
“Jangan memikirkan hal lain selain kebahagiaanmu,”
Bab 59 : Maaf
Kimo mondar-mandir di depan tempat tidurnya dengan kedua tangan tersimpan di sisi celana panjang hangat warna hitam yang dikenakan. Selain kerap menghela napas, pria bertubuh bidang itu juga kerap memejam dan mengepakkan kedua matanya.
Tak lama setelah berdeham, tangannya mengeluarkan ponsel. Jemarinya langsung bergerak cepat menghubungi salah satu nomor di menu kontak ponsel.
Diam-diam, Rara memantau curiga gerak-gerik Kimo dari balik pintu kamar Kimo yang sedikit Rara buka.
“Bagaimana? Kamu, sudah merasa lebih baik? Iya, kamu bikin aku enggak bisa tidur.”
Perbincangan Kimo langsung mendidihkan emosi Rara. Tanpa pikir panjang termasuk dirinya yang harus bedrest, Rara menendang pintu Kimo sambil menatap pria itu yang seketika itu pula menoleh dan menatapnya.
Kimo terlihat sangat terkejut dan kebingungan.
“Kimo, demi apa, aku bahkan belum memaafkanmu, tapi kami malah ....” Rara terisak-isak dan nyaris menerkam Kimo detik itu juga.
“Flora, kamu kenapa? Kenapa kamu belum tidur? Ini sudah sangat malam,” tegur Kimo masih terdengar sabar.
“Enggak usah pura-pura peduli. Enggak usah pura-pura mencemaskanku!” teriak Rara masih sangat kecewa.
Kimo terpejam pasrah. Ketika ia membuka mata, ia meletakan jari telunjuknya yang tidak menahan ponsel, meminta Rara untuk diam, sambil melangkah mendekati wanita itu.
Rara yang masih berdiri di depan pintu menepis tatapan berikut kehadiran Kimo. “Aku enggak mau mendengar alasanmu. Aku enggak mau kenal lagi sama kamu!” tukasnya sesaat sebelum berlalu.
Kimo langsung mempercepat langkahnya dan menahan sebelah tangan Rara. “Flora, sebenarnya kamu ini kenapa?” sergahnya yang kemudian mengantongi asal ponselnya.
Kimo menahan kedua bahu Rara, tetapi Rara langsung memberontak dan mencoba mengenyahkannya. “Aku enggak akan lepasin kamu sebelum kamu mendengar penjelasanku. Sebenarnya apa yang kamu pikirkan tentang aku? Bukankah aku sudah bilang, tolong katakan, jangan hanya memintaku untuk peka, karena aku memang tidak tahu apa yang ada di pikiranmu.”
“Kamu itu salah, Kimo!”
“Ya, katakan padaku, salahku di mana? Tolong, kasih tahu aku!”
“Bahkan sampai sekarang, kamu belum menyadari kesalahanmu? ... luar biasa!”
Kimo menghela napas dalam sambil menunduk, seiring tahanan kedua tangannya terhadap bahu Rara yang berangsur lepas. “Aku benar-benar pusing, Ra ...,” keluhnya yang kemudian merunduk.
Kimo berdiri menggunakan kedua lututnya sambil mendekap perut Rara. Ia menyemayamkan wajahnya di perut Rara.
Tak lama setelah itu, Rara mendengar isak tangis dari Kimo. Kimo menangis? Kenapa harus menangis kalau memang tidak bersalah? Namun, bukankah perbincangan di telepon tadi juga perbincangan mesra yang sudah cukup menjadi bukti kesalahan Kimo?
Tak lama setelah itu, ponsel Kimo krmbali berdering dan yang Rara tahu itu merupakan dering panggilan masuk. Tanpa pikir panjang, Rara langsung mengambil ponsel Kimo. Itu telepon dari Kimi.
“Kak, Rara ...,” ucap Kimi dari seberang sebelum Rara sempat memulai obrolan bahkan sekadar menyapa.
“I-iya, Kimi. Ada apa? Kok kamu belum tidur?” balas Rara terdengar hati-hati.
Kimo berangsur bangun sambil menyeka air matanya menggunakan jemari tangannya.
