Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 46 : Di Kediaman Kim Jinnan


__ADS_3

“Jika kamar ibarat cerminan dari penghuninya, lantas, apakah maksud dari kekosongan kamar Jinnan, karena selama ini jiwa dan hati Jinan juga kosong? Jinnan sangat kesepian dengan apa yang menimpanya?”


Episode 46 : Kediaman Kim Jinnan


Antara percaya dan tidak percaya, apa yang telah terjadi benar-benar seperti mimpi. Semuanya berubah dalam sekejap. Status, juga apa yang akan terjadi ke depannya.


Kim Jinnan berjalan dengan tenang di antara duka yang masih menyelimuti, diikuti oleh pak Jo dan seorang ajudan. Sementara Pelangi, gadis yang telah menjadi istri Kim Jinnan itu harus pergi ke sekolah untuk menandatangani beberapa surat kelulusan sekolah. Karenanya, Kim Jinnan sengaja mengutus sopir berikut seorang ajudannya untuk mengawal Pelangi. Dan kini, yang tersisa di kediaman Kim Jinnan adalah Khatrin dan Philips selaku nenek dan kakek Pelangi.


Khatrin dan Philips melangkah cukup jauh di belakang Kim Jinnan dan rombongan. Lebih tepatnya, Kim Jinnan tidak mengetahui jika di belakangnya ada Khatrin dan Philips. Jadi, ketika pak Jo tidak sengaja menoleh ke belakang dan mendapati keberadaan Khatrin dan Philips, pria tua itu segera mengabarkannya dengan sopan kepada Kim Jinnan.


“Tuan Muda, ternyata kakek dan nenek nona Pelangi kembali datang ke sini,” bisik pak Jo sopan tepat di sebelah telinga Kim Jinnan. 


Detik itu juga, Kim Jinnan yang merasa tidak percaya, segera menghentikan langkahnya. Tepat ketika ia dan rombongan baru saja menginjakkan kaki di beranda rumah. Benar, di belakang sana ada Khatrin dan Philips yang memang baru Kim Jinnan kenal hari ini juga. Karena sebelumnya, Kim Jinnan belum pernah bertemu dengan Khatrin maupun keluarga Pelangi yang lain kecuali Athan dan Kishi.


Kim Jinnan pun segera balik badan untuk menyambut. Karena meski ia benar-benar masih berduka, tetapi menghormati sekaligus mengagungkan keluarga Pelangi juga sudah menjadi kewajibannya.


“Nek ... Kek?” sapa Jinnan sopan dan sampai menghampiri keduanya, terlebih baik Khatrin maupun Philips, sudah terbilang sepuh kendati keduanya masih lincah dalam melakukan segala sesuatunya.


Pak Jo sampai terenyuh melihat kesopanan Kim Jinnan kepada kakek nenek Pelangi, lantaran sebelumnya, pemandangan semacam itu belum pernah ia lihat ketika Kim Jinnan bersama kakek Jungsu.


“Enggak apa-apa. Nenek dan Kakek ke sini karena mama dan papa sedang banyak urusan, apalagi mama masih ada Riri yang harus sangat diawasi,” ujar Khatrin ketika Kim Jinnan sampai menggandengnya erat.


“Iya, Nek. Aku mengerti. Bahkan aku merasa sangat bersalah karena telah membuat semua orang repot.” Kim Jinnan melakukannya dengan hati-hati. Baik dalam menggandeng Khatrin, meupun Philips yang ia tuntun dengan hati-hati memasuki rumahnya.


Kim Jinnan memiliki alasan kenapa dirinya begitu ingin memperlakukan keluarga Pelangi dengan sangat istimewa. Sebab belajar dari kesalahannya di masa lalu yang telah mengabaikan waktu kebersamaannya dengan Kim Jungsu, Kim Jinnan tidak mau semua itu kembali terulang. Cukup di masa lalu saja dirinya menjadi manusia buruk, dan selebihnya, di masa yang sedang Kim Jinnan jalani sekaligus masa depan, Kim Jinnan tidak mau sampai mengulangi kesalahan.

__ADS_1


“Katakan pada Nenek, apa yang ingin kamu makan?” tanya Khatrin sarat perhatian.


Khatrin menatap Kim Jinnan penuh ketulusan. Dan kenyataan tersebut sukses membuat Kim Jinnan merasa terharu.


“Biarkan dia tidur dan istirahat dulu, baru setelah itu ia harus makan banyak” ujar Philips yang juga balas menggandeng Kim Jinnan.


Kim Jinnan tersipu. Ia merasa sangt bersyukur karena keluarga Pelangi langsung menerimanya dengan sangat


“Jadi, jika kamu masih ingin tinggal di sini untuk beberapa hari, Nenek dan Kakek akan menemani.” Khatrin, sungguh-sungguh mengatakannya lantaran kedua anak Keinya yang lain selain Dean, yaitu Zean dan Mentari, masih sangat membutuhkan perhatian Yuan dan Keinya.


“Terima kasih, Nek. Aku benar-benar tidak menyangka jika aku telah membuat banyak orang repot,” balas Kim Jinnan sopan.


Khatrin dan Philips kompak memberikan senyum tulus kepada Kim Jinnan. Senyum tulus yang juga dibalas hal serupa oleh Kim Jinnan yang silih berganti menatap mereka.


Ketika mereka memasuki ruangan di rumah Kim Jinnan, nuansa duka di sana masih terasa sangat kental. Terlebih, selain Kim Jungsu, Kim Jinnan hanya tinggal sendiri bersama pengawal berikut pekerja di sana.


