
“Kalau dia mencintaiku, seharusnya dia enggak selingkuh, kan Tan? Dan seharusnya dia juga enggak ada niatan buat bunuh aku?”
Bab 77 : Teror Dari Intan
Sebenarnya, Ryunana sengaja menunggu Athan di lorong seberang apartemen pria itu tinggal. Lebih tepatnya, Ryunana ingin mencari tahu lebih jauh semua tentang Athan lantaran baginya, posisi Athan yang ahli di bidang IT sangat cocok dengannya yang berposisi sebagai penulis sekaligus pebisnis. Jadi, ketika Athan keluar dari apartemen dan tampak buru-buru, Ryunana juga langsung tancap gas.
Mengandalkan kacamata tebal besar warna cokelat berikut topi bundar lebar bak topi pantai berwarna hitam, Ryunana yang mengenakan shoulder dress selutut warna hitam, langsung bergerak cepat menguntit Athan.
“Athan mau ke mana, ya? Hari Minggu, lho. Eh iya ... hari Minggu, Athan kan, duda ... terus, dia mau ngapain?” batin Ryunana bertanya-tanya. “Lagi pula, ini baru pukul sembilan?”
Athan memasuki mal yang keberadaannya ada di bawah apartemen tempatnya tinggal. Athan sendiri memang menetap di salah satu apartemen milik perusahaan Yuan dan bahkan salah satunya sempat ditempati Keinya dan Rara.
Dari pengamatan Ryunana yang berlaku tak ubahnya detektif gadungan, Athan memasuki area yang memajang aneka boneka juga mainan anak-anak.
“Athan mau kasih hadiah buat anak-anak? Ah! Mungkin dia mau kasih hadiah ke Pelangi! Ah, iya, ya? Kenapa aku enggak mikir mendekati Pelangi buat dapat perhatian Athan?!” Ryunana begitu antusias dengan keyakinannya. Meski tiba-tiba saja, ia justru menjadi tak bersemangat. “Aku begini, ... kesannya enggak punya harga diri banget. Bukannya dikejar, ... aku malah ngejar-ngejar! Lagian, ... Athan itu mantan Keinya. Sedangkan Keinya, ... Keinya istri Yuan. Sementara Yuan ... Yuan cinta pertamaku ....”
Meski awalnya sempat optimis mendekati Athan, tetapi Ryunana justru berubah arah. Ryunana memutuskan untuk mengakhiri kegilaannya kepada Athan detik itu juga. Meski yang ada, Ryunana justru kalang kabut lantaran di hadapannya ada Ben yang digandeng mesra oleh seorang gadis muda, sedangkan di sebelah keduanya ada Shena.
Ben mendorong troli menemani Shena dan Itzy belanja keperluan mingguan. Jadilah, Ryunana buru-buru menunduk dan menggunakan topi lebarnya untuk menutupi wajah sambil berjalan melipir menghindari kebersamaan tersebut.
“Ben sudah punya calon?! Bahkan wanita itu sampai manggil tante Shena; *m*om? ... apa jangan-jangan, mereka sudah menikah?” pikir Ryunana. “Ya ampun ... secepat itu, Ben move-on dari aku?” Ryunana benar-benar tak percaya dan merasa jika hidupnya tak berguna lantaran di dunia ini tidak ada yang sungguh-sungguh peduli padanya.
“Kok bau-baunya, aku kayak mencium aroma parfum Ryunana, ya?” batin Ben yang kemudian menyisir suasana sekitar bahkan ke belakang, tetapi Ryunana sudah telanjur lari jauh.
***
Hari ini, Kimo dan Rara jadi mengunjungi makam Piera. Dan di pusara terakhir ibu mertuanya itu, Kimo sampai menitikkan air mata. Entah kenapa, Kimo tib-tiba merasa sangat nelangsa bila menyelami ingatannya selama ia amnesia, sedangkan selama itu juga, Piera selalu datang menaninya.
“Maaf jika aku masih belum menjadi suami yang baik buat Rara. Maaf juga jika aku belum bisa menjadi menantu yang baik. Namun, aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Rara,” batin Kimo.
Rara yang awalnya terpejam sambil jongkok di sebelah Kimo, menjadi terusik lantaran mendengar isak tangis dari sebelah. Dan benar saja, Kimo tengah sibuk menyeka air mata. Kimo ... pria keras kepala yang juga selalu bersikap menyebalkan itu memang memiliki hati yang hangat dan cenderung cengeng. Itu juga yang membuat Rara nyaman dan menjatuhkan pilihannya kepada Kimo. Kendati demikian, Rara pura-pura tidak tahu agar Kimo tidak malu kemudian sibuk melakukan pembelaan karena ketahuan menangis. Rara yakin Kimo akan gengsi kalau ia sampai membahas apalagi menenangkan suaminya itu.
