
“Jangan memikirkan hubungan kami. Pikirkan saja hubunganmu dengan Kishi!”
Bab 17 : Hubungan
“Membahagiakannya cukup dengan hal-hal yang sangat sederhana. Namun, kenapa kamu selalu membuatnya terluka?”
Suara yang langsung menyambut Dean di panggilan teleponnya kepada Kishi, sukses membuat pemuda itu bergidik. Dean bahkan sampai refleks beranjak dari duduknya. Itu suara Rafaro, Dean sangat yakin. Namun, kenapa di waktu yang sudah terbilang larut, sudah pukul dua belas malam lewat dua puluh menit, Rafaro masih ada bersama Kishi? Kenapa justru Rafaro yang menjawab telepon Kishi?
“Jika kamu memang tidak menyukainya, katakan dan tegaskan. Jangan terus-menerus memberinya harapan. Dan satu lagi, tidak usah menghubunginya jika kamu hanya membuatnya menerka-nerka apalagi terluka!” Kali ini, Rafaro terdengar sangat marah.
“Tolong berikan teleponnya kepada Kishi,” pinta Dean yang sebisa mungkin mengendalikan rasa kesalnya.
“Untuk apa?” jawab Rafaro dari seberang sana.
“Kamu tidak perlu tahu,” balas Dean.
“Tapi mulai sekarang, aku harus tahu. Karena mulai sekarang juga, semua yang berhubungan dengan Kishi akan menjadi urusanku!” tegas Rafaro cepat. “Aku tidak bermasuk merusak hubungan baik kita. Namun jika caramu kepada Kishi terus begini, aku juga tidak bisa hanya diam saja.”
Emosi Rafaro memang terdengar jauh lebih terkontrol, tetapi jika mendengar ucapannya, Dean sadar Rafaro serius dengan ucapannya.
“Apakah kau benar-benar menyukainya?” ucap Dean kemudian. “Bukankah kau menyukai kakakku?”
“Melepaskan dan merelakan merupakan bagian dari cinta. Dan aku sedang berusaha melakukannya,” balas Rafaro dengan nada yang menjadi terdengar sumbang.
“Benarkah ...?” Dean tersenyum sarkastis. “Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi.”
“Aku sungguh tidak sabar untuk melihatnya!” balas Rafaro dari seberang sana.
Rafaro mengakhiri sambungan telepon mereka detik itu juga. Meninggalkan Dean yang menjadi gemetaran lantaran menahan rasa kesal yang luar biasa. Bahkan, tangan kanan Dean yang sampai mengendalikan ponsel sampai mencengkeramnya sangat erat.
“Apakah Rafaro tidak memiliki gadis lain selain Kishi? Kalaupun dia sudah menyerah kepada Ngi-ngie ... tapi tidak seharusnya dia mendekati Kishi!” umpat Dean dalam hatinya.
***
Rafaro masih terdiam menunggu di depan tempat tidur Kishi, ketika Kishi keluar dari kamar mandi. “Sudah? Ya sudah tidurlah.”
__ADS_1
Kishi menatap Rafaro tidak percaya. Sesabar itu, Rafaro menunggu dan terjaga untuknya yang sampai sengaja berlama-lama di kamar mandi karena Kishi juga sampai buang air besar?
“Tidur,” ucap Rafaro yang sampai melakukan gerakan wajah dan menuntun Kishi untuk segera tidur, terlebih gadis itu hanya terbengong menatapnya.
Kishi kembali memasang wajah ceria dan buru-buru menaiki tempat tidur kemudian mengambil posisi untuk tidur.
“Selamat malam, Raf. Selamat tidur dan mimpi indah!” ucap Kishi.
Rafaro mengangguk sambil mengulas senyum. “Selamat malam juga, Kishi.”
Setelah mengatakan itu, Rafaro menoleh ke nakas sebelah kanan Kishi selaku keberadaan ponsel gadis itu. Dan tanpa mengatakan perihal telepon dari Dean, pemuda itu langsung berlalu dengan kedua mug bekas cokelat yang masih menghiasi kedua tangannya.
“Selamat malam,” gumam Kishi lagi yang kemudian memejamkan kedua matanya dengan senyuman kecil yang menghiasi wajahnya. “Semoga hari besok akan lebih baik dari kemarin!” batinnya.
***
Paginya, ketika berangkat sekolah dan melewati rumah Kimo, Dean yang hari ini terlihat cukup emosional, tiba-tiba berkata, “Ngie ... bagaimana hubunganmu dengan Rafaro?”
Pelangi yang duduk di sebelah Dean, mendapati kekesalan yang seolah sedang Dean kendalikan, ketika ia menatap pemuda itu. Pun dengan Zean yang kali ini ikut dengan mereka. Zean yang duduk di sebelah sopir sampai berdiri demi melongok dan memastikan wajah Dean.
Pelangi langsung mengangguk, menatap Zean dan membenarkan anggapan bocah itu, sebelum kembali menatap Dean yang semakin cemberut.
