Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 29 : Lampu Hijau Dari Keinya


__ADS_3

“Makan yang banyak, biar cepat dapat jodoh!”


Bab 29 : Lampu Hijau Dari Keinya


“Sudah kuduga.” Dari pintu, Zean menatap datar Mofaro dan Kim Jinnan yang masih berjabat tangan. Berjabat tangan berlebihan dan terlihat jelas sedang sama-sama sangat marah. Bahkan keduanya masih bertatapan sengit.


Kehadiran Zean yang terlihat jelas sudah bisa membaca situasi, langsung berhasil mengalihkan fokus Pelangi. Di depan pintu sana, Zean berdiri sambil menikmati satu cup besar es krim rasa mint. Seperti biasa, bak seorang bos besar, Zean menatap keadaan sekarang dengan sangat santai.


“Lebaran masih lama. Jadi salamannya jangan lama-lama. Nanti bisa jadi saling cinta,” tegur Zean.


Pelangi memilih undur dan berlindung pada Zean yang begitu santainya menikmati es krim pemberian Jinnan.


Tak lama setelah teguran Zean berikut Pelangi yang sampai pergi, agenda jabat tangan Mofaro dan Kim Jinnan juga berakhir. Ada kegugupan sekaligus rasa tak sudi yang seketika menyelimuti keduanya.


“Jangan ngaku-ngaku. Jelas-jelas aku yang pacarnya Ngi-ngie dan kami akan menikah!” ujar Kim Jinnan yang untuk sekadar menatap Mofaro saja, sebenarnya tidak sudi.


Mofaro hanya melirik bengis Kim Jinnan tanpa benar-benar berkomentar. Kemudian pemuda itu mengalihkan tatapannya pada Zean.


“Zean, kalau kamu enggak dukung aku, kamu enggak boleh main sama Rora!” ancamnya.


Zean langsung mencebik. “Apaan main ancam-ancam. Enggak jantan banget!” balasnya enteng.


Kim Jinnan yang menjadi merasa sangat bahagia atas balasan Zean terhadap ancaman Mofaro, sampai menahan tawa melalui. Kim Jinnan menekap mulutnya menggunakan sebelah tangan.


“Aissh!” keluh Mofaro yang kemudian melanglah cepat menghampiri Zean.


“Apa?! Jinnan, tolong aku!” rengek Zean.


“Mofaro! Jangan main-main sama anak kecil!” tegur Pelangi yang kemudian menarik sebelah tangan Zean dan menuntun bocah itu untuk berdiri di belakangnya.


Mofaro mendengkus sebal sambil bersedekap. “Bocah dari mana? Hanya fisik dan umurnya saja. Jelas-jelas otaknya saja lebih kejam dari otak dukun teluh!” cibir Mofaro sambil menatap sebal Zean yang nyatanya, diam-diam mengintip dari balik pinggang Pelangi.


Zean melirik Mofaro sambil memasang wajah menyebalkan dan tentunya tetap menikmati es krimnya.


“Kamu meledek begitu, awas saja kalau main ke rumahku. Menginjak lantai tesar saja langsung kebakar kamu!” omel Mofaro lagi sambil mendelik kepada Zean.


“Mofarooo!” tegur Pelangi yang kali ini sampai mendelik pada pemuda berambut gondrong di hadapannya.


Kim Jinnan yang menghampiri Zean, segera mengacak susunan rambut anak itu, kemudian menggandengnya, berikut menggandeng sebelah tangan Pelangi.


“Terus, aku dicuekin begini?” gumam Mafaro yang benar-benar tidak mau kalah. Mofaro segera menyusul kepergian ketiganya.


“Ngie, tolong panggilin mamamu. Kita bahas yang tadi, soalnya satu jam lagi, aku ada rapat,” ucap Kim Jinnan yang memang tidak punya banyak waktu senggang.


“Wah ... Jinnan kamu mau rapat? Keren ... keren! Ngie, sudah, ... kamu nikah saja sama Jinnan, biar kalian cepat punya anak!” ujar Zean bersemangat.


Kim Jinnan yang mendengarnya juga tak kalah semangat. Kim Jinnan langsung menatap Pelangi sambil tersenyum semringah.


