
“Dan sejahat-jahatnya manusia, adalah seorang ibu yang menelantarkan anaknya!”
Bab 8 : Piera, Sang Penggoda
“Anda benar-benar Ibu Rara?” tanya Kainya memecahkan keheningan lantaran baik Piera atau Ben yang mengundang wanita itu, tidak ada yang mau memilai pembicaraan. Atau, karena Kainya saja yang tidak sabar saking penasarannya.
Piera mulai risi. Gelisah menggeliat dal batinnya dan membuatnya tidak nyaman. Mendapati itu, Kainya langsung bisa mengambil kesimpulan. Fakta dari Ben yang mengatakan Piera ibu kandung Rara, juga mengenai garis wajah Rara dan Piera yang begitu mirip.
“Seorang ibu tidak akan menelantarkan anaknya, kan?” Kainya tersenyum sarkastis.
“Nyonya Yuan, jaga ucapanmu!” Piera angkat bicara.
“Aku bukan Keinya. Aku Kainya dan tidak ada sangkut pautnya dengan mereka!” tegas Kainya kesal lantaran lagi-lagi dianggap Keinya.
“Dia memang Kainya, putri pertama Tuan Philips dan Nyonya Khatrin, Nyonya Piera.” Ben membenarkan.
“Dan sejahat-jahatnya manusia, adalah seorang ibu yang menelantarkan anaknya!” tegas Kainya segera setelah Ben membenarkan jati dirinya.
Piera terdiam dengan rasa panas yang menguasai aliran darahnya. Tatapannya memang sempat menajam pada wanita yang dikata Ben merupakan kembaran Keinya istri Yuan Fahreza.
Mendapati itu, Kainya segera menatap Ben. “Menjadikannya sebagai hadiah pernikahan berkesan untuk pernikahan Rara?” Ia tersenyum sarkastis dan terkekeh menyepelekan pada Piera. “Meski aku yakin Anda akan menemuinya suatu saat nanti, tetapi aku juga yakin, Anda melakukannya karena Anda sudah tidak memiliki tujuan. Ibarat sumur yang rela mengejar timbanya, itulah orang seperti Anda.”
Piera tetap bungkam dengan keadaannya. Bahkan tak lama kemudian, ia tertunduk sambil menghela napas pelan.
“Saranku,” sergah Kainya sambil berdiri. “Daripada Anda mendatangi Rara ketika Anda tidak mempunyai tujuan, lebih baik Anda tidak pernah datang padanya! Karena bukan seorang ibu namanya jika dia hidup dengan kemewahan, tetapi menelantarkan anaknya yang harus hidup susah!”
Kainya bergegas pergi sesaat setelah menghakimi Piera. Namun belum juga genap dua langkah, sebelah tangan Ben menahan sebelah tangannya.
Tanpa menatap Ben, Kainya mengenyahkan tahanan tangan pria itu.
Senyap. Baik Ben maupun Piera tidak ada yang memulai atau melanjutkan pembicaraan. Hanya saja, keduanya sama-sama terlihat berduka, wajah yang dipenuhi beban. Tidak ada semangat apalagi gairah yang menyelimuti.
“Orang lain saja bisa semarah dan sebenci itu. Apa lagi yang jadi korbanmu?!” Tatapan Ben berangsur terangkat. Ia menatap sengit wanita di hadapannya di antara kebencian yang meluap.
Piera menghela napas sambil menepis tatapan Ben.
“Aku tidak akan memintamu untuk meminta maaf kepadaku apalagi ibuku.”
Piera tetap bergeming.
“Aku juga tahu, hubungan terlarang tidak akan terjadi hanya karena satu pihak.”
“....”
“Tapi, jika kamu terus berhubungan dengan ayahku, ... akan kupastikan kalian akan sama-sama hancur. Dengan kedua tangan juga mataku sendiri, ... kupastikan, ... kalian akan lenyap!”
Hati Piera bergejolak mendengar gertakan Ben. Ketika ia memberanikan diri untuk menatap pria muda di hadapannya, sungguh, kebencian pria itu begitu menakutkan. Mata Ben bahkan memerah dan bergetar.
***
Suana malam yang ramai tak lantas membuat Kainya juga merasakannya. Kainya masih dengan renungannya. Mengenai Piera, juga Rara, membuatnya merasa sangat bersalah dengan kehidupan yang selama ini ia jalani.
Aku memang bukan manusia sempurna. Aku bahkan tergolong jahat. Hanya saja, sejahat-jahatnya aku, aku tidak akan mungkin menelantarkan anakku. ... padahal aku sering berpikir, dunia ini tidak adil hanya karena aku tidak pernah mendapatkan cinta tulus dari pria yang kucintai. Namun nyatanya masih ada yang menyakitkan dari semua itu ... ya, ketika kita justru dibuang dan tidak dicintai oleh wanita yang telah melahirkan kita.
