
“Jika aku hanya ingin melindungi sekaligus menyayanginya layaknya keluarga, haruskah aku berhenti dan tak lagi melakukannya? Elia mencintaiku, dan sepertinya, aku juga tidak seharusnya, memperhatikannya, karena itu bisa menjadi harapan palsu untuknya, seperti kata Mo?”
Bab 64 : Hubungan Rafaro dan Elia
Mofaro tak lantas masuk, kendati ia telah sedikit membuka pintu kamar Rafaro. Sebab yang Mofaro lakukan justru melongok tanpa benar-benar membuat tubuhnya masuk. Mofaro memastikan apa yang sedang kembarannya lakukan di dalam kamar, dengan perasaan yang menjadi diselimuti rasa waswas.
Di dalam kamarnya, Rafaro sedang sibuk di meja kerja. Meja kerja yang juga merangkap sebagai meja belajar. Dan di hadapan Rafaro, sebuah laptop menyala menampilkan lembar kerja berisi tabel laporan.
Yang Mofaro masalahkan, apakah di hadapan Rafaro juga ada ponsel? Adiknya itu benar-benar fokus dengan pulpen berikut dokumen, selain laptop yang tersanding, kan? Tidak sampai sibuk berkomunikasi dengan Elia?
“Aku curiga deh sama Rafa ... jangan-jangan dia ada rasa ke Elia? Kan jadi enggak enak, kalau aku suka menganiaya Elia, tapi kembaranku justru sayang sama dia!” pikir Mofaro yang sampai merasa kesal hanya karena pemikiran yang baru saja menghiasi benaknya.
“Ka Mo ... misi ... aku mau masuk,” pinta Aurora yang berusaha menyempil, menerobos tubuh Mofaro untuk memasuki kamar Rafaro.
Tentu, apa yang Aurora lakukan sukses memecahkan keseriusan si kembar. Baik Mofaro yang langsung merasa tertangkap basah, juga Rafaro yang diintip dan menjadi mencurigai apa yang awalnya sedang Mofaro lakukan, di depan pintu kamarnya?
“Rora apa-apaan, sih?!” tegur Mofaro sampai mendelik galak sekaligus gemas pada Aurora yang selalu saja menggagalkan misinya. Ya, misi terselubung tepatnya.
Meski Aurora hanya berkedip bingung menatap Mofaro yang sampai membuat bocah itu menengadah, tetapi Rafaro yang melihatnya menjadi semakin yakin, ada yang sengaja Mofaro sembunyikan darinya.
“Masuk, Mo ... enggak lucu, kan, gara-gara menahan penasaran, kamu jadi jerawatan? Kamu lupa, kalau kamu penasaran, di wajahmu bisa tumbuh banyak jerawat?” tegur Rafaro yang menyikapi kegugupan Mofaro dengan santai.
Mofaro merasa harga dirinya telah terbanting karena teguran halus yang baru saja Rafaro lontarkan. Dan demi mempertahankan harga diri yang masih tersisa, ia berusaha bersikap setenang mungkin, seiring Aurora yang langsung melewatinya begitu saja.
Berbekal buku mewarnai berikut crayon, Aurora berlari menghampiri Rafaro. Rafaro yang langsung cepat tanggap menarik kursi di sebelahnya, di mana Aurora langsung duduk di sana.
“Kak Rafa ... aku ada tugas mewarnai. Tapi mama bilang, aku mengerjakannya dengan Kak Rafa saja?” tutur Aurora yang menatap Rafaro dengan wajah tak berdosa.
Rafaro langsung menyambutnya dengan senyum hangat, seiring sebelah tangannya yang sampai membelai kepala sang adik. “Iya. Kerjakanlah. Nanti kalau ada yang Rora enggak tahu atau enggak yakin, Rora tanya sama Kakak, ya?”
Rafaro bertutur sarat perhatian bahkan cinta. Pun dengan tatapannya yang begitu dalam dan dipenuhi ketulusan. Sebuah kenyataan yang sudah menjadi kebiasaan Rafaro, dan tidak akan pernah Mofaro lakukan pada sembarang orang. Karena bagi Mofaro, berlaku baik pada semua orang, sama saja mengobral perasaan yang bisa berujung pada PHP.