“Dikiranya punya anak itu secepat flash sale di harbolnas? Ya ampun, Zean ... stop jangan memikirkan hal yang tidak seharusnya,” keluh Pelangi tanpa mau menatap Kim Jinnan maupun Zean sendiri.


“Ngie ...?!” rengek Mofaro dari belakang.


Meski terus berjalan menuju ruang keluarga, Pelangi yang menoleh pada Mofaro pun berkata, “bentar, Mo. Aku mau urus keperluan dulu.”


Mofaro kehilangan kata-kata. “Ayo pikirkan sesuatu. Ah! Bukankah itu bunga dariku? Bahkan Ngi-ngie memperlakukannya secara khusus? Ditaruh di pot dan ... hahaha ... baiklah!” batinnya yang langsung bersemangat.


Di meja kecil yang ada di ruang keluarga selaku sekat antar sofa, ada buket mawar misterius yang dikirimkan untuk Pelangi dan menjadi fokus tujuan Mofaro.


“Wah, ... Ngie, kamu suka bunga ini? Kalau gitu, besok aku kasih lagi, ya,” seru Mofaro yang sampai mengendus lama buket mawar yang dimaksud. Pelangi yang baru saja meninggalkan Kim Jinnan dan Zean, untuk masuk ke kamar Keinya yang ada di seberang ruang tamu, langsung menghentikan langkahnya.


“Lho, bukannya itu bunga dari Jinnan?” seru Zean yang lebih dulu berkomentar.


Pelangi yang sudah balik badan dan membuatnya leluasa menatap Mofaro, berikut Jinnan dan Zean, refleks menelan ludah. “Jadi, yang kirim bunga itu Mo? Sejak kapan mahluk pecicilan kayak dia jadi romantis?” pikir Pelangi.


Zean menatap Kim Jinnan untuk memastikan, tetapi Kim Jinnan langsung menggeleng, menandakan pria idolanya itu mengakui, bahwa Kim Jinnan bukan pengirim buket mawar untuk Pelangi.


“Ngi-ngie menerimanya karena dia mengira bunga itu dariku,” ujar Kim Jinnan sambil menatap Mofaro penuh pengertian.


Mofaro mengerutkan dahi lantaran tidak bisa menerima anggapan Kim Jinnan.


Zean yang masih menengadah demi menatap Kim Jinnan pun membenarkan. “Iya, aku juga berpikir seperti itu. Ya sudah, kita makan eskrim saja.”


Pelangi menghela napas dalam, sebelum akhirnya mengangguk. Kali ini, Pelangi juga membenarkan sekaligus setuju dengan usul Zean. “Iya. Sudah, jangan berdebat terus. Enggak enak banget suasananya. Aku mau ke mama dulu.”


Setelah berucap seperti itu, Pelangi benar-benar pergi memasuki lorong di hadapannya, yang merupakan lorong menuju kamar Keinya.


“Masa iya, aku harus makan es krim bareng cowok gadungan ini?” batin Mofaro sambil bersedekap dan menatap tidak sudi Kim Jinnan yang ada di seberang sofa sebelahnya.

__ADS_1


Kim Jinnan menghela napas pelan. “Syukurlah ... posisiku aman,” batinnya.


Tak lama setelah kepergian Pelangi, Dean dan Kishi datang. Zean yang baru meninggalkan Kim Jinnan dan hendak duduk di sofa paling panjang di sana pun mengajak keduanya untuk bergabung makan es krim.


“Nanti saja. Aku dan Kishi akan masak pasta dan meatball,” balas Dean yang kali ini sampai menghiasi wajahnya dengan seulas senyum.


“Wah ... kamu jago masak, ya, De?” puji Kim Jinnan.


Dean memfokuskan pandangannya pada Kim Jinnan. “Tunggu sebentar lagi. Jangan pergi dulu karena aku juga akan memasak untukmu,” ucapnya.


Kim Jinnan tersenyum sambil mengangguk semringah. “Oke!”


“Baiklah, kami akan masak untuk kalian semua,” ujar Kishi yang juga mengulas senyum.


Meski Dean dan Kishi tampak masih terpukul, tetapi keduanya terlihat jauh lebih bisa menguasai diri, termasuk mengontrol emosi. Kedua sejoli itu segera bergegas menuju dapur, di mana Kishi juga sampai menggandeng sebelah pergelangan tangan Mofaro.