Tanpa menyeka air matanya, Kainya memasuki sebuah taksi biru yang ia stop. Aku masih beruntung karena aku memiliki keluarga yang begitu mencintaiku. Dengan keyakinan itu, Kainya merasa jauh lebih baik dan berjanji untuk semakin peduli pada dirinya agae bisa menjadi orang yang jauh lebih berguna khususnya untuk orang-orang yang telah menyayanginya; keluarga.
Tapi kenapa Ben bisa tahu mengenai hubungan Piera dan Rara? Juga, kenapa Ben juga sampai bisa membuat Piera tunduk dan dengan begitu cepat datang menemuinya? Tidak mungkin juga, pria licik seperti Ben melakukan hal tanpa alasan?
Kainya kemudian merenung, mencari alasan dari pertanyaannya. Mengenai Ben dan Piera, seharusnya keduanya tidak terlibat dalam kerja sama. Keduanya juga tidak memiliki alasan untuk bisa menjalin hubungan dekat meski hanya sebatas pertemanan antar kekuarga, sebab sejauh ini, ibu Ben yang selalu Beb panggil Mom lebih memilih tinggal di Turki atau jalan-jalan ke luar negeri.
Atau jangan-jangan, mengenal Piera juga bagian dari rencana Ben untuk mendekatiku? Jika itu kenyataannya, Kainya benar-benar merasa ngeri pada Ben yang bisa jadi, menjebaknya dalam keadaan sulit. Bahkan tadi, pria itu juga sempat mengancamnya akan melakukan tindakan nekat bahkan walau di tempat umum?
Sesampainya Kainya di rumah, bahkan ia baru duduk di tepi depan kasurnya, pesan WhatsApp dari Gio membuat dadanya berdebar-debar. Dan meski tidak yakin apalagi setelah terakhir kali ia mendapati pria itu kembali bersama Steffy, akhirnya Kainya membuka pesan itu.
Apakah hubunganmu dan Ben, sudah sangat dekat?
Kainya mrnggigit bibir bawahnya. Ia memilih menutup pesan dari Gio, mengembalikan fitur pesannya ke halaman utama kemudian mematikannya.
Biarkan aku menata hidupku tanpa kembali berharap pada apa pun. Meski ini tidak mudah, tapi aku akan berusaha melakukannya.
***
__ADS_1
Rara baru saja melepas kepergian Kimo, ketika Kainya dan Khatrin datang dan terlihat begitu riang. Membawa kantong karton berukuran besar, Kainya langsung memeluk Rara.
“Kenapa kamu masih bekerja di hari pernikahanmu?” tegur Kainya yang berangsur menyudahi dekapannya.
“Aku akan pulang lebih cepat,” balas Kimo santai yang kemudian memasuki lift di hadapannya.
Tak lama setelah pertanyaan tersebut terlontar, Yura keluar dari apartemen.
“Yura, meski Kimo karyawan baru, bukankah lebih baik kamu memberinya cuti, lagipula, kita bukan orang lain?” ujar Kainya.
Yura terdiam bingung berikut Rara yang juga merasa sungkan kepada Yura.
“Kimo yang memutuskan sendiri demi profesionalitas, Kai. Baik Yuan ataupun Yura sudah memberinya izin,” jelas Rara.
Yura kemudian mengangguk. “Iya. Kami sudah meminta Kimo untuk mengambil cuti, tetapi Kimo tidak mau. Oh, iya, aku pergi dulu. Aku juga akan cepat pulang untuk pernikahanmu, Ra.” Setelah berucap begitu, Yura berlalu dengan seulas senyum tulus.
“Iya. Terima kasih, dan hati-hati, Ra!” balas Rara bersemangat.
Yang membuat Rara bingung, kenapa Kainya begitu bersemangat membantunya? Bahkan Kainya sampai membawa seperangkat dekorasi untuk menghias kamarnya? Apakah itu semua, Kainya lakukan karena wanita itu mencintai Gio dan berharap mendapat bantuan darinya yang diketahui Kainya, berteman baik dengan Gio?
Dibantu Khatrin, Kainya mengganti seprei kamar Rara. Rara membawakan keduanya minuman dingin rasa markisa yang dibawakan oleh Angela kemarin sore sebagai hadiah.
“Wah ... ini minuman markisa dari Tante Angela, bukan? Wanginya sama!” Kainya antusias dan segera meminum jatahnya kemudian mengelap keringatnya.
Khatrin menanggapinya dengan tersenyum tulus kemudian menatap Rara. “Kainya sangat suka dengan rasa markisa apalagi sirup pemberian Jeng Angela, sampai-sampai, kemarin setelah mencoba, kami langsung pesan online.”
