
"Siap enggak siap, kamu harus siap. Karena menikahkan anak juga bagian dari tugas orang tua!"
Bab 43 : Pelangi Akan Menikah?
Khatrin sedang menyeduh teh celup di dapur, ketika Kainya datang menyapa dan langsung melayangkan ciuman di sebelah pipinya.
“Ya ampun, kamu ini kebiasaan, Kai. Steven sudah keliling benua, kamu malah baru bangun bahkan belum mandi berantakan seperti itu?” keluh Khatrin.
Kainya yang masih mengenakan daster dengan susunan rambut tercepol tinggi sekaligus asal, menanggapi teguran Khatrin dengan senyum santai.
“Semalaman Shean nangis terus, Mi. Kaget suasana baru, kayaknya. Makanya aku juga enggak bisa tidur,” balas Kainya yang sudah memunggungi Khatrin.
Di wastafel belakang Khatrin, Kainya berangsur mencuci botol susu yang ia bawa.
“Mami yakin, bukan hanya kamu yang enggak bisa tidur, karena Steven juga enggak bisa tidur, kan?” tanggap Khatrin dan langsung dibalas gelak tawa oleh Kainya.
“Tuh lihat, ... Steven sudah sampai bikinin kalian sarapan. Nasi goreng yang prosesnya benar-benar dia yang urus. Dari masak nasi sama motong sayuran dan daging, buat isinya.” Khatrin mengatakan hal tersebut, agar Kainya lebih disiplin dalam menjadi seorang istri. "Mami sampai maaf-maaf ke suamimu karena Mami takut, kamu enggak pernah minta maaf apalagi terima kasih. Kamu harus bersyukur lho, punya suami kayak Steven."
"Iya, aku tahu, Mi. Memang kebiasaan Steven seperti itu, kan? Steven sudah terbiasa mengurus keluarga." Dan Kainya benar-benar tidak mempermasalahkan tanggapan Khatrin yang jelas sedang menyindirnya secara halus.
"Mulai dibiasakan urus suami sama anak, Kai. Keinya juga seperti itu. Sudah jago masak tuh, adikmu. Karena meski suami kita sama-sama memperlakukan kita seperti ratu, tetapi kita juga harus kasih timbal balik buat mereka. Masakin masakan kesukaan mereka, contohnya." Khatrin mulai mengaduk teg celupnya yang baru saja ia bubuhi satu sendok teh gula pasir.
Dibanding Keinya yang jika bepergian tanpa Yuan selalu dikawal ajudan, mengenai mengurus keluarga dan memasak, Kainya memang kalah jauh. Kainya benar-benar tidak pernah memasak dan hanya fokus mengurus anak. Itu pun selalu dibantu Steven, karena selain penyabar sekaligus penyayang, Steven tipikal cekatan dalam mengurus anak. Boleh dibilang, Steven tipikal bapak rumah tangga yang baik, sedangkan Kainya yang sudah telanjur merasa lelah mengurus anaknya, sengaja memanfaatkan keadaan Steven yang terlalu perhatian, untuk menjadi wanita sekaligus istri yang sangat manja.
Kainya dan Steven sendiri sudah memiliki tiga orang anak dari pernikahan mereka yang sudah berlangsung selama tujuh belas tahun. Anak pertama dan kedua mereka kembar perempuan bernama Elia dan Elena, dan usianya seumuran Kishi, sedangkan yang terakhir laki-laki, bernama Shean dan usianya masih berusia tiga tahun.
"Justru Steven bakalan marah kalau aku banyak aktivitas, Mi. Huh, Mami enggak tahu sih, kalau Steven sampai marah!" keluh Kainya.
"Masa iya, orang kayak Steven bisa marah?" saut Khatrin yang kemudian menatap penasaran Kainya sembari menyesap tehnya.
"Ya ampun, ... Mami masih enggak percaya juga?" ujar Kainya dan langsung membuat Khatrin yang menjadi mengerutkan dahi, mengangguk pelan.