“Pesek, aku masih mau usaha pedekate sama Ngi-ngie!” protes Mofaro dengan suara lirih.


“Ada urusan penting yang harus Kim Jinnan dan Ngi-ngie selesaikan. Tolong, kali ini saja, ... biarkan mereka berdua menyelesaikan masalah mereka,” balas Kishi dengan berbisik juga.


Kishi sampai lebih memilih menggandeng erat sebelah lengan Mofaro tanpa melakukannya pada Dean, lantaran Kishi takut, Mofaro berbuat ulah, sedangkan Kishi sadar, situasi kini sedang jauh dari kata baik.


***


Dibantu Mofaro dan Kishi, Dean bekerja di dapur layaknya koki andal. Ketiganya kompal mengenakan celemek.


Kishi dan Mofaro membentuk adonan daging giling yang sudah diracik menjadi meatball, sedangkan Dean sedang menumis bumbu pasta sambil menjaga pasta yang masih direbus.


“Masakanku jauh lebih enak dari masakan Dean,” bisik Mofaro pada Kishi.


Kishi langsung mengalihkan tatapannya dari adinan meatball. “Masakan Dean yang terbaik dari masakanmu yang masih sering keasinan kalau enggak hambar,” balas Kishi dengan suara lirih juga. “Sedangkan untuk urusan minuman, Rafa yang terbaik,” lanjut Kishi yang kembaki fokus membuat bulatan meatball.


“Lah, terus, bagusnya aku di mana?” protes Mofaro lagi.


“Otakmu yang terbaik. Kamu yang paling cerdas dari kami semua!” balas Kishi mantap.


“Kalau yang paling sabar?” lanjut Mofaro masih penasaran.


“Tentu Rafaro!” balas Kishi tanpa pikir panjang. Kishi juga tidak sampai menatap Mofaro lagi.


“Eh ... itu tusak jangan begitu,” tegur Kishi.


“Biarin. Aku mau bikin meatball love buat Ngi-ngie!” ujar Mofaro bersemangat dan memang langsung membentuk adonan menjadi bentuk hati.


Kishi memilih tak berkomentar, lantaran gadis itu sudah hapal sifat Rafaro. Tidak jauh berbeda dari Kim Jinnan, juga Zean yang Kishi yakini juga akan mengikuti jejak keduanya.


Tak lama setelah itu, Dean datang sambil membawa sendok berisi bumbu pasta yang batu saja ia masak. “Ki ... tolong cicipi. Ini sudah aku tiupin. Sudah dingin.”


Kishi langsung mengangguk menyanggupi permintaan Dean. Dan Dean langsung menyuapkan hasil bumbunya pada sang kekasih, ketika Kishi membuka mulut. Lain halnya dengan Mofaro yang menjadi ngenes menyaksikan semua itu, apalagi Dean sampai ada adegan mengusap bibir Kishi yang dihiasi sisa bumbu.


“Gimana?” tanya Dean yang masih menatap Kishi penuh cinta.


Kishi segera mengangguk “Perfek!” ucapnya sambil menyodorkan kedua tangannya pada Dean yang langsung tersenyum lepas.


“Kalian ini apa-apaan, sih? Masa iya, aku jadi obat nyamuk? Tuh, meatball love milikku sampai retak gara-gara kalian mesra-mesraan!” protes Mofaro sambil menunjukkan meatball buatannya yang memang sampai retak.


“Itu hati terlalu lebar, makanya gampang retak. Ibarat harapan yang terlalu besar, biasanya rasa kecewa sama luka yang diterima juga akan lebih besar,” ujar Dean yang justru mendadak ceramah sambil menatap miris meatball hati buatan Mofaro.


“Kamu nyindir aku?!” uring Mofaro.


“Om, jangan marah-marah terus, nanti tensi darahmu naik lagi,” tegur Kishi yang terdengar sangat mengkhawatirkan Mofaro.


Kishi dan Dean tahu, kenapa Mofaro terus saja marah-marah. Ya, semua itu terjadi lantaran Mofaro sedang sangat cemburu pada kebersamaan Pelangi dan Kim Jinnan yang bahkan sampai minta untuk tidak diganggu.


