Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 30 : Tekanan Batin


__ADS_3

“Di dunia ini tidak ada yang mau terlahir menjadi salah apalagi korban.”


Bab 30 : Tekanan Batin


Tanpa menatap Rara, Kimi mendekap sebelah lengan Kiara kemudian menariknya ke samping untuk menepi. Ia sengaja memberikan jalan kepada Rara dan Keinya, kendati Kiara langsung memberontak.


Kiara memelotot, mengecam ulah Kimi yang justru membiarkan Rara masuk dengan begitu mudah ditemani Keinya.


“Kalau Mama tetap menghalang-halangi Kak Rara, Mama salah, Ma. Ingat, Kak Rara bukan wanita bodoh. Dan Mama juga harus ingat, selain Kak Kimo sangat mencintai Kak Rara, Kak Rara juga dikelilingi orang-orang yang begitu menyayangi mereka. Bahkan Kak Yuan juga sudah menemui Mama secara khusus, kan?”


Yang membuat Kiara tidak percaya, tak semata karena Kimi membela Rara. Melainkan, panggilan anak perempuannya itu kepada Rara. Sejak kapan? Sejak kapan Kimi menerima Rara dan bahkan memanggil wanita itu dengan sebutan kakak?


“Seharusnya kejadian ini sudah cukup bikin Mama membuka mata dan hati Mama. Aku bahkan sampai berpikir, ini teguran dari Tuhan agar Mama kasih mereka restu.” Kimi mengatakan itu dengan hati yang mulai terasa sakit seiring air matanya yang akhirnya turut berbicara, berlinang tanpa bisa ditahan lagi, setelah dari kemarin ia tahan. Mengenai kecelakaan Kimo, berikut keadaan pria itu yang belum sadarkan diri setelah dua hari berlalu dari kecelakaan yang menimpa. Juga, mengenai statusnya.


Kiara menatap Kimi dengan napas yang menjadi memelan. Entahlah, tiba-tiba saja hatinya menjadi terenyuh. Seperti banyak rentetan kesedihan yang memenuhi di sana nyaris tak bercelah hanya karena melihat kesedihan Kimi yang sampai terisak-isak.


Kimi menatap Kiara di antara isak yang masih belum bisa ia redam. “Jika Kak Rara anak dari wanita penggoda, lalu ... bagaimana denganku? Bukankah Mama juga mengadopsiku dari panti asuhan?”


Kini, air mata Kiara rebas bukan mengenai keadaan Kimo, atau hubungan anaknya itu dengan Rara, melainkan Kimi. Ia menatap Kimi dengan perasaan tak menentu. Gamang. Ia seperti mendapat banyak tamparan nyaris tanpa jeda.


“Jika Mama benar-benar menyayangi anak-anak Mama termasuk menyayangi aku, ... tolong, berhenti menilai seseorang dari latar belakang berikut masa lalunya, Ma ....” Kimi benar-benar memohon. “Kak Rara benar. Bahkan semua orang juga mengatakannya ... di dunia ini tidak ada yang mau terlahir menjadi salah apalagi korban.”


“Bahkan Mama juga begitu, kan? ... memangnya Mama mau, selalu disalahkan apalagi sampai menjadi korban?”


Kimi susah payah mengendalikan perasaannya yang tiba-tiba saja dikuasai kesedihan. “Mama tahu? Melihat cara Mama yang begitu mengerikan menghakimi Kak Rara hanya karena statusnya, bikin aku takut bahkan malu menghadapi diriku sendiri. A-aku takut, jika nantinya, aku justru mendapat perlakuan seperti Kak Rara, sedangkan aku nggak sekuat Kak Rara ....” Tiba-tiba saja, ia diserang gemetaran hebat.


Kimi berangsur mengakhiri dekapannya. Selain terlihat kebingungan tanpa berani menatap Kiara, wanita muda itu juga sampai menjaga jarak, melipir meninggalkan Kiara.


“K-kimi ... kamu, anak Mama!” bujuk Kiara lirih sambil pelan-pelan mendekati Kimi.


Kimi menatap takut Kiara dan perlahan-lahan menggeleng kaku, menepis anggapan Kiara. Di mana tak lama setelah itu, ia terduduk di bangku tunggu dengan ketakutan yang tiba-tiba menyerang.