"Serius." Dan Khatrin benar-benar serius dengan tanggapannya. Ia mengangguk sambil menatap serius Kainya.
Kainya yang baru saja selesai mencuci botol, segera mengangguk serius, masih berusaha meyakinkan Khatrin. "Iya! Kalau Steven marah, dia bakalan cium sama peluk-peluk aku!" Dan kemudian, ia tertawa lepas merayakan kemenangannya hingga membuat Khatrin menggerutu.
"Dasar kamu, Kai ... Kai ... Mami sudah serius, juga."
"Eh, tapi, Mi ... Minggu besok, Keinya sama anak-anaknya nginep di sini, kan?" sambung Kainya.
"Entahlah. Harusnya sih kalau enggak ada urusan, mereka menginap di sini, soalnya kamu kan juga sudah ke sini."
__ADS_1
Biasanya, jika tidak ada urusan, hampir setiap seminggu atau dua minggu sekali, Keinya, Kainya, berikut Daniel memang akan memboyong keluarga mereka untuk menginap di rumah Khatrin. Mereka akan menghabiskan waktu bersama. Entah sengaja masak-masak besar dan menyantapnya bersama, atau pergi ke puncak dan berliburan bersama.
"Aku kangen Zean, Mi ...!" Kainya tak kuasa menahan tawanya jika sudah membahas Zean. Zean yang baginya sudah bisa berpikir melebihi orang dewasa, terlepas dari gaya Zean yang bahkan tidak mau bermain dengan teman sebaya, kecuali bermain dengan Aurora yang diakui Zean sebagai calon pacarnya di masa depan.
Dan tak beda dengan Kainya, Khatrin yang selalu gemas dengan ulah Zean, juga sampai menepikan cangkir tehnya. Khatrin memegangi perutnya lantaran semua tentang Zean memang selalu membuatnya tertawa hingga perutnya terasa kaku dan sakit.
"Enggak tahu itu anak mirip siapa. Sifatnya sudah kayak kakek-kakek. Tapi papi sayang banget sama dia. Sering, papi minta Mami buat jemput Zean. Apalagi semenjak Daniel menikah dan rumah tambah sepi."
Membahas Daniel, raut Khatrin menjadi diselimuti kesedihan. Kainya segera menaruh botol susunya di rak piring yang ada di sebelahnya kemudian mendekap erat tubuh Khatrin yang semakin sepuh. Rambut Khatrin saja sudah berubah menjadi uban semua.
"Yang penting Mami dikasih banyak cucu juga, kan, sama Daniel? Nanti deh, aku bilang ke Daniel, biar dia tetap di sini daripada tinggal di apartemen," ucap Kainya berusaha membujuk Khatri. Ia sampai menciumi pipi Khatrin yang sudah dipenuhi kerutan.
"Dia bilang sengaja di apartemen, biar bisa pacaran terus. Biar enggak ada yang ganggu dan selalu merasa jadi pengantin baru." Khatrin mengakhiri ucapannya dengan gelak tawa geli. Apalagi, bersamaan dengan itu, ia juga ingat gaya genit Daniel yang akan selalu mengedipkan sebelah tangannya dan sengaja menggoda.
Padahal jauh di lubuk hatinya, Kainya tahu alasan Daniel tidak mau tinggal di rumah besar keluarga mereka. Bukan karena Daniel yang sudah memiliki dua orang anak, ingin selalu menjadi pengantin baru dengan istrinya. Melainkan karena Daniel merasa sungkan pada Kainya dan Keinya yang bagi Daniel lebih pantas mendapatkan rumah berikut semua aset keluarga. Daniel melakukan hal tersebut lantaran Daniel yang hanya sebatas anak angkat, merasa tidak pantas memiliki semua itu.
