
“Cinta enggak hanya hadir dari kata-kata sekaligus perlakuan manis. Karena terkadang, cinta lahir dari banyak perbedaan bahkan masalah yang justru membuat kita menemukan banyak hal baru!”
Bab 38 : Memulai Dari Awal
Dari balik pintu ruang rawat Kimo dan Rara, Steffy mengendap dan mengintip, memastikan apa yang terjadi di dalam. Pertama-tama, pandangannya menangkap sosok Rara tengah menyantap makanan dari rumah sakit dengan tidak bersemangat. Pandangan Steffy tak lantas teralih dari meja makan Rara berikut sekitar ranjang rawat istri Kimo itu. Sebab, ia benar-benar mencari hal lain selain sepiring makanan berikut sebotol air mineral yang dihiasi sedotan.
“Kok enggak ada? Terus, nasi padang sama rujaknya mana? Rara harus makan itu karena aku sudah taruh obat penggugur kandungan!” batin Steffy geregetan.
Rasa geregetan karena kesal Steffy berubah seketika, tatkala pandangannya justru mendapati apa yang dicari ada di meja makan Kimo. Steffy dibuat menelan ludah kemudian melongo menatap meja Kimo, berganti pada Kimo, saking tidak percayanya.
“Kenapa yang makan nasi padang bahkan rujaknya justry Kimo, bukan Rara?!” batinnya seiring kedua tangannya yang menjadi kesal.
Merasa usahanya menggugurkan kandungan Rara gagal, Steffy pun memilih angkat kaki.
Tak berselang lama setelah Steffy pergi, Yuan dan Keinya terlihat datang. Keduanya melangkah dengan wajah tegang, meski Yuan tak hentinya berusaha mencuri perhatian Keinya dan juga Pelangi yang diemban oleh Keinya. Sedangkan kedua ajudan Keinya, terus berjaga di belakang mereka.
***
Rara memelankan kunyahannya. Entah kenapa, tiba-tiba saja, perutnya menjadi sangat kenyang hanya karena melihat Kimo. Suaminya itu tidak bisa berhenti makan. Setelah tiga porsi nasi padang dilahap tuntas, kali ini dua porsi rujak yang dibawakan Kiara juga hampir Kimo tuntaskan. Kimo terlihat sangat menyukai kedua makanan yang pria itu pesan khusus pada Kiara. Sampai-sampai, Rara yang di sebelahnya saja sama sekali tidak ditawari. Bahkan tadi, awal Kiara mengantar nasi padang berikut rujaknya, Kimo langsung tidak sabar dan menyantapnya.
“Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Rara setelah menelan paksa makanan di dalam mulutnya yang bahkan belum sampai dikunyah sempurna.
Kimo terdiam dan menghentikan kesibukannya mengunyah, detik itu juga. Dengan mulut yang terisi penuh, ia berangsur menoleh dan menatap Rara yang baru saja menegurnya.
Wajah berikut ekspresi polos Kimo membuat Rara tidak tega. “Yang rusak cuma otak kamu, kan? Enggak sampai ke nafsu makan kamu?”
Kimo salah tingkah tanpa bisa berkomentar mendengar pertanyaan sang istri yang hingga detik ini belum juga muncul dalam ingatannya. Di mata Kimo, Rara masih orang asing yang harus ia kenali sebagai istrinya.
“Kamu makannya kayak orang kesurupan. Pelan-pelan. Buat nanti lagi. Kalau sampai sakit perut, bagaimana?” tambah Rara lagi, masih terheran-heran.
Kimo mengembuskan napas berat. Tanpa berkomentar, ia kembali menghabiskan sisa rujaknya. Mencocolkan setiap potongan buah ke sambal kacang dan melahapnya di antara perasaan senang yang kembali menyertai. Anehnya, sedari tadi ia makan, rasa kenyang tak kunjung ia dapatkan. Bahkan ketika Rara memberikan sepiring makanan wanita itu, Kimo juga ingin memilikinya andai saja ia tidak ingat, Rara sedang hamil dan butuh lebih banyak asupan gizi.
“Kamu juga harus makan! Kasihan anak ....” Kimo mendadak tidak yakin, haruskah ia melanjutkan kata-katanya? Ia ingin mengatakan: kasihan anak kita. Namun hal tersebut membuat lidahnya mendadak kelu.
“Anak kita?” saut Rara melanjutkan ucapan Kimo yang terlihat ragu sekaligus gugup.
Kimo menjadi kerap mengerjap dan menepis tatapan Rara. Apalagi ketika wanita itu tiba-tiba saja mengulurkan tangan kanan dan jelas mengajaknya bersalaman.
“Ngapain ngajak salaman? Kayak pak penghulu saja!” cibir Kimo makin terlihat gengsi.