“Itu kalau ke Elia jangan begitu. Tahu-tahu dia suka sama kamu!” omel Mofaro bersungut-sungut.
“Kenapa? Aku perhatikan, kamu tambah perhatian sama Elia?” Rafaro menatap bingung Mofaro yang masih saja berdiri di ambang pintu kendati kali ini, pemuda itu tak lagi menahan pintu.
Balasan Rafaro langsung membuat Mofaro gugup. Bahkan saking gugupnya, Mofaro sampai bingung harus menjawab apa. Di mana, jangankan menjawab, berucap saja lidahnya terasa sangat kelu.
“Gila, ya, semua yang berhubungan dengan Elia, selalu membuat harga diriku enggak tersisa!” batin Mofaro yang menjadi semakin kesal lantaran Rafaro justru sampai senyum-senyum menatapnya.
“Wajahmu jadi merah lho, Mo ...!” Rafaro sengaja menekap mulutnya menggunakan tangan kanan, lantaran tawanya telanjur pecah.
“Rafaro! Apaan, sih! Biasa saja kenapa?!” omel Mofaro yang merasa semakin tersudut tanpa bisa menepis apa yang Rafaro jeratkan melalui tawanya.
“Aku juga biasa!” balas Rafaro yang mulai berusaha meredam tawanya.
Lantaran masih merasa penasaran dengan hubungan Rafaro dan Elia, Mofaro pun terpaksa masuk. “Penasaran!” gumam Mofaro.
“Kak Mo, jangan berisik!” tegur Aurora yang sebenarnya sedang fokus mewarnai gambar aneka buah.
“Tuh, yang berisik si Rafa! Bukan aku!” balas Mofaro yang tidak pernah mau salah apalagi kalah.
Rafaro hanya menggeleng tak habis pikir dan kemudian sengaja menatap Mofaro, tanpa bisa mengakhiri senyumnya.
Mofaro yang bahkan sengaja mengantongi kedua tangannya di saku celana yang dikenakan, menjadi semakin tersinggung dengan cara Rafaro menatapnya. “Kamu ini kayak orang lagi jatuh cinta, tahu! Senyum-senyum terus!”
Rafaro mengangguk-angguk tanpa melakukan balasan berarti.
__ADS_1
“Tadi pagi, kamu macam-macam sama Elia, ya? Dasar tukang PHP!” lanjut Mofaro mencibir.
“Lho ... yang macam-macam kan kamu. Paha Elia sampai biru-biru gara-gara kamu, kan?” balas Rafaro meluruskan, terlepas dari ia yang menjadi tidak tega hanya karena teringat bekas biru di paha Elia.
Mofaro tak langsung berkomentar dan justru terdiam cukup lama, seiring kedua matanya yang sampai mengerling. Rafaro yakin, Mofaro sedang memikirkan hal penting.
“Sejauh mana hubungan kalian?” lanjut Mofaro dengan nada suara yang menjadi turun drastis, berikut emosinya yang juga menjadi stabil.
“Sejauh aku mengantarnya di setiap kesempatan,” ucap Rafaro yang justru tidak memberikan jawaban berarti apalagi tegas.
“Rafaro ... bukan begitu caranya jadi laki-laki. Kamu harus tegas. Suka, lanjut. Tidak, jangan PHP!” tegas Mofaro.
Rafaro yang awalnya akan balik badan dan kembali fokus dengan laptopnya, menjadi terdiam. “Bagiku ... Elia dan semua anak dari keluarga sekaligus sahabat orang tua kita, sama saja. Aku menyayangi mereka tanpa terkecuali Elia.”
“Payah!” cibir Mofaro yang langsung menatap miris Rafaro.
Rafaro mengernyit, menatap tidak mengerti Mofaro. “Apa yang salah denganku?”