Setelah Dean kembali ke kompor yang ada persis di belakang punggung Mofaro, Dean datang dengan satu sensok makan yang sudah dipenuhi bumbu pasta.


“Aa ... biar kamu enggak iri. Takutnya kamu iri gara-gara cuma Kishi yang aku suapi,” ucap Dean yang siap menyuapkan bumbu pastanya kepada Mofaro.


Mofaro yang kadung kesal pun langsung melahap suapan dari Dean dan sukses membuat Kishi maupun Dean yang mrnyuapi menjadi tersenyum.


“Makan yang banyak, biar cepat dapat jodoh!” ucap Dean yang tak segan mengelus punggung kepala Mofaro.


“Maunya sih jadi kakak iparmu!” ucap Mofaro yang menjadi malu-malu.


“Aku aminkan,” balas Dean yang menanggapi kecemburuan Mofaro dengan sangat sabar. Terlebih, Dean tahu rasanya cemburu itu seperti apa. Sakit, bahkan sangat sakit, tetapi sakit itu tidak disertai darah dan tidak sembarang orang bisa menyadarinya.


“Sebenarnya kamu itu memihak siapa, sih?” semprot Mofaro sambil menatap Dean dengan pandangan penasaran.

__ADS_1


“Aku akan mendukung semua keputusan Ngi-ngie. Apa pun yang membuatnya bahagia, aku pasti juga akan mendukungnya.” Dean segera mengangkat panci kaca yang digunakannya untuk merebus pasta.


Kishi segera melangkah ke wastafel, kemudian menyalakan keran air, sedangkan di wastafel sudah dihuni baskom saringan berukuran besar, dan bisa menampung rebusan pasta.


“Thank you ...,” lirih Dean pada Kishi yang langsung dibalas senyum sangat manis oleh yang bersangkutan.


“Kok interaksi mereka manis banget sih?” batin Mofaro yang menjadi iri sendiri melihat interaksi Dean dan Kishi.


***


“Anak sekarang kok nekat banget, ya?” ujar Keinya setelah Kim Jinnan menjelaskan perihal insiden yang menimpa Feaya dan sampai menyeret Dean dan Kishi.


“Ya enggak semuanya, kali, Ma,” balas Pelangi yang kali ini sampai duduk bersebelahan dengan Kim Jinnan di sofa keluarga bekas Zean.


Zean sendiri tak lagi duduk di sana, lantaran Keinya meminta bocah itu masuk ke kamar, untuk mengerjakan tugas sekolah.


“Ini buat pembelajaran untuk kalian. Apalagi Jinnan,” tambah Keinya yang kali ini memang sengaja menegur.


“Jinnan, ... pastikan hal semacam ini tidak sampai terjadi juga dalam hidupmu. Kamu lihat Dean, betapa dia menutup diri dan hanya mau bersama Kishi? Dia yang tidak ada hubungan dengan gadis lain saja sampai terseret ke dalam kasus semacam ini, apalagi kamu?”


Kali ini Pelangi tidak berani berkomentar. Gadis itu memilih menunduk, terlebih biar bagaimanapun, sebenarnya sebelumnya ia juga ingin menegur Kim Jinnan melalui kasus yang menimpa Feaya.


“Iya, Tante ... maaf,” sesal Kim Jinnan yang sampai menunduk juga layaknya Pelangi.


“Seumur hidupku, baru kali ini aku mendapat teguran. Dan ... ternyata tante Keinya diam-diam memperhatikanku? Tante Keinya peduli kepadaku?” batin Kim Jinnan yang menjadi merasa sangat terharu.


“Jangan minta maaf kepada tante. Minta maaflah kepada semua gadis yang kamu kencani, bahkan bila perlu keluarga mereka, jika memang kamu juga sempat dekat dengan keluarganya!” tambah Keinya masih dengan sikap tegas. Sikap tegas yang belum pernah Pelangi dapati sebelumnya.


Selama ini, Keinya benar-benar tidak pernah semarah sekarang. Karena jangankan marah, berkata dengan nada tinggi saja, Keinya tidak pernah. Karena begitulah kenyataan yang sudah menyelimuti keluarga Pelangi. Bahkan sekalipun Zean sering berbuat ulah, Yuan dan Keinya tetap bisa mengatasinya tanpa harus marah-marah.


