
“Aku tuh maunya yang kayak kamu. Masa iya dikasihnya sandal?!”
Bab 93 : Satu Bulan Kemudian
Akhir-akhir ini, selain kerap merasa pusing, Pelangi juga sering tiba-tiba mual, khususnya jika menghirup aroma tertentu. Dari aroma parfum, bahkan beberapa masakan khususnya yang kental dengan aroma bumbu. Sampai-sampai, akhir-akhir ini, baik Kim Jinnan maupun Pelangi sendiri juga menjadi tidak memakai parfum. Pun dengan ajudan pria yang terus mengawal Pelangi. Semua yang berhubungan dengan Pelangi benar-benar harus bebas wewangian.
Hanya saja, ketika ke tempat umum termasuk kampus layaknya sekarang, Pelangi tidak bisa membuat orang-orang untuk melakukan layaknya apa yang Pelangi mau. Jadi, berada di tengah umum layaknya sekarang juga membuat Pelangi merasa tersiksa. Karena meski Pelangi sudah mengenakan masker, aroma parfum dari teman kampus di kelasnya tetap mengganggu Pelangi, di mana kenyataan tersebut juga membuat Pelangi sulit berkosentrasi.
Kini, di tengah kenyataannya yang baru saja selesai mengikuti kelas, Pelangi sengaja mengirim pesan kepada Kim Jinnan. Akhir-akhir ini, suaminya itu memang semakin sibuk bahkan kerap pulang larut. Jadi, mengirim pesan dan menunggu pria itu menelepon lebih dulu, selalu Pelangi pilih karena Pelangi takut mengganggu.
Pelangi : Jinnan, malam ini aku mau menginap di rumah. Rasanya tambah enggak enak banget 😣
Nyatanya, setelah menunggu lebih dari lima menit pun, pesan yang Pelangi kirimkan tak kunjung menunjukkan telah dibaca oleh Kim Jinnan. Pesan tersebut masih conteng dua berwarna hitam.
“Jinnan sibuk banget, sih? Jangan-jangan, nanti malam juga pulang larut lagi?” gumam Pelangi yang menjadi sibuk mendengkus.
Dari kursi sebelah Pelangi, seorang pemuda tampan yang memiliki rahang tegas, tak hentinya mengamati. Bahkan kali ini, pemuda berbola mata biru itu sampai mendekati Pelangi, setelah selesai mengemasi buku berikut alat tulis yang ada di mejanya, ke dalam tas.
“Permisi?”
Mendengar sapaan tersebut, Pelangi yang menjadi ingin marah-marah, berangsur menengadah. Ada seorang pemuda bertubuh bidang yang sudah sampai membungkuk di hadapannya.
Ketika mendapat balasan tatapan dari Pelangi, pemuda tersebut langsung tersenyum lepas. “Namaku Arkan!” Ia begitu semringah mengangsurkan tangan kanannya dan berniat menjabat tangan Pelangi.
Pelangi mengangguk di tengah perasaannya yang masih campur aduk. Ia hanya menyalamkan kedua tangannya di dada tanpa menyalami tangan kanan pemuda tersebut. Karena selain tidak tertarik, aroma parfum paling kuat juga tercium dari pemuda tersebut.
“Aku Pelangi.”
Bukannya tersinggung, pemuda bernama Arkan tersebut justru terkagum-kagum dengan respons Pelangi yang baginya sangat peduli dengan kesehatan, terlepas dari gaya Pelangi yang baginya terbilang manis.
Arkan masih merasa semringah kendati ia harus membiarkan tangan kanannya kembali dengan hasil kosong. “Oh, iya ... aku perhatiian, kamu sedang enggak enak badan?” lanjutnya.
Pelangi hanya mengangguk lemah tanpa kembali menatap atau sekadar melirik Arkan. Yang ada, Pelangi justru diam-diam memastikan obrolan WA dengan Kim Jinnan, di mana pesan yang tadi ia kirimkan juga masih belum dibaca oleh pria itu.
“Ya sudah. Kalau gitu, kita cari makan atau minum biar kamu lebih segar, ya?” tawar Arkan kemudian.