Khatrin menghela napas dalam, di mana untuk ke dua kalinya, ia mengamati nuansa rumah bergaya klasik milik Kim Jinnan. Kediaman Kim Jinnan dihiasi banyak bingkai foto berisi tumbuh kembang Kim Jinnan. Dari Kim Jinnan masih bayi, hingga Kim Jinnan dewasa. Kim Jinnan dewasa yang memiliki wajah sangat tampan ditambah pria muda itu yang juga memiliki tubuh tinggi sekaligus bidang. 


Di beberapa bingkai foto berukuran besar yang tergantung menghiasi setiap sudut di ruangan, ada foto Kim Jinnan kecil bersama orang tuanya. Juga, foto Kim Jinnan dengan kakek Jungsu yang selalu mengenakan pakaian senada. Dan dari pengamatan Khatrin maupun Philips,  Kim Jinnan mewarisi ketampanan ayahnya, sedangkan senyum manis yang Kim Jinnan miliki, Kim Jinnan dapatkan dari sang mama yang terlihat sangat cantik.


“Jika Kakek dan Nenek ingin istirahat, pak Jo akan mengantar Kakek dan Nenek ke kamar.” Kim Jinnan masih bertutur sopan berikut tatapannya yang begitu tenang.


Khatrin dan Philips menghargai keteguhan hati Kim Jinnan yang masih tetap memperlakukan mereka dengan sangat baik di tengah kenyataan Kim Jinnan yang mereka yakini masih sangat berduka.


*** 

__ADS_1


Kim Jinnan sedang tidur di tempat tidurnya ketika Pelangi datang ke kamar pria itu. Kamar yang tentunya juga akan menjadi kamar Pelangi.


Pelangi menutup pintunya dengan hati-hati, sedangkan di atas tempat tidur, Kim Jinnan terbaring tanpa mengenakan selimut. Pelangi sendiri tak lagi mengenakan pakaian yang sama layaknya Kim Jinnan. Kini, Pelangi mengenakan seregam sekolah lengkap dengan tas gendong yang masih menghiasi punggungnya.


Ketika Pelangi memastikan waktu di arloji yang menghiasi tangan kirinya, ia mendapati waktu menunjukkan tepat pukul dua siang. Sedangkan menurut keterangan dari pak Jo yang Pelangi minta untuk istirahat, Kim Jinnan baru tidur sekitar setengah jam, setelah Kim Jinnan sempat menghabiskan waktu cukup lama dengan Khatrin dan Philips yang juga sedang beristirahat di kamar tamu. Jadi, malam ini, mereka akan ditemani oleh Khatrin dan Philips lantaran Keinya dan Yuan harus memantau Zean dan Mentari.


Pelangi segera melepas dan meletakkan tasnya di kursi yang ada di depan meja kerja Kim Jinnan. Meja kerja yang juga masih ada di dalam kamar Kim Jinnan dan posisinya ada di seberang tempat tidur Kim Jinnan. 


Yang cukup membuat Pelangi merasa aneh, di kamar Kim Jinnan sama sekali tidak ada pajangan meski sekadar foto. Dinding kamar Kim Jinnan benar-benar polos tanpa pajangan meski pigura berisi lukisan. Aneka koleksi mainan atau apa pun yang kerap menjadi ciri khas koleksi anak laki-laki juga tidak ada. Hanya beberapa buku bacaan yang menghiasi meja kerja selain seperangkat alat tulis dan sebuah laptop.


“Jika kamar ibarat cerminan dari penghuninya, lantas, apakah maksud dari kekosongan kamar Jinnan, karena selama ini jiwa dan hati Jinan juga kosong? Jinnan sangat kesepian dengan apa yang menimpanya?” pikir Pelangi yang menjadi semakin mengkhawatirkan keadaan Kim Jinnan.


Setelah melihat-lihat suasana kamar Kim Jinnan yang sangat luas tetapi tanpa disertai pajangan, Pelangi memutuskan untuk mencuci wajah berikut tangan dan kakinya. Pelangi berniat melakukannya di kamar mandi yang juga masih ada di dalam kamar Kim Jinnan. Tepat di lorong seberang keberadaan tempat tidur yang Kim Jinnan tepati, di sanalah keberadaan kamar mandi. Namun, baru juga akan menutup pintu kamar mandi yang baru ia masuki, Pelangi justru buru-buru lari keluar sambil berteriak memanggil nama Kim Jinnan. 


“Kim Jinnan ...?!”


Dan Kim Jinnan yang awalnya tertidur nyenyak, sampai langsung terbangun bahkan lompat dari tempat tidur.


Dengan jantung yang berdebar sangat kencang, Kim Jinnan yang masih setengah sadar seiring pening yang menyerang kepalanya, mendapati Pelangi yang terlihat sangat syok. Gadis yang baru saja ia nikahi itu sampai berkeringat dan kemudian terduduk lemas mengakhiri tatapan mereka.


Pelangi tertunduk lemas. Apa yang sebenarnya terjadi kepada Pelangi? Kim Jinnan benar-benar penasara.


Bersambung ...


Manten baru wkwkwk

__ADS_1


Kira-kira, Pelangi habis lihat apa? Kok sampai segitunya? Enggak ada yang aneh-aneh, kan, di kamar mandi Jinnan? Atau ...? Apalah 😂😂😂😂


Terus ikuti dan dukung ceritanya, ya! 🌟


__ADS_2