjadi dirundung kesedihan sekaligus luka tak berdarah.


“Aku sudah mendengar semuanya dari mama, tentang kita. Selama ini, aku juga berusaha menghubungimu.” Ben menatap Kainya penuh keantusiasan. Senyum semringah di wajahnya tak pernah berkurang apalagi usai.


Kainya berangsur memejam. Ia sungguh tidak mau menerima penjelasan dari Ben lagi. “Daniel, ayo kita pulang.” Ia benar-benar tak mau berhubungan dengan Ben lagi, apa pun alasannya.


Daniel langsung sigap terlepas dari ia yang merasa begitu senang. “Semoga Kak Kai memang enggak mau kenal sama Ben lagi!” batinnya sangat berharap.


Tak mau menyerah, setelah dibuat kebingungan dengan keputusan Kainya, Ben pun menahan sebelah tangan wanita itu yang lolos dari pengawasan Daniel. “Kainya, tunggu. Kita harus berbicara!” pintanya.


Kainya yang menunduk berusaha menahan diri agar tidak jatuh ke tarikan Ben. Ia mencengkeram tangan Daniel jauh lebih kuat, dan turut dibalas oleh adiknya itu yang seketika melakukan gerakan perlindungan.


Daniel berusaha mengakhiri tahanan tangan Ben dari tangah Kainya. “Tolong, jangan mengganggu Kak Kainya lagi!” tegasnya berikut tatapan tajam yang menyertai.


Steven menghela napas di tengah kegelisahannya akibat apa yang sedang terjadi. “Ben?” panggilnya pelan dan memohon. Ketika Ben menoleh padanya, ia segera menggeleng.


“Kenapa, Kai?” tanya Ben hati-hati tanpa menyudahi tahanan tangannya.


Daniel dan Steven yang kompak bungkam juga ingin mengetahui alasan Kainya menghindarinya.


“Karena kamu bukanlah Kimo, yang akan tetap menjaga sekaligus mencintai apa yang telah kamu miliki, meski kamu amnesia!” Kainya masih menunduk. “Aku tahu semuanya ... kamu memang tidak pernah berubah.”


Ben mrnggeragap. Lain halnya dengan kedua pria di sana yang terlihat semakin penasaran. Apa yang Kainya ketahui tentang Ben, dan kenapa juga, wanita itu menyamakan Ben dengan Kimo?


“Karena meski amnesia akan membuat orang menjalani kehidupan yang baru, tetapi hidup merupakan pilihan. Ada yang memilih meninggalkan masa lalu, seberapa penting pun masa lalu itu. Juga, ada yang memilih belajar dan melanjutkan semuanya, meski itu benar-benar tidak mudah.” Kainya memilih berbicara dalam hatinya tanpa memberikan Ben penjelasan, seperti apa yang pria itu lakukan.

__ADS_1


Kainya memilih meninggalkan kebersamaan, kendati kedua tangannya masih ditahan oleh kedua orang yang berbeda. Hanya saja, Ben berangsur melepaskannya, sedangkan Daniel langsung menuntun dan terjaga untuknya.


Ben tertunduk menyesal. “Aku salah ....”


Mendengar itu, Steven mrngernyit.


“Sepertinya dia tahu jika aku pura-pura.” Ben masih meracau tidak jelas. Selain sarat kesedihan, pandangan Ben juga menjadi kosong.


“Apa maksudmu?!” sergah Steven mulai geram. Entahlah, yang menyangkut Kainya selalu membuatnya ingin memberikan yang terbaik.


Tanpa menatap Steven, Ben berkata, “meski di masa lalu kami memang ada, dan mama juga sangat mengharapkannya menjadi pendampingku, tetapi di kehidupanku yang sekarang, aku juga telah memiliki wanita lain yang kucintai. Dan aku tidak bisa melepas wanitaku begitu saja.”


Steven mengernyit, menatap Ben sambil menerka-nerka. Namun yang ia tahu, Ben sempat kecelakaan parah yang sampai membuat pria itu amnesia sebagian.


***


Ketika Kainya baru saja keluar dari lift, ia dkejutkan oleh teriakan yang sangat familier di telinganya.


“Aku engga mau lumpuh! Aku enggak mau lumpuh, Ma! Kenapa aku harus lumpuh?!”


Menyadari Kainya ketakutan sambil melirik pintu ruang ICU yang kebetulan dalam keadaan stidak tertutup rapat, Daniel langsung merangkul dan menuntun wanita itu menjauhi sumber keributan yang kiranya ada tujuh meter dari mereka.


“Daniel ...? Itu tadi suara Steffy kan?” tanya Kainya dengan suara yang terdengar gemetaran.


Daniel tersentak dan segera mendengar, memastikan suara yang masih berlangsung lebih saksama, meski pintu ruang tersebut berangsur ditutup dari dalam.