Dean tidak menjawab. Yang ada, pemuda itu mendengkus kesal sambil bersedekap.
“Ya ... kamu jadi enggak kelihatan keren lagi kayak papa, Ean! Hahaha ... berarti aku yang paling keren!” ujar Zean kemudian yang menjadi begitu girang. Zean kembali duduk dengan benar seiring keceriaan yang menyertai bocah itu.
“Masih tentang Kishi?” tanya Pelangi yang sengaja memberanikan diri. Namun, ia melakukannya dengan hati-hati lantaran apa yang menimpa Dean kini, terbilang kenyataan langka.
Sebelumnya, Dean belum pernah terlihat semarah sekarang.
Dean menghela napas cepat di antara kegelisahan yang menyelimuti. “Apakah menurutmu, Kishi dan Rafaro bisa saling mencintai?” tanyanya kemudian dengan nada lirih sekaligus hati-hati.
Dean sengaja mengatakannya dengan suara lirih lantaran takut, Zean yang selalu ingin tahu, sampai mendengarnya. Juga, ia tetap hati-hati dalam bertanya, lantaran biar bagaimanapun Rafaro memiliki tempat spesial untuk Pelangi.
Pelangi terdiam merenung. “Kalau boleh jujur, enggak ada yang enggak mungkin, sih, De ....” Ia menatap Dean dengan wajah prihatin.
__ADS_1
“Kalau begitu, kamu dan Kim Jinnan juga tetap mungkin bisa bersama?” balas Dean memastikan masih dengan hati-hati.
“Kenapa menyamakannya dengan hubunganku dan Kim Jinnan?” gerutu Pelangi yang seketika itu juga menjadi kesal.
“Kamu yang bilang enggak ada yang enggak mungkin, kan?” balas Dean yang mulai bingung sekaligus serba salah.
“Tapi hubunganku dan Kim Jinnan, juga hubungan Kishi dengan Rafaro, itu beda. Bahkan kami memiliki hubungan yang bertolak belakang!” Pelangi berusaha meyakinkan.
“Serius, membahas Kim Jinnan, langsung membuatku kehilangan selera hidup,” keluh Pelangi kemudian sambil bersedekap dan memilih untuk menoleh ke sebelahnya. Dan di sana, mobil Kim Jinnan nyaris belok ke arah jalan yang baru mereka lewati.
Pagi ini, Pelangi memang sengaja berangkat lebih awal demi menghindari jemputan Kim Jinnan. Itu juga yang membuat mereka bisa berangkat bersama Zean yang memang selalu masuk lebih awal.
Ketika Dean melihat ke depan dan membuatnya melihat apa yang terjadi di kaca spion sisi kanan bagian depan, Dean mendapati mobil Kim Jinnan mengemudi di belakang mereka.
“Harusnya dia lebih santai, agar kamu juga tidak semakin tertekan,” gumam Dean sambil menatap prihatin Pelangi.
“Jangan memikirkan hubungan kami. Pikirkan saja hubunganmu dengan Kishi!” balas Pelangi yang masih memasang wajah murung.
Dean langsung tak berkutik.
“Kamu masih bisa mendapatkan Kishi, sedangkan aku harus susah payah kabur dari Kim Jinnan,” lanjut Pelangi yang menjadi tidak bersemangat. “Dan mulai besok, aku akan ikut papa untuk belajar mengurus perusahaan sebelum aku mulai kuliah. Jadi, mulai besok juga, kalian akan berangkat ke sekolah hanya berdua.”
Melihat Pelangi yang sekarang, Dean merasa saudara perempuannya itu menjadi semakin dewasa. Ya, cara pikir Pelangi menjadi semakin desawa. Dan tadi, Pelangi bilang, mulai besok juga, kakaknya itu akan ikut belajar mengurus perusahaan? Jika memang iya, Dean juga ingin. Dean sangat ingin fokus mengurus perusahaan!
“Ngie! Itu mobil Jinnan!” seru Zean tiba-tiba.
Dean menggeleng tak habis pikir lantaran hingga detik ini, Zean begitu mengagumi seorang Kim Jinna.
“Biarkan saja. Dia akan pergi kerja, sedangkan kita akan sekolah,” ucap Pelangi mencoba memberi Zean pengertian.
Zean yang sampai berdiri di tempat duduknya, tak hentinya menoleh ke belakang. Ya, Zean terlihat jelas mengagumi seorang Kim Jinnan.
“Asyikkkk! Ketemu Kim Jinnan lagi! Cihuy!” serak Zean sembari sibuk mengelus gaya rambutnya yang kali ini juga kembali depolesi pelumas rambut. Gaya tampilan susnan rambut Zean benar-benar mirip Kim Jinnan. Miring ke sebelah kanan dan cukup dijabrikkan.
Bersambung .....
__ADS_1
Ayooo semangat bacanya yaaa! Author juga semangat up. Jangan lupa like komennyaa. Dukung terus ceritanyaaa 😍😍😍😍