Bayang-bayang kerasnya Kiara memperlakukan Rara tiba-tiba saja memenuhi pikiran Kimi yang menempatkan dirinya sebagai Rara. Ia merasakan tekanan batin yang begitu kuat.


Kenyataan Kimi yang terlihat semakin menyedihkan dan terlihat jelas ketakutan membuat Kiara merasa sangat terpukul. Apakah dia sudah sangat keterlaluan, dan bahkan telah menggoreskan luka yang begitu dalam hingga Kimi begitu tertekan?


***


Sebelum ada dua orang wanita yang mendatanginya, Kimo melihat sesosok wanita berwajah pucat. Wanita itu menatapnya nyaris tak berkedip. Wanita itu mengenakan terusan panjang warna putih, dan sampai membuat Kimo berpikir, wanita itu hantu.


Wanita pengena terusan putih itu langsung menatap sedih kedatangan wanita yang duduk di kursi roda. Namun, Kimo menjadi bergidik ngeri, lantaran ketika ia memastikan si wanita berwajah pucat, justru sudah tidak ada lagi. Baik di sudut dekat jendela selaku tempat ia melihat, juga di sekeliling ruang keberadaannya, sejauh ia bisa memastikan melalui pandangannya. Jadi, benar, wanita itu memang hantu?


Meski mencoba untuk tidak peduli, tetapi kejadian tersebut cukup mengganggu Kimo yang perlahan-lahan dikejutkan dengan keberadaan sekaligus keadaannya. Karena selain tubuhnya yang terasa sangat lemah, ia juga sedang menjalani pengobatan intensif bila melihat beberapa alat medis berikut ruangan yang ia tempati. Ia tengah berada di sebuah ruang rawat berfasilitas elite. Dan jika melihat dari keadaannya, dia mengalami luka yang begitu parah. Tapi kenapa? Atas dasar apa, ia bisa di sana, sedangkan hal terakhir yang ia ingat, ia akan menjemput Steffy untuk memilih cincin pernikahan mereka?


“Kimo, kamu sudah sadar?” ucap Rara tak percaya. Saking bahagianya, ia sampai menitikkan air mata sambil menekap mulutnya menggunakan sebelah tangan.


Tak kalah bahagia, Keinya langsung menekan tombol khusus untuk menghubungi perawat. Meski kalimat pertama yang terucap dari bibir tebal Kimo yang masih dihiasi selang ventilator, membuatnya sangat terkejut.


“Kamu siapa ...?” tanya Kimo untuk ke dua kalinya dengan suara yang terdengar kurang jelas.


“Kenapa aku bisa ada di sini?” lanjut Kimo yang terlihat jelas kebingungan, beberapa saat kemudian.

__ADS_1


Baik Keinya maupun Rara yang terlihat jauh lebih kebingungan, sama-sama diam. Keduanya tampak menerka-nerka seiring Keinya yang kembali mendorong Rara hingga berada tepat di sebelah wajah Kimo.


“Kimo, kamu tidak megingatku?” tanya Rara dengan suara lirih dan terdengar sangat terluka.


Kimo mengerutkan dahi, menatap tak acuh Rara, kemudian menjadikan sosok Keinya sebagai fokus pandangnya. “Dia, temanmu?” tanyanya masih harus susah payah lantaran lidahnya juga terasa kelu.


Bukannya menjawab, Keinya justru berkaca-kaca sambil menatap Kimo.


Kimo yang masih menatap Keinya lantas berkata, “Steffy, di mana, Kei? Apakah dia bersama Yuan? Steffy baik-baik saja, kan?” tanyanya cemas.


“Kamu masih ingat aku?” balas Keinya memastikan. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat lantaran takut, kenyataan buruklah yang ia dapat.


Di tengah rasa sakit yang begitu terpancar, Kimo tersenyum geli hingga napasnya menjadi terengah-engah. “Kamu mengejekku?”


“Balasan apa yang ingin kamu dengar, Kei?”


“Apakah aku harus pura-pura tidak mengenalimu?”


“Jelas-jelas, dua minggu lagi, kamu akan menikah dengan Yuan!”


Kalimat terakhir Kimo membuat tangis Keinya pecah. Keinya terisak-isak dan sampai menekap erat mulutnya menggunakan kedua tangan demi menghalaunya. Dan ia baru ingat, Rara ada di sana, bersama mereka. Yang dengan kata lain, sahabatnya itu juga mendengar ucapan Kimo. Tentu, kenyataan tersebut membuatnya refleks mendekap erat Rara.