“Aku enggak mau lumpuh!”


“Ini semua gara-gara Kimi!”


“Dasar Kimi sialan!”


Tak lama setelah itu, tatapan Daniel dan Kainya bertemu. Keduanya sama-sama membenarkan, teriakan histeris di antara tangia itu memang Steffy. Setelah mengangguk, meyakinkan semuanya baik-baik saja, Daniel melanjutkan langkahnya tanpa melepaskan Kainya yang tetap ia rangkul.


Keduanya kembali memasuki lift, sedangkan tak jauh dari mereka, dari tangga darurat di lorong yang sama dengan ruang rawat Steffy, Steven melepas kepergian keduanya khususnya Kainya, sarat kecemasan.

__ADS_1


“Sabar, Kai ...,” batin Steven tak mampu menguatkan wanita itu secara langsung.


***


Pagi ini, Itzy sengaja ingin melihat Yuan. Ia benar-benar tidak mengenakan pakaian olahraga layaknya biasa. Ia bahkan masih mengenakan pakaian kerja yang kemarin.


Dengan keadaannya yang terlihat sakit, ia mengintip dari sela gerbang rumah Yuan paling pinggir. Ia mendapati Yuan mengemban Pelangi dengan satu tangan, sedangkan di sebelahnya, Keinya mendekap mesra, sebelah tangan Yuan yang bebas. Dan di depan keduanya, sopir beserta pekerja tanpak menyiapkan mobil. Yuan sendiri sudah berpakaian rapi--mengenakan setelah jas hitam dan kemeja merah hati.


Kali ini, setelah ketiganya sampai di ambang beranda, tiba-tiba saja, hati Itzy menjadi berdebar-debar. Yuan dan Keinya terlihat masih berbincang hangat. Yuan mungkin sedang berpamitan kepada keluarga kecilnya. Pria itu kemudian mencumi gemas wajah putri cantiknya, sebelum Keinya mengambil alih anak mereka. Di mana tak lama setelah itu, Yuan juga mencium mesra kening istrinya.


Itzy benar-benar ingin amnesia dibuatnya. Ia ingin melupakan Yuan dan semua tentang pria itu, jika pada kenyataannya, ia tidak bisa memilikinya. Namun, bisakah ia amnesia dengan mudah? Atau kalau tidak, sudikah Keinya berbagi Yuan dengannya? Sungguh, asal bisa menjadi bagian penting dari Yuan, bahkan meski bukan menjadi yang pertama, Itzy rela. Pesona seorang Yuan benar-benar sulit ia lupakan. Karena melupakan pria itu, sama saja bunuh diri perlahan-lahan. Faktanya, semenjak mengetahui fakta hubungan Yuan dan Keinya saja, ia lupa segalanya termasuk makan dan istirahat. Melakukan rutinitas lain seperti ke kantor, juga tidak Itzy lakukan.


***


Di rumahnya, Rara ta hentinya gelisah. Mengenai Kimo yang meminta izin menemui Steffy, setelah pria itu mendapat kabar dari Intan, mengenai kabar terbaru Steffy yang divonis lumpuh.


“Aku enggak rela. Dan aku enggak bakal kasih kamu izin!” tegas Rara sambil menggeleng dan menatap Kimo penuh peringatan.


Kimo ketar-ketir dan terlihat berat sekaligus serba salah. “Ra!” Ia berusaha meyakinkan Rara, menahan kedua bahu wanita itu.


Rara langsung menepisnya dengan kasar. “Jangan pernah memohon kepadaku jika itu hanya untuk wanita lain! Kamu bilang, kamu lebih memilihku dan anak kita, tapi nyatanya apa?!” tegasnya meledak-ledak.


Kimo tampak menimang rasa, tanpa bisa mengendalikan kecemasannya. Ia mencemaskan Steffy yang dikata Intan, tak hentinya berusaha bunuh diri, tetapi keadaan Rara juga tidak kalah mencemaskan apalagi sekarang, Rara sampai tidak bisa mengontrol emosinya.


Kini, di tengah emosinya yang tidak bisa dikendalikan, Rara benar-benar kesa kepada Tuhan, kenapa Tuhan harus membuat Kimo amnesia, setelah Tuhan mengambil semua kebahagiaan dari hidup Rara?


Perlahan Rara mundur, meninggalkan Kimo berikut kamar pria itu sambil menunduk dan menelan banyak kekecewaan. Rara benar-benar sakit. Sakit sesakit-sakitnya karena akhirnya, ketakutannya Kimo kembali memikirkan bahkan memikhak Steffy lantaran amnesia yang di derita suaminya itu, benar-benar menjadi nyata.


Bersambung ....


Duh, episode yang kemarin masih sedikit yang like, ya. Semoga rame lagi, yaa ~~~


Salam sayang,


Rositi.

__ADS_1


__ADS_2