“Iya, Tan ... saya usahakan untuk menyelesaikannya dalam waktu dekat.” Kim Jinnan mengatakannya dengan penuh keseriusan. Pun meski hingga detik ini, ia belum berani menatap Keinya.


Dengan napas yang jauh lebih stabil, Keinya menatap serius wajah Pelangi dan Kim Jinnan yang masih kompak menunduk. Namun, dari wajah keduanya, wajah Kim Jinnan tampak memerah berikut hidung bangir pria muda itu yang juga mengalami hal serupa.


“Apakah Kim Jinnan menangis? Apakah aku sudah keterlaluan?” pikir Keinya yang menjadi tak enak sendiri.


“Ya sudah ... nanti Mama bicarakan mengenai ini dengan papa.”


“Makasih, Tan.”


“I-iya. Oh, iya ... apakah kalian sudah makan? Ngie, kamu temani Jinnan makan. Mama mau meditasi dulu. Kepala Mama pusing.” Keinya mengakhiri kebersamaan dan berlalu dengan langkah sempoyongan.


“Makasih banyak, Tan!” seru Kim Jinnan yang kali ini sampai mengangkat wajahnya.


Ucapan terima kasih Jinnan yang terdengar tulus, membuat Keinya merasa untuk menghargainya Itu kenapa, Keinya berangsur balik badan dan membuatnya menatap Kim Jinnan.


“Iya, Jinnan. Sama-sama. Tapi ingat, ... pegang ucapanmu. Karena jika kamu tidak bisa dipercaya, Tante tidak akan membiarkanmu dekat-dekat Pelangi lagi!” tegas Keinya sambil menatap Kim Jinnan penuh peringatan.


“Baik, Tan ... sekali lagi terima kasih banyak!” balas Kim Jinnan.


Apa yang Keinya lakukan membuat Kim Jinnan menjadi semakin bersemangat dalam memperjuangkan cintanya terhadap Pelangi. Karena dengan kata lain, apa yang baru saja Keinya tegaskan ibarat lampu hijau untuk Kim Jinnan mengejar cinta Pelangi.


Dan dengan hati yang sampai menjadi berbunga-bunga, Kim Jinnan pun menatap Pelangi yang ada di sebelahnya.


“Apa? Jangan menatapku seperti itu,” tegur Pelangi yang menjadi bingung sendiri, lantaran apa yang Keinya lakukan, pasti akan membuat Kim Jinnan semakin bersemangat dalam mengejarnya.


“Lampu hijau ...?” ucap Kim Jinnan masih menatap Pelangi dengan semangat.


Pelangi mendengkus sambil menatap sebal Kim Jinnan. “Tapi aku baru akan menikah setelah usiaku dua puluh sembilan tahun. Dengan kata lain, sepuluh tahun lagi kamu baru bisa menikahiku!” ujar Pelangi yang sampai menjadi cemberut.


“Bukan masalah. Dengan kata lain, nanti kalau Dean sama Kishi sudah punya cicit, kita baru menikah. Begitu, kan, maksudmu?”


“P-punya cicit bagaimana?” ujar Pelangi kebingungan dan memang tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Kim Jinnan.


Bukannya menjawab, Kim Jinnan yang tersenyum geli justru menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan Pelangi.


“Titip yah, Ngie. Bebas, mau kamu uwel-uwel bahkan cium juga boleh,” lirih Kim Jinnan yang kemuduan sampai mengulet, membentangkan kedua matanya, sebelum akhirnya terpejam.


“Kim Jinnan, apa yang kamu lakukan? Bangun, ih, ... jangan begini!” uring Pelangi.


“Aku hanya sedang berusaha membuatmu mencintaiku,” gumam Kim Jinnan yang masih bisa Pelangi dengar dengan baik.


Dan keadaan kini, sukses membuat Pelangi tak berkutik di tengah jantung gadis itu yang menjadi berdentum-dentum.


Bersambung ....


Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaa. Like, komen, sama votenya, Author tunggu ~♥️

__ADS_1


__ADS_2