Kimo menatap Rara sambil mengerutkan dahi. Ia berusaha mengambil alih ponselnya dari Rara, tetapi langsung ditolak mentah-mentah.
Rara menghindari Kimo, melipir meninggalkan kamar selaku keberadaan pria itu.
__ADS_1
“Jangan salahkan Kak Kimo ... maaf kalau seharian ini, Kak Kimo enggak bisa menemani Kak Rara karena aku.”
Ucapan Kimi dari seberang membuat Rara mengernyit. “Sebenarnya ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi ke Kimo seharian ini? Kimi juga tahu kalau seharian ini, Kimo menemani Steffy?” pikir Rara yang langsung dikejutkan oleh Kimo, lantaran pria itu tiba-tiba mendekapnya dari belakang. Kimo mengambil alih ponselnya dari Rara.
“Kimi, ... tidurlah. Semuanya baik-baik saja. Kamu enggak salah. Jangan memikirkan hal lain selain kebahagiaanmu,” ucap Kimo penuh pengertian.
Rara yang masih tertahan dalam dekapan Kimo, memilih diam dan menjadi penyimak yang baik. “Kimi sakit?” pikirnya.
Dari seberang, terdengar Kimi yang terisak-isak dan Rara juga masih bisa mendengarnya. Hal tersebut semakin membuat Rara yakin, Kimi sedang tidak baik-baik saja.
“Kimi ... semua orang menyayangimu. Dengar, kecelakaan yang menimpa Steffy sama sekali bukan kesalahanmu. Itu murni kecelakaan. Itu sudah menjadi bagian dari takdir Steffy. Kamu enggak usah terus-menerus menyalahkan dirimu,” ucap Kimo dan terdengar sedang membujuk Kimi.
Rara mulai menerka-nerka perihal penyebab Kimi terdengar begitu bersedih. Mengenai kecelakaan yang menimpa Steffy memang berhubungan dengan Kimi. Steffy tertabrak truk ketika sedang menghindari kejaran Kimi, tetapi sebelum itu, Steffy sempat berusaha menyerang Kimi. Bahkan pihak mal tempat Steffy melakukan penyerangan pada Kimi, membenarkan hal tersebut, lantaran bukti rekaman CCTV memang menunjukkan Steffy yang menyerang Kimi lebih dulu.
“Kimi, tenangkan dirimu. Baiklah, sebentar lagi aku sampai. Jangan matikan teleponnya. Biarkan saja.” Kimo terus bertutur serius.
Entah mengapa, tiba-tiba Rara menjadi merinding. Kimo bahkan melarang Kimo mengakhiri sambungan telepon mereka.
Kimo melepaskan Rara. “Kamu duduk dulu. Aku mau menyiapkan semua keperluan kita. Kamu juga ikut biar kita enggak salah paham lagi,” tegas Kimo sambil berjalan tergesa meninggalkan Rara.
“Kimi ... Kimi ... dengarkan aku. Kamu baik-baik saja?”
Dari pengamatan Rara, Kimo terlihat sangat gelisah dan begitu mencemaskan Kimi. Tak mau semakin penasaran, Rara pun menyusul Kimo tanpa mengindagkan larangan pria itu.
Di kamar, sambil terus mengajak Kimi mengobrol, Kimo sedang memalah-milih pakaian Rara dan memasukkannya ke dalam koper kecil.
“Sebenarnya, apa yang terjadi?” gumam Rara semakin bingung.
***
Keinya yang sudah mengenakan piama kimino, segera menoleh, terheran-heran menatap Yuan. Awalnya, Keinya sedang menyisir rambutnya sambil duduk menghadap cermin rias, sedangkan beberapa saat lalu, Yuan baru saja menerima sambungan telepon, tetapi Keinya tidak tahu telepon itu dari siapa.
Yuan berjalan cepat menghampiri Keinya. “Sayang, subuh tadi, Kimi ditemukan overdosis di apartemen! Kimi berusaha bunuh diri karena dia merasa bersalah mengenai kecelakaan yang menimpa Steffy, apalagi tante Intan mamanya Steffy sampai meneror Kimi!”