"Sudah enggak apa-apa. Mami enggak usah sesedih ini. Nanti aku kasih cucu lagi deh, yang kayak Zean. Nanti aku request ke Steven, biar anak selanjutnya mirip Zean!" hibur Kainya yang sampai tersenyum lepas menatap Khatrin penuh keyakinan.
"Kalau gitu caranya, mending kamu enggak usah kasih Mami cucu lagi. Kasihan Steven, pasti dia yang tambah repot harus ngurusin warga seerte!" cibir Khatrin dan sukses membuat Kainya tertawa lepas sebelum akhirnya kembali mendekap hangat Khatrin.
"Kami semua sayang Mami. Jadi, Mami sama papi harus sehat-sehat terus, ya." Kainya, merasa selalu belum siap jika cepat atau lambat, Khatrin dan Philips sampai sakit dan tak sesehat sekarang. Terlebih, jika Kainya harus membayangkan perpisahan dan kematian. Kainya benar-benar tak sanggup meski hanya membayangkan.
Ketika Khatrin nyaris berlalu dari dapur, ponselnya yang tertinggal di meja dapur berdering. Dering telepon masuk.
"Iya, coba dijawab, ada apa?" balas Khatrin yang detik itu juga sampai menjadi kembali ke dapur dan siap menyimak telepon dari Keinya.
"Iya, Kei, ada apa? Mami? Ini ... memangnya ada apa?" jawab Kainya santai.
"Mami sehat, kan?" balas Keinya dari seberang.
"Ya sehat. Kok aneh gitu pertanyaanmu? Sini, gih. Aku sudah di sini. Sengaja datang lebih awal biar bisa semakin lama sama kalian," balas Kainya.
"Kai. Dengar ... hari ini juga, nanti, sekitar pukul sebelas siang, ... Ngi-Ngie ...."
Ucapan Keinya dari seberang terdengar menggantung.
"Ngi-Ngie? Oh ... dia mau wisuda SMA, ya, pukul sebelas siang? Oke, deh. Aku ikut, biar sekalian cari pengalaman pas nanti Elia sama Elena wisuda." Kainya mengatakannya sambil tersenyum semangat kepada Khatrin yangjuga membalasnya dengan senyum semangat bahkan mengangguk setuju.
Khatrin melakukannya sembari menyesap tehnya yang masih mengepulkan asap.
"K-kai ... Ngi-Ngie bukan akan wisuda," balas Keinya dari seberang.
__ADS_1
"Lho, terus mau ngapain? Magang di perusahaan? Apa mau kuliah di luar negeri?" balas Kainya yang menjadi menebak-nebak. Kenyataan yang juga membuat Khatrin mengernyit penasaran.
"Ngi-Ngie, mau nikah, Kai!" balas Keinya dengan suara yang menjadi sampai terdengar sengau.
"N-nikah?!" ulang Kainya tak percaya. Kainya takut dirinya salah dengar.
Akan tetapi, apa yang terjadi pada Kainya, sukses membuat Khatrin nyaris tersedak. Khatrin bahkan sampai menepikan cangkir tehnya.
"Iya, Kai. Siang ini juga, Ngi-Ngie akan menikah!" tegas Keinya dari seberang.
"S-serius, kamu?! Kok bisa? Kamu kecolongan, apa bagaimana?!" balas Kainya yang justru marah-marah pada Keinya. "Kamu ini bagaimana sih, Kei? Yuan juga! Bisa-bisanya kecolongan! Ngi-ngie baru sembilan belas tahun. Enggak kebayang, di usianya yang masih sangat belia, Ngi-Ngie harus melahirkan! Ya ampun ... aku saja lahiran di usia matang, sakitnya bikin tobat!"
Kainya memarahi Keinya habis-habisan. Lain halnya dengan Khatrin yang memilih menarik salah satu kursi di sana lantaran apa yang Kainya dan Keinya bahas, sukses membuat tubuhnya kebas. Khatrin sampai sempoyongan seiring vertigo yang juga mendadak menyerang.