Rara terpejam pasrah seiring tubuhnya yang menjadi terasa kebas, benar-benar seperti tidak ada tenaga yang tersisa. Bahkan nyawanya juga seolah dicabut paksa detik itu juga.


Rara berpikir, meski Kimo mengenali Keinya, tetapi sepertinya yang Kimo maksud itu Kainya saat pura-pura menjadi Keinya, lantaran yang ada di ingatan Kimo juga justru Steffy, bukan Rara lagi?


***


Dalam diamnya, Kiara hanya bisa memanjatkan doa terbaiknya untuk Kimo maupun Kimi yang masih ada dalam dekapannya.


***


Sebelum dibawa pergi oleh Keinya sesuai permintaan perawat dan kemudian disusul pula oleh dua orang dokter yang bergegas datang, Rara menahan sebelah tangan Keinya, tepat sebelum ia berbalik meninggalkan Kimo.


“Kimo ...?” panggil Rara lirih.


Kimo melirik dan menatap Rara dengan dahi berkerut. Tatapan yang terlihat jelas menuangkan ketidaknyamanan dari Kimo sendiri.


Mendapati itu, Rara terpejam pasrah sambil menghela napas pelan. “Otakmu benar-benar rusak!” ucapnya bersamaan dengan tangisnya yang akhirnya pecah.


“Aku ini istrimu! Sedangkan Kimo yang kukenal tidak akan menyebut nama wanita-wanita dari masa lalunya!” omel Rara.


Menyadari Rara mulai terbawa suasana bahkan emosional, Keinya membawa sahabatnya itu pergi dikarenakan perawat yang berjaga juga sudah sampai mendesak mereka untuk segera keluar dari ruang rawat Kimo.


“Sabar, Ra ... sabar. Ini ujian rumah tangga kalian. Kalian sudah melangkah sejauh ini. Jadi jangan sampai ini justru bikin kamu menyerah. Kamu harus lebih kuat!” bisik Keinya yang sebenarnya takut apa yang menimpa Rara membuat sahabatnya itu tertekan. Cukup Kainya yang sakit karena tekanan batin, dan sekarang masih harus menjalani pengobatan intensif.


Kerut tipis di dahi Kimo semakin bertambah seiring ia yang menatap aneh kepergian sosok Rara. “Wanita itu siapa? Aneh sekali tiba-tiba marah-marah bahkan mengaku sebagai istriku! Apa jangan-jangan, dia wanita depresi yang ditinggal suaminya? Tapi ... tadi dia menyebut namaku, ... bahkan dia juga terlihat memiliki hubungan yang baik dengan Keinya?” pikir Kimo yang seketika itu juga, mulai bersiap membiarkan dokter melakukan deretan pengecekan kesehatan kepadanya.


***


Ketika keluar dari ruang rawat Kimo, Rara yang masih berderai air mata, menatap Kiara sarat kekecewaan. “Seberapapun aku marah kepadanya, dia tetap ibu dari pria yang aku cintai. Namun, sampai kapan ia akan begini? Berapa lama lagi, dan berapa banyak lagi cobaan yang harus kami hadapi agar dia merestui hubungan kami?”

__ADS_1


Keinya dan Rara terjaga di sisi pintu masuk ruang rawat Kimo, sebelah Kiara. Mereka memang berada di tempat yang sama. Hanya saja, mereka terlihat jelas tidak memiliki perasaan yang sama. Kiara masih dengan deretan luka yang ia tudingkan kepada Rara. Sedangkan Rara dengan deretan cara yang sedang ia pilih untuk mempertahankan rumah tangganya dan Kimo.


Setahu Rara, Kimo tipikal pria yang selalu tulus dalam mencintai. Jadi, ketika yang Kimo ingat justru Steffy, bisa jadi, pria itu akan menolak semua kebenaran dari orang lain, bahkan orang-orang terdekat Kimo sendiri, seperti apa yang suaminya itu lakukan terhadapnya. Belum lagi, selain Kiara yang masih keras kepala, Steffy juga Rara ketahu masih mengharapkan Kimo. Bahkan karena sering dihubungi Steffy, belum lama ini, Kimo sampai mengganti nomor ponsel. Jadi, Rara benar-benar sedang memutar otak untuk menemukan cara terampuh, seandainya Kimo benar-benar amnesia.