Kali ini Keinya yang menjadi terbengong-bengong. “Ngeri ...,” lirihnya terlontar begitu saja. Ia sampai mengusap tangan berikut sekitar lehernya lantaran ia juga sampai merinding. Setahu Keinya, semenjak dikhianati Gio dan Steffy, keadaan mental Kimi memang mengalami kangguan. Kimi bahkan sempat berusaha bunuh diri.
Keinya menelan ludah kemudian membasahi bibirnya. “Terus, yang kamu maksud kalau kita salah besar, apa?”
Yuan mengerutkan dahi. Ia tak lantas membalas Keinya, tetapi ia berangsur jongkok di hadapan Keinya, menyelaraskan tinggi mereka. “Begini,” ucapnya kemudian dan terlihat sangat serius. “Seharian ini, Kimo menjaga Kimi di rumah sakit. Sedangkan ketika Kimo baru akan pulang, Kimo justru berpapasan dengan tante Kiara yang sudah sekarat. Tante Kiara sakit parah, Sayang.”
Keinya yang mengangguk-angguk pelan, meresapi cerita Yuan. “Akhirnya, kena azab juga tuh si Mak Lampir!” celetuk Keinya begitu saja.
Yuan mengerutkan dahi sambil mengerucutkan bibirnya, menatap tidak yakin Keinya perihal apa yang baru saja terlontar dari mulut istrinya.
Kendati demikian, Keinya justru tersenyum lebar sambil mengalungkan kedua tangannya pada tengkuk Yuan. “Aku bahagia, Yu! Sangat bahagia, karena akhirnya, tante Kiara kena azab!” tegas Keinya mantap.
“Hus! Enggak boleh gitu!” tegur Yuan sambil menatap Keinya penuh peringatan.
“Biarin. Sudah, masalah tante Kiara di-skip saja. Enggak usah dipusingin. Percaya, deh, ... kalau orang-orang yang tahu kasus Rara sama tante Kiara sampai dengar kabar ini, mereka juga pasti langsung bahagia bahkan bisa-bisa potong tumpeng!” balas Keinya dengan entengnya dan sukses membuat Yuan tertawa.
“Eh, jadi ... kita sudah salah sangka ke Kimo?” ucap Keinya kemudian dan sukses mengakhiri tawa Yuan.
Yuan mengangguk dengan raut yang menjadi dihiasi penyesalan.
__ADS_1
“Ya Tuhan ... padahal tadi aku sudah kejam banget, ke Kimo, Yu.”
“Aku juga jadi merasa sangat bersalah, sama Kimo.” Yuan menghela napas pelan. Ia benar-benar menyesal. Sebagai sahabat Kimo, seharusnya ia lebih sabar dan memberi sahabatnya itu kesempatan untuk menjelaskan.
Keinya menjadi harap-harap cemas. “Tapi, ... Rara tahu, enggak?”
Yuan menggeleng dan berangsur menatap Keinya. “Kayaknya Kimo sengaja merahasiakan ini dari Rara. Kita sama-sama tahu kesehatan Rara.”
“Tapi seharusnya Kimo jujur daripada Rara salah sangka dan efeknya lebih fatal. Niatnya menjaga, malah salah kaprah?” sesal Keinya.
Yuan mengangguk, mengiyakan anggapan Rara.
“Ya sudah. Biar aku yang kasih tahu Rara, sekalian aku juga mau minta maaf ke Kimo.”
Yuan kembali mengangguk kemudian beranjak, meninggalkan Keinya dan mulai merebahkan tubuhnya di tengah-tengah kasur. “Kimo, maafkan aku ...,” batin Yuan sembari terpejam.
***
Di depan rumah, Rara digandeng Kimo yang masih berbincang di telepon dengan Kimi. Sebuah koper kecil yang menjadi penampung barang-barang mereka, juga menyertai mereka dan ada di sisi Kimo. Mereka sedang menunggu kedatangan taksi online yang sebelumnya dipesan menggunakan ponsel Rara, mengingat ponsel Kimo masih terhubung panggilan dengan Kimi. Sesuai tujuan taksi yang mereka pesan, mereka akan pergi ke salah satu rumah sakit di kawasan Jakarta Selatan dan letaknya cukup jauh dari rumah mereka. Butuh waktu sekitar satu setengah jam dari rumah mereka untuk sampai ke sana.