“Setelah ini, aku ingin ke toko bunga buat Keinya dan langsung datang ke rumahnya,” ucap Rara sesaat setelah mereka selesai nyekar. Mereka berjalan pelan meninggalkan area pemakaman yang sarat kedamaian.
Sebelah tangan Kimo berangsur meraih punggung Rara yang kenudian ia rangkul tanpa menatapnya lebih dulu. “Tuh di depan ada toko bunga,”
“Itu bunga buat nyekar kali!” semprot Rara, dan Kimo langsung menyeringai jail. Rara mendapatinya lantaran ia berangsur menoleh dan menatap suaminya.
“Pulang dulu. Kalau enggak mandi lagi, seenggaknya cuci tangan dan kakimu. Itu ritual setelah nyekar biar enggak diikuti penunggu makan. Lagi pula, kamu dan Keinya sama-sama hamil. Meski mama sudah kasih tolak bala, tetapi tetap saja, kita harus menghargai budaya yang sudah ada.” Kimo mengatakan itu dengan hati berikut pikiran yang begitu santau. Entahlah, rasanya ia begitu damai setelah nyekar ke makam Piera.
“Mmm!” gumam Rara yang kemudian berdeham sambil mengangguk membalas wejangan Kimo tanpa menatap atau melirik pria itu.
Kimo menengadah, menatap bentangan langit yang pagi ini cukup mendung. Sinar mentari terhalau oleh gumpalan awan hitam tipis yang menguasai langit. “Enggak tahu kenapa, rasanya kok damai banget, ya, berada di sini?”
“Eh ...? Kamu enggak bakalan ngajak aku tinggal di sini, kan? Hanya karena kamu merasa nyaman?” Rara menatap heran Kimo yang seketika itu tertawa lepas. “Kimo, jangan ketawa begitu ... nanti penunggu makamnya minta gendong sama kamu!” ucap Rara sengaja menakut-nakuti.
“Ah, masa? Yang bener?” saut Kimo yang langsung mrnyikapi Rara dengan serius.
Menyadari Kimo langsung masuk ke dalam wejangannya, Rara pun sengaja membuat suaminya itu makin percaya. Dan jiia melihat tampang Kimo yang sampai ketar-ketir, sepertinya pria itu memang kemakan ucapannya dan memang benar-benar takut.
Rara susah payah mengendalikan tawanya dengan memipihkan bibir sambil sesekali menghela napas pelan.
__ADS_1
Ketika mereka baru keluar dari area pemakaman dan langsung menuju mobil mereka yang terparkir di tepi jalan, mereka dikejutkan oleh sosok Intan yang terjaga di depan mobil mereka. Rara benar-benar dibuat tegang karenanya. Terlebih, Intan menatap mereka dengan sorot mata tajam penuh kebencian.
“Kalian begitu bahagia di atas kesengsaraan Steffy!” ucap Intan terdengar pedas.
Kimo menarik mundur Rara sambil merogoh kunci mobil yang ia taruh di saku celana warna hitam yang dikenakan. Kemudian ia menekan tombol buka di kunci tanpa mengalihkan pandangan waspada terhadap Intan.
Setelah terdengar bunyi terbukanya tombol kunci berikut semua lampu mobil Kimo yang otomatis menyala, Kimo yang sengaja menghindarkan Intan dari Rara, langsung menuntun istrinya itu untuk masuk ke mobil. Ia tak mau pengaruh buruk Intan sampai berdampak fatal pada Rara juga anak mereka.
“Tante ada masalah apa lagi, dan apa maksud Tante berbicara seperti tadi?” tanya Kimo masih berusaha tenang, membicarakannya dengan baik-baik.
Intan melirik sinis Kimo kemudian Rara yang duduk di sebelah kemudi, sambil bersedekap. “Enggak adil rasanya jika kalian justru bahagia sedangkan Steffy harus menderita seumur hidupnya!” ucapnya.
“Jadi, Tante juga ingin menemani Steffy? Dengan cara Tante yang seperti ini dan bikin kami enggak nyaman juga cukup jadi barang bukti, ya, Tan! ... satu lagi, Steffy menerima semua itu karena dia pantas! Bahkan, dia sendiri yang membuat dirinya menerima semua ganjarannya!”
“Kimo, Steffy begitu karena dia mencintaimu!” tepis Intan sambil menatap kesal Kimo.