“Apakah aku harus memukul kepala suamiku, agar suamiku kembali memiliki ingatannya?” batin Rara masih sangat lemas. Rara pikir, orang seperti Kimo akan memiliki banyak nyawa. Tetapi nyatanya Kimo juga manusia biasa yang bahkan sampai mengalami amnesia akibat kecelakaan yang menimpa mereka.


Kemudian fokus Rara teralih pada Kimi yang terlihat jelas tidak baik-baik saja. Hal tersebut sangat menarik perhatiannya, di mana ia juga tidak bisa membiarkannya.


“Kimi, kamu sakit?” tanya Rara sambil mencoba melongok Kimi.


Keinya mengerutkan dahi dan menatap Kimi dengan menelisik. Wajah Kimi yang tertunduk tampak pucat. Sedangkan tubuh wanita muda itu sampai gemetaran.


“Ma, lebih baik Kimi dirawat juga.” Rara memohon.


Kiara tak acuh dan menepis Rara dengan lirikan sinis.


Mendepati itu, Rara semakin kesal. “Ma, jadi orang jangan terlalu keras kepala. Sebenarnya apa yang Mama cari dari cara Mama yang jelas-jelas hanya menyiksa diri Mama?!” omelnya.


Keinya terdiam tak percaya. Rara berani memarahi Kiara yang juga menatap sahabatnya itu tak percaya?


“Kei ... Kei ... tolong panggilkan suster buat cek kesehatan Kimi.” Kali ini Rara sampai mencoba mendekati Kimi dengan mengendalikan kursi rodanya tanpa bantuan Keinya.


Melihat Kimi tidak baik-bak saja, pintu hati Rara seperti ada yang mengetuk. Ia juga seolah mendapat tambahan tenaga berikut kekuatan karenanya. Karena baginya, keluarga Kimo adalah keluarganya juga. Jadi, apa pun yang terjadi dan bersangkutan dengan mereka juga menjadi tanggung jawabnya.


Sebelum meninggalkan kebersamaan untuk memanggil sesuai permintaan Rara, terlebih dulu Keinya mendekatkan Rara pada Kimi.


Rara turut membelai lembut kepala berikut punggung Kimi. Terkadang, Rara juga akan memastikan suhu tubuh adik iparnya, dengan meraba kening dan juga leher Kimi sambil menunggu kedatangan Keinya yang kembali dengan seorang suster. Keinya melihat kepedulian yang begitu besar dari Rara untuk Kimi. Anehnya, Kiara masih saja gengsi, dan terus menepis keberadaan Rara. Padahal, Kiara kerap melirik dan memperhatikan Rara, diam-diam.


Setelah dicek suhu tubuh berikut tensi darah yang sudah melampaui batas normal, Kimi langsung dirujuk untuk dirawat.


“Mama nggak sekalian?” ujar Rara yang masih terdengar dengan nada marah.


Kiara tidak berkomentar dan sengaja menjaga jarak dari Rara dengan bergeser.


“Kalau mama tahu Kimo amnesia dan enggak ingat aku lagi, pasti mama sangat senang dan bahkan semakin gesit memisahkan kami,” batin Rara sembari melirik Kiara.


“Lepaskan Kimo. Ceraikan dia dan biarkan kami hidup tenang tanpa kamu.”


Permintaan Kiara membuat Rara bergidik dan perlahan menoleh, menatap wanita itu.


Kiara menelan ludah untuk membasahi tenggorokkannya yang terasa sangat kering. Kemudian ia menoleh dan menatap Rara. “Kami akan pindah ke Australia dan melupakan semua yang telah terjadi di sini.”


Rara menggeleng dan menjadi sangat gelisah. “Tidak semudah itu!” tolaknya. “Kimo suamiku. Dan sampai kapan pun, kami akan tetap bersama apa pun dan bagaimanapun keadaan kami!”


Kiara menghela napas pelan dan menepis tatapan Rara. “Tidak ada yang bisa menghalangi rencanaku. Lebih baik kita akhiri saja daripada kita hanya saling menyakiti.”


Rencana Kiara membuat Rara ketar-ketir. Bahkan karenanya, Rara semakin sulit mengontrol emosinya.


“Tahan, Ra ... tahan! Kenapa kamu jadi emosional begini, sih? Ingat, Mama Kiara itu ibu dari suamimu. Mertuamu!” batin Rara.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2