"Sembarangan kamu, Kai! Enggak ada yang kecolongan. Hanya saja, karenena kakeknya calon suami Ngi-ngie meninggal, sedangkan selain kakek, calon Ngi-ngie, sudah enggak punya siapa-siapa lagi. Jadi, hari ini juga, sebelum dimakamkan, kami sepakat untuk menikahkan mereka. Ijab dulu."
Dari seberang, Keinya menjelaskan perkara yang terjadi dengan suara yang terdengar sengau. Dan lantaran Kainya sengaja mengeraskan suara sambungan telepon, Khatrin pun bisa mendengarkan penjelasan anaknya itu dengan sangat jelas. Khatrin bisa mendengar kesedihan yang begitu kuat dari kenyataan tersebut. Bahkan, Khatrin yakin, kenyataan kini sangat membuat Keinya sekeluarga trauma.
"Mami pasti datang, Kei. Mami yakin, kamu dan Yuan sudah mengambil keputusan yang terbaik. Enggak usah takut apalagi panik. Dijalani saja, ya?" ucap Khatrin dengan hati yang terenyuh.
Kini, dada Khatrin seolah ada banyak benda tajam yang tiba-tiba menyerang, menghunjamnya tanpa henti, hingga rasa sakit itu terasa semakin menggeliat.
"Kamu yang kuat. Jangan sampai setres." Khatrin menambahi. Meski yang ada, dari seberang justru menjadi terdengar isak tangis.
"Iya, Mi ... Yuan juga bilang begitu. Aku begini karena aku cukup syok. Ini terlalu cepat."
Mendengar balasan Keinya, Kainya yang sedari awal sibuk menggoda Khatrin, juga menjadi tertunduk sedih seiring butiran air mata yang lumer membasahi pipinya.
"Siap enggak siap, kamu harus siap. Karena menikahkan anak juga bagian dari tugas orang tua!" tegas Khatrin yang sukses membuat Kainya merinding.
"Sumpah ... kok jadi sesedih ini, ya? Enggak kebayang jadi Keinya, harus tiba-tiba menikahkan Ngi-ngie. Namun, ... aku juga bakal mengalami," batin Kainya.
Nuansa kebersamaan Kainya dan Khatrin menjadi hening. Kedua wanita itu sama-sama dilema setelah telepon Keinya berakhir. Dan demi meredamnya, Kainya pun merengkuh tubuh Khatrin yang masih terduduk loyo.
"Ini kabar bahagia, Mi. Kita harus sama-sama dukung Keinya dan Ngi-ngie. Kita harus bahagia dan mendukung mereka." Kainya mengakhiri ucapannya dengan kecupan dalam yang ia layangkan di kening Khatrin.
Khatrin yang masih tertunduk berangsur mengangguk sembari memejamkan pasrah kedua matanya. "Iya. Ini kabar bahagia. Kita harus mendukung mereka."
Bersambung ....
Maaf, ya, telat. Anak Author ngamuk melulu. Enggak bisa fokus nulis jadinya.
__ADS_1
Hmmm, Kainya sama Khatrin saja terpukul, mendengar kabar Pelangi akan menikah. Bagaimana dengan si kembar? Jadi enggak tega bayangin apalagi nulisnya. Tapi ada kembar anaknya Kainya, kan? ^^ Siapa tahu, mereka jodoh di masa depan ^^
Terus ikuti dan dukung ceritanya, ya. Oh, iya ... yang belum baca : Perfect Pasutri (Menjadi Istri Tuanku Season 2) di Dreameatau Innovel, yuk dibaca kisah lanjutan Rafael dan Fina. Juga, Ipul dan Rena, tentunya, Keandra dan Rina juga ^^. Kalau kalian kesulitan menemukan ceritanya, cari dengan kata kunci : Rositi. Itu profil author dan enggak ada yang ngembarin ^^