“Kalau dia mencintaiku, seharusnya dia enggak selingkuh, kan Tan? Dan seharusnya dia juga enggak ada niatan buat bunuh aku?” saut Kimo cepat. “Seharusnya Tante sadar, ... Steffy begitu karena dia kurang diperhatikan Tante. Maaf, ya, Tan. Lebih baik Tante urus diri tante dulu, daripada Tante sibuk nyalahin aku apalagi orang lain. Terlebih, aku dan keluargaku sudah jadi korban Steffy. Dan kami cukup tahu saja!”
“Bagaimanapun caranya, akan kupastikan kalian juga merasakan apa yang Steffy rasakan! Semua penderitaan Steffy dan kalian harus merasakannya!” tegas Intan dengan emosi yang menggebu.
Di dalam mobil, kehadiran Intan saja sudah membuat Rara nyaris jantungan. Dan melihat Intan yang sampai melotot-lotot pada Kimo penuh kekesalan, Rara menjadi diserang rasa takut yang tak berkesudahan. Intan terlihat begitu dendam kepadanya berikut Kimo. Dan sepertinya, jika dilihat dari cara wanita itu yang sampai nekat mendatangi mereka layaknya sekarang, dengan kata lain, Intan sengaja mengikuti sekaligus mengawasi mereka! Entah drama apa lagi yang akan terjadi? Rara benar-benar waswas. Baru juga ia merasa sedikit tenang, sekarang sudah harus menghadapi Intan. Dan ... tiba-tiba saja Rara teringat agenda Steffy yang sampai merusak rem mobil lamanya dan Kimo. Dengan kehadiran Intan saat ini, wanita itu tidak sampai merusak rem mobilnya juga, kan?
Kimo mulai tidak bisa menahan diri apalagi untuk tidak marah. “Pada dasarnya, aku dan keluargaku sudah tidak ada hubungan dengan Steffy. Namun karena suatu hal, Steffy justru kembali datang menyerang kami tak ubahnya pembunuh berdarah dingin. Jadi, ... jika sekarang Tante datang bahkan akan menyerang kami, Tante juga harus siap bernasib sama dengan Steffy!”
Intan tersenyum sarkastis. Dan kenyataan tersebut membuat Kimo maupun Rara yang melihatnya bak melihat bayang-bayang Steffy yang ternyata seorang pembunuh berdarah dingin.
***
“Seteven datang?” tanya Kainya heran. Sebab, selama mengenal Steven, rumah yang jarang didatangi teman terlebih Kainya memang tidak memiliki banyak teman, menjadi kerap mendapat tamu meski tidak setiap hari mengingat Steven juga sibuk.
“Bukan, Non ... tamunya wanita tua. Seusia mami. Dan saya baru lihat dia. Makanya, saya enggak kasih dia izin masuk dulu,” jawab si pekerja wanita yang kiranya berusia empat puluh tahun tersebut.
Di waktu yang sama, Daniel baru akan turun melewati anak tangga keberadaan Kainya. Hal tersebut membuat Kainya bertanya kepada adiknya itu, “Danel, kamu ada janji sama orang? Tante-tante?”
Daniel yang kali ini berpakaian santai dan terlihat siap untuk berolahraga, menjadi merenung bingung sambil terus melangkah menuju Kainya. “Aku enggak ada janji dengan siapa pun kecuali rapat nanti dan itu bareng Kai Kai?”
Dan pernyataan Daniel dibenarkan oleh pekerja rumah yang sempat memberi kabar pada Kainya, jika wanita paruh baya yang datang memang mencari Kainya.
“Jangan-jangan mamanya Steven?” tebak Daniel.
“Ah, masa, sih? Ada urusan apa? Lagi pula, kami juga belum akrab. Berkirim pesan saja jarang,” ujar Kainya.
“Namanya siapa, Bi?” tanya Daniel kemudian pada pekerjanya.
Wanita itu tak lantas menjawab. Ia terdiam dan tampak mengingat-ingat. “Kalau enggak salah namanya ibu Intan!” ucapnya kemudian penuh keyakinan.
Baik Kainya maupun Daniel kompak diam sebelum akhirnya saling tatap.
“Nama mama Steven Imelda,” ujar Kainya.
“Lah, terus, ... tente-tante itu siapa?” ujar Daniel. “Ya sudah aku temani Kakak. Kalau dia mencurigakan, mending suruh satpam buat usir.”
__ADS_1
Baik Daniel maupun Kainya memang tidak mengenali nama Intan. Namun ketika Kainya memutuskan untuk mengintip dari CCTV dan mendapati sosok Intan terjaga di depan gerbang rumah tanpa dibukakan pintu, Kainya benar-benar terkejut. Kainya dan Daniel mengenali Intan sebagai mama Steffy.