Pelangi menggeleng. “Enggak usah, aku sudah makan kok. Bahkan masih kenyang. Makasih, ya.” Ia hanya menatap sekilas Arkan, sebelum akhirnya menyibukkan diri mengemasi buku berikut alat tulisnya di meja, ke dalam tas.
“Wah ... serius nih, cewek! Masa iya dia cuek banget sama aku? Memangnya, dia enggak kenal aku?” batin Arkan.
Setelah nyaris semua penghuni kelas berbondong-bondong meninggalkan kelas untuk pulang, hal yang sama juga akan Pelangi lakukan andai saja Arkan tak mengjalangi langkahnya.
“Aku antar kamu pulang, ya?” tawar Arkan masih usaha.
“Maaf, aku sudah ada sopir.” Pelangi masih berusaha sesantai mungkin.
“Ya ampun ... dia nyamain aku sama sopir?” batin Arkan yang sampai bergeming tak ubahnya patung.
“Maaf,” lirih Pelangi sebelum berlalu melewati Arkan.
“Sebenarnya aku suka kamu! Dari awal aku lihat kamu di pintu masuk kampus, aku langsung jatuh cinta sama kamu!” sergah Arkan dan sukses membuat langkah lawan bicaranya berhenti.
“Aku tahu nama lengkapmu. Dan semua tentang kamu.” Arkan meyakinkan Pelangi.
Pelangi berangsur balik badan dan kemudian menatap Arkan. “Dengan kata lain, seharusnya kamu juga tahu, kalau aku seorang istri?” Ia menatap pria di hadapannya penuh kepastian. Beruntung, tidak ada orang lain selain mereka. Karena bila itu sampai terjadi, Pelangi yakin Arkan akan malu untuk kenyataan sekarang.
“Apa maksudmu?” tanya Arkan lirih dengan suara yang terdengar bergetar. Arkan sampai menatap tak percawa wanita muda yang memiliki paras sangat cantik, di hadapannya.
Pelangi kembali menyalamkan kedua tangannya di dada. “Maaf ... aku seorang istri. Karena aku sudah menikah.” Pelangi berusaha sesopan mungkin.
Namun sungguh, apa yang Pelangi lakukan langsung membuat hati Arkan hancur berkeping-keping. “Kamu bercanda, kan?”
Nada suara Arkan terdengar disertai rasa kecewa bahkan luka.
“Jika kamu memang tahu semua tentangku, seharusnya aku tidak perlu menceritakan panjang lebar kepadamu. Maaf, aku harus pulang.” Pelangi berlalu sesaat setelah kembali menyalamkan kedua tangannya di depan dada.
“Masa sih? Enggak ada tanda-tanda kalau dia sudah nikah, kan?” batin Arkan.
Ketika Arkan mengejar, Pelangi sudah melangkah cukup jauh dikawal oleh ajudannya. Boleh dibiang, dari semua mahasiswa atau mahasiswi di sana, Pelangi memang menjadi satu-satunya sosok yang menyertakan ajudan di setiap kepergiannya. Karena meski untuk ke kamar mandi, wanita muda itu juga akan dikawal. Ajudan Pelangi akan terjaga tak jauh dari pintu, layaknya ketika Pelangi sedang mengikuti kelas.
Namun sungguh, Arkan tidak menyangka jika Pelangi sudah menikah. Apakah Arkan yang kecolongan? Atau, Pelangi saja yang mengada-ngada? Arkan berpikir untuk segera memastikannya.
“Ya. Aku akan mencari tahu lagi!”
__ADS_1
***
Sementara itu, di tempat yang berbeda. Di bangku tunggu yang ada di bandara, Elia masih gemetaran sambil mengatur napas pelan. Dan gadis itu membiarkan pandangannya dipenuhi kedua tangannya yang mencengkeram satu sama lain di pangkuan. Di mana tak lama setelah itu, sebotol air mineral yang tersanding dihadapannya sukses mengusik Elia.
