Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 40 : Keputusan Besar dan Menyerah


__ADS_3

Hallo, sesuai janji Author, ini bab ke dua di hari ini. Semoga sesuai harapan kalian, ya ^^


Oh, iya ... cuma mau mengingatkan, di akhir cerita Selepas Perceraian yang InsyaAlloh akan tamat akhir bulan ini, Author akan memberikan dua buah novel (buku) Author secara gratis, buat pembaca paling aktif.


Author bakal pilih pembaca paling aktif komen maupun vote. Tapi tentu, like kalian juga tetap harus ditinggalin sebagai jejak setelah baca. Wkwkwk ....


Jadi, apakah kamu pembaca teraktif di novel ini?


Siap-siap, ya! ^^


***


“Jika bercerai dari Kimo menjadi satu-satunya hal yang Mama inginkan dariku, aku siap, Ma. Tapi tolong, setelah itu, ... jangan pernah mengganggu hidupku apalagi anakku lagi!”


Bab 40 : Keputusan Besar dan Menyerah


Penusukan yang menimpa Kainya sengaja disembunyikan dari orang-orang sesuai permintaan Kainya. Jangankan orang lain bahkan Keinya, Khatrin dan Philips saja tidak diizinkan untuk mengetahuinya. Jadi, baik Daniel maupun Steven sama-sama menjaga Kainya di rumah sakit.


Mengenai pelakunya sendiri, sudah diketahui melalui rekaman kamera pengawas sesuai petunjuk Steven. Pelakunya tak lain Steffy dan sampai saat ini masih menjadi buronan, berikut kasus yang harus Steffy hadapi sebelumnya mengenai kasus kecelakaan Kimo dan Rara.


“Kenapa kamu enggak tidur?” tanya Daniel lantaran Steven tetap terjaga di sofa seberang, yang keberadaannya tepat di hadapannya.


Steven yang awalnya tertunduk dengan pandangan kosong, segera mengangkat tatapan berikut wajahnya. Ia menatap Daniel sambil mengulas senyum. Mereka hanya terpisah oleh ranjang rawat keberadaan Kainya. Sedangkan yang membuat mereka terjaga, belum lama tidur setelah sempat meminta mereka untuk merahasiakan semuanya dari keluarga, khususnya Khatrin dan Philips.


Daniel menatap sinis Steven. Baginya, perhatian berikut sikap ramah Steven pasti memiliki maksud terselubung. Bahkan Steven sampai tidak mau beranjak meninggalkan Kainya termasuk untuk mengganti kemeja lengan panjang warna putih yang dikenakan. Padahal, di bagian depan hingga dada Steven sudah berubah menjadi warna darah yang mengering dan menyeruakkan bau anyir.


“Tidurlah. Biar aku saja yang menjaga kakakmu.” Steven masih menatap Daniel sarat kesabaran berikut senyum tulusnya.


Kendati demikian, rasa tidak suka juga masih tidak bisa Daniel kendalikan apalagi sembunyikan. Bahkan dalam menatap Steven saja, Daniel terus menatap pria itu dengan tatapan sinis sarat kebencian. Pun meski Steven terus menyikapinya dengan santai sekaligus sabar. Hal tersebut tak lantas membuat kekesalan Daniel berkurang apalagi hilang.


“Katakan padaku. Apakah kamu menyukai Kainya?” tanya Daniel tanpa basa-basi. Daniel sudah tidak tahan, jika terus menerka-nerka.


Namun, Steven yang terlihat jelas terkesiap dan bahkan tidak bisa menyembunyikannya, tidak memberikan balasan berarti. Kendati demikian, tanggapan Steven sudah membuat Daniel yakin, apa yang ia tanyakan dibenarkan oleh Steven. Steven memiliki rasa tersembunyi pada Kainya dan itu justru rasa yang tidak pernah ia harapkan hadir untuk Kainya dari pria, selain dirinya!


***

__ADS_1


Pagi ini, hasil pengecekan darah Kimo, keluar bertepatan dengan kehadiran Kiara yang membawakan satu rantang bubur ayam untuk Kimo.


Rara dengan kesehatan yang sudah sangat baik, dan duduk di tepi ranjang rawatnya menghadap Kimo, sudah dilepas infusnya. Hari ini juga, Rara dibolehkan pulang layaknya Kimi yang duduk menyandar pada Franki di sofa sebelah Kimo. Lain halnya dengan Kimo yang membuat mereka masih terjaga. Pria itu hanya diam, masih dengan ekspresi judes berikut wajah yang cukup pucat.


Selain diare dan kerap muntah, Kimo juga sampai demam bahkan dehidrasi. Sampai-sampai, hanya dalam waktu satu malam saja, Kimo habis dua botol infus.


“Hasil lebnya sudah keluar?” ujar Kiara terlihat jauh lebih santai. Ia berjalan menuju nakas keberadaan buah berikut beberapa makanan dan air mineral, yang keberadaannya ada di ujung lorong sebelah kebersamaan.