“Itu mamanya Steffy, kan? Ngapain dia ke sini?” ujar Daniel.
“Enggak tahu ini ...? Tapi sepertinya ada yang enggak beres?” Tatapan Kainya masih fokus pada sosok Intan di CCTV. Ia menerka-nerka, apa maksud Intan datang dan ingin menemuinya.
“Apakah menurutmu aku harus menemuinya?” Kainya minta pendapat Daniel.
“Sebentar ... jika melihat tante Intan yang begitu enggak bisa menerima kenyataan ketika Steffy diboyong ke rumah sakit khusus tahanan, sepertinya lebih baik Kak Kai enggak usah menemui dia deh,” balas Daniel yakin.
“Tapi aku penasaran. Ada urusan apa dia mencariku, Niel!” balas Kainya yang memang mulai gelisah.
Dalam diamnya, Daniel menimang rasa perihal kemauan Kainya. Namun tak lama setelah itu, ia menyetujui anggapan Kainya dengan syarat, ia juga harus ikut menemani Kainya demi jaga-jaga.
“Tapi aku harus mandi atau seenggaknya ganti baju dulu enggak? Keringetan begini?” tanya Kainya kemudian.
“Ya ampun ... itu tante-tante. Tante Intan. Bukan Steven jadi enggak usah jaim! Lagian keringat Kak Kai juga wangi! Sudah, ayo. Nanti jam satu ada rapat, jangan lupa! Kita enggak punya banyak waktu, Kak!” Daniel menuntun paksa Kainya, menahan kedua bahu wanita itu menyerupai merangkul.
Kainya hanya pasrah sambil menyeka keringat di sekitar wajah berikut lehernya menggunakan handuk kecil yang menghiasi sebelah bahunya.
***
Intan dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu oleh Kainya yang ditemani Daniel, secara langsung. Awalnya, Kainya dan Daniel tidak curiga wanita yang bertamu ke rumah mereka akan bermaksud jahat. Namun ketika wanita itu justru menatap mereka sambil tersenyum sarkastis, baik Daniel maupun Kainya langsung terjaga.
“Kamu Kainya, .... yang melaporkan Steffy ke polisi, kan?” tanya Intan dengan tatapan tajam berhias senyum sarkartis yang membuatnya bak seorang psikopat.
Kainya menjadi bergidik ngeri. Bahkan pintu belum sampai ditutup sedangkan Intan sedang bertamu, tetapi wanita itu langsung melayangkan pernyataan yang cukup menyelekit.
Intan berangsur duduk sambil menatap takjub langit-langit ruang keberadaannya. Di mana, baik Kainya maupun Daniel juga belum sempat menawarinya duduk.
Daniel dan Kainya saling lirik, menatap risi perihal keberadaan Intan yang mereka yakini memiliki maksud tidak baik bahkan jahat kepada mereka khususnya Kainya.
“Oh, iya?” ucap Intan kemudian sambil menatap Kainya penuh senyum menakutkan.
Kainya benar-benar takut dibuatnya.
“Kalau memang enggak ada kepentingan, lebih baik Tante pulang saja,” ujar Daniel yang menyadari Kainya mulai tidak nyaman.
Tatapan Intan langsung beralih kepada Daniel. “Kamu cuma anak pungut di sini, kan?”
Jantung Daniel seolah melesak detik itu juga. Hati Daniel menjadi terasa sangat sakit karena pernyataan Intan, seiring aliran darah Daniel yang menjadi terasa memanas. Bahkan, Daniel merasakan jika matanya langsung basah. Kendati apa yang Intan sukses membuatnya merasa sangat sedih, tetapi Daniel juga merasa sangat marah dalam waktu yang bersamaan.
“Tante Intan, ... tolong jaga ucapan Tante. Dan jika memang tidak ada kepentingan, lebih baik Tante pergi!” tegas Kainya hingga tatapan penuh senyum menakutkan Intan teralih padanya. Entah apa lagi yang akan Intan lakukan. Hanya saja, Kainya yakin, dengan aura Intan yang menebarkan ketidak nyamanan, kabar buruklah yang akan wanita itu berikan.
Bersambung ....
Selamat pagi dan selamat menjalankan aktivitas, ya! Ada yang nunggu kelanjutan cerita : Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh), atau “Menjadi Istri Tuanku”? Semoga hari ini bisa update, ya ^^
Terus ikuti dan dukung ceritanya, salam sayang,
Rositi.
__ADS_1