Rafaro yang kemudian duduk di sebelah Elia, segera membukakan tutupnya. Hari ini, bersama Mofaro, Rafaro harus menjalani penerbangan untuk melanjutkan kuliahnya. Sayangnya, Elia melupakan jadwal itu, lantaran yang Elia ingat, harusnya kekasihnya terbang di hari Minggunya, bukan sabtu sekarang.
Setelah minum dan itu dibantu Rafaro, Elia yang tak segan bergelendotan pada Rafaro pun melongok ke sisi kekasihnya. Karena di belakang sana, Mofaro masih terduduk menyertai mereka.
“Mo ... bentar ih ... aku mau ngomong penting sama Rafa,” pinta Elia dengan suara lirih sekaligus sengau.
Sebenarnya, Elia sedang kurang enak badan. Sekarang saja, ia terpaksa mengenakan jaket yang awalnya sedang Rafaro kenakan. Bahkan tadi, ketika Rafaro datang menjemput ke rumah, Elia masih tidur setelah dari kemarin, gadis itu rutin meminum resep obat yang Steven berikan. Karena kesibukan Elia, gadis itu kembali terkena tifus yang boleh dibilang sudah wara-wiri menemani.
“Apaan? Ngomong tinggal ngomong. Enggak usah ada adegan berlebihan. Tuh tuh ... semua yang di sini orang. Banyak orang lain selain aku. Kenapa kamu cuma minta aku? Dan kenapa aku harus pergi?” balas Mofaro sewot.
Seperti awal kebersamaan, Mofaro masih bersedekap dan menunjukkan ekspresi kurang nyaman, tak ubahnya ekspresi yang kali ini menghiasi wajah Elia setelah mendapatkan balasan dari pemuda itu. Di mana, Elia memilih menyemayamkan wajahnya di dada Rafaro seiring kedua matanya yang terpejam, lantaran selain masih pusing, gadis itu juga masih merasa sangat lemas.
Rafaro yang masih diam, mendadak menahan tawa ketika menyadari, kedua kaki Elia mengenakan alas kaki yang berbeda. Meski masih satu ukuran, tapi kedua kaki Elia mengenakan sandal sebelah kanan semua. Satu berwarna kuning, satu lagi berwarna biru. Dan Rafaro yakin, itu terjadi lantaran tadi, Elia sangat buru-buru.
“Kenapa?” lirih Elia yang sampai membuka matanya hanya untuk menatap Rafaro.
Rafaro buru-buru menggeleng. Namun sayang, Mofaro yang duduk di belakang mereka telanjur penasaran.
“Aku antar kamu ke mobil, ya?” ujar Rafaro.
Elia segera menggeleng. “Enggak. Aku mau nunggu kamu di sini.”
“Kita tunggunya di mobil,” balas Rafaro meyakinkan.
Elia pun mengangguk setuju.
“Kalau kamu pergi, kopermu aku obral, lho, Raf!” ucap Mofaro yang langsung mengancam.
Rafaro langsung menoleh ke belakang dan membuatnya menatap kembarannya. “Jagainlah. Setengah jam lagi, kan?”
“Ogah!” balas Mofaro yang sampai memalingkan wajah.
“Elia masih sakit, Mo. Suhu udara di sini terlalu dingin.” Rafaro menatap Mofaro dengan memohon.
Karena meski tahu kembarannya itu juga mencintai Elia, tapi Rafaro yakin, Mofaro hanya membutuhkan waktu. Waktu yang akan membuat Mofaro sadar dan menemukan cinta yang lain. Di mana bisa jadi, cinta Mofaro adalah salah satu dari kalian, wahai para pembaca!
“Ya sudah. Jangan lama-lama,” ucap Mofaro tanpa melihat Rafaro maupun Elia.
“Ya sudah. Makasih.” Rafaro mulai bergegas. Ia mengenakan tas gendongnya, kemudian menuntun Elia yang sampai ia rangkul.
Ketika Elia dan Rafaro melangkah, saat itu juga Mofaro menyadari Elia memakai sandal sama. Di mana tak lama setelah itu, kedua sejoli itu mendadak berhenti melangkah. Elia dan Rafaro kompak menoleh dan menatap Mofaro.