“Iya, kamu payah! Kamu bahkan enggak tahu perasaanmu sendiri, padahal kamu sudah dewasa. Kamu enggak beda sama Ngi-ngie!” lanjut Mofaro mengecam kenyataan Rafaro.
Rafaro langsung diam mengasihi dirinya sendiri yang nyatanya memang belum bisa memamahi perasaannya sendiri. “Iya juga, sih?” batinnya.
Karena hingga detik ini, kehilangan Pelangi dan mengalami cinta bertepuk sebelah tangan, memang menjadi pukulan bahkan trauma tersendiri untuk Rafaro. Rafaro yang juga tidak mau apa yang dialaminya, sampai dialami orang lain, apalagi orang-orang terdekat yang sangat Rafaro sayangi. Karenanya, Rafaro selau ingin menyayangi semua orang. Meski tentu, caranya memang tidak sepenuhnya benar atau bisa dibenarkan.
“Tapi ingat, ya. Jangan dekati Elia!” tegas Mofaro lagi tanpa mengubah keadaannya yang masih berusaka ‘stay cool’.
“Kenapa?” tanya Rafaro yang langsung menatap curiga Mofaro, seiring dahinya yang menjadi semakin berkerut.
“Ya iya ... aku mau ngejar Lena! Enggak lucu, kan, kalau calon kakak iparku, justru sama kamu? Bisa ribet urusannya kalau kalian sampai dekat juga!” balas Mofaro masih dengan sikap kerasnya, kendati emosinya tak sekeras saat awal ia datang ke kamar Rafaro.
“Kayak obat nyamuk batang, ya, Kak Mo ... muter-muter enggak jelas!” timpal Aurora yang masih sibuk mewarnai.
“Obat nyamuk batang masih ada awal dan akhirannya, Rora. Kamu ini kebanyakan main sama Zhen, jadi rusak!” cibir Mofaro.
Rafaro mendelik menatap Mofaro penuh peringatan. “Bukan begitu cara menegur anak kecil!” lirihnya.
“Anak kecil apaan!” balas Mofaro yang kembali tak mau disalahkan.
Rafaro menelan ludah sambil menggeleng tak habis pikir.
“Tapi si Zean keren. Dia juga cerdas dan selalu jagain aku!” balas Aurora yang masih fokus dengan buku mewarnainya.
Rafaro memberikan isyarat agar Mofaro pergi meninggalkan kamarnya. Kemudian, ia menatap apa yang sedang Aurora lakukan. Ternyata Aurora sedang mewarnai gambar apel menggunakan crayon merah.
“Dasar! Enggak kebayang kalau kelak, Zhen beneran nikah sama Aurora dan jadi iparku! Rusak ... rusak!” gerutu Mofaro sembari melangkah kesal meninggalkan pintu kamar Rafaro yang tetap ia biarkan terbuka.
Namun seperginya Mofaro, Rafaro jadi memikirkan larangan yang kembarannya berikan, mengenai hubungan Rafaro dan Elia. “Jika aku hanya ingin melindungi sekaligus menyayanginya layaknya keluarga, haruskah aku berhenti dan tak lagi melakukannya? Elia mencintaiku, dan sepertinya, aku juga tidak seharusnya, memperhatikannya, karena itu bisa menjadi harapan palsu untuknya, seperti kata Mo?” pikir Rafaro. Mengenai Elia berikut apa yang seharusnya ia lakukan pada gadis itu, sukses membuatnya menguras banyak emosi.
***
Di kamar, Mofaro yang berangsur merebahkan tubuhnya di tengah-tengah kasur, segera mengeluarkan ponselnya dari saku sisi celana kanan. Mofaro langsung membuka aplikasi WhatsApp dan membuka ruang obrolan dengan kontak : Nenek Sihir.
Mofaro : Bagaimana?
Belum lama Mofaro mengirim pesan, Elia langsung membalas.
Nenek Sihir : Sareng saha, iye?
__ADS_1
Membaca itu, Mofaro langsung melotot kesal. Beruntung, ia mengerti maksud Elia yang membalas pesannya dengan bahasa sunda.