Kebersamaan kali ini, meski Kimo juga tidak begitu menunjukkan perubahan yang berarti dalam bersikap pada Rara, berikut Kiara juga sudah tidak begitu bersikap bengis kepada Rara, sudah sangat membuat Rara bahagia. Bahkan karena hal tersebut pula, Rara merasa memiliki keluarga seutuhnya. Keluarga yang selama ini sangat ia idam-idamkan.


“Tolong bacakan hasil pemeriksaan darahnya, Dok. Apa yang salah dalam diri saya, sampai-sampai, saya mendadak muntah berak bahkan demam? Dan kalau memang hasilnya tidak meyakinkan, tolong lakukan pengecekan melalui metode lain,” pinta Kimo dan terdengar masih sangat lemah.


Rara menghela napas pelan sambil menatap suaminya prihatin. Kemudian, sebelah tangannya mengelus sebelah lengan Kimo. Rara terus begitu, menenangkan suaminya, meski yang bersangkutan sama sekali tidak meresponsnya. Kimo masih tertunduk lesu, di mana wajahnya juga terlihat sangat judes. Menurut Rara, kekesalan yang tidak bisa Kimo sembunyikan tersebut terjadi lantaran sakit yang harus pria itu rasakan. Rara yang menyaksikannya saja dibuat gila, tidak tega, lantaran Kimo sampai menetap di atas kloset. Kimo terus muntah dan buang air besar dalam waktu bersamaan, selain sampai demam cukup tinggi.


Tak lama kemudian, Kiara datang menyertai kebersamaan dengan semangkuk bubur ayam yang wanita itu buat khusus dari rumah. Kiara sengaja memasaknya sendiri lantaran takut, jika ia kembali membeli makanan di luar, akan membuat kesehatan Kimo semakin memburuk. Muntah, mencret berikut demam yang menyerang Kimo secara tiba-tiba saja, disinyalir karena makanan yang Kiara beli, selain Kimo sendiri yang makan berlebihan.


Setelah mengulas senyum, dokter menyanggupi permintaan Kimo. Pria berkumis tipis itu mulai membuka amplop hasil lebnya.


“Kimo, sambil makan?” bisik Kiara membujuk Kimo. Ia duduk berseberangan dengan Rara.


Tak lama kemudian, tiba-tiba saja Kimo menahan tangan Rara dan menurunkannya dari bahunya.


“Kamu tiduran saja. Nanti kamu kelelahan!” tegurnya lirih dan memang masih dengan nada ketus.


Rara terdiam sambil memanyunkan bibirnya. Mengenai teguran yang baru saja ia dapatkan dari Kimo, harusnya ia bahagia, atau justru sebaliknya?


Dokter yang sudah mengeluarlan lembar berisi hasil pemeriksaan darah Kimo, berdeham sesaat setelah menghela napas dalam. “Baiklah, saya akan membacakan hasilnya,” ucapnya.


Dokter tersebut tak lantas bersuara. Yang ada, ia justru mengernyit, menatap Rara dan Kimo silih berganti.


“Kenapa, Dok? Ada yang serius?” tanya Franki yang menjadi tak hanya penasaran, melainkan cemas. Jangan-jangan, kesehatan Kimo memang karena masalah serius, bukan hanya karena salah makan? Pikirnya.


Rara yang tak kalah cemas, memilih untuk tetap duduk tanpa mengindahkan titah Kimo yang memintanya untuk tiduran dengan dalih demi kesehatan Rara berikut janin di dalam rahimnya.


Kelima orang di sana, tanpa terkecuali Kiara, menjadi diam dan menatap dokter yang berdiri persis di tengah-tengah depan ranjang Kimo, dengan harap-harap cemas. Tak hanya dahi mereka yang kompak berkerut, terlepas dari mereka yang kadang menelan ludah secara kasar, sebab detak jantung mereka juga menjadi bekerja jauh di atas normal.

__ADS_1


“Dalam darah Pak Kimo terdapat kandungan misoprostol dan mifepriston. Dan biasanya, kedua obat ini digunakan untuk keperluan aborsi.” Dokter masih menatap Rara dan Kimo silih berganti. Tatapan penuh penegasan berikut rasa tegang yang turut disertai rasa tidak percaya karena terkejut.


“Namun karena obat aborsi ini dikonsumsi oleh orang yang tidak hamil dalam jumlah berlebihan, efeknya seperti yang terjadi pada Pak Kimo. Muntah berak, mual, serta pusing yang sampai disertai demam.”


“Tetapi setelah ini, semuanya akan kembali normal, apalagi Pak Kimo juga sudah mendapatkan penanganan yang tetap. Beruntung, Ibu Rara tidak sampai mengonsumsi apa yang Pak Kimo konsumsi.”


Pengakuan dokter yang baru saja terdengar, bak tamparan panas dan menciptakan rasa sakit tersendiri, jauh di lubuk hati mereka terutama Rara.