“Bye ... Mo. Sukses, ya!” ucap Elia di tengah suaranya yang masih lemah.
“Enggak usah bye bye, kalau pakai sandal saja, kamu belum bisa!” balas Mofaro yang kembali mengomel.
Ketika Rafaro langsung tersenyum geli, Elia yang langsung memastikan juga mengalami hal serupa.
“Kok bisa, ya? Ini yang tadi bikin kamu senyum-senyum, ya?” ujar Elia sambil menengadah dan membuatnya menatap Rafaro. Kekasihnya itu masih saja sibuk menahan tawa sambil menepis tatapannya.
“Kamu mau sandalnya, Mo, satu?” ujar Elia kemudian.
“Ogah!” jawab Mofaro cepat dan kembali membuang wajah dari Elia. “Aku tuh maunya yang kayak kamu. Masa iya dikasihnya sandal?!” omelnya.
Elia tergelak, dan kenyataan tersebut juga diikuti Rafaro.
“Ya sudah Mo ... tunggu aku sama Rafa punya anak. Nanti kamu daftar jadi menantu kami!” goda Elia yang masih tertawa.
Mofaro hanya melirik sinis pada Elia, hingga Rafaro sengaja mengakhiri kebersamaan mereka.
“Heh, mulut molotof!” seru Mofaro tiba-tiba.
Elia dan Rafaro yang masih bisa mendengarnya dengan baik, berangsur memelankan langkah hingga akhirnya mereka juga kompak menoleh, setelah saling bertukar tatapan.
“Cepat sembuh! Sudah, sana pergi!” ucap Mofaro.
Elia mengangguk-angguk sambil mengulas senyum. “Makasih, Mo!”
“Iya. Sudah. Ke depannya, kamu pasti bakalan enggak bisa gangguin aku lagi. Dan aku yakin, kamu akan rindu!” Mofaro masih tidak menatap Elia maupun Rafaro.
__ADS_1
“Enggak kebalik itu?” ujar Rafaro.
Mofaro langsung melirik sebal kembarannya. “Aku juga mau cari jodoh! Masa iya, jadi obat nyamuk kalian terus?” semprotnya.
Elia langsung tergelak dan buru-buru menggunakan sebelah tangannya untuk menekap mulut.
“Sudah sana pergi, sebelum aku berubah pikiran!” tegas Mofaro dan langsung membuat kedua sejoli di hadapannya bergegas pergi.
***
“Tiga bulan lagi, kamu harus datang bersama orang tuaku.” Rafaro membukakan pintu penumpang bagian tengah untuk Elia.
“Iya. Kamu sudah mengatakan itu berulang kali.” Elia berangsur masuk, setelah sebelumnya sempat menatap kekasihnya.
“Kalau boleh, aku maunya bawa kamu sekarang.” Rafaro yang mulai frustrasi, segera menyusul masuk.
“Yang ada kamu jadi enggak fokus.” Elia mulai menyandarkan kepalanya pada sandaran tempatnya duduk.
“Justru aku jadi susah fokus, kalau jauh dari kamu.”
Pengakuan Rafaro membuat Elia yag masih terpejam, menjadi menahan tawa. Tubuh Elia sampai terguncang-guncang dibuatnya.
“Aku juga harus sekolah, kali Raf,” ucap Elia yang kemudian menyandarkan wajahnya di dada Rafaro, sesaat setelah pemuda itu mendekapnya dengan hati-hati.
“Apakah kamu sudah meminum obatmu?” tanya Rafaro.
Elia segera mengangguk.
“Kamu harus jaga pola hidupmu. Masa iya, tifus buat langganan?”
“Siapa juga yang mau langganan tifus?”
“Terapkan hidup sehat.”
“Iya. Jangan khawatir.” Lantaran Rafaro hanya diam menatapnya, Elia menambahi, “jangan bikin suasana jadi tambah sedih!”