Mofaro : Jurig!
Nenek Sihir : Paingan ti alam gaib!
“Ya ampun ... ini maksud Elia kan pantas dari alam goib?” Kali ini, Mofaro mengernyit tak mengerti. “Tapi masa iya, Elia enggak simpan nomorku?” pikirnya. Namun tak lama setelah itu, ia kembali mengirimi Elia pesan.
Mofaro : Aku cabut paku di ubun-ubunmu, biar semua orang tahu wujud aslimu!
Nenek Sihir : Dasar jurig gelo!
Mofaro : Kamu serius mau pakai bahasa sunda terus? Aku enggak bisa banyak-banyak!
Nenek Sihir : Ya makanya jujur!
Mofaro : Calon ipar ... muehehehe
Mofaro jadi senyum-senyum sendiri setelah mengenalkan diri sebagai calon ipar kepada Elia.
Namun tak kurang dari sepuluh detik, Elia langsung membalas.
Nenek Sihir : Ini Atala?
Mofaro mengerutkan dahi. “Kok Atala sih? Apa Atala pacarnya si Elena, ya?” pikirnya.
Nenek Sihir : Ngapain kamu kirim-kirim pesan ke aku? Jangan maam-macam kalau kamu enggak mau berurusan sama aku. Kamu pikir, aku takut sama kamu? Bahkan kamu sudah dewasa, tapi kamu justru kasih pengaruh buruk ke adikku! Sudah, enggak usah rusuh!
Mofaro yang takut Elia semakin salah sangka dan membuat kesalahpahaman semakin melebar, segera menelepon Elia.
“Ini aku,” ucap Mofaro yang langsung memulai obrolan, terlepas dari Elia yang juga langsung menjawab telepon ponselnya.
“Ya ampun kamu ... buang-buang waktu saja!” keluh Elia dan terdengar sangat kesal.
“Eh ...beh, jangan dimatikan dulu! Lagian kamu kenapa, sih, enggak simpan nomor aku?” sergah Mofaro.
“Penting juga enggak simpan nomor kamu! Yang ada ponselku bisa ternoda kalau sampai simpan nomor kamu!”
“Ya ampun, kamu kejam banget, Ly!” Mofaro benar-benar tak habis pikir, kenapa Elia begitu membencinya.
“Besok, pulang sekolah, aku jemput!” sergah Mofaro sengaja memaksa.
“Enggak mau!” balas Elia cepat.
“Katanya aku suruh jadi ipar kamu?” lanjut Mofaro menagih janji sekaligus misi yang pernah Elia tawarkan. “Jadi enggak?” tagih Mofaro lantaran Elia justru mendiamkannya. “Woy, jangan pingsan, woy! Jawab!” lanjut Mofaro yang menjadi gemas sendiri.
“Berisik banget, sih? Masa iya, aku harus menerimamu sebagai iparku? Musibah iya!” balas Elia sewot.
“Lho, kok jadi berubah pikitan begitu?” keluh Mofaro.
“Intinya, besok pulang sekolah aku jemput. Karena lusanya juga, aku bakalan mulai pedekate ke Lena!” tegas Mofaro yang memang tidak menerima penawaran apalagi penolakan.
“Kok gitu, sih? Pemaksaan banget!” protes Elia yang sampai berteriak-teriak.
Akan tetapi, Mofaro yang sudah dengan keputusannya, sama sekali tidak menggubris protesan Elia. Karena uang ada, Mofaro justru langsung mengakhiri sambungan telepon mereka.
“Suara Elia, bisa-bisanya melebihi toak!” keluh Mofaro yang kemudian mengelus-elus kedua telinganya demi meredam pengang akibat suara Elia.
__ADS_1
“Sebenarnya aku malas banget berursan dengan Elia. Tapi demi deketin Lena, aku bakalan menumbalkan telinga dan kesabaranku, dalam menghadapinya!" lanjut Mofaro. Karena sesuai rencananya, besok juga, Mofaro akan pulang dari kantor lebih awal demi menjemput Elia.
Bersambung ....