Rara yang terlihat paling terkejut sekaligus terluka detik itu juga, refleks berderai air mata, selain wanita itu yang sampai menjadi kerap menghela napas pelan demi meredam sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Terlebih, rasa sakit yang Rara rasa juga menjadi berkali-lipat, lantaran ia tahu, siapa yang memberikan makanan itu kepada Kimo. Kiara! Apakah mama mertuanya itu berharap ia turut mengonsumsi makanan yang dipesan khusus oleh Kimo, agar anak yang ada dalam kandungannya lenyap, hanya karena wanita itu tidak menyukai Rara ada dalam hidup Kimo? Namun, kenapa Kiara sangat tega kepada janjin yang juga darah daging dari anak kandungnya sendiri?


Rara benar-benar sudah tidak bisa memberikan Kiara toleransi. Bersamaan dengan kedua tangannya yang mengepal, semua kekejian Kiara dalam hidup Rara dan puncaknya mengenai obat aborsi di makanan Kimo, membuat Rara mengambil keputusan besar. Rara akan melepas hubungannya dengan Kimo, agar Kiara tak lagi memiliki alasan untuk melukai anak dalam rahimnya yang bahkan tidak tahu apa-apa mengenai kebencian wanita itu terhadapnya, berikut hubungannya dengan Kimo!


Seperginya dokter yang sampai mengusulkan kasus itu untuk dilimpahkan kepada pihak yang berwajib, menyisakan pilu dalam kebersamaan mereka. Meski tak lama kemudian, tatapan sarat kekecewaan mereka, kompak terarah bahkan menghakimi Kiara. Dari semuanya Kiara memang terlihat paling ketakutan. Wanita itu menggeragap dan tak hentinya menggeleng.


“Demi Tuhan, ... bukan Mama! Mama enggak tahu apa-apa mengenai obat itu, meski semua makanan itu memang mama yang membelinya! Pa ... Kimi .... Kimo, Ra ... tolong, percaya Mama ....” Kiara benar-benar memohon, memasang raut teraniaya sekaligus tidak bersalah.


Rara yang menjadi satu-satunya yang tidak menatap Kiara, menjadi tertunduk. Diamnya kini, dengan begitu banyak luka berikut keyakinan, semuanya akan baik-baik saja, setelah ia mengatakan keputusan besar yang baru saja ia ambil.


Tak lama kemudian, Rara menelan ludah dikarenakan tenggorokannya menjadi terasa kering. Selanjutnya, ia menghela napas dalam demi meredam sesak yang tak kunjung meninggalkan dadanya. Bahkan bukannya berkurang, sesak di dadanya justru semakin menjadi, membuatnya semakin sakit apalagi jika hanya diam.


“Jika bercerai dari Kimo menjadi satu-satunya hal yang Mama inginkan dariku, aku siap, Ma. Tapi tolong, setelah itu, ... jangan pernah mengganggu hidupku apalagi anakku lagi!” Rara mengatakan itu tanpa menatap atau sekadar melirik orang-orang di sana.


“Ma!” seru Franki lebih tepatnya membentak sang istri.


Ketika Kimo masih diam seribu bahasa, sedangkan Kimi yang kerap memastikan ekspresi Rara berikut Kimo, sampai gemetaran saking tegangnya, Kiara justru terlihat semakin ketakutan sekaligus menyedihkan. Kiara tak hentinya merintih, memohon sekaligus meyakinkan kepada mereka, bahwa dirinya tidak bersalah.


“Tolong urus semuanya segera agar tidak berlarut-larut. Agar aku juga bisa benar-benar bebas hidup bersama anakku.” Rara benar-benar sudah tidak tahan menghalau semua rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya tanpa henti. Hal tersebut juga yang membuatnya memilih angkat kaki dari kebersamaan.


“Ra!” tahan Franki yang segera berdiri dari duduknya.


Menyadari keadaan semakin tidak kondusif, Kimi segera menyusul Rara yang terus melangkah keluar tanpa mengindahkan teguran Franki. Kimi tahu, Rara pasti sudah terlampau kecewa sekaligus terluka, sampai-sampai, Rara menyerah dan mengambil keputusan besar yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh Kimi sebelumnya. Apalagi jika mengingat perjuangan Rara terhadap hubungan wanita itu dengan Kimo yang selama ini sudah sangat berat, sedangkan Rara tetap bersemangat, sabar menghadapi Kiara.


“Kak Rara ... Kak Rara ... Kakak, hanya pura-pura, kan? Kakak hanya sedang menggertak mama saja, kan?” sergah Kimi yang berhasil menahan sebelah tangan Rara, tak lama setelah Rara meninggalkan pintu ruang rawat Kimo yang juga sempat menjadi ruang Rara.


Rara berangsur mengangkat wajah berikut tatapannya. Dan hal tersebut terlihat begitu berat. Tak lama kemudian, setelah tatapannya bertemu dengan tatapan Kimi, ia segera menggeleng, menegaskan keputusannya sekaligus menepis anggapan Kimi.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2