Namun, Elia-lah yang justru sudah berlinang air mata, bersama rasa sesak yang tiba-tiba saja memenuhi dada gadis itu. Dan jauh di lubuk hatinya, Rafaro berujar, jika sebelumnya, ia belum pernah merasa berat layaknya sekarang, ketika harus pergi melanjutkan belajarnya ke luar negeri.
Rafaro membingkai wajah Elia menggunakan kedua tangannya. “Jangan menangis,” lirihnya sembari menyeka air mata Elia.
“Maunya begitu,” balas Elia yang segera menunduk.
Rafaro melayangkan kecupan kilat di sebelah pipi Elia. Namun, sebelah tangan Elia langsung mendorong wajah pemuda itu, kendati Elia tidak sampai menatap wajah Rafaro. Kembali, Rafaro mengulangnya dan terus begitu, di mana ketika pria itu sampai mencium mesra bibir Elia, sebelah tangan Elia juga buru-buru menjewer sebelah telinga Rafaro, seiring Elia yang sampai menatap Rafaro penuh peringatan.
Rafaro tergelak dan kemudian memasang wajah melas sebelum akhirnya memejamkan matanya. Dan Elia yang menjadi tersenyum geli pun memberikan kecupan kilat di sebelah wajah Rafaro.
“Ya ampun!” keluh Rafaro sebelum akhirnya mereka kembali tertawa.
***
Di apartemen, Elena sedang melihat Irene senam untuk ibu hamil. Elena melakukannya sambil menikmati susu kontak rasa stroberi. Di balkon depan ruang santai keberadaannya, Irene tengah melakukan senam. Sedangkan di belakangnya, Atala sedang membuatkan susu hamil untuk Irene.
Ada satu hal yang membuat Elena tidak baik-baik saja. Ya, mengenai Irene yang nyatanya tidak jadi menikah. Irene tidak mau menikah, dan kenyataan tersebut membuat Elena takut, hidup Atala akan semakin sibuk mengurus bahkan mengabdi kepada Irene. Terlebih tenyata, anak yang sedang Irene kandung itu anaknya Anton papa kandung Atala. Belum lama ini, Elena baru mengetahuinya.
“Apa pun itu, bahkan meski niat Atala baik sekaligus benar, ... tapi kalau aku harus terus menerus mengalah dan menjadi nomor sekian, ... rasanya, lebih baik aku mundur dari sekarang,” pikir Elena.
Lihatlah, Atala yang sudah membuatkan susu, juga langsung mengantarnya pada Irene. Dan kenyataan tersebut sungguh membuat Elena yang pencemburu, menjadi tidak tahan. Jadi, daripada Elena menorehkan luka pada keduanya, Elena memilih pergi.
Elena benar-benar pergi. Tak peduli meski selama satu bulan terakhir, Atala terus meyakinkan Elena, agar Elena tinggal di sisi pria itu.
“Memangnya ada, wanita yang mau berbagi kasih sayang dan cinta pasangannya, dengan wanita lain? Aku rasa, kalaupun ada, mereka-mereka yang seperti itu hanya dibutakan karena cinta,” pikir Elena.
Ketika Elena baru membuka pintu apartemen Atala, sesosok bertubuh tegap, memenuhi pandangannya. Dan ketika Elena memberanikan diri untuk menatap sosok tersebut, sosok tersebut langsung menatapnya aneh.
“Ini, apartemennya Atala, kan?” tanya sosok tersebut dan tidak lain Arkan.
Elena yang masih menyeruput sedotan susu kotaknya, buru-buru mengangguk, dan kemudian menurunkan susu kotaknya.
“Oh ....” Arkan terbengong-bengong, masih bingung dengan siapa Elena yang ia yakini bukan saudaranya Atala, apalagi sejauh ini, yang ia tahu, Atala anak tunggal.
Sadar pemuda di hadapannya menjadikannya fokus perhatian, Elena pun segera pamit. “Maaf, permisi.”
Ada yang membuat Arkan merasa Elena berbeda. “Ah, iyaa ... wajahnya mirip Pelangi!” gumamnya penuh kenyakinan. Sungguh, Elena memiliki garis wajah yang sama dengan Pelangi.
__ADS_1
***