Rara tersipu. Melihat kedekatan Kainya dan Khatrin, Rara menjadi iri. Namun ia tidak iri bermaksud jahat, karena ia juga berharap bisa seperti Kainya--memiliki ibu yang begitu kenyayanginya. Apalagi di hari pernikahannya kini, justru orang lain yang begitu antusias membantunya.
“Ra! Jangan bengong. Cepat berendam dan aku akan menjadi salon kecantikan gratis untukmu!” semprot Kainya yang sampai membuat Rara tak percaya.
Cara Kainya pada Rara, dianggap Rara seperti sahabat atau bahkan keluarga yang memiliki hubungan sangat dekat. Tak beda dengan Keinya ketika padanya. Dan mengenai berendam yang Kainya maksud, tak lain mengenai mandi susu berikut bunga mawar yang sudah Kainya siapkan lengkap dengan lilin aroma terapi yang sudah dipasang.
“Sudah ... sudah ... kamu berendam dulu, sana. Nanti Tante kasih rahasia khusus!” ujar Khatrin yang langsung membuat Kainya dan Rara tersenyum geli.
Tak lama setelah Rara berendam di antara ramuan susu, bunga mawar dan entah apa lagi, tetapi Rara begitu merasa damai setelah berendam. Kainya memasuki kamar mandi dan membawa ransel cukup besar. Rara yang awalnya terpejam kendati tubuhnya nyaris terendam sepenuhnya, berangsur membuka mata ketika mendapati suara pintu terbuka berikut langkah kaki yang mendekatinya.
“Kamu pasti bingung kenapa aku melakukan ini semua, kan?” ujar Kainya sambil menahan rasa malu. Biar bagaimanapun, Rara tahu betul kejahatannya di masa lalu. Dan itu kenaoa, setiap melihar perubahannya menjadi manusia lebih baik, terkadang ia mendapati tatapan tak percaya dari Rara.
“Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kita bisa menjadi teman bahkan sahabat?” lanjut Kainya.
“Kamu adalah orang pertama sekaligus satu-satunya orang yang memintaku untuk menjadi sahabatmu. Kamu juga satu-satunya orang yang menjenguk bahkan menjagaku ketika aku sakit sebelum akhirnya orang tuaku datang,” tambah Kainya. “Jadi, meski aku bukan orang yang baik, tetapi aku ingin menjadi teman yang baik.”
Rara mesem tak percaya. “Apakah aku sudah merubah pemikiran seseorang dan itu kamu?” tanya Rara.
Kainya tersipu kemudian melanjutkan langkahnya mendrkati Rara dan meletakan ranselnya. “Aku juga akan mengurus kepalamu!”
“Ahhh ... bahagianya bila selalu begini!” seru Rara kegirangan.
Kainya menoyor kepala Rara saking gemasnya di mana tak lama setelah itu, keduanya terikat dalam tawa lepas.
“Aku yakin, Keinya akan menjadi orang paling menyesal karena nggak ada di pernikahanmu!” ucap Kainya yang mulai mengeluarkan seperangkat sampoo berikut keperluan lainnya.
Rara tergelak. “Entah sudah berapa pesan yang dia kirimkan mengenai penyesalannya. Bahkan dia sudah berulang kali merengek pulang kepada Yuan.”
“Sudah kuduga,” sambut Kainya yang mulai meraih shower dan menyiramkannya dengan hati-hati ke kepala Rara.
“Aku yang jadi nggak enak kepada mereka,” keluh Rara.
Kainya menertawakan Rara. “Lagipula pernikahanmu dan Kimo terlalu mendadak.”
Rara bergumam sambil mengangguk. “Oh, iya, omong-omong, bagaimana hubunganmu dengan Gio?”
Kainya terdiam sejenak. Karena hingga detik ini, ketika nama Gio disebut, selain hatinya yang jadi berdesir, ia juga masih kerap menjadi salah tingkah.
“Kenapa bertanya seperti itu? Kami tidak ada hubungan apa-apa,” ujar Kainya.
Rara memanyunkan bibirnya. “Apakah dia masih menghukum dirinya?”
Pernyataan Rara membuat Kainya bingung. “Menghukum diri bagaimana?” tanyanya penasaran.
Rara menoleh pada Kainya sambil tersenyum masam. “Tidak ... tidak, aku hanya asal bicara.”
__ADS_1
Kainya menjadi berkecil hati. Meski berusaha untuk tidak peduli, tetapi mengenai Gio memang cukup menyedot perhatiannya. Namun jika jawaban Rara seperti itu, mungkin memang seharusnya ia tidak tahu.
