Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 69 : Kemungkinan Untuk Hamil


__ADS_3

“Kim Jinnan, apa ponselmu jauh lebih menarik daripada aku?!”


Bab 69 : Kemungkinan Untuk Hamil


“Aku rasa, waktu mamah hamil kamu, mamah enggak sampai makan borax, deh, Ngie. Tapi kok, kamu kalau ngambek bisa awet banget, ya?” ujar Kim Jinnan sembari menutup dan mengunci pintunya, sedangkan Pelangi yang ia ajak bicara, sudah berlalu meninggalkannya.


Sore ini, mereka kembali pulang ke kediaman Yuan, lantaran Zean terus bilang rindu kepada Kim Jinnan. Dalam sehari ini saja, Zean sampai menelepon tujuh kali, selain melakukan telepon video sebanyak empat kali. 


Pelangi meletakkan totebag warna cokelat yang sedari awal menghiasi pundak kanannya, sebab saking sebalnya pada Kim Jinnan, ia memang tidak mengizinkan pria itu membawakannya, layaknya biasa.


“Wanita sudah menikah terus hamil itu lumrah. Yang enggak lumrah kalau laki-lakinya yang hamil!” lanjut Kim Jinnan sesaat setelah meletakkan tas kerjanya di sebelah totebag sang istri.


Kim Jinnan segera menyusul Pelangi yang memasuki kamar mandi, sembari melepas jas hitam yang dikenakan, disusul menyingsing lengan kemeja biru toskanya.


Pelangi sadar, alasan Kim Jinnan begitu berusaha mengajaknya baikan, lantaran pria itu sadar diri. Mengenai apa yang telah terjadi kemarin malam, padahal mereka sudah sepakat menunda kehamilan. Dan Kim Jinnan, mengingkari kesepakatan itu.


“Meski kita punya anak, kamu tetap bebas dan kuliah dengan leluasa,” ujar Kim Jinnan.


“Mana mungkin aku membiarkan anakku diurus orang lain, sedangkan mama saja, mengurus semua anaknya sendiri!” cibir Pelangi tanpa sudi menatap sang suami. 


“Seegois-egoisnya aku, aku masih mikir, kali!” Pelangi mash marah-marah sambil menggosok tangannya yang sudah dihiasi banyak busa.


“Iya, aku percaya,” balas Kim Jinnan dengan suara lemah dan sarat penyesalan. 


“Yang enggak mikir itu kamu!” lanjut Pelangi.


Dan sekali lagi, Kim Jinnan menerimanya. “Iya, ... aku memang enggak mikir.”


“Jangan iya-iya terus, kalau kenyataannya kamu enggak ngerti!” lanjut Pelangi lagi.


“Iya, maaf ...,” balas Kim Jinnan yang kali ini sengaja menimbrung tangan Pelangi, padahal di sebelahnya masih ada wastafel kosong yang juga disertai keran.


“Jinnan!” omel Pelangi yang kali ini sampai menyikut Kim Jinnan. “Minggir kenapa? Itu di situ kosong!” lanjutnya lantaran Kim Jinnan tetap keras kepala dan justru menyandar pada kepalanya.


“Jinnan ... aku mau pesan pizaaa, kamu mau enggak!” seru Zean dari luar diiringi gedoran yang cukup membuat pendengaran Kim Jinnan dan Pelangi terganggu.


“Tuh!” ujar Pelangi masih ketus mengingatkan perihal seruan Zean.


“Iya ... kamu mau apa? Sekalian?” tawar Kim Jinnan sembari mengeringkan kedua tangannya menggunakan handuk tangan, yang tersedia di sebelah wastafel.


“Asal aku enggak lihat wajahmu satu jam, saja. Itu sudah lebih dari cukup, daripada aku tambah dosa, gara-gara marahin kamu terus!” balas Pelangi yang masih merengut.


Kim Jinnan terkikik dan memang sengaja menjaga tawanya agar Pelangi tidak semakin marah. “Ya sudah ... satu jam, ya? Kalau begitu, lima menit lagi, aku ke sini,” balasnya dan justru sengaja menggoda Pelangi.


Karena semenjak menikah, sebentar saja tidak menggoda Pelangi, rasanya ada yang kurang.


“Kim, Jinnan!” keluh Pelangi yang kali ini sampai melotot kesal kepada suaminya.

__ADS_1


Kim Jinnan yang menjadi cengengesan langsung kabur sambil berseru, “iya, Zean ... bentar!”


“Tabah ... tabah, aku punya suami kayak dia!” gumam Pelangi yang kemudian menatap bayangan wajahnya di cermin wastafel yang ada di hadapannya.