“Kamu kan sudah pernah salaman sama pak penghulu pas kita nikah. Tapi kalau salaman sama aku, kita jarang banget. Bahkan saat awal kenalan, kita juga belum pernah kenalan secara resmi yang saling sapa apalagi sampai salaman. Cuma tuntunan dari Yuan yang mengenalkan nama kita. Itu saja.” Rara memanyunkan bibirnya, mengingat awal mula, pertemuan pertamanya dengan Kimo. Kesan pertama yang membuatnya sangat tidak nyaman, sebal, bahkan kesal pada Kimo yang baginya kasar karena gaya berbicaranya tak hanya ceplas-ceplos, melainkan pedas. Belum lagi, gaya rambut Kimo yang awut-awutan. Benar-benar tidak sedap dipandang dan sangat jauh dari kriterianya. Anehnya, kenapa ia justru menikah dengan Kimo? Bahkan semakin hari, rasa cintanya semakin besar? Terlepas dari itu, Rara juga tidak ingin berpisah bahkan hingga mereka harus menjalani kehidupan di alam selanjutnya.
“Jadi, kita harus kenalan lagi?” tanya Kimo kemudian lantaran merasa risih dengan penghakiman halus Rara.
Memang terdengar aneh, sudah menjadi suami istri, tetapi mereka memang harus kembali berkenalan karena amnesia yang menimpa Kimo.
Rara melirik Kimo dan terlihat sengaja jual mahal. Ia kembali mengulurkan tangan kanannya dan langsung disambut oleh Kimo yang juga sengaja jual mahal. Karena tak beda dengan Rara, Kimo juga hanya melirik Rara.
“Siapa namamu?” tanya Rara.
Kimo terkesiap dan menatap tak percaya wanita di sebelahnya. “Yang amnesia cuma aku, kan?” tegasnya memastikan.
Rara tersenyum geli. “Kita kan lagi kenalan,” jelasnya mengingatkan. “Semuanya dimulai dari sekarang. Karena kalau dimulai dari nol, nanti dikira SPBU!” lanjutnya sengaja berceloteh.
__ADS_1
Masih sarat gengsi, Kimo berdeham. “Kim,” ucapnya tertahan lantaran Rara tiba-tiba menghentikannya.
“Iya, aku tahu. Yang rusak kan cuma otakmu, enggak dengan kenangan kita.”
Kimo mengerutkan dahi dan cemberut. “Apakah hal seperti ini sudah biasa dalam hubungan kita? Aku jadi enggak yakin, kita benar-benar saling mencintai?” tanyanya curiga.
Rara masih menatap Kimo dengan senyuman sarat kemenangan. “Cinta enggak hanya hadir dari kata-kata sekaligus perlakuan manis. Karena terkadang, cinta lahir dari banyak perbedaan bahkan masalah yang justru membuat kita menemukan banyak hal baru! Seperti cinta kita!”
Kimo menarik mundur wajahnya sambil menatap geli Rara. “Dari kata-katamu, kamu terlihat jelas pandai merayu,” cibirnya.
Rara yang terkejut segera berkata, “ini belum seberapa, karena aku bisa lebih!” Kemudian ia mendengkus dan melirik sebal Kimo.
“Saat kamu sedang marah atau mencemaskanku, kamu selalu memanggilku dengan panggilan Flora. Tetapi ketika sedang santai, selain memanggilku Rara, kamu juga lebih sering memanggilku Sayang.” Rara mengucapkannya dengan intonasi pelan. Kemudian ia mengakhiri agenda salaman mereka setelah mendapatkan tatapan tak percaya dari Kimo. Dari wajah Kimo sekarang seperti dihiasi tulisan : Benar begitu? Aku memanggilmu Flora, Rara, bahkan Sayang?
“Aku tidak mungkin berbohong apalagi membohongimu karena aku istrimu!” omel Rara lantaran Kimo terlihat jelas tidak percaya. “Heran, efek otaknya rusak bikin dia balik jadi orang paling menyebalkan dengan segudang sikap ngeyelnya!” batinnya tak habis pikir.
“Ya sudah, cepat habiskan makanmu,” ucap Kimo yang memilih mengalah.
Rara menepisnya sambil menggeleng.
Mendapati itu, Kimo refleks menghela napas lantaran merasa tak habis pikir. Apa sebenarnya mau Rara? Mencari perhatiannya atau justru sengaja mengajak ribut? “Kenapa? Kasian anak kita. Nanti dia kelaparan bahkan kekurangan gizi!”
“Anak kita?” batin Rara yang menjadi girang. Namun hal tersebut tak lantas membuatnya mengakhiri usaha mendapatkan perhatian Kimo.