Dan sampai detik ini, Rara memilih diam tanpa membahas perihal kecurigaannya kepada Kimo, apalagi Kimo sibuk membujuk Kimi. Namun jika mencermati perbincangan Kimo dan Kimi, seharian ini Kimo sibuk menjaga Kimi berikut Kiara yang sepertinya dirawat di rumah sakit yang sama dengan Kimi.
Ketika Rara semakin bertanya-tanya dan sibuk menyimpulkan sendiri perihal apa yang terjadi, dering ponsel tanda pesan masuk miliknya, dan ia genggan di tangan yang tidak Kimo gandeng, berhasil mengusik wanita itu.
Awalnya, Rara berpikir itu dari sopir taksi online yang mengabarinya, tetapi ternyata itu dari Keinya.
Keinya : Ra, kita salah. Kita hanya salah sangka, karena sebenarnya, seharian ini Kimo sibuk mengurus Kimi dan si maklampir mertuamu. Mereka sakit. Tapi kamu jangan sampa kepikiran, ya. Kamu benar-benar harus rileks. Santai!
Pesan dari Keinya membuat dada Rara kebas. Rasa bersalah yang begitu besar juga sampai membuat Rara genetaran. Dengan perasaan yang menjadi campur aduk, berikut air mata yang kembali berlinang, Rara langsung menengadah, menatap Kimo. “Maaf!” ucapnya.
Kimo bengong, kebingungan menatap Rara. “Kamu kenapa? Ada apa lagi?” tanya Kimo cemas dan memang awalnya masih berbincang dengan Kimi.
Bukannya menjawab, Rara justu memeluk erat Kimo sambil sesekali menggeleng. “Maaf! Tapi lain kali kamu harus jujur ke aku, biar aku enggak salah paham lagi! Kita harus sama-sama jujur, saling berbagi bahkan beban sekalipun karena itulah gunanya pasangan!” tambah Rara yang malah terisak-isak.
Meski semakin tidak mengerti, tetapi cara Rara bersikap kali ini, jelas karena wanitanya itu menyesali suatu hal. Rara sedang mengungkapkan rasa sayangnya kepada Kimo!
“Memangnya, kapan aku marah? Jujur saja, ... aku juga enggak tahu, kenapa aku enggak bisa marah sama kamu kecuali,” ucap Kimo dan sengaja menundanya.
“Kecuali apa?” tanya Rara sambil menengadah di dada Kimo tanpa mengakhiri dekapannya.
“Kamu melakukan hal yang melukaimu, dan ... genit-genitan sama pria lain!” Untuk yang terakhir, Kimo mengatakannya dengan nada suara bawel yang sudah menjadi ciri khasnya.
Rara tertawa di antara linangan air matanya dan kembali memeluk Kimo lebih erat. “Ahh ... ini benar-benar suamiku. Kimoku. Si Otak rusakku ... ahh ... setelah ini, aku mohon sudah. Cukup. Kita enggak boleh salah paham, apalagi marah-marah lagi ...,” raungnya sambil tersenyum sekaligus terisak-isak.
Kimo yang mesem juga sampai menitikkan air mata. “Benarkah, aku sudah kembali menjadi Kimo, suaminya?” batinnya merasa terharu sekaligus terenyuh. Kemudian, ia balas memeluk Rara dan tak kalah erat.
Di antara embusan angin malam yang masih menebarkan rona basah sisa hujan beberapa saat lalu, Rara seolah mendapatkan sesuatu yang hilang dari hidupnya. Sesuatu yang hilang setelah kecelakaan yang membuat Kimo amnesia. Ya, sesuatu yang hilang dan itu perasaan Kimo terhadapnya. Dan jika memang Kimo tidak bisa mengingatnya berikut hubungan mereka, seperti kata Kimo, tidak ada salahnya mereka memulai hubungan mereka dari awal, tanpa harus menunggu Kimo kembali memiliki ingatannya.
Bersambung ....
Sudah, ya, jangan salahkan siapa-siapa apalagi Kimo. Yang salah Author, sudah gitu saja. Maaf ^^
Tetap dukung ceritanya, ya. Sampai akhir. 5 Episode lagilah ^^
__ADS_1
Salam sayang,
Rositi.