“Meski kemarin malam bukan ‘siklus subur’ untukku, tapi kemungkinan hamil tetap ada. Ya ampun ... andai kemarin aku bawa stok ‘simpanan lucnut-nya’ Jinnan!” sesal Pelangi. “Ah ... mendingan langsung mandi saja kalau gitu.”


Pelangi menjadi tak hentinya uring-uringan. Mengenai kemungkinan dirinya yang akan tetap memiliki anak, meski kemarin malam bukan ‘siklus subur’ untuknya, lantaran Pelangi dan Kim Jinnan tidak sampai memakai ‘pelindung’ atau pencegah kehamilan, ketika melakukan hubungan ‘suami istri’.


***  


Tepat ketika Pelangi baru keluar dari kamar mandi dan masih mengenakan pakaian handuk sedangkan kepalanya juga terbungkus handuk, Kim Jinnan sudah terjaga dan duduk di tepi kasur.


Kim Jinnan sedang menatap serius ponsel di mana sesekali, jemarinya akan mengetik di layar ponsel atau sekedar menggeser ke atas dan ke bawah. Sedangkan Pelangi yang awalnya sudah masuk, menjadi mundur dan berhenti.


“Jinnan? Belum satu jam, kan?” ujar Pelangi mengingatkan.


Kim Jinnan menatap sekilas Pelangi. “Iya. Baru sekitar empat puluh menit,” balasnya yang kemudian kembali serius menatap layar ponselnya. “Sudah ... anggap saja aku enggak ada. Lakukan apa yang mau kamu lakukan.”


Lantaran Kim Jinnan sampai mengacuhkan Pelangi, dan begitu sibuk dengan ponselnya, Pelangi yang tipekal pencemburu kelas kakap pun langsung mencurigai suaminya. “Kim Jinnan, apa ponselmu jauh lebih menarik daripada aku?!” omelnya yang masih berdiri di tempat semula.


Dan apa yang Pelangi lontarkan tak ubahnya teguran keras untuk Kim Jinnan yang langsung memastikan. Anehnya, Pelangi masih berdiri di ambang pintu masuk menuju tempat tidur. Akan tetapi, saking bingungnya harus berbuat apa, Jinnan juga tak langsung merespons. Terlebih semakin lama bersama Pelangi, Kim Jinnan sadar, jika Pelangi lebih pencemburuan ketimbang dirinya. Di mana, sedikit saja Kim Jinnan salah bahkan hanya dalam berkata, Pelangi bisa langsung marah dalam jangka waktu lama dan kadang tidak bisa diprediksi.


Pelangi masih berdiri di tempat dan kali ini sampai bersedekap. Sesekali, ia melirik sinis Kim Jinnan yang masih belum membalasnya dan hanya menatapnya sambil sesekali menghela napas pelan. “Jinnan!” uring Pelangi akhirnya.


“Sinih, deh ... jangan marah-marah terus. Ada gosip super hangat dari Zean dan Dean,” ucap Kim Jinnan yang sampai berbicara dengan sangat tertata tak ubahnya penghuni kerajaan keraton yang begitu menjaga dalam setiap tutur katanya.


“Hah? Zean dan Dean? Gosip apaan, sih?” balas Pelangi yang langsung penasaran.


“Aku enggak marah-marah!” keluh Pelangi yang kembali mundur, padahal awalnya, ia sudah sempat mendekati Kim Jinnan.


“Iya ... iya, kamu enggak pernah marah-marah. Yang marah-marah aku,” lanjut Kim Jinnan yang kali ini sampai mengulurkan tangan kanannya dan siap menggandeng sebelah tangan Pelangi.


Meski sadar apa yang ia lakukan sudah keterlaluan, tetapi Pelangi sangat puas lantaran Kim Jinnan begitu memanjakannya. Kemudian, ia yang kembali melanjutkan langkah, berangsur memberikan sebelah tangannya pada Kim Jinnan, dan membiarkan sang suami menggandengnya. 


Kim Jinnan sampai menuntun Pelangi untuk duduk di sebelahnya, di mana Pelangi juga langsung bermanja dan menyandar pada dada Kim Jinnan sambil turut menatap layar ponsel Kim Jinnan yang langsung disodorkan kepadanya.


“Ini pacarnya si Elena, kan?” lirih Kim Jinnan.


“Kayaknya sih, iya. Aku enggak paham,” balas Pelangi yang masih menatap serius foto laki-laki yang memenuhi layar ponsel sang suami.


Namun tiba-tiba saja, perasaan Pelangi menjadi tidak enak. “Ih, Jinnan. Kok sekarang, kamu justru mengoleksi foto laki-laki, sih?” keluhnya yang sampai mengakhiri sandarannya.