Kimo masih menatap Rara. “Ayo cepat makan!” bujuknya lirih mulai terdengar tak sabar. “Enggak suka sama makanannya?” pikirnya lantaran Rara memakan jatah makanan dari rumah sakit yang biasanya berasa ala kadarnya.
Rara menggeleng pelan kemudian mematap Kimo dengan memelas. “Suapin,” rengeknya.
Permintaan Rara sukses membuat Kimo kehilangan ekspresi. “Manja bener ...,” cibirnya lirih. Namun daripada Rara benar-benar tidak makan, ia pun meminta Rara untuk mendekat lengkap membawa piring makanannya. Di mana, karena hal tersebut juga, ia sampai mengalah duduk di tepi kasur rawatnya demi bisa menyuapi Rara.
“Besok, kita sudah boleh pulang, kan?” tanya Rara kemudian sambil mengunyah makanannya dengan pelan. Ia terus menatap Kimo. Baginya, hubungan mereka lebih cenderung memulai, bukan mencari kenangan yang telah hilang dari ingatan Kimo.
“Kamu yakin, sudah baik-baik saja?” tanya Kimo memastikan.
Rara mengangguk dengan wajah manja yang tengah menjadi andalannya menghadapi Kimo.
Tiba-tiba saja, Kimo merasa ada yang aneh dengan dirinya. Rasa mual dan pusing kembali menyerang, selain perutnya yang juga menjadi terasa panas bahkan sakit. Kimo merasa dirinya mendadak terserang diare.
Mendapati perubahan sang suami Rara pun menjadi bingung. “Kenapa?”
Kimo meletakan piring makanan milik Rara di meja Rara, kemudian mengambil tabung infusnya dan sampai setengah berlari memasuki kamar mandi di lorong sebelah.
“Kimo?” Rara tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Apalagi, selain perut Kimo sampai terdengar melilit, Kimo sampai terkentut-kentut.
Menyadari Rara akan beranjak dan meyusl, Kimo yang sudah ada di depan pintu kamar mandi segera balik badan. “Jangan ikut. Kayaknya aku mencret!”
“Kan ... lain kali makannya jangan kayak kesurupan. Ya sudah, aku langsung minta obat ke perawat,” ucap Rara yang kemudian beranjak sambil membawa tabung infusnya.
Sebenarnya, Rara sudah merasa jauh lebih baik. Pun dengan Kimo. Tetapi, hingga detik ini dokter belum mengizinkan mereka untuk pulang. Namun jika sampai besok keadaan mereka semakin membaik, Rara yakin mereka sudah boleh pulang.
***
Ketika membuka pintu ruang rawatnya, Rara dikejutkan oleh keberadaan Yuan dan Keinya yang duduk di bangku tunggu depan ruang rawatnya. Ketika Yuan memangku Pelangi, Keinya justru terdiam sedih bahkan ketakutan.
__ADS_1
“Kalian, kok di sini, enggak masuk? Kenapa? Ada masalah?” tanya Rara bingung.
Sebenarnya, Keinya baru saja mendapat kabar dari Daniel mengenai pelaku dari percobaan pembunuhan Kimo dan Rara yang sebenarnya justru Steffy. Namun, mengingat Rara yang sedang hamil, Keinya tidak mungkin membuat sahabatnya itu makin tertekan karena terlalu banyak masalah yang harus dipikirkan.
“Kita bahas di dalam saja,” ucap Yuan mengambil keputusan lantaran Keinya terlihat jelas tidak bisa berkomentar.
“Ya sudah, mending kalian masuk dulu,” balas Rara yang kemudian meninggalkan kebersamaan.
“Kamu mau ke mana, Ra?” sergah Keinya yang langsung mengikuti Rara diikuti juga oleh kedua pengawalnya.
“Mau ke perawat. Kimo mencret!” balas Rara.
“Kan tinggal telepom, atau tekan tombol perawat juga bisa,” ujar Keinya yang sampai mentertawakan balasan Rara yang terdengar sangat polos. “Lagian, kenapa si Kimo sampai bisa mencret?”
Rara segera menceritakan semuanya. Perihal Kimo yang menjadi tidak bisa berhenti makan, dan berakhir mencret.
Sedangkan yang terjadi dengan Yuan, kehadirannya yang diasambut Kimo baru saja keluar dari kamar mandi tetapi dalam keadaan terkentut-kentut, tidak bisa mengendalikan tawanya.
“Woi ... kamu kenapa?” seru Yuan di sela tawanya, ketika Kimo kembali masuk kamar mandi sambil membungkuk-bungkuk menahan perut dan bahkan sampai terbirit-birit.