“Tapi,” Rara menengadah dan menatap Kainya.
Mendapati itu, hati Kainya menjadi berdebar-debar berikut rasa tegang yang juga menjadi menyekapnya.
“Sebenarnya, kamu ada rasa nggak, sih, sama Gio?” tanya Rara dengan suara yang lebih rendah. Dipenuhi keseriusan dan ingin tahu.
Kainya bergeming kebingungan. “Jangan bertanya hal semacam itu kepadaku. Aku hanya ingin fokus menata diriku,” sangkalnya.
Kendati Kainya mengelak, tetapi Rara mendapati luka dan bahagia yang membuat Kainya menjadi segugup sekarang. Dengan kata lain, kemungkinan Kainya mencintai Gio memang ada. Hanya saja, Kainya tidak yakin dengan Gio berikut Kainya yang mungkin menjadi tidak mau berharap.
“Nanti kamu mau pakai kuteks warna apa?” tanya Kainya mengalihkan keadaan.
“Hah? Harus, ya? Tapi kayaknya nggak perlu deh. Nanti yang ada aku dikira sinting sama Kimo karena emang nggak biasanya pakai kuteks,” balas Rara yang kemudian tergelak menertawakan dirinya sendiri.
Kainya juga ikut tertawa. “Kimo, orangnya memang begitu, ya? Ceplas-ceplosnya ... kayaknya sekali kamu bertingkah aneh juga langsung bikin dia bingung bahkan ngeri!”
“Nah, itu maksudku!”
Rara dan Kainya kembaki tertawa lepas. Sampai-sampai Khatri yang datang menjadi bingung melihatnya.
“Kalian ini ngobrolin apa, sih?”
“Aku pikir Kainya ini orangnya serius, Tan. Tapi nyatanya dia juga bisa ceplas-ceplos kaya aku ...,” bakas Rara di antara tawanya.
Khatrin menggeleng sambil tersenyum. Hanya saja, tatapannya yang awalnya dihiasi binar bahagia menjadi serius ketika menatap Kainya.
Kenyataan tersebut membuat Kainya bingung. “Ada apa, Mi?” tanya Kainya.
Rara mengakhiri tawanya lantaran raut serius menjadi menyelimuti Khatrin.
Khatrin menelan ludah dan terlihat serba salah. “Ada yang datang dan meminta bertemu denganmu.”
Kainya dan Rara sama-sama mengernyit.
“Siapa, Tan?”
Jangan-jangan, Piera? tebak Kainya.
“Namanya Piera. Dan dia seumuran Tante. Tapi Tante ragu kasih izin dia masuk. Gayanya sih ... menjanjikan. Datangnya saja sampai dikawal ajudan.”
Meski pengakuan Khatrin membuat Kainya menahan kesal, tetapi Kainya berpikir, mungkin ini jalan yang harus Rara dan Piera lalui. Dan ketika ia memastikan ekspresi wajah Rara, ia mendapati banyak luka di sana.
“Temui saja,” ujar Kainya.
Rara menjerat Kainya dengan tatapan tidak yakin.
“Aku sudah tahu mengenai dia, kok. Semalam, Ben mengenalkannya ke aku,” lanjut Kainya.
“Suruh dia masuk ke sini, Mi,” lanjut Kainya.
Khatrin menatap tidak yakin kedua wanita muda di hadapannya.
Seperginya Kainya dan Khatrin, tak lama berselang setelah itu, Piera masuk dengan gaya elegan yang dipenuhi kemewahan layaknya biasa. Sandang bermerek termasuk dua buah cincin berlian yang masing-masing menghiasi jari manisnya. Sedangkan rambut panjang yang biasanya diurai dalam gaya blow dry, kali ini tersimpul tinggi. Di antara ketegangan yang sama-sama menyelimuti, tatapan Rara dan Piera bertemu.
“Dan sejahat-jahatnya manusia, adalah seorang ibu yang menelantarkan anaknya!”
Tiba-tiba saja, penegasan tegas dari Kainya tersebut menghiasi ingatan Piera dan seolah menamparnya, hanya karena ia melihat sosok Rara yang masih berendam dalam bak dengan kepala terlilit handuk.
Aku, memang hidup menjadi wanita penggoda tanpa takut pada siapa pun termasuk wanita-wanita pria yang kudapatkan. Tapi jika harus melihat anakku, rasanya aku tidak sanggup .... Piera tertunduk malu.
***
Yang berkenan, bisa mampir ke cerita lain Author berjudul :
CEO Mengejar Tuan Putri(romance fantasi--time travel)
Rahasia Jodoh (romance--Perjuangan menuju pernikahan impian)
Terima kasih.
__ADS_1
Salam sayang,
Rositi.