Pelangi menatap serius Kim Jinnan yang langsung terlihat sangat terkejut detik itu juga, sambil balas menatapnya.


“Apaan, sih?” balas Kim Jinnan kebingungan.


“Itu foto,” balas Pelangi sambil melakukan gerakan wajah menunjuk layar ponsel Kim Jinnan.

__ADS_1


“Ya ampun, ini fotonya Atala pacar Elena. Aku dapat dari sahabatku karena tadi Dean sama Zean ada bahas dia,” jelas Kim Jinnan masih sarat kesabaran.


“Oh, ya ampun ... kita lagi bahas pacar Lena, ya? Astaga ... astaga ...!” Dan Pelangi sadar, kekhilafannya yang terlampau pesat, lantaran rasa cemburunya yang semakin tak terkendali.


“Ya iya ... banyak-banyak minum air putih, deh ....” KiM Jinnan menghela napas pelan.


“Iya ... iya, maaf. Terus, bagaimana?” balas Pelangi yang kembali siap menyimak. “Memangnya pacar Lena kenapa? Dan kenapa juga, dia sampai jadi bahan gosip Zean bahkan Dean? Dean itu anti gosipin orang, lho?”


Kim Jinnan menelan ludah dan kemudian berucap, “kalau kata Zean sama Dean, sih, si Atala bikin wajah Mo babak belur, gara-gara Mo nolong Elia.”


“What?! Atala sekasar itu?! Bisa-bisanya?!” tanggap Pelangi yang masih meledak-ledak. 


“Sabar ...,” lirih Kim Jinnan yang sampai mengelus-elus kening Pelangi sambil menuntun sang istri yang sampai berdiri, untuk kembali duduk.


“Wajah Mo, beneran sampai babak belur?” tanya Pelangi memastikan dengan nada suara yang jauh lebih lirih.


Kim Jinnan segera mengangguk. “Katanya begitu,” ucapnya.


“Ya ampun ... mama Rara pasti sedih banget. Bisa langsung pingsan malahan,” ujar Pelangi yang jauh lebih mencemaskan keadaan Rara.


“Tapi ... tapi, gimana, sih, awal mulanya? Si Elia juga enggak apa-apa, kan? Itu terus kenapa Atala sampai sekasar itu? Ya ampun! Elena apa-apaan sih, bisa-bisanya sama Atala!” 


Kabar mengenai Atala berikut Mofaro dan Elia, sukses mengalihkan kecemasan Pelangi mengenai kemungkinan memiliki anak, setelah kesalahan yang sengaja Kim Jinnan lakukan, demi segera memiliki anak. Pelangi benar-benar bersemangat membahasnya dan meminta Kim Jinnan untuk ikut mengurusnya, terlebih Kim Jinnan cukup mengenal Atala.


“Tapi omong-omong, kok kamu bisa Atala?” ujar Pelangi kemudian.


“Ya iya ... dia itu ...?” Dan Kim Jinnan menjadi ragu menceritakan kenyataan Atala, lantaran takut, Pelangi akan marah jika wanitanya itu mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.


“Jinnan?” tagih Pelangi tak sabar.


“Si, Atala,” ucap Kim Jinnan benar-benar ragu.


“Iya?” Pelangi langsung mengangguk dan masih menyimak serius perihal balasan Kim Jinnan.


“Dia ....”


“Jangan hanya dia ... dia, kenapa?”


“I-ya ... iya ... dia, sahabat salah satu mantanku yang kemarin bikin kamu banting ponselku gara-gara dia masanger aku.”


“Iiih!” uring Pelangi yang langsung kesal pada Kim Jinnan.


“Kan ... marah-marah lagi!” Kim Jinnan benar-benar pasrah.


“Kenapa harus dia?!” tuntut Pelangi.


“Sudah, yuk. Kita makan saja. Lapar. Lagian, buat apa kita ribut terus? Enggak ada gunanya, Ngie? Justru mereka tambah senang kalau kamu marah-marah sama aku,” bujuk Kim Jinnan.

__ADS_1


Pelangi menghela napas dalam dan berakhir dengan mendesah. Seperti apa yang Kim Jinnan bilang, kemarahannya kepada Kim Jinnan memang hanya akan membuat wanita-wanita yang mengincar Kim Jinnan semakin bahagia. Tentunya, mereka juga akan menganggap diri mereka jauh lebih baik daripada Pelangi. Akan tetapi, Pelangi juga tidak tahu, kenapa semakin ke sini, ia juga begitu mudah marah sekaligus memarahi Kim Jinnan?


Bersambung ....


__ADS_2