Tak lama berselang bersamaan dengan datangnya Rara dan Keinya yang disertai seorang perawat perempuan, Kimo keluar dengan langkah tertatih-tatih. Sesekali selain tiba-tiba berhenti melangkah, Kimo juga sampai membungkuk. Sakit yang dirasa terlihat begitu jelas.
“Serius, sakit banget. Mencretku parah banget!” keluh Kimo.
“Kamu habis makan makanan dari luar, ya? Coba cek darah. Takut makanannya ada virusnya,” usul Yuan sambil memantau langkah cepat Pelangi yang tidak mau diam. Kendati demikian ia segera menghampiri dan memapah Kimo.
“Itu makanan dari mama. Mana mungkin mama kasih yang sembarangan,” balas Kimo.
Keinya menuntun Rara untuk kembali ke ranjang rawatnya.
“Ya siapa tahu. Apalagi penyakit sekarang gampang banget nyerangnya,” kilah Yuan.
Penjelasan Yuan makin membuat Rara makin khawatir. “Coba cek darah saja, Sus,” ujar Rara.
***
Demi menghindari polemik dengan orang tua berikut masalah Wiranto yang ia kambing hitamkan menjadi pelaku kecelakaan Kimo dan Rara, Steffy memang tak lagi tinggal di rumah orang tuanya. Terhitung dari kemarin malam, setelah menggondol semua barang berharga yang menjadi isi brankas orang tuanya, Steffy memutuskan untuk menyewa apartemen dan tinggal sendiri tanpa sepengetahuan siapa pun. Apalagi hingga detik ini, Steffy masih merasa harus berjaga dari penyelidikan polisi sebelum masalah kecelakaan Kimo dan Rara benar-benar tuntas, atau setidaknya Wiranto ditetapkan sebagai terdakwa tunggal.
Malam ini, Steffy memutuskan untuk kembali ke apartemen. Steffy memang tak lagi mengharapkan Kimo. Namun, membuat Kimo dan semua orang yang Kimo sayangi hancur, menjadi tujuan utama hidup Steffy. Apalagi semenjak sederet kegagalan usaha yang ia lakukan hari ini, sukses membuatnya kesal. Dari mendekati Kiara yang ditolak Kimi, berikut Kiara yang terlihat jelas sengaja menghindarinya, juga usahanya menggugurkan kehamilan Rara. Karena setelah susah payah membubuhkan obat penggugur kandungan di makanan yang Kiara bawa, semua makanan itu justru dimakan habis oleh Kimo. Namun yang membuat Steffy semakin kesal, kenapa di depan pintu apartemennya ada tiga orang pria bertubuh besar dan satu di antaranya terlihat mengenakan seragam polisi?
“Jangan-jangan, mereka polisi yang menyamar dan sengaja mencariku?!” gumam Steffy yang langsung ketar-ketir. Tak mau kecolongan, Steffy segera meninggalkan lokasi dengan tergesa.
Steffy bahkan sengaja mengenakan topi berikut masker wajah demi menyamarkan penampilannya.
“Demi Tuhan, kenapa hidupku jadi enggak enak begini? Kenapa juga polisi sampai tahu tempat tinggalku? Lagian, papa tega banget jujur kalau sebenarnya aku pelakunya?!” rutuk Steffy dalam hatinya. Ia terus berjalan tergesa sambil terus membungkuk tanpa mengurangi keterjagaannya.
Steffy terlihat begitu waspada dan selalu memastikan suasana sekitar lantaran takut, seseorang mengenalinya, membuatnya semakin terjepit. Namun ketika Steffy menoleh ke depan, tepat ketika ia akan melewati pintu masuk apartemen, di sana, Kainya terjaga dan menatapnya dengan tatapan tajam. Hal tersebut membuat langkah Steffy memelan dipenuhi keraguan.
“Itu istri Yuan sahabat Rara, kan? Apakah dia tetap mengenaliku meski aku sudah menutupi kepala bahkan wajahku?” batin Steffy waswas seiring tubuhnya yang kembali gemetaran. “Namun, kenapa dia menatapku seperti itu? Kalaupun dia mengenaliku, tidak seharusnya dia seperti itu, kan? Apa jangan-jangan, dia sudah tahu aku pelaku dari kecelakaa Rara dan Kimo?!” pekiknya dalam hati makin ragu melanjutkan langkah. Apalagi, keberadaan Kainya yang ia pikir Keinya, juga seolah menghadangnya lantaran posisi Kainya benar-benar menghadap padanya, membelakangi pintu masuk.
Bersambung ....
Terima kasih sudah kembali mampir di cerita Selepas Perceraian. Tetap ikuti dan dukung ceritanya, ya ^^
__ADS_1
Salam sayang,
Rositi.